Home / Rumah Tangga / Luka Yang Tak Pernah Selesai / BAB 14 — RAHASIA YANG AKHIRNYA MUNCUL

Share

BAB 14 — RAHASIA YANG AKHIRNYA MUNCUL

Author: Adeliaraaa
last update Last Updated: 2025-10-19 19:00:17

Suara hujan mengguyur kaca kantor malam itu. Lantai delapan yang biasanya ramai kini hanya menyisakan suara ketikan lembut dan detak jarum jam yang terasa terlalu keras di telinga Nira.

Tangannya berhenti di atas keyboard, menatap layar monitor yang menampilkan laporan keuangan — file yang beberapa minggu terakhir menjadi beban pikirannya.

Ada sesuatu yang janggal.

Kolom pengeluaran proyek ekspor tahun lalu, angka-angka itu... tidak masuk akal.

Dan semakin dalam ia telusuri, semakin jelas bahwa laporan itu dipalsukan.

“Nira.”

Suara berat itu datang dari belakang, membuat jantungnya hampir berhenti.

Raka berdiri di ambang pintu ruangannya, jasnya sedikit basah, wajahnya tajam menatap arah Nira.

“Masih di sini?” tanyanya dingin.

Nira buru-buru berdiri, mencoba menyembunyikan layar komputernya. “Tadi saya cuma—menyelesaikan laporan, Pak.”

Tatapan Raka menurun, lalu berhenti tepat pada dokumen yang terbuka. Sekilas saja cukup bagi otaknya yang tajam untuk mengenali file itu.

“Proyek ekspor?” suaranya datar, tapi ada ketegangan samar di ujungnya.

“Iya,” jawab Nira pelan. “Ada beberapa data yang nggak sinkron.”

Raka melangkah masuk. Setiap langkahnya berat, seolah membawa masa lalu bersamanya.

“Dan kamu berpikir siapa yang bertanggung jawab?”

Nada suaranya terdengar seperti ujian — dingin, menekan, tapi juga... takut.

Nira menggigit bibirnya. “Saya belum tahu pasti. Tapi angka-angka ini terlalu rapi untuk sekadar kesalahan input. Kayak... ada yang sengaja menutupi sesuatu.”

Keheningan jatuh di antara mereka. Hanya suara hujan yang masih menetes dari langit malam, menyelubungi ruangan itu dalam ketegangan yang menyesakkan.

Lalu Raka berkata pelan, “Kamu selalu begitu, ya. Terlalu berani menyentuh hal yang seharusnya kamu jauhi.”

Nira menatapnya, dan kali ini, tak ada lagi ketakutan.

“Kalau dulu aku nggak berani, mungkin semuanya nggak akan berakhir seperti ini,” katanya lirih, matanya bergetar menahan sesuatu yang lama ia pendam.

Raka terdiam. Tatapan mereka bertemu, dan seolah waktu berhenti di antara dua manusia yang dulu saling mencintai, lalu hancur karena sesuatu yang belum pernah benar-benar mereka bicarakan.

“Aku harus tahu, Rak,” ucap Nira akhirnya. “Kenapa waktu itu kamu tiba-tiba membatalkan semuanya. Kenapa kamu biarin aku pergi tanpa penjelasan. Aku pikir aku kuat, tapi ternyata aku cuma berlari dari sesuatu yang bahkan aku nggak ngerti.”

Raka memejamkan mata. Rahangnya mengeras.

“Jangan buka luka lama itu, Nira.”

“Luka itu nggak pernah tertutup!” seru Nira, suaranya pecah.

Hening lagi. Hanya napas mereka berdua yang berat dan kacau.

Raka menarik napas panjang, lalu berjalan ke arah jendela. Dari balik kaca, ia menatap hujan. “Waktu itu... aku menemukan sesuatu tentang ayahmu.”

Kata-kata itu seperti petir yang menghantam dada Nira.

“Ayahku?” suaranya nyaris tak terdengar.

Raka mengangguk pelan. “Dia terlibat langsung dalam proyek ekspor fiktif itu. Dia yang pertama kali menyembunyikan dana perusahaan. Aku nggak bisa melaporkannya tanpa menghancurkan keluargamu.”

Nira mundur satu langkah. Dunia seperti berputar. “Kamu... tahu dari dulu?”

Raka menatapnya, mata hitamnya penuh kelelahan yang baru sekarang terlihat. “Aku tahu, Nira. Dan aku menutupinya. Demi kamu.”

Air mata mengalir tanpa ia sadari.

“Jadi... selama ini alasan kamu menjauh, dingin, semua itu—”

“Supaya kamu nggak ikut hancur,” potong Raka cepat. Suaranya rendah, nyaris gemetar.

“Kalau aku terus di sampingmu waktu itu, kamu bakal ikut terseret. Aku pikir dengan pergi, aku bisa melindungi kamu.”

Nira terisak. “Kamu pikir meninggalkan seseorang itu bentuk perlindungan?”

Raka menatapnya dalam-dalam. “Kalau satu-satunya cara menyelamatkanmu adalah dengan menjadi orang jahat di matamu… ya, aku rela.”

Hening.

Kata-kata itu menembus hati Nira, membelah segala amarah yang selama ini ia pelihara menjadi potongan-potongan kecil rasa iba dan cinta yang tak padam.

Tapi sebelum ia sempat bicara lagi, pintu ruangannya terbuka.

Suara langkah cepat, dan sekretaris Raka muncul dengan wajah pucat.

“Pak, laporan dari tim audit baru masuk. Ada bukti baru terkait penyelewengan dana tahun itu. Dan...” Ia menelan ludah gugup. “Nama yang muncul di dokumen bukan ayah Nira, tapi—”

“Siapa?” potong Raka tajam.

Sekretaris itu menatap mereka berdua ragu, lalu akhirnya berkata, “Nama Bapak sendiri, Pak Raka.”

Suasana seketika beku.

Nira mematung, menatap Raka dengan pandangan yang campur aduk — bingung, takut, tak percaya.

Raka tidak bergerak sedikit pun, tapi matanya berubah. Tatapan yang tadi penuh keteguhan kini tampak seperti jurang dalam yang menyimpan rahasia lain.

Hujan di luar semakin deras, seperti ikut menenggelamkan segalanya.

Raka menatap Nira pelan. “Kelihatannya... semuanya nggak sesederhana yang aku kira.”

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Nira sadar — rahasia lima tahun lalu hanyalah permulaan dari sesuatu yang jauh lebih gelap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Luka Yang Tak Pernah Selesai   BAB 28 – Fragmen yang Hilang

    Raka menatap langit yang baru saja berhenti menangis. Bau tanah basah menyelinap di udara malam yang dingin. Di genggamannya, darah mengering di ujung jarinya — bukan darah siapa pun yang bisa ia pastikan. Tapi ia tahu satu hal: ia terlambat.Apartemen di depannya berantakan. Pintu utama rusak, separuh kusen terhempas seperti dihantam sesuatu yang sangat kuat. Di lantai, pecahan kaca berserakan, bercampur jejak langkah yang menuju keluar… dan hilang begitu saja di lorong yang basah.“Nira…” gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia menatap sekeliling, mencari tanda-tanda kehidupan. Tapi yang tersisa hanya laptop yang masih menyala di meja — satu-satunya sumber cahaya di tengah ruangan gelap itu.Raka berjalan mendekat. Di layar, file baru muncul secara otomatis.> Mirror_04.mp4Tangannya bergetar saat menekan tombol play.Layar menampilkan rekaman kabur. Di dalamnya, Nira terlihat berdiri di depan Alena. Suara mereka tak terdengar jelas, hanya gemuruh listrik dan denyut jantung dari

  • Luka Yang Tak Pernah Selesai   Bab 27 — Cermin Ketiga

    Udara dingin masih tertinggal, menyelusup lewat celah jendela apartemen yang setengah terbuka. Bau tanah basah bercampur aroma logam dan listrik terbakar—sisa dari gangguan yang mematikan lampu beberapa menit lalu.Nira berdiri mematung di tengah ruangan. Tatapannya terpaku pada sosok di depannya.Alena. Hidup. Nyata. Basah kuyup, tapi matanya penuh api.“Jangan takut,” suara Alena nyaris seperti bisikan.Namun tak ada yang menenangkan dalam nada itu—lebih seperti peringatan.“Gimana… bisa?” Nira berbisik, langkahnya mundur tanpa sadar. “Aku lihat sendiri datanya… kamu sudah—”“Mati?” Alena memotong, suaranya dingin. “Itu yang mereka ingin kau percayai.”Ia berjalan perlahan, setiap langkahnya memantulkan suara air dari lantai.“Raka yang menandatangani surat itu. Tapi dia pikir dia menyelamatkanku. Padahal… dia menghapusku.”Nira terdiam. Di dadanya, napasnya memburu.“Apa maksudmu, menghapusmu?”Alena berhenti satu meter di depannya. “Kesadaranku disalin. Mereka simpan duplikat piki

  • Luka Yang Tak Pernah Selesai   BAB 26 — SUARA DARI BALIK GELAP

    Suara gemuruh dari mesin tua menggema di lorong sempit itu. Lampu neon berkedip, menciptakan bayangan aneh di dinding yang lembap.Alena berdiri di depan layar besar, wajahnya diterangi cahaya biru pucat dari monitor. Di layar, dua wajah yang dulu ia kenal begitu baik — Raka dan Nira — kini tampak tegang, saling mencurigai.Ia menyentuh permukaan kaca monitor pelan, seperti membelai sesuatu yang rapuh.“Sudah mulai, ya…” gumamnya lirih, bibirnya membentuk senyum tipis yang entah sedih, entah puas.Di belakangnya, seorang pria bertubuh tinggi masuk ke ruangan. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan.“Semua sistem sudah jalan. Sinyal pengawasan dari gedung pusat terkunci. Mereka nggak akan sadar kau masih hidup.”Alena menatapnya sekilas. “Itu bagus. Tapi waktu kita nggak banyak. Raka udah mulai curiga.”Pria itu diam beberapa saat, lalu bertanya pelan, “Kau yakin masih mau lanjutkan ini, Alena? Setelah semua yang terjadi?”Alena menoleh, sorot matanya tajam. “Aku nggak punya pilihan. M

  • Luka Yang Tak Pernah Selesai   BAB 25 — Bayangan yang Tak Pernah Pergi

    Suara hujan semakin deras malam itu. Nira masih duduk di lantai, matanya tak lepas dari jendela tempat siluet tadi berdiri. Tapi kini, bayangan itu telah menghilang.Yang tersisa hanyalah gemericik air dan pantulan lampu kota yang remang di kaca.Tangannya gemetar ketika meraih ponsel lagi. Nomor yang tadi menelepon sudah tak bisa dilacak—tidak ada riwayat, tidak ada panggilan keluar atau masuk. Seolah… panggilan itu tidak pernah terjadi.Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tapi jantungnya tetap berdegup tak beraturan.“‘Aku seseorang yang seharusnya sudah mati…’” gumamnya lirih, mengulang kata-kata itu.Suara itu—terdengar terlalu nyata untuk sekadar halusinasi. Terlalu dekat. Terlalu familiar.Alena.Nama itu berputar di kepalanya, seperti gema yang tak mau berhenti.Apakah mungkin… Alena masih hidup?Keesokan paginya, kantor terasa seperti labirin dingin. Semua orang berjalan terburu-buru, mata mereka menunduk, seolah ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan.Raka

  • Luka Yang Tak Pernah Selesai   BAB 24 — BAYANGAN DI BALIK KACA

    Pagi itu udara terasa berat. Matahari belum sepenuhnya muncul, tapi suasana kantor sudah dipenuhi tekanan yang tak terlihat. Nira datang lebih pagi dari biasanya, namun entah kenapa langkahnya terasa ragu.Begitu memasuki lobi, ia melihat Reno—kepala keamanan—berbicara dengan dua orang berseragam hitam di depan ruang server. Begitu menyadari kehadirannya, Reno menunduk sopan.“Pagi, Bu Nira.”“Pagi. Ada apa di ruang server?” tanyanya pelan, mencoba terdengar tenang.Reno menatapnya sejenak sebelum menjawab, “Ada beberapa rekaman yang hilang, Bu. Tepat malam sebelum email itu masuk.”Nira menegang. “Maksud kamu diretas lagi?”Reno menggeleng. “Bukan. Seseorang menghapusnya langsung dari sistem utama. Tapi yang aneh, file backup-nya juga lenyap. Seolah... orang itu tahu semua jalur penyimpanan.”Nira menatapnya dalam-dalam. “Kamu udah bilang Raka?”“Sudah, Bu. Tapi beliau minta saya nggak heboh dulu, takut bikin kepanikan di tim.”Nira hanya mengangguk. Tapi dalam hati, ia tahu—sesuatu

  • Luka Yang Tak Pernah Selesai   BAB 23 — BAYANGAN YANG TAK PERNAH PERGI

    Pagi datang dengan sunyi yang ganjil.Langit tampak kelabu, seolah sisa hujan semalam masih menggantung di udara. Nira berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri — mata sembab, bibir kering, dan tatapan yang kehilangan arah.Raka masih di ruang kerja, menatap layar laptopnya dengan wajah keras. Sejak semalam, mereka hampir tak bicara. Hanya ada diam yang menggantung, menyimpan ratusan pertanyaan yang belum berani diucapkan.“Nira,” panggil Raka akhirnya, suaranya berat. “Aku butuh kamu hari ini ikut aku ke gedung arsip lama.”Nira menoleh. “Untuk apa?”“Ada dokumen merger lima tahun lalu yang baru ditemukan. Data itu bisa jelaskan kenapa nama Alena muncul lagi di sistem.”Nira menatapnya beberapa detik, sebelum akhirnya mengangguk.Ia tahu — kalau mau menemukan jawaban, satu-satunya jalan adalah kembali ke masa lalu yang mereka hindari.Gedung arsip lama berdiri di pinggiran kota, di antara pohon-pohon tinggi dan tembok berlumut. Bangunannya sudah lama tak digunakan, se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status