LOGINAngkasa akhirnya berhasil diringkus oleh anak buah Raksa. Sebelum dibawa ke markas, dia sempat menjadi sasaran amukan Bagas yang tak mampu menahan kemarahannya karena pria itu telah merenggut nyawa Pak Bayu.Pria itu kemudian dimasukkan ke sebuah ruangan yang sama dengan tempat Damar dan Pak Rudi sebelumnya diinterogasi.Namun, kali ini suasananya sedikit berbeda. Tidak ada pria bertubuh besar yang akan mengajukan pertanyaan dan membongkar semua kejahatannya.Sebaliknya, seseorang yang akan duduk di hadapannya adalah Arunika.Gadis itu berdiri di depan pintu dengan wajah tegang. Kedua tangannya mengepal, berusaha menahan segala emosi yang sejak tadi berkecamuk di dalam dada.Begitu melihat kedatangan Arunika, Angkasa mengangkat wajahnya.“Arun,” sapa Angkasa dengan senyum merekah. Matanya bahkan tampak berbinar saat melihat gadis itu. “Apa kabar?”Arunika tidak langsung menjawab. Dia me
Hampir dua jam berlalu, Angkasa dan istrinya belum juga kembali. Arunika yang sejak tadi duduk di ruang tamu mulai kehilangan kesabaran. Begitu pula dengan Lila. Keduanya ingin segera bertemu dengan pria itu dan meminta penjelasan mengenai semua hal yang baru saja mereka temukan.“Lama banget, sih! Mereka sebenarnya pergi ke mana?” gerutu Lila sambil melirik jam di ponselnya.“Aku juga udah gak sabar, Lil. Rasanya ingin langsung bertanya sama Mas Angkasa kenapa dia menyimpan banyak fotoku,” sahut Arunika.“Kalau aku jadi kamu, bakal aku cakar sih wajahnya yang sok kegantengan itu, Run.”“Dengerin dulu penjelasannya, Lil. Masa iya langsung main cakar saja, sih?”Raka yang sejak tadi memperhatikan keduanya akhirnya angkat bicara. “Lebih baik kalian pulang dulu. Biar aku dan Bagas yang menunggu di sini.”Arunika langsung menoleh. “Tapi, Mas Raka, aku ingin bertemu Mas Angkasa.”“Iya, aku t
Arunika bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Belum selesai dia mencerna semua kenyataan pahit yang baru saja terungkap, Raka sudah datang menjemput dan mengajaknya pergi ke suatu tempat.Sepanjang perjalanan, Arunika lebih banyak diam. Dia duduk di samping Lila, memeluk lengan kanan sahabatnya itu sambil menyandarkan kepala di bahunya. Tidak banyak yang bisa dikatakan Lila. Dia hanya sesekali mengusap tangan Arunika, berusaha memberikan sedikit ketenangan.Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, mobil mereka akhirnya berhenti. Dari balik kaca jendela, pandangan Arunika tertuju pada seorang wanita yang sedang berdiri di halaman. Seketika, matanya membesar. Wajah wanita itu begitu mirip dengannya."Siapa dia?" gumam Arunika.Bagas yang duduk di samping Raka ikut menoleh ke arah wanita itu. "Dia menantu Pak Lurah. Istri Angkasa," jelasnya.Arunika kembali memperhatikan wanita itu. Ada sesuatu yang terasa janggal. Wajahnya begitu mirip, bahkan sekila
Arunika akhirnya kembali ke rumah. Begitu masuk kamar, dia langsung mengunci pintu dan menolak menemui siapa pun, termasuk Lila.Beberapa kali Lila mencoba mengetuk pintu dan memanggil sahabatnya, tetapi tidak ada jawaban. Gadis itu bahkan tidak diizinkan masuk.Akhirnya, Lila memilih menunggu di ruang keluarga yang letaknya tidak jauh dari kamar Arunika. Sesekali, dia melirik pintu kamar sahabatnya dengan perasaan cemas.Dia tahu Arunika sedang terpukul. Namun, Lila tidak tahu harus berbuat apa selain menunggu sampai sahabatnya itu bersedia membuka pintu.Sementara itu, di dalam kamar, ponsel Arunika terus berdering di dalam tas yang tergeletak di sampingnya. Gadis itu hanya melirik sekilas. Sejak tadi, dia memilih duduk di lantai daripada berbaring di ranjang.Karena ponselnya tak kunjung berhenti berdering, Arunika akhirnya mengambilnya. Dia berniat menolak panggilan itu, tapi gerakannya terhenti saat melihat nama yang tertera di layar.Beberapa detik dia terdiam sebelum akhirnya m
Bagas berdiri di dekat Arunika yang masih duduk dengan wajah pucat. Dia ingin segera membawa sahabatnya pulang agar gadis itu bisa beristirahat. Namun, Raka justru tidak setuju.Keduanya kemudian keluar dari ruangan agar tidak mengganggu Arunika."Gas, Arun harus tetap ada di sini," ujar Raka.Bagas menoleh dengan wajah kesal. "Buat apa? Dia sudah mendengar cukup banyak hal hari ini. Aku mau membawanya pulang.""Pak Rudi sebentar lagi sampai. Dia yang akan membawa kita pada pelaku utama.""Raka, tolong pikirkan kondisi Arunika. Aku khawatir mentalnya terguncang kalau dia harus menerima kenyataan pahit lagi.""Tapi, ini permintaan Pak Raksa, Gas. Maaf, kali ini aku nggak bisa membantumu."Bagas mengacak rambutnya dengan frustrasi. Dia benar-benar khawatir dengan kondisi Arunika. Sahabatnya itu sudah terlalu banyak mengalami hal buruk. Dia tidak ingin gadis itu kembali terluka.Saat keduanya masih bersitegang, pin
Arunika sedang menyiram bunga di halaman rumah ketika sebuah mobil berhenti di depan pagar. Dia sedikit terkejut saat melihat Raka turun dari mobil.Gadis itu segera meletakkan selang air dan menghampiri Raka. Dia heran melihat kedatangan pria itu. Pukul empat sore memang masih termasuk jam kerja, tetapi sepertinya Raka tidak memiliki jam kerja yang pasti."Sore, Arun," sapa Raka."Sore, Mas. Tumben kesini saat matahari masih terang," balas Arunika."Haha, kamu bisa aja, Run." Raka terkekeh sambil berjalan mendekat. "Ikut aku, yuk. Sebentar saja," ajaknya.Bukannya menjawab, Arunika justru terdiam kebingungan. Namun, karena tidak punya banyak waktu, Raka langsung membalikkan tubuh gadis itu dan mendorongnya pelan masuk ke rumah."Buruan ganti baju," titahnya begitu Arunika melewati pintu.Saat itu, Lila muncul dari dalam rumah sambil membawa sepiring pisang goreng. "Loh, Mas Raka?""Kamu juga ikut, Lil," kata Ra







