MasukRaka sedang berbicara dengan kondektur bus antar kota jurusan Jakarta. Entah apa yang dibicarakan pria itu, Arunika tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Setelah beberapa saat, Raka kembali menghampirinya dan mengajak gadis itu mencari toilet.
“Mau apa? Aku nggak pengen pipis.” Arunika takut jika Raka memiliki niat jahat padanya. Ditambah lagi suasana terminal bayangan ramai… penuh pria bertato. Raka kembali terkekeh. Mati-matian dia menahan rasa gemas melihat kepolosan sepupu temannya. Dia tidak berani menyentuh Arunika, hanya berjalan lebih dulu. “Ayo.” Dia tak menoleh, tau jika Arunika pasti menurut. Dengan perasaan sedikit takut, Arunika pun mengikuti Raka. Sesampainya di toilet umum, Raka menyerahkan sebuah paper bag pada Arunika. “Ganti pakaianmu dan keringkan rambut. Jangan sampai kamu masuk angin karena perjalananmu masih panjang.” Tanpa membantah, Arunika menerima paper bag itu, lalu segera masuk ke dalam toilet untuk berganti pakaian. Usai berganti pakaian, Arunika keluar dari toilet dengan rambut yang sudah dikeringkan seadanya. Raka yang sejak tadi menunggunya langsung mengajak gadis itu kembali menuju bus. “Busnya sebentar lagi berangkat,” ujar Raka. "Ada di sebelah sana. Agak jelek bentuknya, tapi dalamnya lumayan nyaman untuk perjalanan jauh.” Arunika mengangguk dan mengikuti Raka. Tak ada masalah dengan bentuk bus… yang penting dia segera pergi dari kota Solo. Begitu tiba di sebelah bus, Raka masuk lebih dulu. Dia berjalan menyusuri lorong sempit hingga menemukan kursi sesuai tiket Arunika. “Ini tempat dudukmu.” Raka mempersilakan Arunika duduk. “Kamu bebas mau duduk di pinggir sini atau dekat kaca. Kamu duduk sendiri, jadi pilih saja yang paling nyaman.” Arunika mengangguk pelan, lalu duduk di kursinya. “Terima kasih, Mas.” Dia baru saja hendak menyandarkan tubuh ketika tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh, iya, ongkosnya berapa?” “Nggak usah. Sudah dibayar sama Bagas.” “Tapi Bagas kan enggak tahu kalau aku naik bus. Tadi—” “Sudah dulu, ya,” sahut Raka, memotong kalimat Arunika. “Busnya sudah mau berangkat.” Raka pun segera turun dari bus dengan tergesa-gesa. Tatapan Arunika mengikuti punggung Raka yang semakin menjauh hingga menghilang dari pandangan. Perlahan, Arunika menghembuskan nafas panjang. Tangannya terangkat untuk mengelus dada, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang.Namun, usaha itu sia-sia. Air matanya tiba-tiba pecah. Arunika segera menutup mulut dengan kedua tangannya agar isaknya tidak terdengar oleh penumpang lain. Rasanya dia ingin pingsan setelah melewati kejadian yang begitu melelahkan. Mulai dari melarikan diri dari rumah, dikejar anak buah Juragan Satrio, jatuh di tengah jalan, hingga berhasil meninggalkan Solo. Beberapa saat kemudian, tangis Arunika mulai mereda. Dia mengambil tisu dari dalam tas kecilnya, lalu mengusap air mata yang membasahi pipi. Saat itulah dia teringat pada ponselnya. Benda pipih itu sengaja dimatikannya agar ibu tirinya tidak bisa menghubunginya. “Nyalakan apa tidak, ya?” gumamnya bimbang. Dia takut keberadaannya bisa dilacak. Pada akhirnya, Arunika kembali memasukkan ponsel itu ke dalam tas. Namun, kakinya tidak sengaja menendang paper bag yang berisi pakaian kotornya. Tadi dia merasa seperti melihat sesuatu selain pakaian di dalamnya. Arunika pun mengambil paper bag dan membukanya. Di sana terdapat sebuah kotak ponsel. Di atasnya tertera secarik pesan. ‘Mulai sekarang pakai ponsel ini.’ Arunika segera mengeluarkan ponsel itu dari dalam kotak. Rupanya, ponsel sudah dalam keadaan menyala. Dia memeriksa daftar kontak dan menemukan nama yang sudah disimpan. Bagas. Bude Lastri. Bude Sumi. Arunika langsung menekan nama Bude Lastri. Panggilan itu segera terhubung. Namun, suara Bude Lastri terdengar seperti sedang berbisik-bisik. Hal itu membuat Arunika langsung panik. Jangan-jangan anak buah Juragan Satrio sekarang sedang mengamuk di rumah Bude Lastri karena wanita paruh baya itu adalah orang yang paling dekat dengannya. Belum sempat Arunika berbicara, panggilan tiba-tiba terputus. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. 📩Bude Lastri: “Bude sedang di kantor polisi. Jangan khawatir, Bude baik-baik saja. Arunika menatap layar ponsel dengan cemas. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang yang telah membantunya melarikan diri. Karena penasaran, dia membuka kontak Bagas. Namun, dia tidak berani menanyakan keadaan secara langsung. Jika ponsel itu sampai jatuh ke tangan orang lain, pesannya bisa membuat Bagas celaka. Arunika mencoba cara lain. Dia mengetik sebuah pesan seolah-olah sedang menanyakan produk kecantikan. 📩Bagas: “Beb, kamu masih jual produk skincare yang kemarin? Aku mau tanya, ada nggak yang bisa buat kulit kusam? Kalau ada, kirim foto sama harganya, ya.” Arunika berharap Bagas memahami maksud tersembunyi di balik pesannya dan membalas dengan cara yang sama. Cukup lama Arunika menunggu hingga Bagas membalas. Namun, bukan berupa pesan teks, melainkan sebuah voice note. “Ada juga yang buat bopeng, haha. Kamu sudah berangkat, kan, Arun? Kami di sini aman kok. Nikmati perjalananmu.” Arunika menepuk-nepuk dadanya. Rasa sesak yang sejak tadi menghimpit perlahan mereda. “Syukurlah...” gumamnya pelan. Hujan di luar kembali turun dengan deras. Udara di dalam bus pun terasa semakin dingin, membuat tubuh Arunika sedikit menggigil. Dia lantas merapatkan jaket yang dikenakannya. Rasa lelah mulai menguasai dirinya. Kedua matanya perlahan terpejam. Namun, di antara kesadarannya yang mulai menghilang, sayup-sayup Arunika mendengar sebuah suara. “Saya akan menjaganya, Tuan.” Entah suara siapa. Mungkin hanya bagian dari mimpinya. Beberapa detik kemudian, Arunika tertidur pulas.Menu makan malam telah tersaji di atas meja. Semuanya terlihat cantik sekaligus lezat. Raksa bahkan sudah duduk di meja makan sebelum Arunika selesai memasak.Pria itu tidak memberikan alasan, dan Arunika juga tidak berani bertanya. Selain takut pada wajah sang majikan yang menyeramkan sekaligus tampan, dia juga harus fokus membuat hidangan dengan nama-nama yang membuat lidahnya belibet jika harus mengucapkannya.Begitu juga dengan Raka. Pria itu sudah datang karena akan ikut business trip bersama bosnya. Dia menatap takjub hasil karya Arunika.“Aku nggak nyangka kamu bisa membuat semua masakan yang diminta Pak Raksa, Run,” ujar Raka. “Padahal tadi kamu bilang belum pernah melihat makanan itu. Kok bisa membuatnya?”Mendengar ucapan sang asisten, sebelah alis Raksa langsung terangkat. Kalau Arunika belum pernah melihat hidangan itu, berarti dia juga tidak tahu seperti apa rasanya. Lalu… “Kamu bikinnya ngawur?” tanyanya tanpa basa-basi.Arunika mengerucutkan bibir. “Bapak belum mencoban
“Em, Pak … eh, Bapak Raksa mau minum kopi?” tanya Arunika dengan perasaan takut.Namun, dia memaksakan langkahnya mendekati kitchen island yang berantakan. Dengan cepat, dia membersihkan tumpahan kopi, lalu menatap Raksa yang masih memunggunginya. “Bapak …” panggilnya lagi.Raksa menoleh. Mata elangnya menatap tajam ke arah ART barunya. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya, hanya tatapan datar seperti tembok.“Buatkan saya kopi,” ujarnya.“Iya, Bapak.”Sebenarnya, Raksa terganggu dengan panggilan Bapak. Dia memang seorang duda, tapi rasanya dirinya belum setua itu sampai harus dipanggil Bapak.Lantas, tangannya menunjuk mesin kopi. “Kamu bisa memakai alat ini?”Melihat asal-usul gadis di depannya, Raksa sangat meragukan kemampuan Arunika dalam menggunakan mesin tersebut. Pasalnya, dia sendiri juga tidak tahu cara menggunakan alat itu. “Kalau tidak bisa, buang saja!” perintahnya.“Eh ….”Arunika tersentak kaget. Kepalanya refleks menunduk saat Raksa berjalan mendekatinya, lalu melewati
Seminggu tinggal di Jakarta membuat Arunika perlahan mulai terbiasa dengan hiruk-pikuk kota besar. Suara kendaraan, klakson, dan keramaian yang awalnya membuat kepalanya pusing kini sudah tidak terlalu mengganggunya.Hari ini, Arunika siap memulai kehidupan barunya.Dia sudah berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, tepat di depan Ardhana Private Residence, sebuah apartemen eksklusif yang hanya dihuni kalangan tertentu. Gedungnya menjulang tinggi dengan lobby mewah, sistem keamanan ketat, dan akses khusus menuju penthouse.Lila mengantar Arunika sampai ke lobby. Gadis itu mendongak, menatap bangunan megah di hadapannya dengan perasaan gugup.Sulit dipercaya bahwa mulai hari ini, dia akan bekerja di tempat seperti ini. “Sebentar lagi asisten pribadi Tuan Raksa akan menjemputmu.” Lila menepuk pelan tangan sahabatnya. “Setiap akhir pekan kamu dapat jatah libur. Kalau bosan, hubungi saja aku. Nanti aku jemput dan kita keliling Jakarta.”“Iya. Nanti kalau aku sudah terbiasa dengan pekerj
Bus yang ditumpangi Arunika akhirnya berhenti di salah satu terminal bayangan di Jakarta. Satu jam yang lalu, begitu terbangun, Arunika segera meraih ponselnya untuk memeriksa jam. Ternyata, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Lila. Arunika pun segera menghubunginya kembali dan memberitahukan bahwa dirinya tidak jadi naik kereta seperti rencana awal. Meskipun jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, Lila tetap datang menjemput. Bagaimanapun, Arunika baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta dan belum mengetahui apapun tentang kota itu. Setelah mengambil tas dari bagasi bus, Arunika baru saja hendak beranjak ketika terdengar suara seseorang memanggilnya. “Arun...” Arunika menoleh. “Lila?” gumamnya ragu. Dia hampir tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Puluhan tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. “Ya ampun, kangen banget aku sama kamu!” Lila langsung menghampiri dan memeluk sahabatnya. “Jauh-jauh datang ke Jakarta malah bikin aku kaget. Makin cantik sa
Raka sedang berbicara dengan kondektur bus antar kota jurusan Jakarta. Entah apa yang dibicarakan pria itu, Arunika tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Setelah beberapa saat, Raka kembali menghampirinya dan mengajak gadis itu mencari toilet.“Mau apa? Aku nggak pengen pipis.” Arunika takut jika Raka memiliki niat jahat padanya. Ditambah lagi suasana terminal bayangan ramai… penuh pria bertato.Raka kembali terkekeh. Mati-matian dia menahan rasa gemas melihat kepolosan sepupu temannya. Dia tidak berani menyentuh Arunika, hanya berjalan lebih dulu.“Ayo.” Dia tak menoleh, tau jika Arunika pasti menurut. Dengan perasaan sedikit takut, Arunika pun mengikuti Raka.Sesampainya di toilet umum, Raka menyerahkan sebuah paper bag pada Arunika. “Ganti pakaianmu dan keringkan rambut. Jangan sampai kamu masuk angin karena perjalananmu masih panjang.”Tanpa membantah, Arunika menerima paper bag itu, lalu segera masuk ke dalam toilet untuk berganti pakaian.Usai berganti pakaian, Arunika keluar
Hujan mulai reda ketika Arunika dan Bagas akhirnya sampai di jalan besar. Jalan itu bukan jalan yang biasa digunakan warga desa untuk menunggu bus. Letaknya cukup jauh dari pemukiman dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas.Mereka sengaja memilih jalan itu karena jalan utama menuju desa kemungkinan sudah dijaga oleh anak buah Juragan Satrio.Bagas menghentikan motor di pinggir jalan.Arunika segera turun, lalu melepaskan jas hujan plastik yang sejak tadi melindungi tubuhnya. “Terima kasih ya, Gas.”Pakaiannya sedikit basah, tetapi rambut panjangnya tidak selamat dari guyuran hujan. Beberapa helai rambut menempel di wajahnya, sementara air masih menetes dari ujungnya.Bagas menatap Arunika sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke jalan yang masih sepi. “Kamu mau ke mana sekarang, Arun?”Arunika terdiam. Dia baru menyadari bahwa dirinya tidak memiliki tujuan yang jelas.“Aku sudah minta tolong sama temanku yang bekerja dengan orang Jakarta. Kebetulan, dia sedang mengantar bosnya







