MasukArunika dan Bagas memilih bersembunyi di balik semak-semak. Bahkan motor milik Bagas ikut mereka seret masuk agar tidak terlihat dari jalan. Tak peduli ada ular atau binatang melata lainnya di dalam sana… karena tak ada pilihan lain.
Keduanya menahan nafas ketika suara motor trail semakin mendekat. Untungnya, jejak mereka saat terjatuh tadi sudah lenyap tersapu aliran air hujan yang menggenangi jalan tanah. Arunika merapatkan tubuhnya ke balik semak. “Kalau mereka sampai menemukan kita, aku yang akan keluar. Karena aku yang mereka inginkan," bisiknya. Bagas langsung menoleh, jelas tak setuju. “Jangan macam-macam, Arun!" ujarnya tegas. "Amanah dari Ibu gak bakalan aku sia-siakan." “Kamu gak boleh ikut tertangkap. Pasti mereka akan memukulmu hingga babak belur.” “Tenang saja. Mereka nggak akan menemukan kita.” “Tapi suara motornya sudah dekat, Gas.” “Percaya sama aku. Kita sudah bersembunyi dengan baik. Jejak kita juga sudah hilang tersapu hujan.” Arunika masih terlihat cemas. Dari yang sudah-sudah… anak buah Juragan Satrio tak pernah gagal menangkap mangsanya. “Jadi, tenang saja. Jangan bergerak dan jangan bersuara,” lanjut Bagas, berusaha meyakinkan Arunika. Tak lama kemudian, beberapa motor trail berhenti tepat di lokasi Arunika dan Bagas terjatuh. Para anak buah Juragan Satrio turun dan memeriksa sekitar jalan yang masih dipenuhi genangan air. Mereka menyusuri jalan tanah itu, tetapi derasnya hujan membuat kondisi di sekitar bersih tanpa jejak. “Brengsek! Kita kehilangan jejak!” umpatnya kesal. Pria lainnya ikut memeriksa sekitar, tetapi tidak menemukan apa pun. “Padahal aku lihat dengan jelas mereka lewat sini.” “Aku bilang juga apa! Seharusnya kita lewat jalan utama. Dari tadi aku bilang Arun pasti memilih jalan itu, tapi nggak ada yang percaya!” “Jangan banyak bacot. Kita juga nggak tahu dia bakal lewat mana.” “Kalau dari awal kalian dengar perkataanku, kita nggak akan buang waktu di sini, kampret!” Mereka terus mencari di sekitar lokasi, tetapi derasnya hujan membuat mereka enggan menyisir semak-semak yang rimbun. Setelah beberapa saat, mereka akhirnya menyerah. “Kita balik. Cari lewat jalan utama.” Para pria kekar itu kembali menaiki motor masing-masing, lalu berbalik arah meninggalkan jalan tanah itu. Suara motor trail perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang ditelan derasnya hujan. Arunika tetap diam di balik semak-semak sampai suara kendaraan itu tak terdengar lagi. Setelah merasa keadaan aman, dia mengembuskan nafas lega dan menoleh kepada Bagas. “Kita selamat, Gas.” “Aku bilang juga apa,” ujar Bagas. Dia lebih dulu berdiri untuk memastikan keadaan benar-benar aman. Setelah yakin para pengejar telah pergi, Bagas membantu Arunika berdiri, lalu mengambil tas yang berada tak jauh darinya. Bagas segera menarik motor yang tergeletak di balik semak-semak hingga keluar dari persembunyian. Setelah itu, dia memeriksa keadaannya, berharap mesin motornya tidak mati akibat digeletakkan begitu saja diatas tanah. Dia mencoba menyalakan mesin. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya motor itu kembali menyala. Arunika segera naik ke jok belakang. Bagas pun menarik gas dan kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju jalan besar. Semakin jauh mereka melaju, kondisi jalan yang dilalui semakin buruk. Jalan tanah itu dipenuhi lubang. Beberapa lubang bahkan cukup dalam hingga suspensi motor menghantam keras dan membuat tubuh Bagas serta Arunika terangkat dari jok. Untungnya, keduanya masih bisa bertahan dan tidak sampai terlempar. “Pegangan yang kuat, Arun. Lubangnya nggak kelihatan karena tertutup genangan air.” “Iya, aku sudah pegangan. Kamu hati-hati, jangan sampai tergelincir lagi.” Bagas mengangguk, lalu kembali memusatkan perhatian pada jalan di depannya. Kecepatan motor terpaksa dikurangi agar mereka tidak kembali terjatuh. Beberapa kali ban motor selip ketika melewati tanah yang berubah menjadi lumpur. Bagas harus menjaga keseimbangan sambil menghindari lubang yang tersembunyi di balik genangan. Sesekali kakinya turun menyentuh tanah untuk menahan motor agar tidak ambruk. Arunika pun semakin erat berpegangan pada tubuh Bagas. Takut sekali jika jatuh, dan akan semakin memperlambat waktu. Perjalanan yang seharusnya singkat terasa begitu panjang. Mereka terus melewati jalan sempit, genangan, dan tanjakan yang membuat motor beberapa kali hampir kehilangan keseimbangan. Namun, Bagas tidak menyerah. Dia terus mengendarai motornya hingga jalan tanah mulai berubah menjadi jalan yang lebih lebar. Di kejauhan, cahaya lampu kendaraan mulai terlihat. Mereka akhirnya semakin dekat dengan jalan besar. “Arun… kita berhasil.” Saking bahagianya, Bagas sampai lupa kalau ada tas milik Arunika di depannya hingga hampir terjatuh. “Eh, eh…”Menu makan malam telah tersaji di atas meja. Semuanya terlihat cantik sekaligus lezat. Raksa bahkan sudah duduk di meja makan sebelum Arunika selesai memasak.Pria itu tidak memberikan alasan, dan Arunika juga tidak berani bertanya. Selain takut pada wajah sang majikan yang menyeramkan sekaligus tampan, dia juga harus fokus membuat hidangan dengan nama-nama yang membuat lidahnya belibet jika harus mengucapkannya.Begitu juga dengan Raka. Pria itu sudah datang karena akan ikut business trip bersama bosnya. Dia menatap takjub hasil karya Arunika.“Aku nggak nyangka kamu bisa membuat semua masakan yang diminta Pak Raksa, Run,” ujar Raka. “Padahal tadi kamu bilang belum pernah melihat makanan itu. Kok bisa membuatnya?”Mendengar ucapan sang asisten, sebelah alis Raksa langsung terangkat. Kalau Arunika belum pernah melihat hidangan itu, berarti dia juga tidak tahu seperti apa rasanya. Lalu… “Kamu bikinnya ngawur?” tanyanya tanpa basa-basi.Arunika mengerucutkan bibir. “Bapak belum mencoban
“Em, Pak … eh, Bapak Raksa mau minum kopi?” tanya Arunika dengan perasaan takut.Namun, dia memaksakan langkahnya mendekati kitchen island yang berantakan. Dengan cepat, dia membersihkan tumpahan kopi, lalu menatap Raksa yang masih memunggunginya. “Bapak …” panggilnya lagi.Raksa menoleh. Mata elangnya menatap tajam ke arah ART barunya. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya, hanya tatapan datar seperti tembok.“Buatkan saya kopi,” ujarnya.“Iya, Bapak.”Sebenarnya, Raksa terganggu dengan panggilan Bapak. Dia memang seorang duda, tapi rasanya dirinya belum setua itu sampai harus dipanggil Bapak.Lantas, tangannya menunjuk mesin kopi. “Kamu bisa memakai alat ini?”Melihat asal-usul gadis di depannya, Raksa sangat meragukan kemampuan Arunika dalam menggunakan mesin tersebut. Pasalnya, dia sendiri juga tidak tahu cara menggunakan alat itu. “Kalau tidak bisa, buang saja!” perintahnya.“Eh ….”Arunika tersentak kaget. Kepalanya refleks menunduk saat Raksa berjalan mendekatinya, lalu melewati
Seminggu tinggal di Jakarta membuat Arunika perlahan mulai terbiasa dengan hiruk-pikuk kota besar. Suara kendaraan, klakson, dan keramaian yang awalnya membuat kepalanya pusing kini sudah tidak terlalu mengganggunya.Hari ini, Arunika siap memulai kehidupan barunya.Dia sudah berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, tepat di depan Ardhana Private Residence, sebuah apartemen eksklusif yang hanya dihuni kalangan tertentu. Gedungnya menjulang tinggi dengan lobby mewah, sistem keamanan ketat, dan akses khusus menuju penthouse.Lila mengantar Arunika sampai ke lobby. Gadis itu mendongak, menatap bangunan megah di hadapannya dengan perasaan gugup.Sulit dipercaya bahwa mulai hari ini, dia akan bekerja di tempat seperti ini. “Sebentar lagi asisten pribadi Tuan Raksa akan menjemputmu.” Lila menepuk pelan tangan sahabatnya. “Setiap akhir pekan kamu dapat jatah libur. Kalau bosan, hubungi saja aku. Nanti aku jemput dan kita keliling Jakarta.”“Iya. Nanti kalau aku sudah terbiasa dengan pekerj
Bus yang ditumpangi Arunika akhirnya berhenti di salah satu terminal bayangan di Jakarta. Satu jam yang lalu, begitu terbangun, Arunika segera meraih ponselnya untuk memeriksa jam. Ternyata, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Lila. Arunika pun segera menghubunginya kembali dan memberitahukan bahwa dirinya tidak jadi naik kereta seperti rencana awal. Meskipun jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, Lila tetap datang menjemput. Bagaimanapun, Arunika baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta dan belum mengetahui apapun tentang kota itu. Setelah mengambil tas dari bagasi bus, Arunika baru saja hendak beranjak ketika terdengar suara seseorang memanggilnya. “Arun...” Arunika menoleh. “Lila?” gumamnya ragu. Dia hampir tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Puluhan tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. “Ya ampun, kangen banget aku sama kamu!” Lila langsung menghampiri dan memeluk sahabatnya. “Jauh-jauh datang ke Jakarta malah bikin aku kaget. Makin cantik sa
Raka sedang berbicara dengan kondektur bus antar kota jurusan Jakarta. Entah apa yang dibicarakan pria itu, Arunika tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Setelah beberapa saat, Raka kembali menghampirinya dan mengajak gadis itu mencari toilet.“Mau apa? Aku nggak pengen pipis.” Arunika takut jika Raka memiliki niat jahat padanya. Ditambah lagi suasana terminal bayangan ramai… penuh pria bertato.Raka kembali terkekeh. Mati-matian dia menahan rasa gemas melihat kepolosan sepupu temannya. Dia tidak berani menyentuh Arunika, hanya berjalan lebih dulu.“Ayo.” Dia tak menoleh, tau jika Arunika pasti menurut. Dengan perasaan sedikit takut, Arunika pun mengikuti Raka.Sesampainya di toilet umum, Raka menyerahkan sebuah paper bag pada Arunika. “Ganti pakaianmu dan keringkan rambut. Jangan sampai kamu masuk angin karena perjalananmu masih panjang.”Tanpa membantah, Arunika menerima paper bag itu, lalu segera masuk ke dalam toilet untuk berganti pakaian.Usai berganti pakaian, Arunika keluar
Hujan mulai reda ketika Arunika dan Bagas akhirnya sampai di jalan besar. Jalan itu bukan jalan yang biasa digunakan warga desa untuk menunggu bus. Letaknya cukup jauh dari pemukiman dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas.Mereka sengaja memilih jalan itu karena jalan utama menuju desa kemungkinan sudah dijaga oleh anak buah Juragan Satrio.Bagas menghentikan motor di pinggir jalan.Arunika segera turun, lalu melepaskan jas hujan plastik yang sejak tadi melindungi tubuhnya. “Terima kasih ya, Gas.”Pakaiannya sedikit basah, tetapi rambut panjangnya tidak selamat dari guyuran hujan. Beberapa helai rambut menempel di wajahnya, sementara air masih menetes dari ujungnya.Bagas menatap Arunika sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke jalan yang masih sepi. “Kamu mau ke mana sekarang, Arun?”Arunika terdiam. Dia baru menyadari bahwa dirinya tidak memiliki tujuan yang jelas.“Aku sudah minta tolong sama temanku yang bekerja dengan orang Jakarta. Kebetulan, dia sedang mengantar bosnya







