LOGINRocky dan Elsa saling tatap. Mereka kompak melirik Vio yang tak merasa besalah sedikitpun. Orang terakhir yang mereka lirik adalah Adriel yang kini sudah benar-benar berhenti makan. "Gue gak salah denger?" Tanya Rocky."Nggak." Vio melirik Elsa. "Sa, lo mau 'kan jadi kakak ipar gue?"Elsa mendesah. "Vi, lo yang bener aja?""Bener. Kan lo suka bilang capek ketemu cowok brengsek terus. Lo kenal abang gue dengan baik. Dia gak brengsek, dan kalo dia macem-macem ada gue dan Adriel yang bisa tegur dia." Vio meraih sebelah tangan Elsa. "Sa? Mau ya?"Elsa menatap Rocky. "Bang, lo yang ngomong deh. Gak punya tenaga lagi gue."Mata Vio berbinar. "Kalian udah jadian diem-diem ya dibelakang gue sama Adriel?"Elsa membuang nafas pelan. "Vio?""Iya, calon kakak ipar?"Elsa melepaskan tangan Vio. "Gue mau operasi. Lo denger penjelasan abang lo aja."Elsa menenggak kopi sampai habis dan meremas gelasnya dengan kencang sebelum membuangnya dengan kasar ke tempat sampah."Sa? Jangan pergi d
Sekarang sudah malam. Mama, ayah sambung, papa dan mama sambung sudah pulang. Dan sejak itu Vio jadi tidak banyak bicara. Ia masih memikirkan pertanyaan kapan ia akan mencoba hamil. Bukan tidak mau, tapi rasanya hanya ia yang berjuang sendiri untuk hamil.Perawat baru saja selesai mengecek tanda vital Rocky. Kondisinya membaik, tetapi dokter tetap meminta observasi satu malam lagi."Pulang gih." Usir Rocky.Vio masih duduk di samping ranjang. "Rumah gue disini sekarang. Gue 'kan wali pasien lo.""Elah, gak perlu di temenin. Banyak sahabat gue disini. Semua perawat dan dokter yang urus gue, itu anggota geng gue selama kita ko-as dulu."Vio mengendikkan bahu. "Gue bakal tetep disini."Rocky menyandarkan punggung ke bantal. "Gue ditinggal semalam nggak bakal mati, Vi."Mata Vio langsung memerah. "Lo tuh ya? Jangan ngomong kayak gitu.""Gue cuma--"Vio melirik Rocky. "Seumur-umur lo nggak pernah pingsan."Rocky terdiam."Lo selalu sehat, selalu kuat. Bahkan kalau sakit pun pali
Di IGD, tim sudah bekerja cepat."Pasang infus! Cek gula darah. Ambil darah lengkap."Rocky masih belum membuka mata. Vio menerobos masuk. "Abang!" Dia berlutut di samping brankar melihat wajah kakaknya yang sama sekali tidak bereaksi. Tangannya gemetar saat menggenggam tangan Rocky."Bangun."Tidak ada jawaban. Air mata Vio langsung pecah. "Rocky, bangun."Seorang dokter mendekat. "Dok Vio, tolong kasih kita ruang buat periksa dok Rocky."Vio menggeleng. "Bang, bangun, gue mohon.""Dok—"Vio menoleh ke semua orang yang sedang menangani Rocky. "Tolong selamatin kakakku, dok. Aku mohon." Suara Vio benar-benar hancur.Semua staf tahu Vio selalu terlihat benci pada Rocky. Dia selalu berusaha untuk tidak berurusan dengan kakaknya kalau bisa. Hari ini Vio hanya seorang adik yang ketakutan."Iya, tapi dok Vio tunggu diluar ya?"Vio terpaksa menurut. Dokter jaga selesai memeriksa hasil awal. Beliau menatap Vio yang duduk tidak tenang di kursi tunggu. "Dok?"Vio langsung be
Senin pagi Vio sedikit santai. Ia bisa berangkat agak siang naik taksi karena Adriel ada panggilan darurat jam tiga pagi tadi.Vio memencet tombol lift. Isinya penuh. Perawat, koas, pasien, keluarga pasien—semuanya berdiri rapat seperti ikan pindang. Ia pun terpaksa masuk karena tidak mau menunggu lebih lama.Di antara belasan orang, diantaranya ada Rocky sedang makan roti sobek yang Vio tahu betul itu punya siapa.“Bang?”“Hm?”“Itu roti dari ruangan Adriel?”Rocky langsung menggigit roti lebih besar. “Bukti dulu.”"Tanggal expirednya dua hari lagi."Rocky mengangguk bijak. “Iya. Dan gue jaga-jaga supaya lo gak makan gula berlebihan.”Vio menoleh pelan. “Jadi bener itu punya gue?”Seorang bapak di pojok lift refleks menekan tombol open door padahal lift belum sampai lantai mana pun.“Sebagai dokter, gue melindungi pasien dari diabetes.”"Gue bukan pasien lo!"“Semua manusia pasien potensial.”Vio langsung mencoba meraih roti itu. Rocky mengangkat tangannya tinggi-tinggi
Setelah puas bermain ala suami istri di kamar, mereka berdiri di depan jendela besar ruang keluarga, kerja sama membersihkan kaca. Vio bagian lap kaca, Adriel bagian semprot cairan pembersih. Setiap semprotan selalu terlalu dekat ke wajah Vio.“Adriel!”“Oops.”Tawa kecil terus muncul di sela-sela kerjaan.“Kalau robotnya rajin, weekend kita ngapain?” tanya Vio.Adriel menjawab santai. “Cari kerjaan lain.”“Contohnya?”Adriel menatap sebentar. Senyum pelan muncul. “Kayak beberapa menit lalu.”Vio langsung salah fokus, kain lapnya berhenti di kaca.Di belakang mereka, dari arah pintu dapur, seseorang sudah berdiri sekitar lima menit. Bibir atasnya terangkat pelan dengan ekspresi muak.Belinda berdeham keras.Keduanya langsung kaget dan menoleh bersamaan.Vio refleks hampir menjatuhkan botol pembersih. “Kamu dari kapan di situ?!”Belinda bersandar santai di pintu. “Dari kalimat kalo robotnya rajin, weekend kita ngapain.” Tatapannya pindah ke dua robot yang lagi muter di lan
Sejak semalam, Vio berjanji akan jadi istri yang lebih baik untuk Adriel. Ia berusaha menerima ketidaktahuannya soal masa lalu. Mungkin itu hanya pertengkaran biasa.Pagi ini, menjadi istri baik dimulai dengan masak di akhir pekan. Semesta seolah mendukung, tapi tidak dengan kompor."Ini kok gak nyala?" Bunyi kompor terus berulang beberapa kali. Membuat Adriel yang sedang membersihkan seluruh figura foto, melongokkan kepalanya ke arah dapur."Sayang? Kenapa?""Apinya gak mau keluar. Ini rusak deh kayaknya.""Mungkin gas nya abis. Cek aja."Sepi. Vio mengambil ponsel dan mencari tahu cara mengecek gas yang habis. Ia begitu fokus sampai tidak sadar Adriel sudah berdiri di sisinya."Itu ada meterannya, kamu bisa liat.""Oh?"Adriel jongkok. Ia melihat angka di regulator. "Iya, abis. Aku ganti dulu."Pelan, Vio melangkah keluar rumah membawa ponsel dan botol minumnya. Adriel memasang gas dengan terlatih. Ia mengecek kompor. Apinya keluar biru. "Udah, sayang."Tidak ada jawa
Vio mulai punya rutinitas baru yang terasa aneh tapi pelan-pelan membuatnya nyaman. Pagi hari kadang ada telpon dari mami.“Lagi sibuk gak, sayang? Temenin mami ke butik, yuk.”Atau,“Mami mau ke salon. Ikut ya biar sekalian me time.”Awalnya Vio selalu menatap layar ponsel lama sebelum men
Pulang dari rumah sakit ternyata tidak membuat keadaan menjadi lebih mudah. Justru lebih sulit. Adriel memaksa Vio untuk pulang, harapannya agar istrinya bisa punya waktu menenangkan diri. Vio tidak menolak. Bahkan ia langsung setuju begitu perintah itu keluar. Tapi yang terjadi ternyata lebih para
Elsa langsung sadar suasana berubah. Matanya bergantian melihat Vio dan Adriel."Ada yang mau kamu jelasin?" Suara Vio pelan ketika bertanya kedua kali. Ia duduk tegak di ranjang yang terpisah oleh tirai dengan ranjang lain.Adriel kesulitan menjawab.Monitor USG masih menyala. Detak jantung
Viola menekan tombol lift dengan siku. Tangannya sibuk membawa ratusan map laporan operasi dan rekam medis pasien. Dia sempat melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 18.05 wib. Jam pulang manusia normal, tapi jadi jam kekacauan bagi residen Obgyn tahun ke dua.Drrrrt~"Halo, sayang?""Kamu







