Share

Bab 53

Penulis: Novi R
last update Tanggal publikasi: 2025-12-30 07:00:36

Suatu pagi, Anggi berdiri lebih lama di depan cermin. Bukan untuk memastikan penampilannya, melainkan untuk membaca wajahnya sendiri. Ada garis lelah yang tidak hilang meski tidur cukup. Ada mata yang lebih tenang, tapi juga lebih jujur.

Ia berangkat kerja dengan perasaan campur aduk—karena hari itu, ia harus mengambil keputusan yang tidak kecil.

Perusahaan menawarkan relokasi sementara ke cabang lain. Enam bulan. Kesempatan memperluas karier. Tapi itu berarti jarak. Perjalanan. Perubahan r
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Luka di Ujung Senja   Bab 111

    Pagi itu Rafa duduk di lantai ruang tengah dengan tas sekolah masih di punggung. Ia tidak melepas sepatu. Anggi yang baru keluar kamar langsung tahu: ada sesuatu. “Di luar dulu atau di dalam dulu?” tanyanya pelan—pertanyaan yang biasa ia pakai saat Rafa membawa cerita berat. “Di dalam,” jawab Rafa. Ia membuka tas, bukan mengeluarkan buku, tapi secarik kertas yang sudah diremas lalu dirapikan lagi. “Itu dari papan di sekolah,” katanya. “Ada yang masukin ke kotak saran.” Anggi tidak mengambil kertas itu. Ia menunggu. Rafa membacanya pelan. “Aku nulis di papan, tapi orang yang rumahnya ribut tiap malam nggak bisa napas cuma dengan nulis.” Sunyi jatuh, berat tapi jujur. Rafa menatap lantai. “Aku merasa… kita ngajarin orang ngomong, tapi nggak selalu bisa ngubah keadaan mereka.” Anggi duduk di depannya. “Itu benar.” Rafa mengangkat wajah, kaget. “Kita memang nggak bisa memperbaiki semua rumah,” lanjut Anggi lembut. “Tapi kita bisa jadi tempat orang ingat bahwa yang mereka rasa

  • Luka di Ujung Senja   Bab 110

    Hujan berhenti menjelang subuh, meninggalkan udara yang bersih dan bau tanah yang naik pelan dari halaman. Anggi membuka jendela dapur lebih lebar dari biasanya, membiarkan pagi masuk tanpa ditahan. Rafa sudah duduk di meja makan dengan buku catatan terbuka, tapi tidak benar-benar membaca. Pensilnya diam di satu titik, seperti pikirannya belum turun sepenuhnya dari semalam. “Masih kepikiran?” tanya Anggi lembut. Rafa mengangguk. “Tapi bukan yang bikin panik. Lebih kayak… habis gempa kecil, terus kita ngecek dinding retak atau nggak.” Anggi tersenyum. “Dan hasilnya?” “Masih berdiri,” jawab Rafa. “Cuma sekarang aku sadar kita harus rawat juga, bukan cuma pakai.” Di sekolah, efek kejadian itu belum sepenuhnya reda. Tapi suasananya berubah arah. Beberapa siswa yang sebelumnya hanya lewat kini benar-benar berhenti di depan Sudut Napas. Guru BK menambahkan kotak kecil di bawah papan—bukan untuk keluhan, tapi untuk saran dan pertanyaan. Sistem kecil mulai tumbuh di sekitar ide yang du

  • Luka di Ujung Senja   Bab 109

    Pagi itu Bunyi ponsel Rafa bergetar terus-menerus di meja makan, seperti serangga terjebak di gelas. Rafa yang baru duduk dengan rambut masih basah menatap layar, lalu wajahnya berubah—bukan panik, tapi kaget yang menahan napas. “Ada apa?” tanya Anggi. Rafa memutar layar ponsel ke arahnya. Sebuah foto papan emosi baru mereka tersebar di grup sekolah—seseorang memotretnya dan mengunggahnya ke media sosial. Di bawahnya, komentar bercampur: ada yang mendukung, ada yang mengejek. “Sekolah kok jadi tempat curhat.” “Baper club.” “Cringe.” Rafa menelan ludah. “Aku nggak tahu siapa yang foto.” Rendra yang baru keluar kamar berhenti di pintu. “Kamu baik-baik?” Rafa mengangkat bahu, tapi matanya tidak setenang itu. “Aku cuma… takut yang nulis di situ jadi malu.” Anggi duduk di depannya. “Ini bukan salahmu.” “Tapi itu papan yang aku usul.” “Ide baik tetap baik, bahkan kalau ada yang belum mengerti,” kata Rendra pelan. Rafa menunduk. “Tapi rasanya kayak… tempat aman itu jadi dipajan

  • Luka di Ujung Senja   Bab 108

    Beberapa minggu setelah itu, kehidupan yang dijalani rafa seperti biasa—dan justru di situlah Rafa belajar dari pengalaman kehidupannya Rafa mulai jarang berdiri di depan papan emosi lama-lama. Bukan karena tidak peduli, tapi karena ia tidak lagi merasa harus memantau semua yang tertulis di sana. Ia percaya papan itu akan tetap bekerja, bahkan saat ia sedang sibuk menjadi anak kelasnya sendiri. Anggi melihat perubahan itu dengan rasa campur aduk yang hangat. Ada bagian kecil dalam dirinya yang dulu selalu siaga, selalu menghitung siapa yang datang, siapa yang pergi, siapa yang belum bicara. Sekarang bagian itu pelan-pelan belajar duduk. Suatu sore, saat matahari rendah dan udara berwarna keemasan, Rafa masuk rumah sambil membawa kardus kecil. “Proyek sekolah,” katanya singkat. “Yang biasanya berarti ruang tamu kita akan jadi laboratorium darurat?” tanya Rendra dari sofa. “Lebih parah,” jawab Rafa. “Ini kapsul waktu.” Anggi tertarik. “Kapsul waktu?” Rafa mengangguk. “Kita disu

  • Luka di Ujung Senja   Bab 107

    Pagi berikutnya datang dengan cahaya pucat yang merayap pelan di lantai ruang tengah. Tidak ada kejadian besar, tidak ada kabar mendadak—hanya bunyi sendok beradu dengan mangkuk dan napas rumah yang berjalan seperti biasa. Namun Anggi bangun dengan perasaan aneh, seperti ada sesuatu yang akan bergeser. Bukan firasat buruk. Lebih seperti halaman buku yang hampir selesai dibaca. Rafa sudah duduk di meja makan, rambutnya masih berantakan, menatap layar ponsel dengan dahi berkerut. “Ekspresi itu biasanya antara matematika atau eksistensial,” kata Anggi sambil menuang teh. “Lebih serem,” jawab Rafa. “Pengumuman lomba presentasi tingkat kota.” Anggi berhenti menuang. “Yang kamu daftar diam-diam itu?” Rafa meringis. “Aku kira nggak bakal lolos seleksi sekolah.” “Dan?” Rafa mengangkat layar ponsel menghadapnya. Namanya ada di daftar finalis. Anggi menutup mulut, lalu tertawa pelan. “Kamu sadar ini berarti kamu harus ngomong di depan banyak orang?” “Makanya aku paniknya elegan,” kat

  • Luka di Ujung Senja   bab 106

    Rumah itu tetap berdiri seperti biasa, tapi ritmenya pelan berubah. Rafa kini lebih sering pergi pagi-pagi untuk kegiatan sekolah tambahan. Rendra mulai menepati janjinya—beberapa hari kerja dari rumah, suaranya kini benar-benar terdengar, bukan hanya dari balik pintu ruang kerja. Anggi memperhatikan satu hal kecil: meja makan semakin sering penuh lebih awal, bukan hanya saat makan, tapi saat orang butuh duduk sebentar tanpa alasan jelas. Suatu sore, ketika udara terasa seperti mau hujan tapi belum jadi, seorang anak laki-laki berdiri di depan pagar. Ia tidak masuk. Hanya berdiri, memegang tas ransel di satu tali. Anggi yang sedang menyapu halaman mengangkat wajah. “Cari siapa?” Anak itu ragu. “Ini… rumah yang ada papan perasaan itu?” Anggi tersenyum kecil. “Iya. Masuk saja.” Namanya Lio. Pindahan baru. Suaranya pelan seperti takut mengganggu udara. Ia duduk di ruang tengah, memandangi papan emosi yang kini hampir tak muat. “Aku nggak tahu harus nulis apa,” katanya. “Nggak

  • Luka di Ujung Senja   Bab 48

    Beberapa bulan setelah pernikahan itu, Anggi menerima kabar yang membuatnya terdiam lama di depan layar ponsel. Pesan singkat dari nomor rumah sakit. “Ibu Anggi, mohon datang. Ini tentang Rafa.” Jantungnya seperti berhenti sesaat. Ia berlari—tanpa sempat berpikir. Di rumah sakit, dokter menjela

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Luka di Ujung Senja   Bab 47

    Beberapa bulan setelah pernikahan itu, Anggi menerima kabar yang membuatnya terdiam lama di depan layar ponsel. Pesan singkat dari nomor rumah sakit. “Ibu Anggi, mohon datang. Ini tentang Rafa.” Jantungnya seperti berhenti sesaat. Ia berlari—tanpa sempat berpikir. Di rumah sakit, dokter menjelas

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Luka di Ujung Senja   Bab 50

    Enam bulan setelah promosi itu, hidup Anggi terasa penuh. Terlalu penuh, jika ia jujur pada dirinya sendiri. Pagi dimulai lebih awal, malam berakhir lebih larut. Ada rapat yang tak bisa ditunda, ada tugas sekolah Rafa yang harus diperiksa, ada kontrol dokter yang menuntut perhatian penuh. Di sela-s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Luka di Ujung Senja   Bab 49

    Keberanian yang tenang itu tidak datang sebagai sesuatu yang selalu terasa kuat. Kadang ia hadir justru sebagai kelelahan yang diterima, bukan dilawan. Anggi belajar itu pelan-pelan, setelah operasi Rafa, setelah malam-malam panjang di rumah sakit berubah menjadi rutinitas kontrol dan obat-obatan k

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status