LOGINRocky melirik wajah Adriel yang memerah. Tangannya dengan pelan menyentuh dada. "Tuhan, akhirnya kau mengabulkan doa hamba. Dua sejoli ini akhirnya kembali."Adriel mengangguk. "Boleh."Vio melendot manja dilengan Adriel. "Oke, sayang."Rocky melangkah lebih dulu dengan gaya paskibraka, tapi tangannya tetap nempel di dada. "Ponakan kedua om, im coming."Vio dan Adriel tertawa. Mereka menyusul Rocky.Di meja kantin yang hampir penuh, Vio akhirnya mendapatkan meja di tengah. Adriel mendesah pelan."Kayaknya kita makan di ruangan aja."Rocky dan Vio menoleh bersamaan. "Disini." Kata mereka kompak.Adriel menyerah. Satu lawan dua, tentu dia akan kalah.Mereka makan. Adriel makan cepat seperti dikejar sesuatu, sedangkan Rocky dan Vio sibuk melirik Adriel."Tenang dong. Lo ada hutang sama pinjol mana?" Ledek Rocky.Vio tertawa. "Pelan-pelan, sayang. Kalo keselek nanti kita gak bisa dinas malam."Rocky menutup mulutnya. "Kalian udah go publik.""Daripada keceplosan." Kata Vio ri
Ruang fertilitas masih sepi. Rocky berdiri di sisi meja sambil membaca berkas pasien dari tablet yang dipegang perawat. Wajahnya serius sampai pintu terbuka. Adriel masuk. Di belakangnya ada Vio. Dan yang bikin Rocky berhenti membaca adalah, Adriel mengantarkan Vio sampai ke dalam. Sampai Vio berdiri tepat di samping mejanya."Aku tinggal dulu?" Vio mengangguk tersenyum. Wajahnya sedikit memerah.Tidak ada yang aneh. Tidak ada sentuhan. Tidak ada kata sayang. Tapi Rocky langsung mengernyit. Dia menutup berkas. Mengendus pelan seperti anjing pelacak."Gue mencium bau sesuatu."Adriel pura-pura santai. “Pagi.”Vio langsung fokus ke papan tulis seolah hidupnya bergantung di sana.Rocky menatap mereka bergantian. “Ada yang maju tapi buka barisan."Adriel langsung berdiri tegak. “Gue harus siap-siap praktek.”Belum sempat Rocky menjawab, Adriel sudah jalan cepat keluar ruangan.Rocky menatap pintu yang tertutup, lalu berpindah melirik Vio yang berdiri menghadap papan tulis. Papa
Pagi itu kantin rumah sakit cukup ramai. Aroma kopi dan roti bercampur jadi satu. Vio duduk di sudut meja sambil menggigit roti isi yang bahkan tidak benar-benar ia nikmati. Sejak kejadian beberapa malam lalu, kepalanya terasa penuh. Bukan karena Adriel. Justru karena dirinya sendiri."Kasian Adriel. Dia pasti kecewa banget malam itu." Gumam Vio.Dia merasa sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Meskipun pada akhirnya tidak terjadi apa-apa, dan dia malah membantu suaminya melewati malam-malam yang tidak nyaman itu, tetap saja perasaannya aneh."Kenapa mukanya kayak orang habis ketahuan nyontek?" suara Rocky tiba-tiba muncul.Sebelum Vio sempat menghindar, roti di tangannya sudah direbut."Eh!"Rocky mengangkat roti itu tinggi-tinggi."Balikin!" Vio berusaha meraih rotinya."Nggak.""Abang!""Kasih tahu dulu apa yang terjadi sama lo!"Vio mendengus kesal. Ia berhenti berjinjit untuk mengambil rotinya.Rocky malah semakin curiga. Dia menunjuk wajah Vio. "Sumpah deh,
Perjalanan pulang malam itu terasa aneh. Bukan karena mereka bertengkar soal akting Vio tadi. Justru karena Adriel terlalu diam.Adriel menyetir seperti biasa. Fokusnya ke jalan. Sesekali menjawab telepon soal pasien, lalu kembali diam. Itu yang membuat Vio curiga.Dia melirik suaminya dari kursi penumpang, gelisah sendiri. Kalau Adriel memang punya niat tertentu malam ini, lebih baik dia yang ngomong duluan daripada nanti gugup sendiri."Uhuk."Adriel melirik sekilas. "Kenapa?""Nggak.""Uhuk."Adriel mulai senyum. "Gejala rinitis?""Bukan.""Hm."Vio menggerutu pelan.Adriel jelas tahu ada sesuatu. Tapi dia sengaja membiarkannya."Besok kamu nggak jaga malam, 'kan?" Tanya Adriel."Nggak.""Bagus."Vio langsung menoleh. "Bagus kenapa?"Adriel mengangkat bahu. "Nggak kenapa-kenapa."Adriel menahan senyum. "Vio?""Hm?""Kamu dari tadi mau ngomong apa?""Enggak ada.""Yakin?""Iya.""Yakin banget?"Vio mendesah frustrasi. "Adriel?""Iya
Pagi itu di adakan rapat dadakan untuk kondisi pasien darurat. Vio sebenarnya tidak punya urusan apa pun dengan Qairo. Kalau tidak ada Adriel, dia bahkan tidak akan mencarinya. Tapi ini demi rencananya yang ingin membalas dendam suaminya agar cemburu. Ia mau Adriel merasakan apa yang dia rasakan soal Sarah. Adriel sedang duduk di meja konsultan sambil membaca berkas. Sesekali kepalanya mendongak melihat konsultan lain memaparkan ide intervensi.Maka dimulailah aksi balas dendamnya."Qairo." Bisik Vio.Qairo yang sedang memperhatikan, menoleh. "Hm?""Tolong ambilin kopi."Qairo mengernyit. "Kopi?""Iya, aku minta."Qairo tertawa tanpa suara. "Aneh." Tapi ia tetap pergi memberikan kopinya pada Vio.Dari meja sebrang, Rocky langsung melirik Elsa. Elsa membalas tatapan itu."Ada info darurat apa?"Dahi Elsa merengut. "Gue belum dapet notifikasi dari pusat."Mereka berdua tahu. Ini bukan soal kopi.Begitu Qairo menggeserkan kopi miliknya, Vio tersenyum manis.
Malam selesai operasi, turun hujan cukup lebat. Rumah sakit mulai sepi. Vio duduk di kursi, memegang kopi yang sudah dingin di kolidor poli obgyn, memperhatikan bagaimana air tak berhenti turun dari langit.“Kopi dingin lagi?” Qairo duduk disebelah Vio.“Udah kebiasaan.” jawab Vio tanpa menoleh.“Habis dimarahin Adriel?”Vio langsung melirik kaget. "Rocky cerita?"“Karena ekspresi kamu beda. Kamu jadi terlalu diam.”Vio ketawa kecil. “Kamu tau gak, yang paling capek dari kerja di sini bukan operasinya.”“Terus?”“Tapi berusaha jadi dokter yang dia mau.”Qairo tak memberi respon.“Kadang aku ngerasa, aku selalu salah di matanya."“Dia bukan nganggep kamu salah. Dia takut kehilangan pasien.”Vio membuang nafas pelan. “Tahu. Tapi caranya bikin aku ngerasa, aku gak cukup.”Qairo tersenyum. "Kamu inget, gak? Dulu Adriel pernah bilang kamu gak cocok masuk ruang operasi karena fokus kamu cepet ilang kalo pernah ngobrol banyak sama pasien?"Vio menoleh. Matanya me
Di pagi yang tak begitu tenang, residen junior berlari mengejar Vio yang baru selesai visit."Dok, gak ada konsulen dan dokter madya yang ready. Ada pasien darurat di ponek. Dok Vio jadi DPJP, ya?"Vio sangat terkejut mendengar permintaan itu. Tapi ia tak punya pilihan lain.Lampu ruang opera
Sudah beberapa hari Vio tidak pulang. Alasannya sibuk. Padahal Adriel tahu betul poli obgyn sedang tidak ramai. Dia rindu Vio yang tidak lagi mengirim pesan random tengah malam, tidak lagi refleks mencari matanya saat mereka berada di ruangan yang sama. Seperti orang yang baru saja menemukan puzzle
Kondisi Vio sudah lebih baik. Ia makan tanpa di suruh, mulai menikmati kopi lagi, dan tertawa bersama pasien dan staf lain. Adriel senang, Vio tidak larut dalam kesedihanya.Adriel menaruh berkas di meja jaga, melirik Vio yang sedang membuat order pasien. "Sayang, makan siang di ruanganku yuk."
Pulang dari rumah sakit ternyata tidak membuat keadaan menjadi lebih mudah. Justru lebih sulit. Adriel memaksa Vio untuk pulang, harapannya agar istrinya bisa punya waktu menenangkan diri. Vio tidak menolak. Bahkan ia langsung setuju begitu perintah itu keluar. Tapi yang terjadi ternyata lebih para







