Share

Bab 57

Penulis: Novi R
last update Tanggal publikasi: 2026-01-04 21:10:12

Waktu terus berjalan, dan Anggi mulai menyadari sesuatu yang halus namun penting: hidupnya tidak lagi dibangun dari reaksi, melainkan dari niat. Ia tidak menunggu masalah datang baru bergerak. Ia juga tidak menghindari kemungkinan buruk dengan menutup diri. Ia berjalan—dengan mata terbuka, langkah terukur.

Suatu pagi, Anggi menerima email dari pihak sekolah Rafa. Isinya undangan pertemuan orang tua murid, membahas rencana kegiatan luar kota untuk kelas Rafa. Kegiatan edukatif, dua hari satu ma
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Luka di Ujung Senja   Bab 122

    Waktu terus berjalan, tapi kali ini Rafa tidak lagi merasa seperti sedang mengejar sesuatu. Hari-hari datang dan pergi dengan tenang. Tidak selalu ringan, tidak selalu mudah, tapi tidak lagi terasa menekan. Ia mulai menjalani rutinitas tanpa banyak pertanyaan di kepala. Bangun pagi. Berangkat sekolah. Duduk di kelas. Tertawa dengan teman. Kadang diam di Sudut Napas. Kadang langsung pulang. Sederhana. Dan justru karena itu… terasa utuh. — Suatu pagi, saat ia sedang bersiap berangkat, Rafa berhenti di depan dua papan itu lagi. Bukan karena kebiasaan. Lebih seperti… refleks yang lembut. Ia melihat papan lama. Tulisan-tulisan yang dulu terasa berat kini terlihat seperti catatan perjalanan. Tidak lagi menyakitkan. Tidak lagi menekan. Hanya… bagian dari cerita. Lalu ia melihat papan kedua. Lebih tenang. Lebih ringan. Seperti napas yang sudah tidak terburu. Ia tidak mengambil spidol. Tidak menulis apa-apa. Ia hanya mengangguk kecil, seperti menyapa sesuatu yang suda

  • Luka di Ujung Senja   Bab 121

    Hari-hari terus berganti Tidak ada lagi rasa mendesak seperti dulu. Tidak ada lagi perasaan harus segera melakukan sesuatu agar semuanya “baik-baik saja”. Rafa mulai hidup dengan ritme yang lebih tenang—bukan karena semua masalah hilang, tapi karena ia tidak lagi memikul semuanya sendiri. Suatu pagi, sebelum berangkat sekolah, Rafa berdiri agak lama di depan dua papan itu. Ia tidak membaca semua tulisan. Tidak juga mencari sesuatu. Ia hanya berdiri. Melihat. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia tidak lagi datang ke papan itu karena butuh—tapi karena ingin. Itu perbedaan yang kecil. Tapi berarti. — “Ibu,” panggilnya pelan. Anggi keluar dari dapur. “Hm?” “Aku hari ini nggak kepikiran apa-apa.” Anggi tersenyum kecil. “Itu bukan hal buruk.” Rafa mengangguk. “Dulu aku kira kalau kepala kosong itu berarti aku nggak peduli.” “Sekarang?” “Sekarang… mungkin itu berarti aku lagi istirahat.” Anggi mendekat, merapikan kerah baju Rafa sedikit. “Dan kamu berhak untuk

  • Luka di Ujung Senja   Bab 120

    Waktu berjalan Tidak ada peristiwa besar yang menandai perubahan, tidak ada kejadian yang membuat semuanya terasa berbeda dalam satu hari. Tapi justru di situlah sesuatu tumbuh—pelan, diam, dan menetap. Rafa mulai jarang berdiri lama di depan papan. Bukan karena ia tidak peduli lagi. Tapi karena ia tidak lagi butuh memastikan dirinya “baik-baik saja” setiap waktu. Kadang ia hanya lewat, membaca sekilas, lalu lanjut. Dan itu cukup. — Suatu pagi di sekolah, Rafa datang lebih awal. Gerbang masih setengah terbuka, halaman belum ramai. Ia berjalan pelan menuju Sudut Napas. Tempat itu kosong. Seperti biasanya di pagi hari. Ia duduk di kursi, meletakkan tas di sampingnya. Udara masih dingin. Dan untuk beberapa menit, ia hanya duduk tanpa tujuan. Tidak menunggu siapa pun. Tidak memikirkan apa pun. Hanya… ada. Langkah kaki terdengar dari jauh. Rafa menoleh. Ternyata Arman. “Kamu pagi banget,” kata Arman sambil duduk di sebelahnya. “Iya… lagi pengen aja,” jawab Rafa. Mere

  • Luka di Ujung Senja   Bab 119

    Beberapa hari setelah papan kedua mulai terisi, rumah itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang berubah secara drastis, tapi karena kini ada dua arah untuk melihat. Satu papan penuh—dengan tulisan yang saling tumpang tindih, jejak emosi yang sudah pernah dilalui. Satu lagi masih lapang—memberi ruang untuk hal-hal yang belum terjadi. Rafa sering berdiri di tengah-tengahnya. Melihat ke kiri. Lalu ke kanan. Seperti membaca masa lalu dan masa depan dalam satu tarikan napas. — Suatu sore, ia pulang lebih awal dari biasanya. Sekolah selesai cepat karena ada rapat guru. Rumah masih sepi. Anggi belum pulang dari pasar. Rendra masih di kantor. Rafa membuka pintu, melepas sepatu, lalu langsung duduk di lantai ruang tengah. Tidak menyalakan TV. Tidak membuka ponsel. Ia hanya duduk. Awalnya terasa canggung. Lalu pelan-pelan… biasa. Ia menyandarkan punggung ke dinding, menatap papan lama. Matanya berhenti di satu tulisan yang hampir pudar: “Hari ini aku nggak

  • Luka di Ujung Senja   Bab 118

    Beberapa hari setelah itu, suasana sekolah kembali seperti biasa. Tidak ada panggung. Tidak ada mikrofon. Tidak ada tepuk tangan. Tapi sesuatu tetap tertinggal. Bukan di aula. Melainkan di cara orang-orang saling memandang. Lebih pelan. Lebih sadar. — Rafa mulai merasakannya dari hal kecil. Saat ia berjalan di koridor, beberapa siswa yang dulu hanya lewat kini mengangguk kecil. Bukan seperti mengenal dekat, tapi seperti tahu—“aku pernah dengar kamu.” Ia tidak merasa jadi pusat perhatian. Dan itu melegakan. Ia tetap Rafa. Hanya saja… sedikit lebih terlihat. — Di Sudut Napas, perubahan itu juga terasa. Tidak drastis. Tapi ada lebih banyak kertas di kotak. Lebih banyak yang datang—meski tidak selalu untuk bicara. Hari itu, Rafa duduk bersama Dika saat jadwal jaga. Seorang anak laki-laki kelas bawah datang. Ia duduk, tidak bicara. Lalu berkata pelan, “Aku denger kamu waktu itu.” Rafa menoleh. Anak itu tidak menatapnya. “Aku pikir… cuma aku yang mikir kayak gitu.

  • Luka di Ujung Senja   Bab 117

    Hari Ekspresi Diri akhirnya tiba. Sekolah terasa berbeda sejak pagi. Ada semacam getaran kecil di udara—bukan tegang, tapi penuh antisipasi. Beberapa siswa membawa alat musik, beberapa memegang kertas berisi tulisan, dan ada juga yang hanya berjalan seperti biasa, memilih menjadi penonton. Rafa datang seperti hari-hari sebelumnya. Tas di punggung. Langkah tidak terburu. Tapi ada satu hal yang berbeda: ia membawa kertas kecil di saku. Bukan karena sudah memutuskan untuk tampil. Hanya… berjaga-jaga. — Di aula sekolah, kursi-kursi sudah disusun rapi. Panggung sederhana di depan, dengan mikrofon berdiri di tengah. Tidak megah. Tapi cukup. Rafa duduk di barisan tengah bersama Dika. “Deg-degan?” tanya Dika. Rafa mengangkat bahu. “Aku kan nggak tampil.” Dika tersenyum. “Belum tentu.” Rafa tidak menjawab. Ia menatap panggung. Satu per satu siswa mulai tampil. Ada yang menyanyi. Ada yang membaca puisi. Ada yang bercerita tentang pengalaman pribadi. Beberapa suara bergeta

  • Luka di Ujung Senja   Bab 21

    Pintu mobil baru saja tertutup kembali ketika Claudia terduduk di kursi, napasnya masih belum stabil. Bukan karena takut—tapi karena campuran adrenalin, kemarahan, dan sisa panas di kulitnya yang belum padam sejak ia dan Damar hampir saja kehilangan kendali. Damar masuk beberapa detik kemudian. Ta

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Luka di Ujung Senja   Bab 22

    Mobil melaju cepat menembus gelap malam. Claudia tidak bertanya ke mana mereka pergi—ia hanya menatap garis cahaya yang memantul di kaca jendela sambil masih merasakan panas di kulitnya. Damar tidak banyak bicara. Rahangnya mengeras, satu tangannya menggenggam setir, satu lagi sempat beberapa kali

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Luka di Ujung Senja   Bab 19

    Ponsel Damar berdering keras, mengguncang udara panas di dalam mobil. Nama pengirim membuat darahnya membeku seketika. dr. X. Damar menatap layar itu dengan rahang mengeras, lalu mematikannya tanpa ragu. Claudia menelan ludah. “Kamu tidak angkat?” Damar mengalihkan pandangannya… dan di balik in

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Luka di Ujung Senja   Bab 20

    Tok. Tok. Tok. Ketukan di kaca mobil memotong panas di antara mereka. Damar refleks menahan Claudia di pangkuannya, otot-ototnya menegang. Napas mereka masih tersengal… sementara sosok di luar jendela berdiri diam, senyum tipis menghias wajahnya. dr. X. Claudia menggigil, tapi bukan hanya karena

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status