Share

Bab 57

Auteur: Novi R
last update Date de publication: 2026-01-04 21:10:12

Waktu terus berjalan, dan Anggi mulai menyadari sesuatu yang halus namun penting: hidupnya tidak lagi dibangun dari reaksi, melainkan dari niat. Ia tidak menunggu masalah datang baru bergerak. Ia juga tidak menghindari kemungkinan buruk dengan menutup diri. Ia berjalan—dengan mata terbuka, langkah terukur.

Suatu pagi, Anggi menerima email dari pihak sekolah Rafa. Isinya undangan pertemuan orang tua murid, membahas rencana kegiatan luar kota untuk kelas Rafa. Kegiatan edukatif, dua hari satu ma
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Luka di Ujung Senja   Bab 123

    Pagi itu datang seperti biasa—tanpa sesuatu yang menonjol, tanpa tanda bahwa hari akan membawa hal baru. Dan justru karena itu, Rafa menyukainya. Ia bangun tanpa alarm berbunyi terlalu keras. Cahaya masuk pelan dari jendela, tidak menyilaukan. Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa detik, membiarkan dirinya benar-benar sadar sebelum bergerak. Tidak ada rasa berat. Tidak ada pikiran yang langsung menyerbu. Hanya napas. Masuk. Keluar. Ia berdiri, membuka pintu, dan berjalan ke ruang tengah. Dua papan itu masih di sana. Satu kini bersih—tanpa kertas menempel, hanya bekas-bekas samar yang tersisa seperti bayangan cerita lama. Satu lagi tetap hidup—dengan tulisan yang tidak terlalu banyak, tapi cukup. Rafa tidak berhenti lama. Ia hanya melirik. Seperti menyapa. Lalu lanjut ke dapur. — Sarapan pagi itu sederhana. Roti, telur, dan teh hangat. Anggi duduk di seberangnya. Rendra sudah bersiap berangkat. “Kamu kelihatan santai,” kata Rendra. Rafa mengangguk. “Iya… lagi ngg

  • Luka di Ujung Senja   Bab 122

    Waktu terus berjalan, tapi kali ini Rafa tidak lagi merasa seperti sedang mengejar sesuatu. Hari-hari datang dan pergi dengan tenang. Tidak selalu ringan, tidak selalu mudah, tapi tidak lagi terasa menekan. Ia mulai menjalani rutinitas tanpa banyak pertanyaan di kepala. Bangun pagi. Berangkat sekolah. Duduk di kelas. Tertawa dengan teman. Kadang diam di Sudut Napas. Kadang langsung pulang. Sederhana. Dan justru karena itu… terasa utuh. — Suatu pagi, saat ia sedang bersiap berangkat, Rafa berhenti di depan dua papan itu lagi. Bukan karena kebiasaan. Lebih seperti… refleks yang lembut. Ia melihat papan lama. Tulisan-tulisan yang dulu terasa berat kini terlihat seperti catatan perjalanan. Tidak lagi menyakitkan. Tidak lagi menekan. Hanya… bagian dari cerita. Lalu ia melihat papan kedua. Lebih tenang. Lebih ringan. Seperti napas yang sudah tidak terburu. Ia tidak mengambil spidol. Tidak menulis apa-apa. Ia hanya mengangguk kecil, seperti menyapa sesuatu yang suda

  • Luka di Ujung Senja   Bab 121

    Hari-hari terus berganti Tidak ada lagi rasa mendesak seperti dulu. Tidak ada lagi perasaan harus segera melakukan sesuatu agar semuanya “baik-baik saja”. Rafa mulai hidup dengan ritme yang lebih tenang—bukan karena semua masalah hilang, tapi karena ia tidak lagi memikul semuanya sendiri. Suatu pagi, sebelum berangkat sekolah, Rafa berdiri agak lama di depan dua papan itu. Ia tidak membaca semua tulisan. Tidak juga mencari sesuatu. Ia hanya berdiri. Melihat. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia tidak lagi datang ke papan itu karena butuh—tapi karena ingin. Itu perbedaan yang kecil. Tapi berarti. — “Ibu,” panggilnya pelan. Anggi keluar dari dapur. “Hm?” “Aku hari ini nggak kepikiran apa-apa.” Anggi tersenyum kecil. “Itu bukan hal buruk.” Rafa mengangguk. “Dulu aku kira kalau kepala kosong itu berarti aku nggak peduli.” “Sekarang?” “Sekarang… mungkin itu berarti aku lagi istirahat.” Anggi mendekat, merapikan kerah baju Rafa sedikit. “Dan kamu berhak untuk

  • Luka di Ujung Senja   Bab 120

    Waktu berjalan Tidak ada peristiwa besar yang menandai perubahan, tidak ada kejadian yang membuat semuanya terasa berbeda dalam satu hari. Tapi justru di situlah sesuatu tumbuh—pelan, diam, dan menetap. Rafa mulai jarang berdiri lama di depan papan. Bukan karena ia tidak peduli lagi. Tapi karena ia tidak lagi butuh memastikan dirinya “baik-baik saja” setiap waktu. Kadang ia hanya lewat, membaca sekilas, lalu lanjut. Dan itu cukup. — Suatu pagi di sekolah, Rafa datang lebih awal. Gerbang masih setengah terbuka, halaman belum ramai. Ia berjalan pelan menuju Sudut Napas. Tempat itu kosong. Seperti biasanya di pagi hari. Ia duduk di kursi, meletakkan tas di sampingnya. Udara masih dingin. Dan untuk beberapa menit, ia hanya duduk tanpa tujuan. Tidak menunggu siapa pun. Tidak memikirkan apa pun. Hanya… ada. Langkah kaki terdengar dari jauh. Rafa menoleh. Ternyata Arman. “Kamu pagi banget,” kata Arman sambil duduk di sebelahnya. “Iya… lagi pengen aja,” jawab Rafa. Mere

  • Luka di Ujung Senja   Bab 119

    Beberapa hari setelah papan kedua mulai terisi, rumah itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang berubah secara drastis, tapi karena kini ada dua arah untuk melihat. Satu papan penuh—dengan tulisan yang saling tumpang tindih, jejak emosi yang sudah pernah dilalui. Satu lagi masih lapang—memberi ruang untuk hal-hal yang belum terjadi. Rafa sering berdiri di tengah-tengahnya. Melihat ke kiri. Lalu ke kanan. Seperti membaca masa lalu dan masa depan dalam satu tarikan napas. — Suatu sore, ia pulang lebih awal dari biasanya. Sekolah selesai cepat karena ada rapat guru. Rumah masih sepi. Anggi belum pulang dari pasar. Rendra masih di kantor. Rafa membuka pintu, melepas sepatu, lalu langsung duduk di lantai ruang tengah. Tidak menyalakan TV. Tidak membuka ponsel. Ia hanya duduk. Awalnya terasa canggung. Lalu pelan-pelan… biasa. Ia menyandarkan punggung ke dinding, menatap papan lama. Matanya berhenti di satu tulisan yang hampir pudar: “Hari ini aku nggak

  • Luka di Ujung Senja   Bab 118

    Beberapa hari setelah itu, suasana sekolah kembali seperti biasa. Tidak ada panggung. Tidak ada mikrofon. Tidak ada tepuk tangan. Tapi sesuatu tetap tertinggal. Bukan di aula. Melainkan di cara orang-orang saling memandang. Lebih pelan. Lebih sadar. — Rafa mulai merasakannya dari hal kecil. Saat ia berjalan di koridor, beberapa siswa yang dulu hanya lewat kini mengangguk kecil. Bukan seperti mengenal dekat, tapi seperti tahu—“aku pernah dengar kamu.” Ia tidak merasa jadi pusat perhatian. Dan itu melegakan. Ia tetap Rafa. Hanya saja… sedikit lebih terlihat. — Di Sudut Napas, perubahan itu juga terasa. Tidak drastis. Tapi ada lebih banyak kertas di kotak. Lebih banyak yang datang—meski tidak selalu untuk bicara. Hari itu, Rafa duduk bersama Dika saat jadwal jaga. Seorang anak laki-laki kelas bawah datang. Ia duduk, tidak bicara. Lalu berkata pelan, “Aku denger kamu waktu itu.” Rafa menoleh. Anak itu tidak menatapnya. “Aku pikir… cuma aku yang mikir kayak gitu.

  • Luka di Ujung Senja   Bab 70

    Waktu bergerak dengan cara yang nyaris tak terdengar. Tidak ada lonceng, tidak ada garis tebal yang memisahkan “sebelum” dan “sesudah”. Yang ada hanya pergeseran kecil di dalam diri Anggi—cara ia bangun pagi, cara ia mendengarkan, cara ia tidak lagi tergesa menilai dirinya sendiri. Suatu hari, Ang

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-28
  • Luka di Ujung Senja   Bab 68

    Pagi datang tanpa pengumuman. Tidak ada hujan, tidak ada langit menggantung rendah. Hanya cahaya yang masuk pelan melalui celah gorden, menempel di dinding kamar seperti tangan yang ragu mengetuk. Anggi terbangun lebih awal dari biasanya. Ia tidak langsung bangun, hanya berbaring, merasakan napasny

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-28
  • Luka di Ujung Senja   Bab 71

    Pagi itu dimulai dengan kabar yang tidak direncanakan. Anggi baru saja selesai menjemur pakaian ketika ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. Ia hampir mengabaikannya, tapi sesuatu—entah kebiasaan lama atau intuisi yang belum sepenuhnya mati—membuatnya mengangkat. “Apakah ini dengan Ibu Anggi Pr

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-28
  • Luka di Ujung Senja   Bab 67

    Musim hujan kembali datang lebih awal tahun itu. Langit sering menggantung rendah sejak siang, seolah menyimpan sesuatu yang belum selesai. Anggi merasakannya bukan sebagai firasat buruk, tapi sebagai penanda: akan ada fase baru yang menuntutnya kembali menata langkah. Suatu sore, ketika ia baru s

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-28
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status