Share

Bab 5 - Fakta Baru

Penulis: Rahmani Rima
last update Tanggal publikasi: 2026-05-04 11:24:53

Pagi datang terlalu cepat.

Vio tidak benar-benar tidur semalaman. Ia hanya berpindah dari satu posisi ke posisi lain di ranjang lamanya, menatap langit-langit kamar yang penuh bekas glow in the dark bintang masa kecilnya.

Ia ingat menempelkannya. Ia ingat Eyang Kakung memarahinya karena lemnya menempel di cat. Memori kecil seperti ini ada dan jelas. Tapi memori tentang Adriel kosong.

"Kenapa diantara banyak orang gue harus lupa suami sendiri, ya?"

Suara piring dari dapur terdengar pelan. Rocky sudah bangun. Bau roti bakar memenuhi rumah.

Vio duduk di tepi ranjang, memandangi ponsel yang baru diberikan Adriel beberapa hari setelah ia bangun dari koma. Ponsel itu hanya menyimpan nomor Adriel, Rocky, Mama-Papa dan Eyang Kakung.

"Hape baru, ingetan baru. Ini harus sampe kapan sih gue kebingungan sama hidup sendiri?"

Pintu dibuka. “Udah bangun?”

Vio menoleh. Rocky berdiri di ambang pintu sambil membawa mug teh.

“Lo pucet banget." katanya pelan.

Vio menerima mug itu. “Qai jadi dateng hari ini 'kan?”

"Iya kalik."

Vio melingkarkan tangannya di mug hangat tanpa meminumnya.

“Vi, lo gak harus inget Adriel suami lo hari ini. Tapi seenggaknya jangan terlalu kasar nolak dia.” Rocky bicara hati-hati.

Vio tidak menjawab.

Dari jendela terlihat mobil masuk ke halaman. Jantung Vio langsung melonjak senang. Kedua pipinya merona. Pupil matanya membesar. Rocky tahu itu tandanya apa.

“Qairo?” bisiknya nyaris tanpa suara. Senyumnya mengembang sampai mata. Dadanya terasa hangat.

Vio mendorong Rocky. "Lo keluar, gue mau siap-siap."

Begitu keluar kamar, Vio sudah pakai baju terbagus yang dia punya. Dandan tipis, pakai parfum dan aksesoris, persis mau bertemu pacar. Apalagi senyumnya tidak pernah luntur. Sesuatu yang tidak dia lakukan ketika berada dekat Adriel.

Vio duduk di sofa panjang, memeluk bantal kecil di pangkuannya. Matanya menatap Qairo yang duduk di kursi seberang. Sejak datang tadi, pertanyaannya tidak berhenti.

“Aku dulu orangnya gimana sih waktu sama kamu?”

“Kamu cerewet.” Jawab Qairo ringan.

Vio langsung protes. “Ih! Itu mah sekarang juga!”

“Dulu lebih parah. Kamu bisa gak berhenti ngomel apalagi kalo aku udah begadang. Padahal dokter bedah mana yang gak begadang.”

Vio memutar mata, tapi bibirnya ikut tersenyum. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan setiap kali berbicara dengan Qairo. Semuanya terasa familiar seperti membaca buku lama yang masih hafal alurnya. Tidak ada tuntutan mengingat. Tidak ada tatapan menunggu.

“Aku dulu posesif gak?” Tanya Vio lagi.

“Lumayan. Kamu pernah marah karena aku balas chat kamu tujuh menit kemudian. Kamu bilang aku berubah dan ngancem gak mau makan. Padahal aku lagi visite. ”

Vio menutup wajahnya dengan bantal. “Ya ampun kok aku nyebelin, ya?"

Qairo menatapnya lama. Tatapan yang terlalu lembut untuk sekadar nostalgia. “Awalnya aku pikir juga gitu. Tapi sekarang aku sadar, kamu cuma mau semuanya tetep sama."

Vio tersenyum mendengar kalimat itu. Bersama Qairo rasanya dia diterima dan menjadi dirinya sendiri.

Di dapur, Rocky berdehem keras seolah sengaja merusak momen. Dia bersandar santai pada dinding. Matanya menatap sekeliling rumah dan menyipit pelan.

“Kok gue baru kepikiran, ya?”

Vio melirik curiga. Insting waspadanya mulai nyala.

Rocky mengelus sandaran sofa yang di duduki Eyang di sudut ruangan. “Rumah sebesar ini sayang banget isinya cuma kita bertiga, Yang.”

Vio mengernyit, “Terus?”

Rocky menoleh ke Eyang. “Yang, kalo buka kamar buat anak kosan, Eyang setuju gak?”

Eyang bahkan tidak terlihat kaget. Seperti sudah tahu arah pembicaraan ini. Eyang tersenyum kecil. “Kalau orangnya baik, kenapa tidak?”

Vio langsung menegakkan badan. “Siapa yang mau ngekos?”

Rocky menoleh ke Vio dan melirik Qairo yang sama penasarannya dengan wajah polos tanpa dosa apalagi rasa bersalah.

“Adriel.” katanya.

Sepi tiga detik.

Otak Vio membeku. "Apa?”

Rocky mengangguk mantap. “Kayaknya cocok dia ngekos disini.”

Perasaan Vio tidak lagi sekedar kesal. Ada sesuatu yang terasa seperti wilayah pribadinya, tempat aman terakhirnya di terobos paksa orang yang ia hindari.

Vio berdiri dari sofa, sangking cepatnya sampai bantal jatuh. “Rocky! Lo tuh ngerti momen gak sih? Gue lagi menghindari orang yang katanya suami gue, tapi gue gak inget dia sama sekali sedikit pun. Dan lo mau bawa dia kesini? Lo udah gila?"

Rocky langsung mempertahankan diri. “Apa?! Lo gak mau balik ke rumah suami lo, ya gue cari solusi lah! Gue tuh peduli sama lo!”

“Itu bukan solusi!”

“Ini solusi paling gampang buat di realisasikan! Lagian Eyang juga butuh duit tambahan buat biaya makan lo.”

“Dia suami gue bukan anak kos!”

Rocky menunjuk dramatis. “Justru itu! Dia tetep bayar dan tarifnya di naikin tiga kali lipat. Dia harus ikut nafkahin gue dan Eyang. Sebagai ganti udah nampung istrinya disini. Di pikir listrik sama air gak bayar apa?”

Eyang menutup mulut, menahan tawa. Sedang Qairo hanya melongo tak percaya dengan pertengkaran adik-kakak ini.

Vio memegangi kepalanya. “Gue lagi trust issue lo malah nambah masalah?!”

“Lo salah diagnosa itu. Gak baik self diagnose. Gue bantu lurusin.”

"Gue gak butuh bantuan lo!"

"Gue gak bantu lo, gue lagi bantu perekonomian Eyang!"

"Tapi gak kayak gitu caranya! Jakarta tuh luas. Adriel bisa ngekos di tempat lain. Dan masalah duit--" Vio berhenti bicara, sadar kalau dia numpang disini tidak bisa bayar sepeserpun karena dokter PPDS belum menerima gaji. Justru ia yang butuh uang.

"Mau jawab apa lo?" Rocky menantang.

"Gue bisa minta uang sama Mama-Papa."

"Udah setua ini masih mau bebanin mereka?"

Vio diam beberapa detik untuk melawan Rocky. Tak bisa disangkal kakaknya memang jago debat.

"Kalo Eyang emang butuh uang tambahan karena gue numpang disini, Eyang boleh buka kosan tapi--tapi jangan orang itu."

Rocky mengabaikan jawaban Vio. Dia berjalan beberapa langkah. "Anak kos baru, masuk!"

Pintu depan terbuka.

Seseorang masuk tanpa aba-aba. Adriel melangkah pelan. Dia membawa dua koper. Bukan koper biasa, tapi koper level pindahan negara.

Vio melotot. “Kenapa dia udah dateng?!”

"Halo, Vio. Salam kenal, aku Adriel. Aku salah satu konsultan obgyn di rumah sakit tempat kamu PPDS. Salam kenal, ya." Sapa Adriel seolah dia memang anak kos baru yang harus memperkenalkan diri.

"Masuk dokter Adriel, saya sudah membersihkan kamar tamu yang berada di sebelah kamar adik saya, Vio." Rocky berakting menjadi pemilik rumah yang ramah.

"Oh iya, terima kasih mas Rocky." Adriel menggusur dua koper itu percaya diri ke dalam rumah, mengabaikan Qairo yang terlihat bingung dan tidak menyangka ada kejadian seperti ini yang ia saksikan.

"Emang aku izinin kamu tinggal disini?" Pertanyaan Vio membuat Adriel menoleh.

"Kalo pun nggak, ini rumah Eyang, bukan rumah kamu." Adriel menjawab dengan wajah penuh kemenangan. Dia berjalan ke arah Eyang untuk salim. "Izin kos disini ya, Yang."

"Iya-iya."

Rocky menyeringai puas. "Ayo dok, saya anter ke kamar."

Vio melirik punggung Adriel yang berjalan menjauhinya. Sekarang dia harus kabur kemana lagi untuk menghindari Adriel?

Qairo bangkit dari sofa. "Vi, aku pamit, ya. Aku udah mulai praktek hari ini."

"Oh iya, Qai."

"Kamu jaga kesehatan, jangan lupa minum vitaminnya biar kandungannya makin kuat." Kalimat itu keluar ringan seolah hal biasa.

Vio membeku, Eyang yang sedari tadi sibuk dengan Bonsai kesayangannya melirik ke arah Vio bersamaan dengan Adriel dan Rocky yang berhenti mendorong koper. Tidak ada yang bergerak dan mengoreksi.

Dunia Vio kembali runtuh. Pikirannya semakin rumit. Tubuhnya terasa tak memberi signal, pikirannya pun menyangkal.

"Kan-kandungan apa?" Vio bertanya dengan tubuh bergetar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 7 - Anak Qairo

    Pintu ruangan dibuka. "Ibu Viola, silakan."Adriel buru-buru bangun dari posisi jongkoknya. Ia berterima kasih dalam hati pada semesta yang kali ini berada di pihaknya. "Ayo."Vio melangkah paling cepat dan masuk ruang USG lebih dulu. Meski begitu ia masih penasaran dengan maksud ucapan Rocky soal Adriel akan senang jika janin mereka tidak selamat.Ruangan USG redup dan hening. Hanya ada suara mesin yang pelan berdengung. Vio berbaring kaku. Tangannya menggenggam sprei, sampai akhirnya tanpa sadar ia meraih tangan seseorang di sampingnya.“Salah tangan. Ini tangan pangeran." Rocky menarik tanganya. Ia menunjuk tangan Adriel, "Ini mau?""Ish!" Vio kesal tapi malu.Adriel ingin sekali memegang tangan Vio. Tapi ia tak mau hubungan mereka merenggang jika memaksakan diri. Belum lagi iparnya baru saja berulah. Vio pasti akan bertanya lagi soal ucapan Rocky tadi.Dokter perempuan itu menggerakkan probe perlahan di perut Vio. Layar hitam di depan mereka mulai menampilkan gamb

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 6 - Teka-Teki Baru

    “Kan-kandungan apa?”Tidak ada yang menjawab.Qairo baru sadar ucapannya salah. Wajahnya berubah pucat.Rocky mengusap wajahnya, Eyang berhenti menyiram Bonsai, dan Adriel tidak bergerak. Tangannya masih menggenggam gagang koper sampai jari-jarinya memutih karena terlalu kuat menekan.“Qai.” suara Rocky pelan, hampir berbisik. “Lo—”“Aku pikir kamu udah tau,” potong Qairo panik. “Aku kira Adriel udah bilang.”Vio menoleh perlahan ke arah Adriel minta penjelasan tanpa kata-kata.Adriel membuang napas kesusahan. Seribu kalimat yang sudah ia siapkan selama sebelas hari terakhir tiba-tiba hilang. Ini bukan cara yang di rencanakan. Bukan di ruang tamu, bukan di depan semua orang, bukan saat Vio berdiri sejauh itu darinya.Adriel membalikkan badan. Wajahnya tegang. “Vio, kamu lagi hamil.”Vio tidak bereaksi. Matanya hanya berkedip pelan seolah otaknya menolak memproses kalimat itu.“Hamil?” Vio menunjuk diri sendiri. "Aku?”Tidak ada yang berani menjawab.Tatapan Vi

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 5 - Fakta Baru

    Pagi datang terlalu cepat.Vio tidak benar-benar tidur semalaman. Ia hanya berpindah dari satu posisi ke posisi lain di ranjang lamanya, menatap langit-langit kamar yang penuh bekas glow in the dark bintang masa kecilnya.Ia ingat menempelkannya. Ia ingat Eyang Kakung memarahinya karena lemnya menempel di cat. Memori kecil seperti ini ada dan jelas. Tapi memori tentang Adriel kosong."Kenapa diantara banyak orang gue harus lupa suami sendiri, ya?"Suara piring dari dapur terdengar pelan. Rocky sudah bangun. Bau roti bakar memenuhi rumah.Vio duduk di tepi ranjang, memandangi ponsel yang baru diberikan Adriel beberapa hari setelah ia bangun dari koma. Ponsel itu hanya menyimpan nomor Adriel, Rocky, Mama-Papa dan Eyang Kakung."Hape baru, ingetan baru. Ini harus sampe kapan sih gue kebingungan sama hidup sendiri?"Pintu dibuka. “Udah bangun?”Vio menoleh. Rocky berdiri di ambang pintu sambil membawa mug teh.“Lo pucet banget." katanya pelan.Vio menerima mug itu. “Q

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 4 - Mantan Adriel?

    “Rocky!” Suara Adriel menggema.Tidak sampai sepuluh detik, pintu kamar tamu terbuka keras.“Kenapa sih jam segini udah manggil tamu? Gak sopan ba—”Rocky berhenti bicara saat melihat Vio pingsan di pelukan Adriel. Wajahnya pucat, darah masih mengalir di bawah hidung. Ekspresinya langsung runtuh. Semua leluconnya hilang dalam satu detik.“Ya ampun, Vio?!”“Kita ke IGD sekarang!”Rocky tidak banyak tanya. Ia langsung mengambil kunci mobil.Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat lama. Jalanan kosong, lampu kota berlari cepat di kaca jendela mobil. Detik terasa seperti menit. Menit terasa seperti jam.Adriel duduk di kursi belakang, memeluk Vio erat. Tangannya gemetar, tapi suaranya tetap stabil saat memberi instruksi pada Rocky.“Jangan ngerem mendadak. Jaga kecepatan stabil.”Rocky melirik spion. Ia tidak pernah melihat Adriel setegang ini. Lelaki yang biasanya tenang di ruang operasi kini terlihat seperti kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.Pintu IGD terbu

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 3 - Rumah Asing

    Koridor ruang rawat tiba-tiba terasa sempit. Rocky dan Adriel menatap Qairo. Qairo menatap Vio. Dan Vio menatap Qairo seperti menemukan sesuatu yang familiar dan membuatnya merasa aman.“Qai, kamu dateng?" Mata Vio berkaca-kaca. Nada suara itu hangat, lega, penuh harapan. Nada yang baru terdengar ia ucapkan pasca siuman.Qairo diam sebentar. "Kamu inget aku?""Banget." Jawaban Vio membuat Adriel langsung siaga satu.Adriel berdiri sedikit lebih tegak. Rahangnya mengeras tipis, mempersiapkan segala kemungkinan percakapan istri dan mantan kekasihnya terjadi tanpa prediksi. Sedang Rocky menutup mata sebentar. Seolah tahu badai baru saja memesan tiket masuk.“Kita lagi beres-beres mau pulang,” kata Adriel.Qairo mengangguk. “Bagus. Rumah emang tempat terbaik buat recovery.”“Qai, kamu ikut pulang bareng kita, 'kan?" Kalimat itu keluar begitu saja tanpa Vio pikir panjang.Semua orang langsung menoleh ke Vio tidak habis pikir. “Kayaknya belum bisa.” Qairo menolak halus.

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 2 - Masih Ragu

    Vio menggeleng.Dia kembali menatap lelaki di depannya. Wajahnya tenang tapi rahangnya mengeras. “Nama dokter siapa?” Tanya Vio pelan.“Adriel.”“Nama lengkap?”“Adriel Rakatama.” Jawabannya datar. Di balik nada stabil itu ada sedikit jeda napas yang nyaris tak terdengar.Vio menyipitkan mata. Dia menunjuk dirinya sendiri. “Nama aku?”“Viola Renata Fernandez.”“Umur aku?”“Dua puluh delapan.”“Golongan darah?”“B+.”Semua jawaban keluar tanpa jeda. Tanpa berpikir dan ragu.Vio membuang nafas. Oke. Ini mulai aneh. Dia mencoba pertanyaan yang lebih personal.“Kesukaan aku?”“Susu Coklat hangat. Tapi kamu pura-pura bilang suka Americano biar kelihatan dewasa.”Vio membeku. Itu benar. Tapi masih bisa dijelaskan. Bisa saja dokter ini stalking. Bisa saja Rocky yang memberi tahu. Alasannya masih bisa dijelaskan ilmiah.“Kamu takut Kecoa,” lanjut Adriel tenang. “Dan kamu selalu nyanyi lagu anak-anak kalau lagi panik di ruang operasi. Padahal tugas kamu cuma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status