Share

Bab 2 - Masih Ragu

Penulis: Rahmani Rima
last update Tanggal publikasi: 2026-05-04 11:03:51

Vio menggeleng.

Dia kembali menatap lelaki di depannya. Wajahnya tenang tapi rahangnya mengeras.

“Nama dokter siapa?” Tanya Vio pelan.

“Adriel.”

“Nama lengkap?”

“Adriel Rakatama.” Jawabannya datar. Di balik nada stabil itu ada sedikit jeda napas yang nyaris tak terdengar.

Vio menyipitkan mata. Dia menunjuk dirinya sendiri. “Nama aku?”

“Viola Renata Fernandez.”

“Umur aku?”

“Dua puluh delapan.”

“Golongan darah?”

“B+.”

Semua jawaban keluar tanpa jeda. Tanpa berpikir dan ragu.

Vio membuang nafas. Oke. Ini mulai aneh. Dia mencoba pertanyaan yang lebih personal.

“Kesukaan aku?”

“Susu Coklat hangat. Tapi kamu pura-pura bilang suka Americano biar kelihatan dewasa.”

Vio membeku. Itu benar. Tapi masih bisa dijelaskan. Bisa saja dokter ini stalking. Bisa saja Rocky yang memberi tahu. Alasannya masih bisa dijelaskan ilmiah.

“Kamu takut Kecoa,” lanjut Adriel tenang. “Dan kamu selalu nyanyi lagu anak-anak kalau lagi panik di ruang operasi. Padahal tugas kamu cuma motong benang Sutura.”

Vio menelan ludah. Rocky. Pasti Rocky. Kakaknya itu memang biang gosip.

“Kamu punya tahi lalat kecil di—kedua gunung kembar sama—segitiga bermuda kanan.”

Otak Vio menolak protes. Wajahnya pucat total.

Adriel baru sadar dengan ucapannya sendiri. Dia melirik sekilas ke arah Mama, Papa, Eyang Kakung, dokter dan perawat yang sedari tadi jadi penonton. Ekspresi mereka campur aduk antara syok, malu, dan ingin tertawa.

Terlambat. Adriel hanya membuang nafasnya menyesal.

“Aku suami kamu, Vio. Itu bukti yang jelas. Rocky aja nggak mungkin tahu soal itu.”

Vio langsung menarik selimut sampai dagu seperti benteng terakhir.

“Itu nyeremin banget. Tapi aku masih belum yakin kita suami istri.”

Adriel tidak langsung menjawab. Ia tersenyum getir.

“Ya pokoknya aku suami kamu.” Jawaban itu sangat lelah dan pasrah.

“Oke.” Vio menelan ludah. “Ada satu kemungkinan dokter emang suami aku.”

“Ya emang begitu, sayang.”

“Jangan panggil itu!” Vio memotong cepat. “Aku belum selesai ngomong.”

Vio menarik nafas dalam. “Kita nikah karena hutang, ya? Bang Rocky punya hutang sama dokter, terus dia jual aku?”

Mama, Papa, dan Eyang Kakung kompak memalingkan wajah. Dokter dan perawat menahan senyum.

Adriel terdiam sepersekian detik. Kedua alisnya terangkat tidak percaya. “Itu masuk akal. Tapi kita nikah karena kemauan kamu sendiri. Aku jamin itu.”

Vio menggeleng cepat. “Aku baru bangun koma. Aku butuh bukti nyata. Bukti sah, bukti yang nggak bisa dibantah.”

“Kamu minta bukti?”

“Iya.”

Adriel terdiam beberapa detik. Menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar jawaban.

“Oke. Setelah semua stabil kita pulang ke rumah. Aku punya seribu bukti buat nunjukkin kalau aku gak halusinasi.”

Pulang berarti tinggal serumah dengan lelaki yang tidak ia kenal. Bangun setiap pagi melihat wajah yang tidak memicu kenangan apa pun. Berbagi kamar, ruangan dan hidup dengan orang asing.

Dadanya terasa sesak. Vio membeku takut. Karena pulang berarti dia tidak bisa menghindar lagi. Dia harus tinggal seatap dengan lelaki yang tidak ia ingat pernah mencintainya. Ia tidak siap pulang.

***

Beberapa hari ini Vio menatap pintu kamar rawat inap seperti itu portal menuju dunia lain. Dan selama itu pula tak ada sekelebat ingatan apapun soal lelaki yang mengaku sebagai suaminya.

"Kita pulang ke rumah kita hari ini." Adriel muncul dari pintu yang sedari tadi Vio pandangi.

Kata kita terdengar ilegal di telinga Vio.

“Aku belum siap pulang. Aku masih pasien.”

“Kondisi kamu stabil. Ini hari ke sembilan kamu bangun dari koma.”

“Aku masih bingung.”

“Kamu akan lebih bingung kalau masih di sini.”

Vio membuka mulut, siap berdebat—

BRAK.

Pintu kamar terbuka keras.

“Vio!” Rocky masuk dengan ekspresi yang sulit di artikan. Rambutnya berantakan. Napasnya ngos-ngosan entah sudah lari dari jarak berapa kilo meter. Satu yang aneh, matanya sembab.

Rocky berhenti tepat di depan ranjang. Mereka saling tatap. Rocky menunjuk wajah Vio gemetar.

“Lo… masih hidup?”

Vio mendengus. “Kok sambutan sama orang hampir mati begitu sih?!”

Rocky langsung memeluk adiknya. “Gue seneng akhirnya nggak jadi anak tunggal!”

“Lepas! Gue habis kecelakaan, bukan habis gym!”

Rocky mundur. Menatap wajah Vio serius. “Lo inget gue 'kan?”

“Iya lah. Rocky. Dokter obgyn sub Fertilitas-Endokrinologi Reproduksi, si biang gosip yang sialnya adalah kakak gue.”

Rocky menoleh pelan ke arah Adriel. Ekspresinya langsung berubah tegang.

Vio menyipit curiga. “Kenapa?”

Rocky beradu pesan telepati dengan Adriel.

Vio menarik lengan Rocky. “Bang, kata dokter itu dia suami gue.”

Rocky langsung menutup wajah. “Ya Tuhan.”

“Kenapa lo kayak orang kebingungan?!”

Rocky menatap Adriel sebentar. Lalu menarik napas panjang. Seolah jawaban yang akan dia berikan adalah jawaban maha rahasia.

“Vi, lo jangan menyangkal omongan gue, ya?”

“Kenapa openingnya begitu?”

Rocky menunjuk Adriel. “Dia emang suami lo.”

Vio membeku. Mencoba mencerna serangkaian ucapan orang-orang dan beberapa bukti sederhana yang diterimanya selama ini.

Adriel tidak bicara. Dia hanya menatap Vio menunggu reaksinya.

“Lucu.”

Vio menunggu tawa Rocky. Dia berharap kakaknya sedang bercanda.

Tidak ada tawa atau ledekkan. Wajah Rocky sangat serius dengan bahu turun.

“Lo serius?” Vio mulai waspada menunggu jawaban Rocky.

Rocky mengangguk pelan. “Pernikahan kalian udah mau dua tahun.”

Dunia Vio kembali goyang. Rocky memang sering bercanda tapi kali ini jawabannya meyakinkan.

“Jadi gue beneran nikah?”

Rocky mengangguk lagi.

“Sama dia?" Vio menunjuk Adriel.

"Iya."

“Satu pertanyaan terakhir.”

Rocky menelan ludah. Dia kesal kenapa adiknya tidak berhenti bertanya.

“Ini prank, 'kan?” Pertanyaan itu muncul ringan.

“Prank apaan nikah dua tahun?!” Rocky habis kesabaran. "Udahlah, Vi. Si Adriel itu suami lo! Titik tanda seru!"

Vio tidak memberi respon apapun. Dia hanya berkedip bingung.

Dua tahun hidup seseorang hilang begitu saja dari kepalanya. Dan korbannya berdiri tak bergairah didepannya.

“Kita pulang sekarang?” suara Adriel pelan.

Vio menoleh pasrah. “Abang harus ikut.”

“Kenapa gue?!”

“Lo saksi kunci. Kalau ini penculikan minimal ada saksi.”

Rocky mencengkram rambutnya frustasi. Dia melirik Adriel yang terlihat bingung harus melakukan apa. “Lo yang sabar, ya.”

“Gue udah sabar sejak belasan tahun lalu.” Jawaban Adriel membuat Vio bingung.

Mata Vio dan Adriel bertemu.

'Dokter ini beneran suami gue? Kasian banget dia gue lupain. Nggak-nggak, gue yang kasian karena gak inget sama dia.'

Adriel meraih koper dan membereskan barang-barang Vio di nakas. Gerakannya otomatis, seperti seseorang yang sudah melakukan ini ratusan kali sebelumnya, dan Vio tidak ingat apapun. Vio turun dari ranjang hendak mengambil sisa barang di sofa meski rasanya dia enggan meninggalkan rumah sakit.

Pintu ruang ranap yang tak ditutup sepenuhnya terbuka semakin lebar.

"Vio?"

Semua orang menoleh ke pintu.

Mata Vio membulat antara senang, lega, dan terkejut melihat lelaki itu ada disini. Perasaan hangat yang muncul spontan di dadanya datang alami. Sesuatu yang tidak ia rasakan sedikit pun pada lelaki yang mengaku suaminya.

"Qairo?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 7 - Anak Qairo

    Pintu ruangan dibuka. "Ibu Viola, silakan."Adriel buru-buru bangun dari posisi jongkoknya. Ia berterima kasih dalam hati pada semesta yang kali ini berada di pihaknya. "Ayo."Vio melangkah paling cepat dan masuk ruang USG lebih dulu. Meski begitu ia masih penasaran dengan maksud ucapan Rocky soal Adriel akan senang jika janin mereka tidak selamat.Ruangan USG redup dan hening. Hanya ada suara mesin yang pelan berdengung. Vio berbaring kaku. Tangannya menggenggam sprei, sampai akhirnya tanpa sadar ia meraih tangan seseorang di sampingnya.“Salah tangan. Ini tangan pangeran." Rocky menarik tanganya. Ia menunjuk tangan Adriel, "Ini mau?""Ish!" Vio kesal tapi malu.Adriel ingin sekali memegang tangan Vio. Tapi ia tak mau hubungan mereka merenggang jika memaksakan diri. Belum lagi iparnya baru saja berulah. Vio pasti akan bertanya lagi soal ucapan Rocky tadi.Dokter perempuan itu menggerakkan probe perlahan di perut Vio. Layar hitam di depan mereka mulai menampilkan gamb

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 6 - Teka-Teki Baru

    “Kan-kandungan apa?”Tidak ada yang menjawab.Qairo baru sadar ucapannya salah. Wajahnya berubah pucat.Rocky mengusap wajahnya, Eyang berhenti menyiram Bonsai, dan Adriel tidak bergerak. Tangannya masih menggenggam gagang koper sampai jari-jarinya memutih karena terlalu kuat menekan.“Qai.” suara Rocky pelan, hampir berbisik. “Lo—”“Aku pikir kamu udah tau,” potong Qairo panik. “Aku kira Adriel udah bilang.”Vio menoleh perlahan ke arah Adriel minta penjelasan tanpa kata-kata.Adriel membuang napas kesusahan. Seribu kalimat yang sudah ia siapkan selama sebelas hari terakhir tiba-tiba hilang. Ini bukan cara yang di rencanakan. Bukan di ruang tamu, bukan di depan semua orang, bukan saat Vio berdiri sejauh itu darinya.Adriel membalikkan badan. Wajahnya tegang. “Vio, kamu lagi hamil.”Vio tidak bereaksi. Matanya hanya berkedip pelan seolah otaknya menolak memproses kalimat itu.“Hamil?” Vio menunjuk diri sendiri. "Aku?”Tidak ada yang berani menjawab.Tatapan Vi

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 5 - Fakta Baru

    Pagi datang terlalu cepat.Vio tidak benar-benar tidur semalaman. Ia hanya berpindah dari satu posisi ke posisi lain di ranjang lamanya, menatap langit-langit kamar yang penuh bekas glow in the dark bintang masa kecilnya.Ia ingat menempelkannya. Ia ingat Eyang Kakung memarahinya karena lemnya menempel di cat. Memori kecil seperti ini ada dan jelas. Tapi memori tentang Adriel kosong."Kenapa diantara banyak orang gue harus lupa suami sendiri, ya?"Suara piring dari dapur terdengar pelan. Rocky sudah bangun. Bau roti bakar memenuhi rumah.Vio duduk di tepi ranjang, memandangi ponsel yang baru diberikan Adriel beberapa hari setelah ia bangun dari koma. Ponsel itu hanya menyimpan nomor Adriel, Rocky, Mama-Papa dan Eyang Kakung."Hape baru, ingetan baru. Ini harus sampe kapan sih gue kebingungan sama hidup sendiri?"Pintu dibuka. “Udah bangun?”Vio menoleh. Rocky berdiri di ambang pintu sambil membawa mug teh.“Lo pucet banget." katanya pelan.Vio menerima mug itu. “Q

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 4 - Mantan Adriel?

    “Rocky!” Suara Adriel menggema.Tidak sampai sepuluh detik, pintu kamar tamu terbuka keras.“Kenapa sih jam segini udah manggil tamu? Gak sopan ba—”Rocky berhenti bicara saat melihat Vio pingsan di pelukan Adriel. Wajahnya pucat, darah masih mengalir di bawah hidung. Ekspresinya langsung runtuh. Semua leluconnya hilang dalam satu detik.“Ya ampun, Vio?!”“Kita ke IGD sekarang!”Rocky tidak banyak tanya. Ia langsung mengambil kunci mobil.Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat lama. Jalanan kosong, lampu kota berlari cepat di kaca jendela mobil. Detik terasa seperti menit. Menit terasa seperti jam.Adriel duduk di kursi belakang, memeluk Vio erat. Tangannya gemetar, tapi suaranya tetap stabil saat memberi instruksi pada Rocky.“Jangan ngerem mendadak. Jaga kecepatan stabil.”Rocky melirik spion. Ia tidak pernah melihat Adriel setegang ini. Lelaki yang biasanya tenang di ruang operasi kini terlihat seperti kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.Pintu IGD terbu

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 3 - Rumah Asing

    Koridor ruang rawat tiba-tiba terasa sempit. Rocky dan Adriel menatap Qairo. Qairo menatap Vio. Dan Vio menatap Qairo seperti menemukan sesuatu yang familiar dan membuatnya merasa aman.“Qai, kamu dateng?" Mata Vio berkaca-kaca. Nada suara itu hangat, lega, penuh harapan. Nada yang baru terdengar ia ucapkan pasca siuman.Qairo diam sebentar. "Kamu inget aku?""Banget." Jawaban Vio membuat Adriel langsung siaga satu.Adriel berdiri sedikit lebih tegak. Rahangnya mengeras tipis, mempersiapkan segala kemungkinan percakapan istri dan mantan kekasihnya terjadi tanpa prediksi. Sedang Rocky menutup mata sebentar. Seolah tahu badai baru saja memesan tiket masuk.“Kita lagi beres-beres mau pulang,” kata Adriel.Qairo mengangguk. “Bagus. Rumah emang tempat terbaik buat recovery.”“Qai, kamu ikut pulang bareng kita, 'kan?" Kalimat itu keluar begitu saja tanpa Vio pikir panjang.Semua orang langsung menoleh ke Vio tidak habis pikir. “Kayaknya belum bisa.” Qairo menolak halus.

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 2 - Masih Ragu

    Vio menggeleng.Dia kembali menatap lelaki di depannya. Wajahnya tenang tapi rahangnya mengeras. “Nama dokter siapa?” Tanya Vio pelan.“Adriel.”“Nama lengkap?”“Adriel Rakatama.” Jawabannya datar. Di balik nada stabil itu ada sedikit jeda napas yang nyaris tak terdengar.Vio menyipitkan mata. Dia menunjuk dirinya sendiri. “Nama aku?”“Viola Renata Fernandez.”“Umur aku?”“Dua puluh delapan.”“Golongan darah?”“B+.”Semua jawaban keluar tanpa jeda. Tanpa berpikir dan ragu.Vio membuang nafas. Oke. Ini mulai aneh. Dia mencoba pertanyaan yang lebih personal.“Kesukaan aku?”“Susu Coklat hangat. Tapi kamu pura-pura bilang suka Americano biar kelihatan dewasa.”Vio membeku. Itu benar. Tapi masih bisa dijelaskan. Bisa saja dokter ini stalking. Bisa saja Rocky yang memberi tahu. Alasannya masih bisa dijelaskan ilmiah.“Kamu takut Kecoa,” lanjut Adriel tenang. “Dan kamu selalu nyanyi lagu anak-anak kalau lagi panik di ruang operasi. Padahal tugas kamu cuma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status