Se connecterTahun baru datang tanpa kembang api di halaman rumah Anggi. Tidak ada hitung mundur, tidak ada resolusi besar yang ditulis dengan spidol tebal. Mereka menyambutnya dengan makan malam sederhana dan doa pendek. Rafa tertidur lebih cepat dari biasanya, kelelahan setelah hari panjang. Anggi dan Rendra duduk di ruang tamu, lampu redup, televisi mati. “Aneh ya,” kata Rendra pelan. “Dulu kita selalu berharap tahun depan beda.” Anggi mengangguk. “Sekarang aku cuma berharap bisa hadir.” Rendra tersenyum. Mereka tidak saling menatap lama. Keheningan itu tidak kosong. Ia penuh. Hari-hari pertama tahun itu membawa rutinitas baru. Anggi menyusun jadwal yang lebih longgar di pagi hari—bangun lebih awal bukan untuk bekerja, melainkan untuk duduk sebentar, minum air hangat, dan bernapas. Kebiasaan kecil itu menempel seperti jangkar. Ia tidak selalu tenang, tapi ia selalu kembali. Di kantor, tantangan muncul dari arah yang tidak terduga. Proyek yang ia pimpin mengalami penundaan karena vendor ber
Waktu bergerak tanpa menunggu kesiapan siapa pun, tapi Anggi kini tidak lagi merasa tertinggal olehnya. Setelah menerima promosi dengan batasan yang ia tetapkan sendiri, hari-harinya menjadi lebih padat, namun tidak lagi terasa menelan dirinya bulat-bulat. Ia belajar satu hal penting: sibuk tidak selalu berarti kehilangan kendali, selama ia tahu kapan harus berhenti. Peran barunya di kantor menuntut Anggi sering memimpin rapat. Pada minggu-minggu awal, suaranya sempat bergetar ketika harus mengambil keputusan besar. Ia melihat wajah-wajah di sekeliling meja—ada yang lebih senior, ada yang terang-terangan meragukan. Dulu, tatapan seperti itu akan membuatnya mengecil. Kini tidak. “Ada risiko di sini,” katanya suatu siang, menunjuk grafik di layar. “Dan saya tidak akan pura-pura tahu semuanya. Tapi ini opsi terbaik yang kita punya kalau mau berkelanjutan.” Ruangan hening beberapa detik. Lalu satu per satu orang mengangguk. Bukan karena Anggi paling pintar, tapi karena ia jujur. Sepu
Waktu tidak berhenti, tapi ia melambat dengan cara yang membuat Anggi bisa bernapas di sela-selanya. Setelah ulang tahunnya berlalu tanpa perayaan besar, Anggi merasa ada fase baru yang terbuka—bukan karena sesuatu yang spektakuler terjadi, melainkan karena ia tidak lagi berusaha menghindari apa pun. Suatu pagi, Anggi mendapat undangan dari sekolah Rafa. Kali ini bukan soal kesehatan atau kegiatan luar kota, melainkan pementasan kecil akhir semester. Rafa terlibat sebagai narator. Perannya sederhana, tapi wajahnya tampak begitu serius saat menceritakannya. “Ibu harus datang,” katanya tegas. Anggi tertawa kecil. “Ibu pasti datang.” Hari pementasan tiba. Aula sekolah ramai oleh orang tua yang saling menyapa. Anggi duduk di baris tengah bersama Rendra. Ia merasakan getar kecil di tangannya—bukan karena takut, melainkan karena harap. Rafa tampil dengan suara yang sedikit gemetar di awal, lalu semakin mantap. Saat ia menatap ke arah penonton dan menemukan mata Anggi, senyumnya mengemb
Beberapa minggu setelah hari di taman itu, hidup Anggi kembali diuji dengan cara yang lebih sunyi—tanpa ledakan, tanpa drama besar, hanya tekanan yang datang perlahan dan menetap. Suatu sore, saat Anggi sedang menyusun laporan di rumah, ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. Ia hampir mengabaikannya, tapi entah mengapa ia mengangkat. “Anggi?” Suara perempuan paruh baya terdengar ragu. “Ini… Bu Rina. Ibunya Claudia.” Nama itu membuat Anggi terdiam beberapa detik. Kenangan malam hujan, tangan yang gemetar di balik pagar, dan suara lirih dari jendela lantai dua kembali menyelinap ke kepalanya. “Iya, Bu,” jawab Anggi akhirnya. Di seberang sana, Bu Rina menghela napas panjang. “Claudia… akhir-akhir ini sering murung. Dokternya bilang kondisi mentalnya naik turun. Saya tahu saya nggak punya hak minta apa-apa ke kamu, tapi… bolehkah kamu datang sebentar? Bukan sekarang, kapan pun kamu siap.” Anggi memejamkan mata. Ia tidak merasakan amarah. Yang ada justru kelelahan yang pelan. Ia tida
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang hampir tenang—hampir, karena Anggi tahu ketenangan sejati jarang bertahan tanpa riak. Ia tidak lagi menganggap itu ancaman. Ia menerimanya sebagai bagian dari napas hidup. Suatu pagi, Anggi menerima telepon dari nomor rumah sakit yang sudah begitu akrab di ingatannya. Kali ini bukan tentang Rafa. Suara di seberang memperkenalkan diri sebagai perawat dari bangsal lain, menyebut nama ibunya. “Ibu Anda masuk semalam karena kelelahan dan tekanan darah tinggi,” kata suara itu. Anggi memejamkan mata. Ada rasa kaget, tapi tidak panik. Ia menutup telepon, lalu duduk sejenak. Rendra mendekat, membaca wajahnya. “Ibu?” tanyanya. Anggi mengangguk. “Aku harus ke sana.” Rendra tidak bertanya lebih lanjut. “Aku antar.” Di rumah sakit, Anggi berdiri di depan ranjang ibunya—perempuan yang dulu terasa begitu jauh, begitu keras, dan begitu sulit dipahami. Kini tubuh itu tampak lebih kecil, lebih rapuh. Ibunya membuka mata, menatap Anggi lama. “Kamu
Waktu terus berjalan, dan Anggi mulai menyadari sesuatu yang halus namun penting: hidupnya tidak lagi dibangun dari reaksi, melainkan dari niat. Ia tidak menunggu masalah datang baru bergerak. Ia juga tidak menghindari kemungkinan buruk dengan menutup diri. Ia berjalan—dengan mata terbuka, langkah terukur. Suatu pagi, Anggi menerima email dari pihak sekolah Rafa. Isinya undangan pertemuan orang tua murid, membahas rencana kegiatan luar kota untuk kelas Rafa. Kegiatan edukatif, dua hari satu malam. Saat membaca detailnya, jantung Anggi berdegup lebih cepat. Dua hari satu malam. Dulu, kalimat itu cukup untuk membuatnya menutup laptop dan menolak tanpa pikir panjang. Ia meletakkan ponsel, menarik napas, lalu menunggu sampai Rendra pulang. “Rafa dapat rencana karyawisata,” kata Anggi malam itu. Rendra menatapnya. “Kamu kepikiran.” “Iya.” “Karena Rafa, atau karena dirimu?” Anggi terdiam lama sebelum menjawab. “Dua-duanya.” Mereka memanggil Rafa ke ruang tamu. “Kegiatan ini opsio







