LOGINHujan lebat mengguyur Desa Karangwening, sebuah desa kecil yang berada jauh di pelosok Kota Solo. Langit tampak gelap pekat, sementara suara gemuruh bersahutan dengan derasnya hujan yang menghantam atap rumah-rumah warga.
Tak ada satu pun warga yang berniat keluar. Mereka lebih memilih meringkuk di balik selimut sambil menikmati teh hangat atau kopi, menunggu hujan reda. Hanya Arunika yang terpaksa keluar rumah rumah. Bukan karena dia ingin, melainkan karena malam ini adalah satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan diri sebelum dirinya diserahkan kepada Juragan Satrio dengan dalih pertunangan. Di belakang rumah, Bude Lastri dan Bude Sumi sudah menunggunya. Keduanya mengenakan jas hujan plastik dengan caping bambu di kepala untuk melindungi diri dari derasnya hujan. Begitu berhasil keluar melalui pintu belakang, Arunika segera berlari menghampiri kedua budenya. “Bude.” Tergopoh-gopoh dia mendekat sembari membawa tas jinjing berukuran cukup besar. Tas itu terbungkus plastik agar terlindung dari hujan. “Ayo, cepat, Arun. Kita harus segera pergi sebelum hujan reda,” ujar Bude Lastri. Hujan lebat memberi keuntungan tersendiri bagi Arunika, karena suasana desa sangat sepi. Arunika mengangguk. Ketiganya kemudian berjalan cepat menuju gapura desa. Mereka tidak melewati jalan utama karena khawatir bertemu anak buah Juragan Satrio. Sebagai gantinya, mereka memilih jalan alternatif berupa tanah becek yang berada di antara persawahan. Jalan yang licin membuat langkah mereka terseok-seok dan beberapa kali hampir tergelincir. Petir menyambar, disusul angin kencang membuat mereka harus berjalan sambil menahan tubuh agar tidak kehilangan keseimbangan. Jas hujan plastik yang mereka kenakan berkali-kali berkibar diterpa angin. Arunika menggigil. Bukan hanya karena dinginnya hujan, tetapi juga karena ketakutan akan kehidupan yang menantinya setelah meninggalkan desa. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka tiba di luar Desa Karangwening. Di sana, Bagas, anak Bude Sumi, sudah menunggu diatas motor trail. “Arun, cepat naik,” seru Bagas. Tubuhnya basah kuyup karena tak memakai jas hujan. Arunika menghampiri Bagas, lalu berbalik menatap kedua budenya. “Terima kasih, Bude. Aku nggak tahu harus bagaimana kalau Bude Lastri dan Bude Sumi nggak membantu.” Bude Sumi melangkah mendekat. Lalu memeluknya erat. “Jaga diri dengan baik, Arun.” Arunika mengangguk dengan mata berkaca-kaca. “Bude juga hati-hati. Lawanku bukan cuma Ibu.” Tatapannya berpindah kepada Bude Lastri. “Ada Juragan Satrio juga.” Bude Lastri mengangguk. “Jangan pikirkan kami. Kamu selamatkan dirimu dulu.” Arunika mengusap air mata yang bercampur dengan air hujan di pipinya. “Aku pamit, Bude.” “Pergilah, Nak,” jawab Bude Lastri dan Bude Sumi hampir bersamaan. Tangis yang ditahannya sejak tadi pun akhirnya pecah. Arunika kemudian naik ke jok belakang motor. Bagas menata tas Arunika yang terbungkus plastik di bagian depan, lalu menghidupkan motornya. Setelah mesin menyala, Bagas segera membawa Arunika menjauh dari Desa Karangwening. Bagas sengaja memilih jalan alternatif sesuai pesan ibunya. Jalan utama terlalu berisiko karena kemungkinan sudah dijaga oleh anak buah Juragan Satrio. Motor itu melaju pelan melewati jalan tanah yang licin dan dipenuhi genangan. Hujan masih turun deras, membuat pandangan mereka terbatas. Bagas beberapa kali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikuti. Namun, ketika melewati sebuah tikungan, terdengar suara mesin dari kejauhan. Dia langsung memperlambat laju motornya. Dari balik hujan, beberapa motor trail mulai terlihat. Para pengendaranya menyusuri jalan sambil berteriak memanggil nama Arunika. Dengan mudah Bagas mengenali mereka... anak buah Juragan Satrio. “Gimana ini, Gas?” Arunika panik bukan main. “Aku ketahuan Ibu… pasti beliau sudah lapor sama Juragan Satrio.” “Pegangan yang kuat, Arun!” Bagas segera memutar stang dan berusaha mencari jalan pintas dari jalur yang dilewatinya. Namun, kondisi jalan yang licin membuat motor kehilangan keseimbangan. Ban depan tiba-tiba tergelincir. “Bagas!” teriak Arunika. Motor itu oleng sebelum akhirnya terjatuh ke tanah. Bagas dan Arunika ikut tersungkur. Tas Arunika terlempar beberapa meter dari tempat mereka jatuh, sementara suara motor trail para pengejar semakin terdengar mendekat. “Aduh...” rintih Arunika sambil mengelus lengannya. Bagas segera meminta maaf, lalu bergegas berdiri dan mengambil tas Arunika. Dia memasukkannya ke dalam semak agar tidak terlihat. “Kamu bisa berdiri, kan?” tanyanya kemudian. “Iya. Kakiku nggak apa-apa, cuma tangan... tadi ketindih badanku.” Arunika pun berdiri dan menoleh ke belakang. “Kita harus gimana, Gas? Aku nggak mau ditangkap anak buah Juragan Satrio.”Menu makan malam telah tersaji di atas meja. Semuanya terlihat cantik sekaligus lezat. Raksa bahkan sudah duduk di meja makan sebelum Arunika selesai memasak.Pria itu tidak memberikan alasan, dan Arunika juga tidak berani bertanya. Selain takut pada wajah sang majikan yang menyeramkan sekaligus tampan, dia juga harus fokus membuat hidangan dengan nama-nama yang membuat lidahnya belibet jika harus mengucapkannya.Begitu juga dengan Raka. Pria itu sudah datang karena akan ikut business trip bersama bosnya. Dia menatap takjub hasil karya Arunika.“Aku nggak nyangka kamu bisa membuat semua masakan yang diminta Pak Raksa, Run,” ujar Raka. “Padahal tadi kamu bilang belum pernah melihat makanan itu. Kok bisa membuatnya?”Mendengar ucapan sang asisten, sebelah alis Raksa langsung terangkat. Kalau Arunika belum pernah melihat hidangan itu, berarti dia juga tidak tahu seperti apa rasanya. Lalu… “Kamu bikinnya ngawur?” tanyanya tanpa basa-basi.Arunika mengerucutkan bibir. “Bapak belum mencoban
“Em, Pak … eh, Bapak Raksa mau minum kopi?” tanya Arunika dengan perasaan takut.Namun, dia memaksakan langkahnya mendekati kitchen island yang berantakan. Dengan cepat, dia membersihkan tumpahan kopi, lalu menatap Raksa yang masih memunggunginya. “Bapak …” panggilnya lagi.Raksa menoleh. Mata elangnya menatap tajam ke arah ART barunya. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya, hanya tatapan datar seperti tembok.“Buatkan saya kopi,” ujarnya.“Iya, Bapak.”Sebenarnya, Raksa terganggu dengan panggilan Bapak. Dia memang seorang duda, tapi rasanya dirinya belum setua itu sampai harus dipanggil Bapak.Lantas, tangannya menunjuk mesin kopi. “Kamu bisa memakai alat ini?”Melihat asal-usul gadis di depannya, Raksa sangat meragukan kemampuan Arunika dalam menggunakan mesin tersebut. Pasalnya, dia sendiri juga tidak tahu cara menggunakan alat itu. “Kalau tidak bisa, buang saja!” perintahnya.“Eh ….”Arunika tersentak kaget. Kepalanya refleks menunduk saat Raksa berjalan mendekatinya, lalu melewati
Seminggu tinggal di Jakarta membuat Arunika perlahan mulai terbiasa dengan hiruk-pikuk kota besar. Suara kendaraan, klakson, dan keramaian yang awalnya membuat kepalanya pusing kini sudah tidak terlalu mengganggunya.Hari ini, Arunika siap memulai kehidupan barunya.Dia sudah berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, tepat di depan Ardhana Private Residence, sebuah apartemen eksklusif yang hanya dihuni kalangan tertentu. Gedungnya menjulang tinggi dengan lobby mewah, sistem keamanan ketat, dan akses khusus menuju penthouse.Lila mengantar Arunika sampai ke lobby. Gadis itu mendongak, menatap bangunan megah di hadapannya dengan perasaan gugup.Sulit dipercaya bahwa mulai hari ini, dia akan bekerja di tempat seperti ini. “Sebentar lagi asisten pribadi Tuan Raksa akan menjemputmu.” Lila menepuk pelan tangan sahabatnya. “Setiap akhir pekan kamu dapat jatah libur. Kalau bosan, hubungi saja aku. Nanti aku jemput dan kita keliling Jakarta.”“Iya. Nanti kalau aku sudah terbiasa dengan pekerj
Bus yang ditumpangi Arunika akhirnya berhenti di salah satu terminal bayangan di Jakarta. Satu jam yang lalu, begitu terbangun, Arunika segera meraih ponselnya untuk memeriksa jam. Ternyata, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Lila. Arunika pun segera menghubunginya kembali dan memberitahukan bahwa dirinya tidak jadi naik kereta seperti rencana awal. Meskipun jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, Lila tetap datang menjemput. Bagaimanapun, Arunika baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta dan belum mengetahui apapun tentang kota itu. Setelah mengambil tas dari bagasi bus, Arunika baru saja hendak beranjak ketika terdengar suara seseorang memanggilnya. “Arun...” Arunika menoleh. “Lila?” gumamnya ragu. Dia hampir tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Puluhan tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. “Ya ampun, kangen banget aku sama kamu!” Lila langsung menghampiri dan memeluk sahabatnya. “Jauh-jauh datang ke Jakarta malah bikin aku kaget. Makin cantik sa
Raka sedang berbicara dengan kondektur bus antar kota jurusan Jakarta. Entah apa yang dibicarakan pria itu, Arunika tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Setelah beberapa saat, Raka kembali menghampirinya dan mengajak gadis itu mencari toilet.“Mau apa? Aku nggak pengen pipis.” Arunika takut jika Raka memiliki niat jahat padanya. Ditambah lagi suasana terminal bayangan ramai… penuh pria bertato.Raka kembali terkekeh. Mati-matian dia menahan rasa gemas melihat kepolosan sepupu temannya. Dia tidak berani menyentuh Arunika, hanya berjalan lebih dulu.“Ayo.” Dia tak menoleh, tau jika Arunika pasti menurut. Dengan perasaan sedikit takut, Arunika pun mengikuti Raka.Sesampainya di toilet umum, Raka menyerahkan sebuah paper bag pada Arunika. “Ganti pakaianmu dan keringkan rambut. Jangan sampai kamu masuk angin karena perjalananmu masih panjang.”Tanpa membantah, Arunika menerima paper bag itu, lalu segera masuk ke dalam toilet untuk berganti pakaian.Usai berganti pakaian, Arunika keluar
Hujan mulai reda ketika Arunika dan Bagas akhirnya sampai di jalan besar. Jalan itu bukan jalan yang biasa digunakan warga desa untuk menunggu bus. Letaknya cukup jauh dari pemukiman dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas.Mereka sengaja memilih jalan itu karena jalan utama menuju desa kemungkinan sudah dijaga oleh anak buah Juragan Satrio.Bagas menghentikan motor di pinggir jalan.Arunika segera turun, lalu melepaskan jas hujan plastik yang sejak tadi melindungi tubuhnya. “Terima kasih ya, Gas.”Pakaiannya sedikit basah, tetapi rambut panjangnya tidak selamat dari guyuran hujan. Beberapa helai rambut menempel di wajahnya, sementara air masih menetes dari ujungnya.Bagas menatap Arunika sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke jalan yang masih sepi. “Kamu mau ke mana sekarang, Arun?”Arunika terdiam. Dia baru menyadari bahwa dirinya tidak memiliki tujuan yang jelas.“Aku sudah minta tolong sama temanku yang bekerja dengan orang Jakarta. Kebetulan, dia sedang mengantar bosnya







