LOGINAsap hitam yang pekat masih mengepul dengan malas dari sisa-sisa bangunan Sekte Awan Surgawi yang kini telah rata dengan tanah. Bau anyir darah yang mengental, hasil dari pembantaian ribuan nyawa dalam satu malam, bercampur aduk dengan aroma kayu gaharu yang terbakar dan sisa-sisa ozon dari petir energi. Perpaduan bau itu menciptakan atmosfer yang mencekam di sepanjang puncak gunung, sebuah aroma kematian yang akan menetap di sana selama puluhan tahun ke depan.
Medan tempur di sekitar reruntuhan Sekte Awan Surgawi telah bermutasi menjadi sebuah representasi neraka di alam fana; sebuah teater penderitaan di mana lautan api hitam dan genangan darah kental menjadi dekorasi utamanya. Jenderal Wei Wu, sang legenda hidup yang tak terkalahkan, kini bertarung dengan keganasan seorang pria yang tahu bahwa ia sedang menatap ajal. Tombak Pemecah Cakrawala miliknya berpijar dengan intensitas cahaya keemasan yang menyakitkan mata, setiap ayunannya membelah atmosfer dan menciptakan gelombang kejut sonic yang meratakan ribuan Prajurit Darah Abadi. Namun, seberapa banyak pun barisan monster tanpa rasa sakit itu ia hancurkan, mereka terus bangkit dari tanah yang jenuh akan sihir hitam Liang Xiao.
Gema genderang perang dari kulit Badak Guntur purba menderu di sepanjang koridor pegunungan, menggetarkan setiap butir debu di wilayah yang kini dikenal sebagai tanah terkutuk. Kabar mengenai jatuhnya Sekte Awan Surgawi—pilar moral yang berdiri selama milenium—dan penghinaan vulgar Liang Xiao terhadap harga diri kekaisaran telah memicu amarah kolektif yang belum pernah terjadi dalam sejarah dinasti. Kaisar Naga Langit telah menjatuhkan vonis mati: penghapusan total atas nama Liang Xiao dari muka bumi.Panglima tertinggi yang ditunjuk untuk memimpin eksekusi ini adalah Jenderal Besar Wei Wu. Ia adalah sesosok raksasa medan perang yang tubuhnya merupakan peta dari ratusan pertempuran; setiap bekas luka di kulitnya menceritakan kemenangan atas musuh-musuh kekaisaran. Dengan baju zirah Celestial Silver yang ditem
Lin Zhe memacu kuda spiritualnya tanpa henti, membelah malam yang pekat seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Kuda itu, seekor Bicorn bertenaga petir, mengeluarkan busa dari mulutnya saat mereka melewati gerbang kota kekaisaran Qingyun yang megah. Ibukota Qingyun adalah puncak dari peradaban kultivasi; sebuah keajaiban arsitektur di mana menara-menara tinggi berlapis emas dan giok seolah menusuk awan, dengan formasi pertahanan Arkaik Biru yang memancarkan cahaya safir lembut, membungkus seluruh kota dalam kubah energi yang konon tak tertembus. Namun, bagi Lin Zhe, semua kemewahan dan benteng cahaya itu kini terasa serapuh kaca tipis yang siap hancur di bawah tumit sepatu Liang Xiao.Di dalam Aula Pertemuan Agung, suasana menceka
Malam di bekas reruntuhan Sekte Awan Surgawi tidaklah sesunyi kuburan yang sewajarnya menaungi ribuan nyawa yang melayang. Justru, tempat itu kini berdenyut dengan kehidupan yang menyimpang, sebuah ekaristi kegelapan yang merayakan keruntuhan tatanan lama. Di aula utama yang atapnya telah hancur dihantam teknik Guntur Surgawi, menyingkapkan langit malam yang bertabur bintang namun terasa menekan, Liang Xiao masih bertakhta. Ia tidak sekadar duduk; ia seolah-olah menyatu dengan kegelapan itu sendiri.Aura merah keunguan yang pekat menyelimuti tubuhnya, berputar-putar seperti naga bayangan yang sedang membelit mangsa. Energi itu bukan lagi qi murni, melainkan esensi Malice yang telah dimurnikan melalui pembantaian massal. Di depannya, di
Suasana di markas besar yang dulunya milik Sekte Awan Surgawi kini telah bermutasi menjadi pemandangan yang ganjil, sebuah perpaduan antara kemegahan yang rusak dan kebejatan yang merajalela. Langit di atas pegunungan itu seolah menolak untuk menjadi cerah, tertutup oleh lapisan awan kelabu yang rendah, memerangkap bau anyir darah yang mengental di dalam lembah. Reruntuhan bangunan yang dulunya merupakan simbol kesucian dan jalur menuju keabadian kini tak lebih dari latar belakang bisu bagi pemandangan yang akan menghancurkan kewarasan manusia biasa.Liang Xiao duduk dengan angkuh di atas singgasana batu obsidian yang ia bentuk secara kasar dari sisa-sisa gerbang utama sekte. Tekstur batu itu dingin dan tajam, namun ia bersandar di sana seolah itu adalah bantalan sutra yang paling empuk. Di bawah kakinya, jasad para tetua agung yang mencoba melakukan perlawanan terakhir dibiarkan bertumpuk. Tubuh-tubuh mer
Kehancuran Sekte Awan Surgawi dalam semalam bukan sekadar tragedi regional; itu adalah gempa tektonik yang menggetarkan fondasi politik dan spiritual seluruh benua Long-Zhu. Ribuan burung pengirim pesan bersayap perak dilepaskan dari berbagai menara pengintai, terbang membelah badai, membawa gulungan perkamen yang berisi laporan mengerikan. Kabar tentang seorang pemuda bernama Liang Xiao—yang dalam satu putaran rembulan telah membantai ribuan nyawa dan mendirikan istana di atas tumpukan mayat—menyebar seperti wabah hitam.Di pusat kekuasaan, Ibu Kota Kekaisaran Angin Timur, suasana yang biasanya penuh dengan kemewahan berubah menjadi tegang. Berita itu merayap masuk ke aula tahta giok, membungkam musik para pemain kecapi. Sang Kaisar, yang selama ini menganggap sekte-sekte besar sebagai penjaga stabilitas, merasa otoritasnya ditantang secara langsung. Ia tidak bisa membiarkan sebuah lubang hita







