Share

Bab 4 - Mantan Adriel?

Penulis: Rahmani Rima
last update Tanggal publikasi: 2026-05-04 11:17:13

“Rocky!” Suara Adriel menggema.

Tidak sampai sepuluh detik, pintu kamar tamu terbuka keras.

“Kenapa sih jam segini udah manggil tamu? Gak sopan ba—”

Rocky berhenti bicara saat melihat Vio pingsan di pelukan Adriel. Wajahnya pucat, darah masih mengalir di bawah hidung. Ekspresinya langsung runtuh. Semua leluconnya hilang dalam satu detik.

“Ya ampun, Vio?!”

“Kita ke IGD sekarang!”

Rocky tidak banyak tanya. Ia langsung mengambil kunci mobil.

Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat lama. Jalanan kosong, lampu kota berlari cepat di kaca jendela mobil. Detik terasa seperti menit. Menit terasa seperti jam.

Adriel duduk di kursi belakang, memeluk Vio erat. Tangannya gemetar, tapi suaranya tetap stabil saat memberi instruksi pada Rocky.

“Jangan ngerem mendadak. Jaga kecepatan stabil.”

Rocky melirik spion. Ia tidak pernah melihat Adriel setegang ini. Lelaki yang biasanya tenang di ruang operasi kini terlihat seperti kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.

Pintu IGD terbuka.

Brankar datang. Perawat bergerak cepat. Instruksi saling bersahutan.

“Pasien perempuan, 28 tahun, riwayat trauma kepala, Amnesia Parsial, Epistaksis, Sinkop.” Lapor Adriel pada dokter jaga. Tangannya tidak mau melepaskan Vio sampai perawat benar-benar menariknya pelan.

Vio langsung dipindahkan ke ranjang.

Adriel berdiri beberapa langkah dari ranjang tindakan, memaksa dirinya tidak ikut campur sebagai dokter meski seluruh tubuhnya ingin mengambil alih. Ia menggenggam jari-jarinya sendiri kuat-kuat, seperti menahan dorongan naluri yang hampir pecah. Ia sempat melirik dokter jaga bertukar pesan dengan konsultan bedah Saraf.

Tiba-tiba seseorang berlari masuk ke ruang IGD. Dokter perempuan. Usianya sebaya Adriel. Rambut diikat cepat.

“Pasien Neurologis? Kita CT scan sekarang.”

Adriel dan Rocky menoleh. Keduanya langsung kaku. Sarah.

Vio mengerang pelan. Matanya bergerak. Kelopak matanya terbuka perlahan. Ia menatap langit-langit putih IGD.

“Aku dimana?” Suara itu lemah tapi sadar.

Perawat di samping ranjang langsung mendekat. “Di IGD. Dokter Vio pingsan di rumah. Sekarang aman.”

Vio menoleh. Matanya langsung membesar. Nada suaranya ceria. “Kak Sarah?!"

Rocky dan Adriel saling menoleh bersamaan. Mereka kaget berjamaah.

Vio tersenyum lebar meski masih lemas. “Syukurlah. Berarti amnesiaku nggak separah itu. Aku masih inget kakak.”

Jantung Adriel sempat ikut lega sepersekian detik sebelum sadar nama yang Vio ingat bukan dirinya.

Sarah membeku sebentar, lalu tersenyum hangat. “Iya. Kamu masih inget aku.”

Tangannya menyentuh pelan bahu Vio profesional. “Apa yang kamu rasakan sekarang?”

“Chepalgia sama Nausea, kak.”

“Oke. Kita CT scan buat pastikan nggak ada perdarahan ulang.”

Vio mengangguk patuh.

“Seneng ya, lihat dokter Vio sama dokter Sarah akur lagi.” kata perawat yang membantu Vio bangun dari ranjang.

"Maksudnya?" Vio kebingungan.

“Soalnya dulu 'kan sering berantem rebutan dokter Adriel. Dokter Sarah 'kan mantannya dokter Adriel.”

Tangan Vio yang tadinya santai langsung menegang. Kepalanya menoleh sangat pelan menatap Adriel. Tatapan itu bukan bingung lagi—tapi merasa dikhianati oleh sesuatu yang bahkan belum sempat ia pahami.

Adriel tidak membela diri. Tidak menyangkal dan tidak berniat menjelaskan. Justru itu yang terasa seperti pengakuan.

Pemeriksaan dilakukan hampir tanpa jeda, tapi tidak semua hasilnya bisa dilihat sekarang.

Setelah hasil pemeriksaan, Sarah menutup map hasil sementara. “Aku sarankan kamu rawat inap lagi malam ini. Observasi minimal dua puluh empat jam.”

Adriel langsung mengangguk tanpa bantahan. “Iya. Kita ranap.”

Vio menoleh pelan. “Aku mau pulang.”

Sarah berkedip. “Vio—”

“Aku mau pulang.” ulang Vio lebih tegas.

Adriel menarik napas pelan. “Kita rawat inap semalem aja Vi—”

“Aku mau pulang.” Nada Vio kali ini keras.

Rocky langsung menyela. “Ya udah pulang sekarang, yuk.”

Vio menoleh ke Rocky. “Kita pulang ke rumah Eyang.”

Rocky berkedip cepat. “Hah? Kenapa ke sana?” suaranya naik satu oktaf.

“Karena itu rumah yang gue kenal.”

“Vi, rumah lo ya rumah lo sama Adriel!” Rocky menegaskan. Dia tidak mau adiknya bersikap semena-mena.

Vio menggeleng pelan. “Sekarang nggak lagi.”

Rocky frustrasi. Ia mengacak rambutnya. Berjalan mondar-mandir seperti dokter yang kehilangan logika medisnya.

“Ya udah! Gue ikut pindah ke sana! Besok pagi gue bawa semua barang gue ke sana. Tapi lo tetep tinggal disitu sama kita."

“Gue nggak kenal Adriel, Bang. Inget sedikit pun nggak. Dia orang asing buat gue.”

Rocky membuka mulutnya siap mendebat.

Vio menyela cepat. "Jangan bahas dia suami gue. Gak ada artinya buat gue sekarang."

Adriel yang mendengar itu hanya menunduk. Wajah lelahnya sudah kentara. Bukan lelah fisik, tapi mental. Entah sampai kapan ia bisa pura-pura kuat.

"Gue kasih tahu, ingetan terakhir gue adalah, gue masih pacaran sama Qairo. Tapi gue gak bisa bilang itu kemaren ke semua orang karena begitu bangun, ada dokter asing yang bilang dia suami gue. Gue ngerasa harus jaga perasaan orang yang bahkan gue kenal aja nggak."

Rocky diam, berusaha mengerti perasaan Vio.

"Lo bayangin, gue ngerasa semuanya baik-baik aja, tapi dokter bilang ada orang dan kejadian yang gue lupain. Lo pikir gue gak tertekan sama permintaan kalian buat percaya kalo dokter yang namanya Adriel itu suami gue?"

Vio bangun dari posisi duduknya. "Gue bisa ke rumah Eyang sendiri. Gue masih inget alamatnya."

Rocky menarik tangan Vio. "Gue minta maaf. Kita pulang ke rumah Eyang sekarang. Adriel juga pasti ngizinin."

Adriel mengangguk pelan. Terpaksa.

Sarah memperhatikan Adriel. Ada tatapan iba di sana. Vio menangkap tatapan itu. Rasanya ia tidak suka dan merasa mereka menyimpan rahasia hubungan itu darinya.

Vio melirik Sarah lalu menatap Adriel datar. "Tapi dia jangan ikut tinggal di rumah Eyang."

"Oke. Tapi Adriel harus ikut nganterin lo." Rocky memberi solusi yang tak bisa didebat.

Vio mengangguk setuju.

Mereka berjalan ke arah lobi. Vio hanya senyum kecil pada Sarah. Ia masih butuh banyak informasi mengenai masa lalu Sarah dan Adriel yang masih jadi teka-teki besar dalam pikirannya.

Rocky membuka pintu mobil belakang untuk Vio, yang langsung Vio tutup.

"Gue mau duduk didepan."

Rocky mengangguk tanpa protes.

Ponsel di saku jaket Rocky bergetar. Nama di layar membuat napasnya berhenti. Satu pesan masuk dari Qairo.

Rocky membukanya.

From : Qairo

Gue denger Vio masuk IGD. Apa besok gue boleh ketemu dia?

Rocky menatap layar ponsel itu lama. Ia melirik Adriel yang masih berdiri disamping mobil tanpa bicara.

Vio keluar dari mobil. Dia merebut ponsel Rocky dan membaca pesan itu. Otomatis kepalanya menoleh ke Adriel, bukan Rocky.

"Aku boleh ketemu Qai, 'kan?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 7 - Anak Qairo

    Pintu ruangan dibuka. "Ibu Viola, silakan."Adriel buru-buru bangun dari posisi jongkoknya. Ia berterima kasih dalam hati pada semesta yang kali ini berada di pihaknya. "Ayo."Vio melangkah paling cepat dan masuk ruang USG lebih dulu. Meski begitu ia masih penasaran dengan maksud ucapan Rocky soal Adriel akan senang jika janin mereka tidak selamat.Ruangan USG redup dan hening. Hanya ada suara mesin yang pelan berdengung. Vio berbaring kaku. Tangannya menggenggam sprei, sampai akhirnya tanpa sadar ia meraih tangan seseorang di sampingnya.“Salah tangan. Ini tangan pangeran." Rocky menarik tanganya. Ia menunjuk tangan Adriel, "Ini mau?""Ish!" Vio kesal tapi malu.Adriel ingin sekali memegang tangan Vio. Tapi ia tak mau hubungan mereka merenggang jika memaksakan diri. Belum lagi iparnya baru saja berulah. Vio pasti akan bertanya lagi soal ucapan Rocky tadi.Dokter perempuan itu menggerakkan probe perlahan di perut Vio. Layar hitam di depan mereka mulai menampilkan gamb

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 6 - Teka-Teki Baru

    “Kan-kandungan apa?”Tidak ada yang menjawab.Qairo baru sadar ucapannya salah. Wajahnya berubah pucat.Rocky mengusap wajahnya, Eyang berhenti menyiram Bonsai, dan Adriel tidak bergerak. Tangannya masih menggenggam gagang koper sampai jari-jarinya memutih karena terlalu kuat menekan.“Qai.” suara Rocky pelan, hampir berbisik. “Lo—”“Aku pikir kamu udah tau,” potong Qairo panik. “Aku kira Adriel udah bilang.”Vio menoleh perlahan ke arah Adriel minta penjelasan tanpa kata-kata.Adriel membuang napas kesusahan. Seribu kalimat yang sudah ia siapkan selama sebelas hari terakhir tiba-tiba hilang. Ini bukan cara yang di rencanakan. Bukan di ruang tamu, bukan di depan semua orang, bukan saat Vio berdiri sejauh itu darinya.Adriel membalikkan badan. Wajahnya tegang. “Vio, kamu lagi hamil.”Vio tidak bereaksi. Matanya hanya berkedip pelan seolah otaknya menolak memproses kalimat itu.“Hamil?” Vio menunjuk diri sendiri. "Aku?”Tidak ada yang berani menjawab.Tatapan Vi

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 5 - Fakta Baru

    Pagi datang terlalu cepat.Vio tidak benar-benar tidur semalaman. Ia hanya berpindah dari satu posisi ke posisi lain di ranjang lamanya, menatap langit-langit kamar yang penuh bekas glow in the dark bintang masa kecilnya.Ia ingat menempelkannya. Ia ingat Eyang Kakung memarahinya karena lemnya menempel di cat. Memori kecil seperti ini ada dan jelas. Tapi memori tentang Adriel kosong."Kenapa diantara banyak orang gue harus lupa suami sendiri, ya?"Suara piring dari dapur terdengar pelan. Rocky sudah bangun. Bau roti bakar memenuhi rumah.Vio duduk di tepi ranjang, memandangi ponsel yang baru diberikan Adriel beberapa hari setelah ia bangun dari koma. Ponsel itu hanya menyimpan nomor Adriel, Rocky, Mama-Papa dan Eyang Kakung."Hape baru, ingetan baru. Ini harus sampe kapan sih gue kebingungan sama hidup sendiri?"Pintu dibuka. “Udah bangun?”Vio menoleh. Rocky berdiri di ambang pintu sambil membawa mug teh.“Lo pucet banget." katanya pelan.Vio menerima mug itu. “Q

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 4 - Mantan Adriel?

    “Rocky!” Suara Adriel menggema.Tidak sampai sepuluh detik, pintu kamar tamu terbuka keras.“Kenapa sih jam segini udah manggil tamu? Gak sopan ba—”Rocky berhenti bicara saat melihat Vio pingsan di pelukan Adriel. Wajahnya pucat, darah masih mengalir di bawah hidung. Ekspresinya langsung runtuh. Semua leluconnya hilang dalam satu detik.“Ya ampun, Vio?!”“Kita ke IGD sekarang!”Rocky tidak banyak tanya. Ia langsung mengambil kunci mobil.Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat lama. Jalanan kosong, lampu kota berlari cepat di kaca jendela mobil. Detik terasa seperti menit. Menit terasa seperti jam.Adriel duduk di kursi belakang, memeluk Vio erat. Tangannya gemetar, tapi suaranya tetap stabil saat memberi instruksi pada Rocky.“Jangan ngerem mendadak. Jaga kecepatan stabil.”Rocky melirik spion. Ia tidak pernah melihat Adriel setegang ini. Lelaki yang biasanya tenang di ruang operasi kini terlihat seperti kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.Pintu IGD terbu

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 3 - Rumah Asing

    Koridor ruang rawat tiba-tiba terasa sempit. Rocky dan Adriel menatap Qairo. Qairo menatap Vio. Dan Vio menatap Qairo seperti menemukan sesuatu yang familiar dan membuatnya merasa aman.“Qai, kamu dateng?" Mata Vio berkaca-kaca. Nada suara itu hangat, lega, penuh harapan. Nada yang baru terdengar ia ucapkan pasca siuman.Qairo diam sebentar. "Kamu inget aku?""Banget." Jawaban Vio membuat Adriel langsung siaga satu.Adriel berdiri sedikit lebih tegak. Rahangnya mengeras tipis, mempersiapkan segala kemungkinan percakapan istri dan mantan kekasihnya terjadi tanpa prediksi. Sedang Rocky menutup mata sebentar. Seolah tahu badai baru saja memesan tiket masuk.“Kita lagi beres-beres mau pulang,” kata Adriel.Qairo mengangguk. “Bagus. Rumah emang tempat terbaik buat recovery.”“Qai, kamu ikut pulang bareng kita, 'kan?" Kalimat itu keluar begitu saja tanpa Vio pikir panjang.Semua orang langsung menoleh ke Vio tidak habis pikir. “Kayaknya belum bisa.” Qairo menolak halus.

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 2 - Masih Ragu

    Vio menggeleng.Dia kembali menatap lelaki di depannya. Wajahnya tenang tapi rahangnya mengeras. “Nama dokter siapa?” Tanya Vio pelan.“Adriel.”“Nama lengkap?”“Adriel Rakatama.” Jawabannya datar. Di balik nada stabil itu ada sedikit jeda napas yang nyaris tak terdengar.Vio menyipitkan mata. Dia menunjuk dirinya sendiri. “Nama aku?”“Viola Renata Fernandez.”“Umur aku?”“Dua puluh delapan.”“Golongan darah?”“B+.”Semua jawaban keluar tanpa jeda. Tanpa berpikir dan ragu.Vio membuang nafas. Oke. Ini mulai aneh. Dia mencoba pertanyaan yang lebih personal.“Kesukaan aku?”“Susu Coklat hangat. Tapi kamu pura-pura bilang suka Americano biar kelihatan dewasa.”Vio membeku. Itu benar. Tapi masih bisa dijelaskan. Bisa saja dokter ini stalking. Bisa saja Rocky yang memberi tahu. Alasannya masih bisa dijelaskan ilmiah.“Kamu takut Kecoa,” lanjut Adriel tenang. “Dan kamu selalu nyanyi lagu anak-anak kalau lagi panik di ruang operasi. Padahal tugas kamu cuma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status