LOGINMulai curiga dengan apa yang dilakukan oleh menantunya, Monica memilih untuk langsung menemui Clara demi meminta jawaban.
Wanita tersebut datang ke sebuah perusahaan desain yang menurutnya biasa saja, entah hal apa yang membuat putranya memilih Clara untuk dijadikan istri. Kedatangannya membuat beberapa karyawan yang bekerja dengan Clara lantas terkejut karena tidak ada jadwal kunjungan dari klien, apalagi penampilan Monica benar-benar menunjukkan jika wanita tersebut merupakan sosok penguasa. "Ada yang bisa kami bantu, Nyonya?" Resepsi pernikahan itu belum digelar, mungkin karyawan Clara sama sekali tidak mengenal wanita tersebut sehingga Monica lantas memperkenalkan diri dengan tatapan yang tegas, "Saya ibu mertua Clara. Bisakah bertemu dengan menantu saya?" Seluruh karyawan yang ada di perusahaan ini pun tahu bahwa bos mereka telah memutuskan untuk menikah dengan pria lain, namun tak banyak dari mereka yang tahu siapa suami dari Clara. Pagi ini tiba-tiba saja seorang wanita datang dan mengaku sebagai menantu sang bos. "Silakan masuk, Nyonya." Mendengar hal itu, Monica melangkah dan melihat keadaan kantor yang cukup sibuk, beberapa orang yang lewat di depannya pun menyambutnya. "Mari saya antarkan Anda!" ujar salah seorang keamanan yang lantas mengantar Monica bersama dengan bodyguard wanita itu. Tidak banyak bicara, keperluannya memang hanya ingin berbicara dengan menantunya itu, berharap dirinya bisa tahu tentang tujuan utama wanita tersebut menikah dengan putranya. Sampai di sebuah pintu besar, dirinya disambut dengan seorang asisten perempuan yang melihatnya dengan tatapan mata terkejut. "Ini adalah ibu mertua bos kita, beliau ingin bertemu dengan menantunya," ucap pihak keamanan kepada Aretha yang semula terlihat bingung. "Oh, baiklah," balas wanita itu pada pihak keamanan sehingga kini hanya menyisakan dirinya serta Monica, ditambah bodyguard yang menjaga jarak. Tak membuang waktu lama, Aretha dengan pertanyaan yang berkecamuk di otaknya lantas mempersilakan wanita tersebut dengan penuh hormat, ingin tahu juga apa yang akan dibicarakan bersama Clara. "Silakan, Nyonya." Monica masuk, bersama dengan Aretha yang melapor pada Clara. Sementara orang yang dicari sedang sibuk menggambar sesuatu di atas kertas. Melihat kedatangan mertuanya, Clara terkejut bukan main karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu, namun dirinya berhasil menguasai keadaan sehingga mampu mengeluarkan ekspresi yang cukup ramah. "Ibu sudah datang?" tanyanya menutupi rasa keterkejutannya. Monica menaikkan sebelah alisnya ketika menantunya ini bersikap sok akrab dengannya, namun dirinya akui bahwa akting yang dilakukan Clara benar-benar bagus karena menantunya tersebut bisa mengatur ekspresi dengan baik. Duduk berhadapan, Clara tahu jika Aretha ingin mengetahui apa yang akan dibahas oleh mertuanya, wanita itu segera mengusir dengan kalimat yang halus, "Lanjutkan pekerjaanmu, Aretha." Mendengar hal itu, rasa penasaran Aretha semakin tinggi dan membuat Clara hanya bisa tersenyum miring menyadari bahwa ada banyak sekali orang yang ingin tahu tentang urusannya. Setelah memastikan sahabat baiknya keluar dari ruangan besar miliknya, Clara memandang ibu mertuanya dan tidak lupa untuk mengucapkan salam, "Selamat pagi, Ibu. Anda tidak bilang akan datang." Monica yang tidak suka berbasa-basi lantas bertanya, "Aku tidak ingin membuang banyak waktu, Clara. Ada satu hal yang sangat ingin ku tanyakan padamu." Mendengar hal tersebut, Clara hanya berpikir apa yang ditanyakan oleh mertuanya mungkin tentang seputar persiapan resepsi, bukan masalah lain karena Azael juga mengatakan hal itu semalam. "Ibu ingin bertanya apa?" Menarik napas sejenak untuk melegakan dadanya, wanita itu mengeluarkan pertanyaan, "Aku mendapatkan laporan jika sebelumnya kau hampir mendaftarkan pernikahan bersama pria lain. Anehnya, dirimu malah mendaftarkan pernikahan bersama putraku, padahal kalian tidak memiliki hubungan sebelumnya ..." Leher Clara tercekat mendengarnya, dirinya paham bahwa ada banyak mata dan telinga yang mengawasinya semenjak perjanjian pernikahan ia lakukan bersama Azael. Tak segera mendapatkan jawaban dari Clara, Monica segera bertanya kembali, "Jangan bilang kalian hanya menikah secara kontrak?" Kepalanya dipenuhi dengan banyak sekali rencana, di sisi lain Clara harus menemukan solusi untuk setiap pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Kini ibu mertuanya lah yang bertanya, sayangnya kepalanya masih berisik sehingga belum ada jawaban yang keluar dari kerongkongannya. "Kami saling mencintai, Bu," balas Clara akhirnya. "Lantas kenapa situasi ini membuatku bingung? Jangan-jangan kau hanya menjadikan putraku sebagai batu lompatan untuk selamat dari sebuah masalah?" tebaknya lagi. Clara tidak pernah berekspektasi jika mertuanya akan berbicara seperti itu, bahkan ia juga tidak menyangka bahwa ibu Azael ini merupakan sosok wanita yang tangguh dan juga tegas. Sedikit ketakutan, Clara memberikan senyumannya dan menjawab, "Ibu tenang saja. Setiap rumah tangga pasti memiliki rahasia dan kami memilih untuk tidak membicarakannya dengan pihak luar ..." Monica mengerutkan keningnya, "Jadi, kau menganggapku pihak luar?" Clara mengangguk dengan berani. Dirinya tidak salah berbicara tentang ini, bukan? Mertuanya memang pihak luar dan tidak boleh ikut campur urusan rumah tangganya, apalagi dirinya sudah sah menjadi istri dari Azael. "Aku juga sudah menikah dengan putra Anda, Bu. Kami adalah suami istri dan tentu saja tidak semua hal harus dibicarakan dengan keluarga," balasnya lancar, meski ia akan dianggap kurang ajar. Monica langsung mengetahui satu fakta bahwa Clara memiliki sifat yang mirip dengannya, tidak bisa ditindas dan pintar memberikan jawaban. Kemudian, Monica menghela napas karena kedatangannya pagi ini kemari sama sekali tidak membuahkan hasil. Ia malah merasa dipermalukan meskipun maksud Clara bukan seperti itu. "Aku masih belum percaya jika kalian saling mencintai," balas Monica tak mau kalah. "Dengan cara apa kami membuktikan agar Anda percaya, Bu?" tanya Clara balik. Monica tersenyum samar dan menyatakan pendapatnya, ia memang harus tahu sejauh apa hubungan itu berjalan, "Aku hanya punya seorang putra dan memang sudah tugas Azael memberikan pewaris selanjutnya ..." Clara yang mendengar hal itu lantas paham apa maksudnya, namun ia tetap menunggu lanjutan dari kalimat tersebut keluar dari mulut mertuanya. "Lahirkan bayi dalam waktu dekat jika memang kalian suami istri yang saling mencintai!" ujar Monica dengan senyuman miring kali ini. ***Setahun setelah kabar meninggalnya Erick dan juga disusul oleh Aretha, semuanya nampak berjalan seperti biasa dan pasangan suami istri itu sama sekali tidak memikirkan hal-hal yang masih berhubungan dengan masa lalu. Di pinggir pantai saat sore hari di mana matahari mulai terbenam membuat keduanya bisa menikmati suasana yang begitu hangat dan menjadikan perasaan itu jauh lebih baik. "Sudah setahun semenjak hari itu, apa kau telah merasa lega?"Pertanyaan dari suaminya lantas membuat Clara menganggukkan kepalanya, "Ya. Aku sangat lega."Tidak ada yang harus mereka khawatirkan, tentunya hidup jauh lebih baik dan kini perusahaan berjalan seperti biasa dengan banyak pencapaian yang mereka lakukan berdua. Nyatanya takdir itu benar-benar bisa diperbaiki setelah sang wanita bangun dan mengubah semuanya. Azael mengajak wanita itu untuk berdansa dengan pelan, kaki telanjang mereka disapu oleh ombak yang membuat keduanya merasa jauh lebih hangat. Senyuman itu menjadi hiasan utama hingga sang
Dipindahkan ke ruangan khusus setelah mengetahui fakta bahwa Erick dinyatakan meninggal karena perbuatan yang telah dilakukan oleh Aretha.Wanita itu sama sekali tidak merasa bersalah dan bahkan dirinya tertawa ketika kedua polisi membawanya dengan tangan yang diborgol, ditambah lagi penuntutan yang dilakukan oleh Edo semakin memberatkan hukumannya. Namun, lagi-lagi Aretha sama sekali tidak takut dan wanita itu justru menantang hal apapun yang ada di depannya. "Orang yang telah kau bunuh akan dimakamkan hari ini. Apa sekarang kau merasa bersalah atas seluruh hal yang terjadi?"Ketika pertanyaan itu mendatangi Aretha, wanita tersebut sama sekali tidak merasa bersalah dan dirinya kemudian berkata, "Dunia tidak bisa menghukum kesalahannya, biarkan saya saja yang melakukan hal itu."Awalnya pihak kepolisian juga menyuruh Aretha untuk melakukan pemeriksaan jiwa, namun nyatanya wanita ini jauh lebih gila dari dugaan dan pada akhirnya dipindahkan ke ruang isolasi. Ketika menaiki undakan t
Ketika si pemilik mobil keluar dari sana, Clara langsung menyadari bahwa orang yang datang adalah suaminya sendiri dan hal itu membuat senyumnya langsung lebar sehingga ia langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan. Azael memang sibuk dan bilang tidak bisa datang, namun pria tersebut tidak ingin kehilangan momen ini sehingga dirinya tetap meluangkan waktu dan juga memberikan ucapan selamat untuk istrinya yang sangat membanggakan. "Bukankah kau bilang tidak datang?" Clara yang menyambutnya dengan pelukan lantas bertanya seperti itu kepada pria yang sudah banyak melakukan segalanya untuknya. Azael membalasnya dengan pelukan yang hangat dan pria itu juga membawa sesuatu, "Tidak mungkin aku tak datang ke acara penting istriku."Kalimat itu terucap dengan senyuman yang diberikan oleh Clara, ditambah lagi Azael yang kemudian melepaskan pelukan lalu mengeluarkan sesuatu dari mobilnya. Se-bucket bunga yang begitu indah dan membuat wanita itu kembali tersenyum karena hari ini banyak sekal
"Maaf, Pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun takdir telah berkata lain. Putra Anda tidak bisa kami selamatkan dan kami turut berduka cita ... "Ketika sang dokter mengatakan hal tersebut kepada Edo, pria tua yang hanya memiliki putranya tersebut lantas melebarkan matanya dan kedua lututnya langsung merasa lemas."Apa?"Nada bicaranya langsung rendah dan pria itu kemudian jatuh di atas lantai dengan kedua lutut yang masih menopangnya, berpikir jika telinganya salah dengar karena dirinya tidak mau mendengar tentang kabar duka ini. Sang dokter hanya bisa menatapnya karena dirinya bahkan tidak menemukan tanda-tanda kehidupan lagi sesaat setelah pasien yang diantarkan ke rumah sakit ini tak bernapas.Bisa jadi pendarahan yang terjadi selama perjalanan sempat melukai urat yang ada pada leher sehingga hal ini tidak bisa membuat mereka berbuat banyak. Jikalau selamat pun, kondisinya tidak akan sebaik saat masih normal, apalagi matanya juga sudah tidak berfungsi dengan baik. Edo
Memang sulit untuk bicarakan lagi setelah seluruh hal yang terjadi, namun Erick tetap mendekat untuk berbicara kepada wanita tersebut. Ketika mengetahui bahwa satu-satunya orang yang membuat hidupnya hancur ingin berbicara dengannya, Aretha langsung berdiri dan menjauh. Wanita itu sebenarnya memiliki sebuah pemikiran, namun dari kemarin belum mengatakan apa-apa sehingga dirinya lantas malas untuk menanggapi sang mantan."Aku tidak mau berbicara denganmu entah alasan apa yang kau bawa," ujar Aretha yang masih sibuk dengan rajutan di tangannya. Namun, Erick tidak menyerah sehingga pria itu pun berkata, "Aku tahu. Tapi, kali ini aku ingin berbicara denganmu."Balik memandang pria di depannya, Aretha kemudian mengalihkan tatapannya pada tangga yang bisa membawa mereka untuk berbicara di atap kantor ini. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya kemudian, mencoba untuk memberikan kesempatan kepada pria ini jika ingin berbicara padanya. Erick menghela napas, "Aku hanya mau minta maaf pad
Ketika janji itu terucap dengan dua orang yang memulai kembali kehidupan lama mereka, seluruh orang bertepuk tangan untuk menyambut hal tersebut dan semuanya juga nampak bahagia. Sorakan membuat mempelai saling berpandangan setelah bibir itu mengucapkan janji pernikahan, rasanya seperti menjalani sebuah kehidupan yang baru dan sampai akhirnya Azael berucap kepada istrinya dengan nada lembut, "Aku berjanji akan menjagamu lebih baik lagi dan tidak akan membiarkanmu melalui semuanya sendiri."Ketika kalimat itu terucap, Clara tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Aku juga berjanji tidak akan meninggalkanmu lebih dulu atau berbuat seperti yang telah terjadi kemarin."Ketika hati saling memaafkan, mereka berdua saling tersenyum lalu hal ini membuat tatapan mereka bertemu dan wajah yang mulai mendekat, membuat sebuah ciuman yang begitu mesra di depan banyak orang. Ketika bibir tersebut saling menempel, banyak sekali orang-orang yang bertepuk tangan dengan riuh serta menyambut kehidupan
Clara menganggukkan kepalanya saja karena menurutnya hal ini hanyalah ciuman biasa dan mereka juga merupakan pasangan suami istri yang sah. Begitu kepala istrinya mengangguk dan menyetujui keinginan yang ada dalam benak Azael, pria tersebut segera menghapus jarak dan langsung memberikan sebuah kec
Tidak ada jawaban dari Patricia dan wanita tersebut lantas berbalik arah untuk meninggalkan pasangan suami istri yang sedang dirundung duka cita tersebut, memang tujuannya membuat masalah di antara mereka berdua. Clara yang lebih banyak diam sama sekali tidak mencoba untuk bertanya atau meminta pe
Sampai di rumah sakit dan seorang dokter keluar setelah melakukan beberapa tindakan. Wajah dari dokter itu juga menampakkan sebuah penyesalan bersamaan dengan kehadiran Clara yang mencoba untuk meminta penjelasan. "Dok, bagaimana keadaan Kakek saya?"Bukan maksudnya tidak mencoba untuk menunggu di
Azael lantas berdiri dari duduknya dan melihat ke arah wanita yang sudah hampir setahun ini menikah dengannya. Namun, kalimat yang Clara berikan terhadapnya benar-benar membuatnya merasa sakit hati karena seperti dibuang begitu saja. "Kenapa kamu bisa mengatakan hal-hal seperti itu? Aku sama sekal







