MasukKoridor ruang rawat tiba-tiba terasa sempit. Rocky dan Adriel menatap Qairo. Qairo menatap Vio. Dan Vio menatap Qairo seperti menemukan sesuatu yang familiar dan membuatnya merasa aman.
“Qai, kamu dateng?" Mata Vio berkaca-kaca. Nada suara itu hangat, lega, penuh harapan. Nada yang baru terdengar ia ucapkan pasca siuman. Qairo diam sebentar. "Kamu inget aku?" "Banget." Jawaban Vio membuat Adriel langsung siaga satu. Adriel berdiri sedikit lebih tegak. Rahangnya mengeras tipis, mempersiapkan segala kemungkinan percakapan istri dan mantan kekasihnya terjadi tanpa prediksi. Sedang Rocky menutup mata sebentar. Seolah tahu badai baru saja memesan tiket masuk. “Kita lagi beres-beres mau pulang,” kata Adriel. Qairo mengangguk. “Bagus. Rumah emang tempat terbaik buat recovery.” “Qai, kamu ikut pulang bareng kita, 'kan?" Kalimat itu keluar begitu saja tanpa Vio pikir panjang. Semua orang langsung menoleh ke Vio tidak habis pikir. “Kayaknya belum bisa.” Qairo menolak halus. Vio mengernyit. “Kenapa?” “Aku masih harus urus administrasi pindahan kerja.” “Pindahan? Kamu kerja di mana emang?” Qairo membuka mulut, tapi belum sempat bicara— “Singapura.” potong Rocky cepat. “Ngapain kamu di Singapura? Udah lama disana?” Rocky menjawab datar tanpa ekspresi. “Jadi Biksu.” Vio tahu Rocky bercanda, tapi entah saat itu dia tetap kaget. Qairo langsung menggeleng panik. Dia takut Vio yang belum stabil percaya ucapan Rocky. “Bukan. Aku kerja di pusat rehabilitasi trauma. Programnya di bawah yayasan Buddha. Bukan jadi Biksu.” “Oh. Jadi kamu gak bisa ikut kita pulang?” “Belum bisa. Mungkin lain kali." “Kamu kerja lagi disini?" "Iya." "Berarti kita bakal sering ketemu, ya?” Vio tersenyum di akhir kalimat. Bukannya menjawab, Qairo malah melirik Adriel yang mengepalkan tangan disamping tubuhnya. "Aku ke bagian Direksi dulu, nanti kita ngobrol lagi." Qairo menepuk bahu Vio pelan sebelum pergi, membuat pipi Vio kemerahan. Setelah semua barang Vio dikemas, mereka bergegas pulang. Mobil berhenti tepat di depan pintu lobi. Rocky langsung masuk kursi belakang. "Bang, gue aja yang disitu." Vio memaksa Rocky turun. "Mau jadi nyonya lo? Udah di depan aja, temenin tuh suami nyetir." Vio terpaksa duduk dikursi depan, disebelah Adriel. Mobil berjalan. Sabuk pengaman Vio macet. Tangannya mulai panik. Tanpa bicara, Adriel mencondongkan badannya ke arah Vio refleks. Vio langsung menahan napas saat tangan Adriel menarik sabuk dan menguncinya dengan satu gerakan terbiasa. “Udah.” Adriel mundur buru-buru. Dia tahu jelas Vio kaget dan tidak nyaman. Sepanjang perjalanan, mobil dipenuhi keheningan. Perjalanan pulang terasa seperti adegan film kriminal. Bedanya yang bertampang serius hanya dirinya. Karena dua orang lainnya sangat santai untuk ukuran penculik. Vio menggeleng. Dia merasa posisi mereka persis seperti tiga orang yang tidak tahu hubungan mereka sebenarnya apa. Karena tak ada yang berbicara. "Rumahnya masih jauh?" Pertanyaan Vio memecah keheningan. "Sebentar lagi." kata Adriel. Mobil berhenti di depan rumah dua lantai bergaya American Classic. Vio menatapnya lama. “Ini rumah siapa?” “Rumah kita.” Jawab Adriel. Rumah ini terlihat asing, tapi gaya rumahnya Vio banget. Ada kotak surat seperti di film luar negeri yang sering ia tonton. Ada huruf A & V disana. "Kamu inget sesuatu?" Adriel berharap jawabannya iya. Vio menggeleng. "Tapi aku ngerasa gak asing sama kotak surat itu." "Karena kamu yang desain dan pilih warna catnya. Kamu juga maksa beli kotak surat itu jam 10 malam karena gak bisa tidur. Kamu bilang rumah kita belum estetik." Adriel tersenyum menjelaskannya. Mereka berjalan pelan menuju teras. Tangan Vio terasa dingin saat kakinya menapaki dua anak tangga. Jantungnya berdetak lebih cepat. Aneh rasanya berdiri di depan rumah yang katanya miliknya, tapi terasa seperti rumah orang asing. Begitu pintu dibuka, aroma rumah langsung menyambut—hangat, bersih, dan anehnya nyaman. Seolah tempat ini pernah menjadi zona aman. Tapi otak Vio menolak mengingat. Dia melangkah masuk pelan. Matanya menyapu ruangan. Sofa abu-abu, rak buku, meja kecil dengan vas bunga. Langkahnya berhenti. Di dinding ruang tamu tergantung foto besar. Sebuah foto pernikahan. Vio mengenali gaunnya. Matanya perlahan beralih pada wajah pengantin wanita. Dirinya? Di sebelahnya berdiri Adriel. Mereka tersenyum bahagia dan nyata. Vio mundur satu langkah. "Ini editan, 'kan?" “Ngapain ngedit foto nikahan lo? Kita sibuk kalik di rumah sakit.” Rocky langsung sewot. “Kamarnya di atas.” Adriel berkata pelan, seolah takut salah satu kata saja bisa membuat Vio kabur dari rumah ini. Vio langsung menoleh. “Kamarku?” “Kam-kamar kita.” Adriel kesulitan mengucapkannya. Rocky langsung batuk keras dan pergi ke dapur. “Gue minta minum, ya.” Vio menatap tangga dengan panik. Dia menatap Adriel. “Dok?” Adriel mengangguk kecil memberi izin bicara. “Aku belum siap kita tidur sekamar." Kalimat itu keluar pelan. Bahu Adriel menegang. Mulutnya terasa pahit. Kalimat sederhana itu jatuh seperti sesuatu yang sudah ia duga tapi tetap terasa menyakitkan saat benar-benar terjadi. "Iya, gak papa. Aku tidur di kamar tamu.” Dia berbalik sebelum siapa pun bisa melihat ekspresinya terlalu lama. "Kamu liat-liat aja. Aku mau ambil barang di mobil." Rocky baru kembali dari dapur, menatap Vio. “Lo nyakitin dia tahu.” Vio langsung menoleh. “Gue bahkan gak inget dia. Gue mau istirahat, tunjukkin kamar gue." Rocky membuang napas pasrah. *** Jam menunjukkan pukul 02.13 wib. Pintu kamar Vio terbuka pelan. Ia keluar dengan langkah pelan, takut menggangu. Dia seperti pengunjung museum yang takut menyentuh benda pameran. Ruang tamu gelap, hanya lampu meja kecil yang menyala. Adriel duduk di sofa, masih memakai baju yang sama dengan tadi sore. Tatapannya kosong. Ia lelah, nyaris putus asa. Suara langkah kecil membuatnya menoleh. Vio berdiri di dekat rak foto. Ia tidak menyadari Adriel ada di sana. Ia menatap satu per satu bingkai foto di meja. Mengangkatnya perlahan. Menelusuri kaca dengan ujung jari, seperti Arkeolog yang menemukan Artefak dari hidupnya sendiri. Adriel berdiri perlahan. "Aku boleh jelasin?” Vio menoleh. Terkejut sedikit tapi tak membuatnya mundur. Ia mengangguk pelan. Adriel mendekat satu langkah. Menunjuk foto pertama. “Itu di Bali. Liburan pertama kita setelah kamu lulus PPDS. Dua bulan kita jadi suami istri.” Vio menatap foto itu lama. Di foto itu ia tertawa lepas, memegang Kelapa muda. Rambutnya berantakan kena angin pantai. Adriel berdiri di belakangnya, dagunya menempel dipundaknya. Dia mengambil foto lain. Foto mereka di rumah sakit. Vio memakai baju scrub dan stetoskop, Adriel memegang kopi. Mereka duduk di lantai koridor. Terlihat lelah tapi sangat bahagia. “Ini kapan?” “Malam jaga pertama kita setelah nikah." Adriel masih menjelaskan. Seperti Tour Guide yang mengantar pengunjung ke masa lalu. “Foto bisa diedit. Kayak foto di ruang tamu tadi.” Vio berkata pelan. Dia masih ragu semua kenangan yang cuma bisa ia dengar tanpa di ingat. Adriel berjalan ke meja samping TV. Membuka laci, mengambil map biru. Ia menyerahkannya ke Vio. “Ini nggak bisa diedit.” Vio menerima map itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan. KUTIPAN AKTA PERKAWINAN 28 Juli 2024 Viola Renata Fernandez dengan Adriel Benedict Rakatama. Dibawahnya ada bubuhan tanda tangan dan stempel negara. “Aku nggak mungkin palsuin ini. Aku bisa kena masalah hukum.” Vio menatap kertas itu terlalu lama. Huruf-hurufnya mulai kabur. Napasnya berubah cepat. Jantungnya berdetak tidak normal. Suara berdenging muncul di telinganya. “Vio?” Satu tetes darah jatuh ke akta nikah itu. Vio mimisan. Perlahan map akta nikah terjatuh, tubuh Vio terhuyung. "Vio!"Pintu ruangan dibuka. "Ibu Viola, silakan."Adriel buru-buru bangun dari posisi jongkoknya. Ia berterima kasih dalam hati pada semesta yang kali ini berada di pihaknya. "Ayo."Vio melangkah paling cepat dan masuk ruang USG lebih dulu. Meski begitu ia masih penasaran dengan maksud ucapan Rocky soal Adriel akan senang jika janin mereka tidak selamat.Ruangan USG redup dan hening. Hanya ada suara mesin yang pelan berdengung. Vio berbaring kaku. Tangannya menggenggam sprei, sampai akhirnya tanpa sadar ia meraih tangan seseorang di sampingnya.“Salah tangan. Ini tangan pangeran." Rocky menarik tanganya. Ia menunjuk tangan Adriel, "Ini mau?""Ish!" Vio kesal tapi malu.Adriel ingin sekali memegang tangan Vio. Tapi ia tak mau hubungan mereka merenggang jika memaksakan diri. Belum lagi iparnya baru saja berulah. Vio pasti akan bertanya lagi soal ucapan Rocky tadi.Dokter perempuan itu menggerakkan probe perlahan di perut Vio. Layar hitam di depan mereka mulai menampilkan gamb
“Kan-kandungan apa?”Tidak ada yang menjawab.Qairo baru sadar ucapannya salah. Wajahnya berubah pucat.Rocky mengusap wajahnya, Eyang berhenti menyiram Bonsai, dan Adriel tidak bergerak. Tangannya masih menggenggam gagang koper sampai jari-jarinya memutih karena terlalu kuat menekan.“Qai.” suara Rocky pelan, hampir berbisik. “Lo—”“Aku pikir kamu udah tau,” potong Qairo panik. “Aku kira Adriel udah bilang.”Vio menoleh perlahan ke arah Adriel minta penjelasan tanpa kata-kata.Adriel membuang napas kesusahan. Seribu kalimat yang sudah ia siapkan selama sebelas hari terakhir tiba-tiba hilang. Ini bukan cara yang di rencanakan. Bukan di ruang tamu, bukan di depan semua orang, bukan saat Vio berdiri sejauh itu darinya.Adriel membalikkan badan. Wajahnya tegang. “Vio, kamu lagi hamil.”Vio tidak bereaksi. Matanya hanya berkedip pelan seolah otaknya menolak memproses kalimat itu.“Hamil?” Vio menunjuk diri sendiri. "Aku?”Tidak ada yang berani menjawab.Tatapan Vi
Pagi datang terlalu cepat.Vio tidak benar-benar tidur semalaman. Ia hanya berpindah dari satu posisi ke posisi lain di ranjang lamanya, menatap langit-langit kamar yang penuh bekas glow in the dark bintang masa kecilnya.Ia ingat menempelkannya. Ia ingat Eyang Kakung memarahinya karena lemnya menempel di cat. Memori kecil seperti ini ada dan jelas. Tapi memori tentang Adriel kosong."Kenapa diantara banyak orang gue harus lupa suami sendiri, ya?"Suara piring dari dapur terdengar pelan. Rocky sudah bangun. Bau roti bakar memenuhi rumah.Vio duduk di tepi ranjang, memandangi ponsel yang baru diberikan Adriel beberapa hari setelah ia bangun dari koma. Ponsel itu hanya menyimpan nomor Adriel, Rocky, Mama-Papa dan Eyang Kakung."Hape baru, ingetan baru. Ini harus sampe kapan sih gue kebingungan sama hidup sendiri?"Pintu dibuka. “Udah bangun?”Vio menoleh. Rocky berdiri di ambang pintu sambil membawa mug teh.“Lo pucet banget." katanya pelan.Vio menerima mug itu. “Q
“Rocky!” Suara Adriel menggema.Tidak sampai sepuluh detik, pintu kamar tamu terbuka keras.“Kenapa sih jam segini udah manggil tamu? Gak sopan ba—”Rocky berhenti bicara saat melihat Vio pingsan di pelukan Adriel. Wajahnya pucat, darah masih mengalir di bawah hidung. Ekspresinya langsung runtuh. Semua leluconnya hilang dalam satu detik.“Ya ampun, Vio?!”“Kita ke IGD sekarang!”Rocky tidak banyak tanya. Ia langsung mengambil kunci mobil.Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat lama. Jalanan kosong, lampu kota berlari cepat di kaca jendela mobil. Detik terasa seperti menit. Menit terasa seperti jam.Adriel duduk di kursi belakang, memeluk Vio erat. Tangannya gemetar, tapi suaranya tetap stabil saat memberi instruksi pada Rocky.“Jangan ngerem mendadak. Jaga kecepatan stabil.”Rocky melirik spion. Ia tidak pernah melihat Adriel setegang ini. Lelaki yang biasanya tenang di ruang operasi kini terlihat seperti kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.Pintu IGD terbu
Koridor ruang rawat tiba-tiba terasa sempit. Rocky dan Adriel menatap Qairo. Qairo menatap Vio. Dan Vio menatap Qairo seperti menemukan sesuatu yang familiar dan membuatnya merasa aman.“Qai, kamu dateng?" Mata Vio berkaca-kaca. Nada suara itu hangat, lega, penuh harapan. Nada yang baru terdengar ia ucapkan pasca siuman.Qairo diam sebentar. "Kamu inget aku?""Banget." Jawaban Vio membuat Adriel langsung siaga satu.Adriel berdiri sedikit lebih tegak. Rahangnya mengeras tipis, mempersiapkan segala kemungkinan percakapan istri dan mantan kekasihnya terjadi tanpa prediksi. Sedang Rocky menutup mata sebentar. Seolah tahu badai baru saja memesan tiket masuk.“Kita lagi beres-beres mau pulang,” kata Adriel.Qairo mengangguk. “Bagus. Rumah emang tempat terbaik buat recovery.”“Qai, kamu ikut pulang bareng kita, 'kan?" Kalimat itu keluar begitu saja tanpa Vio pikir panjang.Semua orang langsung menoleh ke Vio tidak habis pikir. “Kayaknya belum bisa.” Qairo menolak halus.
Vio menggeleng.Dia kembali menatap lelaki di depannya. Wajahnya tenang tapi rahangnya mengeras. “Nama dokter siapa?” Tanya Vio pelan.“Adriel.”“Nama lengkap?”“Adriel Rakatama.” Jawabannya datar. Di balik nada stabil itu ada sedikit jeda napas yang nyaris tak terdengar.Vio menyipitkan mata. Dia menunjuk dirinya sendiri. “Nama aku?”“Viola Renata Fernandez.”“Umur aku?”“Dua puluh delapan.”“Golongan darah?”“B+.”Semua jawaban keluar tanpa jeda. Tanpa berpikir dan ragu.Vio membuang nafas. Oke. Ini mulai aneh. Dia mencoba pertanyaan yang lebih personal.“Kesukaan aku?”“Susu Coklat hangat. Tapi kamu pura-pura bilang suka Americano biar kelihatan dewasa.”Vio membeku. Itu benar. Tapi masih bisa dijelaskan. Bisa saja dokter ini stalking. Bisa saja Rocky yang memberi tahu. Alasannya masih bisa dijelaskan ilmiah.“Kamu takut Kecoa,” lanjut Adriel tenang. “Dan kamu selalu nyanyi lagu anak-anak kalau lagi panik di ruang operasi. Padahal tugas kamu cuma







