Share

Bab 42

Author: Novi R
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-16 22:09:33

Anggi tidak langsung pulang malam itu. Ia berjalan lebih jauh dari biasanya, melewati dua gang tambahan, membiarkan kakinya menentukan arah tanpa tujuan jelas. Kepalanya penuh, tapi anehnya dadanya tidak sesesak sebelumnya. Seperti ada simpul lama yang akhirnya sedikit mengendur—bukan terurai, tapi cukup longgar untuk bernapas.

Di kontrakannya, ia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke kasur. Ia menatap langit-langit yang retak, lalu tertawa kecil tanpa suara.

“Kenapa sih hidup selalu mute
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Luka di Ujung Senja   Bab 121

    Hari-hari terus berganti Tidak ada lagi rasa mendesak seperti dulu. Tidak ada lagi perasaan harus segera melakukan sesuatu agar semuanya “baik-baik saja”. Rafa mulai hidup dengan ritme yang lebih tenang—bukan karena semua masalah hilang, tapi karena ia tidak lagi memikul semuanya sendiri. Suatu pagi, sebelum berangkat sekolah, Rafa berdiri agak lama di depan dua papan itu. Ia tidak membaca semua tulisan. Tidak juga mencari sesuatu. Ia hanya berdiri. Melihat. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia tidak lagi datang ke papan itu karena butuh—tapi karena ingin. Itu perbedaan yang kecil. Tapi berarti. — “Ibu,” panggilnya pelan. Anggi keluar dari dapur. “Hm?” “Aku hari ini nggak kepikiran apa-apa.” Anggi tersenyum kecil. “Itu bukan hal buruk.” Rafa mengangguk. “Dulu aku kira kalau kepala kosong itu berarti aku nggak peduli.” “Sekarang?” “Sekarang… mungkin itu berarti aku lagi istirahat.” Anggi mendekat, merapikan kerah baju Rafa sedikit. “Dan kamu berhak untuk

  • Luka di Ujung Senja   Bab 120

    Waktu berjalan Tidak ada peristiwa besar yang menandai perubahan, tidak ada kejadian yang membuat semuanya terasa berbeda dalam satu hari. Tapi justru di situlah sesuatu tumbuh—pelan, diam, dan menetap. Rafa mulai jarang berdiri lama di depan papan. Bukan karena ia tidak peduli lagi. Tapi karena ia tidak lagi butuh memastikan dirinya “baik-baik saja” setiap waktu. Kadang ia hanya lewat, membaca sekilas, lalu lanjut. Dan itu cukup. — Suatu pagi di sekolah, Rafa datang lebih awal. Gerbang masih setengah terbuka, halaman belum ramai. Ia berjalan pelan menuju Sudut Napas. Tempat itu kosong. Seperti biasanya di pagi hari. Ia duduk di kursi, meletakkan tas di sampingnya. Udara masih dingin. Dan untuk beberapa menit, ia hanya duduk tanpa tujuan. Tidak menunggu siapa pun. Tidak memikirkan apa pun. Hanya… ada. Langkah kaki terdengar dari jauh. Rafa menoleh. Ternyata Arman. “Kamu pagi banget,” kata Arman sambil duduk di sebelahnya. “Iya… lagi pengen aja,” jawab Rafa. Mere

  • Luka di Ujung Senja   Bab 119

    Beberapa hari setelah papan kedua mulai terisi, rumah itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang berubah secara drastis, tapi karena kini ada dua arah untuk melihat. Satu papan penuh—dengan tulisan yang saling tumpang tindih, jejak emosi yang sudah pernah dilalui. Satu lagi masih lapang—memberi ruang untuk hal-hal yang belum terjadi. Rafa sering berdiri di tengah-tengahnya. Melihat ke kiri. Lalu ke kanan. Seperti membaca masa lalu dan masa depan dalam satu tarikan napas. — Suatu sore, ia pulang lebih awal dari biasanya. Sekolah selesai cepat karena ada rapat guru. Rumah masih sepi. Anggi belum pulang dari pasar. Rendra masih di kantor. Rafa membuka pintu, melepas sepatu, lalu langsung duduk di lantai ruang tengah. Tidak menyalakan TV. Tidak membuka ponsel. Ia hanya duduk. Awalnya terasa canggung. Lalu pelan-pelan… biasa. Ia menyandarkan punggung ke dinding, menatap papan lama. Matanya berhenti di satu tulisan yang hampir pudar: “Hari ini aku nggak

  • Luka di Ujung Senja   Bab 118

    Beberapa hari setelah itu, suasana sekolah kembali seperti biasa. Tidak ada panggung. Tidak ada mikrofon. Tidak ada tepuk tangan. Tapi sesuatu tetap tertinggal. Bukan di aula. Melainkan di cara orang-orang saling memandang. Lebih pelan. Lebih sadar. — Rafa mulai merasakannya dari hal kecil. Saat ia berjalan di koridor, beberapa siswa yang dulu hanya lewat kini mengangguk kecil. Bukan seperti mengenal dekat, tapi seperti tahu—“aku pernah dengar kamu.” Ia tidak merasa jadi pusat perhatian. Dan itu melegakan. Ia tetap Rafa. Hanya saja… sedikit lebih terlihat. — Di Sudut Napas, perubahan itu juga terasa. Tidak drastis. Tapi ada lebih banyak kertas di kotak. Lebih banyak yang datang—meski tidak selalu untuk bicara. Hari itu, Rafa duduk bersama Dika saat jadwal jaga. Seorang anak laki-laki kelas bawah datang. Ia duduk, tidak bicara. Lalu berkata pelan, “Aku denger kamu waktu itu.” Rafa menoleh. Anak itu tidak menatapnya. “Aku pikir… cuma aku yang mikir kayak gitu.

  • Luka di Ujung Senja   Bab 117

    Hari Ekspresi Diri akhirnya tiba. Sekolah terasa berbeda sejak pagi. Ada semacam getaran kecil di udara—bukan tegang, tapi penuh antisipasi. Beberapa siswa membawa alat musik, beberapa memegang kertas berisi tulisan, dan ada juga yang hanya berjalan seperti biasa, memilih menjadi penonton. Rafa datang seperti hari-hari sebelumnya. Tas di punggung. Langkah tidak terburu. Tapi ada satu hal yang berbeda: ia membawa kertas kecil di saku. Bukan karena sudah memutuskan untuk tampil. Hanya… berjaga-jaga. — Di aula sekolah, kursi-kursi sudah disusun rapi. Panggung sederhana di depan, dengan mikrofon berdiri di tengah. Tidak megah. Tapi cukup. Rafa duduk di barisan tengah bersama Dika. “Deg-degan?” tanya Dika. Rafa mengangkat bahu. “Aku kan nggak tampil.” Dika tersenyum. “Belum tentu.” Rafa tidak menjawab. Ia menatap panggung. Satu per satu siswa mulai tampil. Ada yang menyanyi. Ada yang membaca puisi. Ada yang bercerita tentang pengalaman pribadi. Beberapa suara bergeta

  • Luka di Ujung Senja   Bab 116

    Beberapa minggu berlalu tanpa terasa. Perubahan yang dulu terasa besar, kini menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Sudut Napas tetap ada, kelompok kecil tetap berjalan, dan papan emosi di rumah terus bertambah tulisan—kadang satu kalimat, kadang hanya satu kata. Rafa tidak lagi menghitung hari sejak ia mulai belajar “tidak selalu harus ada”. Ia hanya menjalani. Dan justru karena itu, ia mulai melihat hal-hal yang dulu terlewat. — Suatu pagi di sekolah, suasana terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada kejadian besar, tapi karena pengumuman di papan mading. Ada tulisan dari pihak sekolah: “Minggu depan akan diadakan Hari Ekspresi Diri.” Di bawahnya ada penjelasan: siswa boleh menampilkan karya apa pun—tulisan, gambar, musik, atau bentuk ekspresi lainnya. Rafa membaca cukup lama. Dika muncul di sampingnya. “Kamu bakal ikut?” tanyanya. Rafa mengangkat bahu. “Belum tahu.” “Kamu kan punya banyak yang bisa ditulis.” Rafa tersenyum kecil. “Banyak yang dirasain, iya. Tapi n

  • Luka di Ujung Senja   Bab 70

    Waktu bergerak dengan cara yang nyaris tak terdengar. Tidak ada lonceng, tidak ada garis tebal yang memisahkan “sebelum” dan “sesudah”. Yang ada hanya pergeseran kecil di dalam diri Anggi—cara ia bangun pagi, cara ia mendengarkan, cara ia tidak lagi tergesa menilai dirinya sendiri. Suatu hari, Ang

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • Luka di Ujung Senja   Bab 68

    Pagi datang tanpa pengumuman. Tidak ada hujan, tidak ada langit menggantung rendah. Hanya cahaya yang masuk pelan melalui celah gorden, menempel di dinding kamar seperti tangan yang ragu mengetuk. Anggi terbangun lebih awal dari biasanya. Ia tidak langsung bangun, hanya berbaring, merasakan napasny

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • Luka di Ujung Senja   Bab 71

    Pagi itu dimulai dengan kabar yang tidak direncanakan. Anggi baru saja selesai menjemur pakaian ketika ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. Ia hampir mengabaikannya, tapi sesuatu—entah kebiasaan lama atau intuisi yang belum sepenuhnya mati—membuatnya mengangkat. “Apakah ini dengan Ibu Anggi Pr

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
  • Luka di Ujung Senja   Bab 67

    Musim hujan kembali datang lebih awal tahun itu. Langit sering menggantung rendah sejak siang, seolah menyimpan sesuatu yang belum selesai. Anggi merasakannya bukan sebagai firasat buruk, tapi sebagai penanda: akan ada fase baru yang menuntutnya kembali menata langkah. Suatu sore, ketika ia baru s

    last updateHuling Na-update : 2026-03-28
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status