Home / Romansa / Luka yang Bernama Cinta / Terminal Bayangan

Share

Terminal Bayangan

Author: Syamwiek
last update publish date: 2026-09-29 21:59:04

Hujan mulai reda ketika Arunika dan Bagas akhirnya sampai di jalan besar. Jalan itu bukan jalan yang biasa digunakan warga desa untuk menunggu bus. Letaknya cukup jauh dari pemukiman dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas.

Mereka sengaja memilih jalan itu karena jalan utama menuju desa kemungkinan sudah dijaga oleh anak buah Juragan Satrio.

Bagas menghentikan motor di pinggir jalan.

Arunika segera turun, lalu melepaskan jas hujan plastik yang sejak tadi melindungi tubuhnya. “Terima kasih ya, Gas.”

Pakaiannya sedikit basah, tetapi rambut panjangnya tidak selamat dari guyuran hujan. Beberapa helai rambut menempel di wajahnya, sementara air masih menetes dari ujungnya.

Bagas menatap Arunika sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke jalan yang masih sepi. “Kamu mau ke mana sekarang, Arun?”

Arunika terdiam. Dia baru menyadari bahwa dirinya tidak memiliki tujuan yang jelas.

“Aku sudah minta tolong sama temanku yang bekerja dengan orang Jakarta. Kebetulan, dia sedang mengantar bosnya meninjau pembangunan pabrik di desa sebelah. Dia akan mengantarmu sampai ke Stasiun Balapan Solo,” ujar Bagas setelah menunggu Arunika berbicara. Namun, gadis di depannya masih melamun. Bagas pun melanjutkan, “Masih ingat Lila, kan? Teman masa kecil kita yang dulu pindah ke Jakarta? Sekarang dia bekerja sebagai babysitter di sana.”

Jelas saja Arunika masih mengingat Lila. Mereka adalah sahabat baik sejak kecil. Hanya saja, keduanya sempat kehilangan kontak setelah ponsel Arunika dijual oleh Damar untuk berjudi.

“Ibu sudah menelepon Lila tadi sore. Katanya, dia bakal menjemput kamu di Stasiun Pasar Senen.” Bagas menepuk pelan kepala Arunika. “Aku juga sudah mentransfer uang ke rekeningmu. Gunakan untuk membayar kos dan makan sampai kamu mendapatkan pekerjaan. Memang nggak banyak, tapi cukup untuk bertahan hidup di Jakarta selama tiga bulan.”

“Gas...”

“Nggak usah terima kasih dulu. Nanti kalau kamu sudah sukses, baru aku minta balasannya.”

“Kamu ini!”

Bagas baru saja hendak menjawab ketika sebuah Rubicon hitam berhenti di depan mereka. Kaca mobil perlahan terbuka dan Raka muncul dari balik kemudi.

“Hai, Arun.” Raka sudah mengetahui nama Arunika dari cerita Bagas saat meminta bantuannya. “Ayo masuk, kita harus mengejar kereta.”

Bagas segera menuju bagian belakang mobil untuk membuka bagasi dan memasukkan tas Arunika.

Sebelum naik, Arunika kembali menatap Bagas. “Terima kasih, ya. Kamu pulangnya hati-hati.”

“Aku akan menginap di rumah saudara. Sekalian mengecoh anak buah Juragan Satrio.”

Arunika mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan Bagas.

Bagas menutup pintu, kemudian menatap temannya. “Titip sepupuku, ya, Raka. Maaf sudah merepotkan.”

“Aman,” jawab Raka.

Setelah itu, kaca mobil kembali tertutup dan Rubicon hitam perlahan meninggalkan tempat Bagas masih berdiri dengan wajah khawatir.

Suasana di dalam mobil sangat sunyi. Arunika tidak berani berbicara karena Raka juga diam sejak mengemudikan kendaraan itu. Bahkan, gadis itu tidak berani meminta Raka mengecilkan AC meskipun tubuhnya mulai menggigil kedinginan.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering dari dalam mobil. Arunika sedikit terkejut. Baru saat itu dia menyadari ternyata ada penumpang lain di dalam mobil selain dirinya dan Raka.

Raka melirik sekilas ke arah Arunika. “Dingin?”

Tanpa menoleh, Arunika mengangguk pelan. “Iya, tapi nggak apa-apa. Aku masih bisa tahan.”

Raka terkekeh pelan. “Sudah menggigil masih bilang nggak apa-apa.” Tangannya segera meraih tombol AC dan mengecilkan suhunya.

Sementara itu, dari kursi belakang terdengar suara berat seorang pria. Meski Arunika tidak menoleh dan sama sekali belum melihat wajahnya, suara itu… entah mengapa langsung membuat tubuhnya menegang. Ada sesuatu dari suara itu yang membuatnya teringat pada orang-orang yang mengejarnya malam ini.

Arunika memilih tetap menatap lurus ke depan, berusaha mengabaikan rasa takut yang tiba-tiba muncul.

Di tengah lamunan Arunika, terdengar suara pria dari kursi belakang. “Ubah tujuan ke stasiun bayangan,” ujarnya.

“Siap, Bos!” jawab Raka.

Arunika sontak panik. Tadi Bagas memintanya pergi ke stasiun, tetapi kenapa sekarang malah menuju terminal?

Terminal bayangan pula. Apa itu? Arunika sama sekali tidak tahu. Apakah itu terminal khusus para penjahat? Atau justru terminal khusus orang-orang yang sedang kabur?

Akhirnya, Arunika memberanikan diri untuk bertanya. “Mas Raka,” panggilnya hati-hati, takut menyinggung. “Em... aku…”

“Tenang saja, Arun. Aku akan memastikan kamu sampai di Jakarta dengan selamat,” sahut Raka cepat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (8)
goodnovel comment avatar
thoriq fikri
semoga raka ngak macem2
goodnovel comment avatar
thoriq fikri
siapa laki2 yg dimobil raka? bukannya dianter ke stasiun malah disntar ke terminal...
goodnovel comment avatar
Iin Iin
sabar ya arun. semoga stlh ini kamu bisa bebas dr ibu tiri mu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Luka yang Bernama Cinta   Tak Sengaja Melihat

    Menu makan malam telah tersaji di atas meja. Semuanya terlihat cantik sekaligus lezat. Raksa bahkan sudah duduk di meja makan sebelum Arunika selesai memasak.Pria itu tidak memberikan alasan, dan Arunika juga tidak berani bertanya. Selain takut pada wajah sang majikan yang menyeramkan sekaligus tampan, dia juga harus fokus membuat hidangan dengan nama-nama yang membuat lidahnya belibet jika harus mengucapkannya.Begitu juga dengan Raka. Pria itu sudah datang karena akan ikut business trip bersama bosnya. Dia menatap takjub hasil karya Arunika.“Aku nggak nyangka kamu bisa membuat semua masakan yang diminta Pak Raksa, Run,” ujar Raka. “Padahal tadi kamu bilang belum pernah melihat makanan itu. Kok bisa membuatnya?”Mendengar ucapan sang asisten, sebelah alis Raksa langsung terangkat. Kalau Arunika belum pernah melihat hidangan itu, berarti dia juga tidak tahu seperti apa rasanya. Lalu… “Kamu bikinnya ngawur?” tanyanya tanpa basa-basi.Arunika mengerucutkan bibir. “Bapak belum mencoban

  • Luka yang Bernama Cinta   Janah?

    “Em, Pak … eh, Bapak Raksa mau minum kopi?” tanya Arunika dengan perasaan takut.Namun, dia memaksakan langkahnya mendekati kitchen island yang berantakan. Dengan cepat, dia membersihkan tumpahan kopi, lalu menatap Raksa yang masih memunggunginya. “Bapak …” panggilnya lagi.Raksa menoleh. Mata elangnya menatap tajam ke arah ART barunya. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya, hanya tatapan datar seperti tembok.“Buatkan saya kopi,” ujarnya.“Iya, Bapak.”Sebenarnya, Raksa terganggu dengan panggilan Bapak. Dia memang seorang duda, tapi rasanya dirinya belum setua itu sampai harus dipanggil Bapak.Lantas, tangannya menunjuk mesin kopi. “Kamu bisa memakai alat ini?”Melihat asal-usul gadis di depannya, Raksa sangat meragukan kemampuan Arunika dalam menggunakan mesin tersebut. Pasalnya, dia sendiri juga tidak tahu cara menggunakan alat itu. “Kalau tidak bisa, buang saja!” perintahnya.“Eh ….”Arunika tersentak kaget. Kepalanya refleks menunduk saat Raksa berjalan mendekatinya, lalu melewati

  • Luka yang Bernama Cinta   Umpatan di Dapur

    Seminggu tinggal di Jakarta membuat Arunika perlahan mulai terbiasa dengan hiruk-pikuk kota besar. Suara kendaraan, klakson, dan keramaian yang awalnya membuat kepalanya pusing kini sudah tidak terlalu mengganggunya.Hari ini, Arunika siap memulai kehidupan barunya.Dia sudah berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, tepat di depan Ardhana Private Residence, sebuah apartemen eksklusif yang hanya dihuni kalangan tertentu. Gedungnya menjulang tinggi dengan lobby mewah, sistem keamanan ketat, dan akses khusus menuju penthouse.Lila mengantar Arunika sampai ke lobby. Gadis itu mendongak, menatap bangunan megah di hadapannya dengan perasaan gugup.Sulit dipercaya bahwa mulai hari ini, dia akan bekerja di tempat seperti ini. “Sebentar lagi asisten pribadi Tuan Raksa akan menjemputmu.” Lila menepuk pelan tangan sahabatnya. “Setiap akhir pekan kamu dapat jatah libur. Kalau bosan, hubungi saja aku. Nanti aku jemput dan kita keliling Jakarta.”“Iya. Nanti kalau aku sudah terbiasa dengan pekerj

  • Luka yang Bernama Cinta   Penthouse Sang Duda

    Bus yang ditumpangi Arunika akhirnya berhenti di salah satu terminal bayangan di Jakarta. Satu jam yang lalu, begitu terbangun, Arunika segera meraih ponselnya untuk memeriksa jam. Ternyata, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Lila. Arunika pun segera menghubunginya kembali dan memberitahukan bahwa dirinya tidak jadi naik kereta seperti rencana awal. Meskipun jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, Lila tetap datang menjemput. Bagaimanapun, Arunika baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta dan belum mengetahui apapun tentang kota itu. Setelah mengambil tas dari bagasi bus, Arunika baru saja hendak beranjak ketika terdengar suara seseorang memanggilnya. “Arun...” Arunika menoleh. “Lila?” gumamnya ragu. Dia hampir tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Puluhan tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. “Ya ampun, kangen banget aku sama kamu!” Lila langsung menghampiri dan memeluk sahabatnya. “Jauh-jauh datang ke Jakarta malah bikin aku kaget. Makin cantik sa

  • Luka yang Bernama Cinta   Menuju Hidup Baru

    Raka sedang berbicara dengan kondektur bus antar kota jurusan Jakarta. Entah apa yang dibicarakan pria itu, Arunika tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Setelah beberapa saat, Raka kembali menghampirinya dan mengajak gadis itu mencari toilet.“Mau apa? Aku nggak pengen pipis.” Arunika takut jika Raka memiliki niat jahat padanya. Ditambah lagi suasana terminal bayangan ramai… penuh pria bertato.Raka kembali terkekeh. Mati-matian dia menahan rasa gemas melihat kepolosan sepupu temannya. Dia tidak berani menyentuh Arunika, hanya berjalan lebih dulu.“Ayo.” Dia tak menoleh, tau jika Arunika pasti menurut. Dengan perasaan sedikit takut, Arunika pun mengikuti Raka.Sesampainya di toilet umum, Raka menyerahkan sebuah paper bag pada Arunika. “Ganti pakaianmu dan keringkan rambut. Jangan sampai kamu masuk angin karena perjalananmu masih panjang.”Tanpa membantah, Arunika menerima paper bag itu, lalu segera masuk ke dalam toilet untuk berganti pakaian.Usai berganti pakaian, Arunika keluar

  • Luka yang Bernama Cinta   Terminal Bayangan

    Hujan mulai reda ketika Arunika dan Bagas akhirnya sampai di jalan besar. Jalan itu bukan jalan yang biasa digunakan warga desa untuk menunggu bus. Letaknya cukup jauh dari pemukiman dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas.Mereka sengaja memilih jalan itu karena jalan utama menuju desa kemungkinan sudah dijaga oleh anak buah Juragan Satrio.Bagas menghentikan motor di pinggir jalan.Arunika segera turun, lalu melepaskan jas hujan plastik yang sejak tadi melindungi tubuhnya. “Terima kasih ya, Gas.”Pakaiannya sedikit basah, tetapi rambut panjangnya tidak selamat dari guyuran hujan. Beberapa helai rambut menempel di wajahnya, sementara air masih menetes dari ujungnya.Bagas menatap Arunika sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke jalan yang masih sepi. “Kamu mau ke mana sekarang, Arun?”Arunika terdiam. Dia baru menyadari bahwa dirinya tidak memiliki tujuan yang jelas.“Aku sudah minta tolong sama temanku yang bekerja dengan orang Jakarta. Kebetulan, dia sedang mengantar bosnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status