LOGIN“Rocky!” Suara Adriel menggema.
Tidak sampai sepuluh detik, pintu kamar tamu terbuka keras. “Kenapa sih jam segini udah manggil tamu? Gak sopan ba—” Rocky berhenti bicara saat melihat Vio pingsan di pelukan Adriel. Wajahnya pucat, darah masih mengalir di bawah hidung. Ekspresinya langsung runtuh. Semua leluconnya hilang dalam satu detik. “Ya ampun, Vio?!” “Kita ke IGD sekarang!” Rocky tidak banyak tanya. Ia langsung mengambil kunci mobil. Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat lama. Jalanan kosong, lampu kota berlari cepat di kaca jendela mobil. Detik terasa seperti menit. Menit terasa seperti jam. Adriel duduk di kursi belakang, memeluk Vio erat. Tangannya gemetar, tapi suaranya tetap stabil saat memberi instruksi pada Rocky. “Jangan ngerem mendadak. Jaga kecepatan stabil.” Rocky melirik spion. Ia tidak pernah melihat Adriel setegang ini. Lelaki yang biasanya tenang di ruang operasi kini terlihat seperti kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Pintu IGD terbuka. Brankar datang. Perawat bergerak cepat. Instruksi saling bersahutan. “Pasien perempuan, 28 tahun, riwayat trauma kepala, Amnesia Parsial, Epistaksis, Sinkop.” Lapor Adriel pada dokter jaga. Tangannya tidak mau melepaskan Vio sampai perawat benar-benar menariknya pelan. Vio langsung dipindahkan ke ranjang. Adriel berdiri beberapa langkah dari ranjang tindakan, memaksa dirinya tidak ikut campur sebagai dokter meski seluruh tubuhnya ingin mengambil alih. Ia menggenggam jari-jarinya sendiri kuat-kuat, seperti menahan dorongan naluri yang hampir pecah. Ia sempat melirik dokter jaga bertukar pesan dengan konsultan bedah Saraf. Tiba-tiba seseorang berlari masuk ke ruang IGD. Dokter perempuan. Usianya sebaya Adriel. Rambut diikat cepat. “Pasien Neurologis? Kita CT scan sekarang.” Adriel dan Rocky menoleh. Keduanya langsung kaku. Sarah. Vio mengerang pelan. Matanya bergerak. Kelopak matanya terbuka perlahan. Ia menatap langit-langit putih IGD. “Aku dimana?” Suara itu lemah tapi sadar. Perawat di samping ranjang langsung mendekat. “Di IGD. Dokter Vio pingsan di rumah. Sekarang aman.” Vio menoleh. Matanya langsung membesar. Nada suaranya ceria. “Kak Sarah?!" Rocky dan Adriel saling menoleh bersamaan. Mereka kaget berjamaah. Vio tersenyum lebar meski masih lemas. “Syukurlah. Berarti amnesiaku nggak separah itu. Aku masih inget kakak.” Jantung Adriel sempat ikut lega sepersekian detik sebelum sadar nama yang Vio ingat bukan dirinya. Sarah membeku sebentar, lalu tersenyum hangat. “Iya. Kamu masih inget aku.” Tangannya menyentuh pelan bahu Vio profesional. “Apa yang kamu rasakan sekarang?” “Chepalgia sama Nausea, kak.” “Oke. Kita CT scan buat pastikan nggak ada perdarahan ulang.” Vio mengangguk patuh. “Seneng ya, lihat dokter Vio sama dokter Sarah akur lagi.” kata perawat yang membantu Vio bangun dari ranjang. "Maksudnya?" Vio kebingungan. “Soalnya dulu 'kan sering berantem rebutan dokter Adriel. Dokter Sarah 'kan mantannya dokter Adriel.” Tangan Vio yang tadinya santai langsung menegang. Kepalanya menoleh sangat pelan menatap Adriel. Tatapan itu bukan bingung lagi—tapi merasa dikhianati oleh sesuatu yang bahkan belum sempat ia pahami. Adriel tidak membela diri. Tidak menyangkal dan tidak berniat menjelaskan. Justru itu yang terasa seperti pengakuan. Pemeriksaan dilakukan hampir tanpa jeda, tapi tidak semua hasilnya bisa dilihat sekarang. Setelah hasil pemeriksaan, Sarah menutup map hasil sementara. “Aku sarankan kamu rawat inap lagi malam ini. Observasi minimal dua puluh empat jam.” Adriel langsung mengangguk tanpa bantahan. “Iya. Kita ranap.” Vio menoleh pelan. “Aku mau pulang.” Sarah berkedip. “Vio—” “Aku mau pulang.” ulang Vio lebih tegas. Adriel menarik napas pelan. “Kita rawat inap semalem aja Vi—” “Aku mau pulang.” Nada Vio kali ini keras. Rocky langsung menyela. “Ya udah pulang sekarang, yuk.” Vio menoleh ke Rocky. “Kita pulang ke rumah Eyang.” Rocky berkedip cepat. “Hah? Kenapa ke sana?” suaranya naik satu oktaf. “Karena itu rumah yang gue kenal.” “Vi, rumah lo ya rumah lo sama Adriel!” Rocky menegaskan. Dia tidak mau adiknya bersikap semena-mena. Vio menggeleng pelan. “Sekarang nggak lagi.” Rocky frustrasi. Ia mengacak rambutnya. Berjalan mondar-mandir seperti dokter yang kehilangan logika medisnya. “Ya udah! Gue ikut pindah ke sana! Besok pagi gue bawa semua barang gue ke sana. Tapi lo tetep tinggal disitu sama kita." “Gue nggak kenal Adriel, Bang. Inget sedikit pun nggak. Dia orang asing buat gue.” Rocky membuka mulutnya siap mendebat. Vio menyela cepat. "Jangan bahas dia suami gue. Gak ada artinya buat gue sekarang." Adriel yang mendengar itu hanya menunduk. Wajah lelahnya sudah kentara. Bukan lelah fisik, tapi mental. Entah sampai kapan ia bisa pura-pura kuat. "Gue kasih tahu, ingetan terakhir gue adalah, gue masih pacaran sama Qairo. Tapi gue gak bisa bilang itu kemaren ke semua orang karena begitu bangun, ada dokter asing yang bilang dia suami gue. Gue ngerasa harus jaga perasaan orang yang bahkan gue kenal aja nggak." Rocky diam, berusaha mengerti perasaan Vio. "Lo bayangin, gue ngerasa semuanya baik-baik aja, tapi dokter bilang ada orang dan kejadian yang gue lupain. Lo pikir gue gak tertekan sama permintaan kalian buat percaya kalo dokter yang namanya Adriel itu suami gue?" Vio bangun dari posisi duduknya. "Gue bisa ke rumah Eyang sendiri. Gue masih inget alamatnya." Rocky menarik tangan Vio. "Gue minta maaf. Kita pulang ke rumah Eyang sekarang. Adriel juga pasti ngizinin." Adriel mengangguk pelan. Terpaksa. Sarah memperhatikan Adriel. Ada tatapan iba di sana. Vio menangkap tatapan itu. Rasanya ia tidak suka dan merasa mereka menyimpan rahasia hubungan itu darinya. Vio melirik Sarah lalu menatap Adriel datar. "Tapi dia jangan ikut tinggal di rumah Eyang." "Oke. Tapi Adriel harus ikut nganterin lo." Rocky memberi solusi yang tak bisa didebat. Vio mengangguk setuju. Mereka berjalan ke arah lobi. Vio hanya senyum kecil pada Sarah. Ia masih butuh banyak informasi mengenai masa lalu Sarah dan Adriel yang masih jadi teka-teki besar dalam pikirannya. Rocky membuka pintu mobil belakang untuk Vio, yang langsung Vio tutup. "Gue mau duduk didepan." Rocky mengangguk tanpa protes. Ponsel di saku jaket Rocky bergetar. Nama di layar membuat napasnya berhenti. Satu pesan masuk dari Qairo. Rocky membukanya. From : Qairo Gue denger Vio masuk IGD. Apa besok gue boleh ketemu dia? Rocky menatap layar ponsel itu lama. Ia melirik Adriel yang masih berdiri disamping mobil tanpa bicara. Vio keluar dari mobil. Dia merebut ponsel Rocky dan membaca pesan itu. Otomatis kepalanya menoleh ke Adriel, bukan Rocky. "Aku boleh ketemu Qai, 'kan?"Sarah duduk di kursi sebrang Vio di ruang observasi persalinan.Vio masih menatapnya dengan wajah bingung."Aku boleh ngobrol sebentar?"Vio mengangguk pelan.Sarah tersenyum. "Makasih, ya."Vio langsung mengerutkan kening. "Buat apa, kak?""Karena kamu.... Kalau bukan karena kamu, mungkin aku masih tetep akan menikah sama dokter Sam."Vio langsung terdiam. Jantungnya berdegup. "Bentar."Sarah menatapnya. "Kenapa?""Papa bilang sama Kak Sarah kalau batal nikah karena aku?"Sarah menggeleng. "Enggak."Vio mengerutkan kening. "Terus kenapa makasihnya ke aku?"Sarah tersenyum kecil. "Karena kamu yang bikin dokter Sam berpikir ulang."Vio langsung menggeleng. "Enggak."Sarah berkedip. "Enggak?""Aku bahkan belum sempet ngomong apa-apa waktu itu.""Tapi kamu datang ke ruangan dokter Sam sebelum aku.""Iya, tapi sebelum aku ngomong, papa udah punya keputusan sendiri."Sarah tersenyum, "Tapi menurutku, kamu tetap punya pengaruh."Vio menggeleng cepat. "Enggak. Enggak begi
Pagi itu Vio sarapan bersama Adriel. Tapi dari tadi dia diam. Adriel yang awalnya sibuk makan akhirnya meletakkan sendok.“Kamu marah sama aku?”“Enggak.”“Terus kenapa mukamu gitu?”“Gitu gimana?”“Kayak kita baru cekcok serius." Vio langsung menatapnya tajam.“Oke. Berarti kamu marah.”Vio kembali menyendok nasi. “Papa gak jadi nikah sama Sarah.”Adriel langsung berhenti makan. “Hah?”“Papa gak jadi nikah sama Kak Sarah.” Vio mengulangi kalimat yang sama.“Kenapa?”“Gak tahu.”“Vio?”“Aku beneran gak tahu. Papa belum bilang.”Adriel menatap istrinya beberapa detik. “Terus kenapa kamu keliatan kesel? Bukannya harusnya kamu seneng?”Vio menusuk telurnya dengan garpu. “Harusnya Papa nikah aja sama Kak Sarah.”Adriel membeku. Bingung dengan istrinya. “Bukannya kamu yang paling gak mau mereka nikah?”“Iya. Kemaren-kemaren.”“Bukannya kamu yang kemarin sibuk minta Papa batal nikah?”“Iya.”“Terus sekarang kenapa—”“Biar Kak Sarah gak bisa rebut kamu!”Hening.“Ap
“Gue... gagal ngomong.”Adriel langsung memegang bahunya pelan. “Gak apa-apa.”Vio menatap suaminya. Entah kenapa, justru kalimat itu yang membuatnya semakin merasa bersalah.“Beneran gak papa?” Rocky menyelidik.Vio mengangguk.“Papa ngomong apa?” tanya Adriel. “Gak tahu.”“Lah, lo baru keluar dari ruangan papa, masa gak tahu?”Vio menatap Rocky datar.Rocky langsung mengangkat kedua tangan. “Oke-oke, jangan galak.”Adriel masih memperhatikan wajah Vio. Istrinya terlalu tenang. Bukan tenang yang biasa. Vio terlihat seperti seseorang yang baru saja mengetahui sesuatu, lalu berusaha keras menyimpannya sendirian.“Vio.” Jantung Vio langsung berdegup. “Iya?”“Ada yang papa bilang?”Vio berkedip. “Nggak.”Jawabannya terlalu cepat. Adriel menyipitkan mata. Vio langsung sadar. Sial.“Aku maksudnya...” Vio buru-buru memperbaiki. “Papa cuma bilang kalau semuanya belum jelas.”Rocky langsung mendengus. “Berarti gak ada kemajuan?”“Nggak.”“Sarah tetep mau nikah?”Vio terd
Sarah langsung berdiri. “Jangan.”Papa menatapnya.Sarah menggeleng cepat. Wajahnya langsung pucat. “Jangan biarin mereka masuk.”Asisten yang masih berdiri di dekat pintu langsung menoleh kepada Papa.Papa tidak menjawab. Ia hanya menatap Sarah. “Sarah.”“Saya belum siap. Saya belum siap ketemu mereka lagi.” tangannya gemetar.Papa mengangguk pelan. "Mbak Maya, tolong minta mereka menunggu di ruang tunggu.”Asisten mengangguk. “Baik, Dok.”Pintu kembali tertutup.Sarah berdiri membeku. Papa tidak langsung bicara. Ia membiarkan Sarah menarik napas beberapa kali sampai tubuhnya sedikit lebih tenang.“Dok.”“Iya?”“Kalau mereka benar-benar bohong... “Kenapa mereka masih mau saya menikah dengan Dokter Sam?”Papa menatapnya lama. “Itu yang harus kita cari tahu.”Sarah menelan ludah. “Kalau utang saya sudah lunas...” Ia menatap map di tangannya. Berarti saya gak punya kewajiban lagi secara finansial?”Papa mengangguk.Sarah menutup matanya. Air mata kembali mengalir.“Ki
Vio masih menatap papa tanpa berkedip. Botol air mineral di tangannya hampir terlepas kalau saja jemarinya tidak buru-buru menggenggam lebih erat.“Karena takut aku mimisan lagi?”Papa mengembuskan napas pendek. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Papa emang gak tahan lihat kamu sakit.”Vio langsung menunduk. Hidungnya kembali terasa panas. Untung belum sampai mimisan lagi.“Tapi... bukan itu alasannya.”Papa meletakkan cangkir wedang jahe di atas meja. Tangannya bertaut di pangkuan, seperti sedang memilih kata-kata yang tepat.“Papa ini dokter, Vi.”Vio mengangguk pelan.“Kalau pasien datang dengan demam, papa gak cuma kasih obat penurun panas. Papa cari penyebabnya.”Vio mulai mengangkat wajah.“Sarah bukan penyebab masalahnya.”“Terus?”“Masalahnya jauh lebih rumit dari itu.”Papa bangkit pelan, lalu berjalan ke arah jendela. “Papa sudah bicara dengan orang tua Sarah.”Mata Vio langsung membesar.“Papa juga sudah bicara sama Sarah. Jawabannya tetap sama.”Vio ikut berd
Mereka pindah ke lorong sepi. Rocky langsung mode briefing tim perang.Adriel masih ragu. “Papa gak akan berubah pikiran cuma karena diajak ngomong. Gue tahu sifatnya.”Rocky langsung nyaut, “Ya karena yang ngajak ngomong bukan orang yang tepat.” Adriel melotot. “Maksud lo?”Rocky santai, “Lo anak pungut, makanya gak akur. Anak kesayangan beliau itu Vio.”Qairo langsung batuk nahan ketawa. Adriel mendengus. “Gue masih di sini, Ky.”Rocky tepuk bahu Vio. “Makanya yang ngomong harus dia.”Vio langsung tegang. “Gue.. harus ngomong apa?”Rocky angkat jari satu per satu. "Pertama, lo jangan bilang, ‘jangan nikahin Sarah’.”Vio mengangguk cepat.“Lo bilang, 'aku takut papa nanti kesepian.' Bikin beliau ngerasa lo mikirin kebahagiaannya, bukan ngelarang.”Adriel mulai memperhatikan serius."Kedua, singgung perbedaan usia secara halus. Bukan bilang papa ‘terlalu tua’. Itu bunuh diri. Yang ada lo ditendang dari ruangan."Qairo menimpali, “Kamu bilang fase hidupnya beda.”Rocky
“Kan-kandungan apa?”Tidak ada yang menjawab.Qairo baru sadar ucapannya salah. Wajahnya berubah pucat.Rocky mengusap wajahnya, Eyang berhenti menyiram Bonsai, dan Adriel tidak bergerak. Tangannya masih menggenggam gagang koper sampai jari-jarinya memutih karena terlalu kuat menekan.“Qai
Pagi datang terlalu cepat.Vio tidak benar-benar tidur semalaman. Ia hanya berpindah dari satu posisi ke posisi lain di ranjang lamanya, menatap langit-langit kamar yang penuh bekas glow in the dark bintang masa kecilnya.Ia ingat menempelkannya. Ia ingat Eyang Kakung memarahinya karena lemnya
Koridor ruang rawat tiba-tiba terasa sempit. Rocky dan Adriel menatap Qairo. Qairo menatap Vio. Dan Vio menatap Qairo seperti menemukan sesuatu yang familiar dan membuatnya merasa aman.“Qai, kamu dateng?" Mata Vio berkaca-kaca. Nada suara itu hangat, lega, penuh harapan. Nada yang baru terdengar
Vio menggeleng.Dia kembali menatap lelaki di depannya. Wajahnya tenang tapi rahangnya mengeras. “Nama dokter siapa?” Tanya Vio pelan.“Adriel.”“Nama lengkap?”“Adriel Rakatama.” Jawabannya datar. Di balik nada stabil itu ada sedikit jeda napas yang nyaris tak terdengar.Vio menyipitk







