Masuk“Kan-kandungan apa?”
Tidak ada yang menjawab. Qairo baru sadar ucapannya salah. Wajahnya berubah pucat. Rocky mengusap wajahnya, Eyang berhenti menyiram Bonsai, dan Adriel tidak bergerak. Tangannya masih menggenggam gagang koper sampai jari-jarinya memutih karena terlalu kuat menekan. “Qai.” suara Rocky pelan, hampir berbisik. “Lo—” “Aku pikir kamu udah tau,” potong Qairo panik. “Aku kira Adriel udah bilang.” Vio menoleh perlahan ke arah Adriel minta penjelasan tanpa kata-kata. Adriel membuang napas kesusahan. Seribu kalimat yang sudah ia siapkan selama sebelas hari terakhir tiba-tiba hilang. Ini bukan cara yang di rencanakan. Bukan di ruang tamu, bukan di depan semua orang, bukan saat Vio berdiri sejauh itu darinya. Adriel membalikkan badan. Wajahnya tegang. “Vio, kamu lagi hamil.” Vio tidak bereaksi. Matanya hanya berkedip pelan seolah otaknya menolak memproses kalimat itu. “Hamil?” Vio menunjuk diri sendiri. "Aku?” Tidak ada yang berani menjawab. Tatapan Vio turun perlahan ke perutnya sendiri. Tangannya terangkat tanpa sadar. Menyentuh perut yang masih datar. Tidak ada gejala apapun yang dirasakan. Tapi setelah mendengar informasi yang seharusnya ia tahu sejak siuman, tiba-tiba seluruh tubuhnya terasa asing. “Nggak. Nggak mungkin.” Air matanya jatuh tanpa aba-aba. “Aku bahkan nggak inget suami sendiri. Gimana bisa aku punya anak dari dia?” Adriel memejamkan mata sesaat. Hatinya sakit. Tapi ia tidak punya hak untuk marah. Karena bagi Vio kalimat itu memang benar. "Udah berapa lama?” Tanya Vio sambil mengelus perutnya pelan. “Masuk minggu ke sembilan.” Vio menggeleng cepat. Napasnya mulai tidak teratur. “Ini kejam banget. Aku yang punya badan ini tapi jadi orang terakhir yang tahu kalo aku lagi hamil?” Adriel tak membela diri. Ia akui memang salah karena terlalu lama mempertimbangkan menyampaikan berita penting ini pada Vio. Rocky berdehem pelan. “Qai, bukannya lo mau pulang?" Qairo tidak protes. Ia tahu ini bukan ruangnya lagi. Ia mengangguk sopan lalu menghilang dibalik pintu. Vio duduk pelan di sofa. Gerakannya hati-hati, takut gerakkan sekecil apapun bisa membahayakan janinnya. Adriel duduk di disebelahnya agak jauh. Adriel menunduk sebentar sebelum bicara. “Hari pertama kamu bangun dari koma… aku mau bilang. Waktu kamu tanya bukti aku suami kamu, aku juga mau bilang. Tapi tiap kamu kaget, kamu mimisan. Dokter bilang jangan kasih shock besar dulu.” Vio mengangkat kepala perlahan. “Jadi kamu pilih diem?” “Aku pilih nunggu kamu siap.” Vio mengusap perutnya lagi. "Aku gak ngerasain gejala apapun. Ini pasti salah." "Setiap kamu bilang pusing dan mual, aku juga kadang gak bisa bedain. Itu karena efek kecelakaan atau dari kehamilan. Tapi aku pastiin janinnya baik-baik aja." “Tiap hari aku muntah dan pusing yang mungkin efek kehamilan, dan kamu tahu semuanya sendiri? Kamu dokter, abang dokter. Cuma aku disini yang jadi pasien di hidup sendiri.” Kalimat itu keluar pelan, tapi menghantam. Adriel menunduk. Jari-jarinya saling mengunci kuat. “Dokter bilang jangan kasih tahu seka—” “Kamu lihat aku tiap hari. Aku tanya kenapa badan aku aneh, kenapa gampang capek. kenapa aku gampang nangis. Tiap kali aku tanya jawaban kamu bohong.” “Aku nggak pernah bohong.” suara Adriel serak. “Kalau tadi Qairo gak ngomong, kamu bakal simpan rahasia ini sampai kapan?” Pertanyaan itu tidak ditujukan untuk dijawab. Karena Vio yakin Adriel tidak akan menjawabnya. "Aku mau tahu, apa sebelum kecelakaan aku... bahagia sama kehamilan ini?" Eyang Kakung berjalan mendekati Vio, merasa harus membantu jawab. Beliau duduk di hadapannya. "Kamu bahagia banget. Kamu nangis waktu liat garis dua. Katanya kamu belum pernah ngerasa hidupmu selengkap ini." "Oyah?" Eyang Kakung mengangguk semangat. "Lo kirim foto tespek ke gue jam dua dini hari, Vi. Katanya, bang, siap-siap jagain anak gue nanti, ya." Rocky menambahkan. Nadanya ceria mengingat momen itu. Vio melirik Adriel, menagih bagiannya untuk mengkonfirmasi. "Kamu rela titip Churros sama Croissant karena takut kena Tokso." Dahi Vio merengut. "Churros sama Croissant? Kucing pengganti Donat sama Waffle?" Matanya berbinar. Adriel mengangguk tersenyum. "Iya. Kamu bilang nanti habis lahiran bakal ambil mereka balik." Vio menangis lagi. Kini air mata haru. Berarti dulu ia sangat menginginkan kehamilan ini sampai rela berpisah dengan kedua kucingnya. "Tapi..." Semua orang menunggu lanjutan kalimat itu. "Sekarang aku gak bahagia sama kehamilan ini." Kalimat itu keluar seperti pengakuan dosa. Air matanya jatuh lagi. “Harusnya ibu yang baik nggak kayak gini, 'kan?” “Kamu baru tahu hari ini. Itu wajar." Adriel menimpal cepat. “Tapi ini anak kamu. Anak dari pernikahan yang bahkan nggak aku inget." Adriel menarik napas panjang. Ia tahu kalimat itu akan terucap. Ia bahkan sudah mempersiapkan momen ini puluhan kali. Adriel mengubah posisi duduknya. “Kamu nggak harus langsung bahagia hari ini. Pelan-pelan aja." "Iya, Vi. Santai. Udah gue, Eyang dan yang lain wakilin kok kebahagiaan lo. Anak lo juga pasti ngerti." Rocky mengamini. *** Siang itu terasa berbeda bagi Vio. Bukan karena matahari yang lebih terik, tapi karena ada satu hal kecil di dalam dirinya yang akhirnya mulai ia terima. Kehamilannya. Dan anehnya, setelah semua penolakan, kepanikan, dan tangis diam-diam kini yang tersisa justru rasa ingin menjaga. Ia jalan mondar-mandir di ruang tamu seperti orang kehilangan arah, sementara Rocky santai selonjoran di sofa sambil mengunyah keripik dengan suara nyaring. “Bang?” Vio membuka suara pelan. Rocky bahkan tidak menoleh. “Kalau mau minjem duit, gak ada.” “Bukan.” “Pinjem mobil? Bensinnya kosong.” “Bukan juga.” Rocky akhirnya duduk tegak. Wajahnya berubah waspada. “Oh iya, lo gak boleh stres. Kenapa?” Vio menarik napas panjang. “Gue mau USG.” "Gue gak punya alatnya." Reaksi Rocky dramatis seperti biasa. "Ya maksudnya anter gue USG." "Ya pergi sama bapaknya lah, kenapa harus sama gue?!" “Sssst!” Vio refleks menutup mulut Rocky. “Jangan kenceng-kenceng!” Rocky menurunkan volume tapi tidak menurunkan dramanya. “Ya pergilah sama bapaknya.” “Gue malu ngomongnya.” Rocky mengangkat sebelah bibirnya. “Pas bikin aja nggak malu.” Vio mendengus. “Gue pergi sendiri aja!" Dan seperti biasa, Rocky panik belakangan. Ia lari ke dalam rumah. Di ruang keluarga orang yang ia cari ada disana. Percakapan belum terjadi, Adriel sudah memainkan kunci mobil. “Ayo.” "Kemana?" Rocky tiba-tiba linglung. "USG." Vio yang mendengar itu dari ruang tamu merasa Adriel terlalu siaga untuk ukuran suami yang dilupakan. Begitu mobil sampai parkiran rumah sakit, dimana Rocky yang menjadi supir langsung melompat keluar seperti anak yang kebanyakan makan gula. Adriel turun pelan membuka pintu mobil untuk istrinya. Sedang Vio belum bergerak dari kursi. “Aku deg-degan." Katanya dengan wajah panik yang tak bisa disembunyikan. “Aku juga.” jawab Adriel pelan. "Gue juga deg-degan takut disuruh bayar." Rocky bicara keras sambil meregangkan ototnya. Vio turun. Dia berjalan pelan di samping Adriel. Di kursi ruang tunggu USG, Vio membuang nafasnya beberapa kali. “Takut?” Tanya Adriel pelan sambil jongkok di depannya. Vio mengangguk kecil. “Takut kalau ada apa-apa.” “Suami dan kakak kamu dokter kandungan. Kita bakal pantau terus.” Kalimat sederhana itu terdengar seperti janji. Vio menunduk. "Kalau misal dia kenapa-napa kamu pasti benci banget sama aku." Adriel tersenyum. "Gak bakal." Vio menatap Adriel. "Kamu di lupain istri sendiri, kalau amit-amit janinnya... Gak bertahan... Kamu pasti marah." "Kalau janinnya gak bertahan, si Adriel bukannya marah, tapi malah seneng." Kata Rocky yang baru bergabung dengan mereka. Vio mendongak bingung. Sedang Adriel menutup mata menunggu bom waktu meledak. "Eh, maksud gue—" Rocky tak bisa bicara lagi. Vio melirik Adriel sebelum menatap Rocky. "Apa maksud ucapan lo barusan?"Pintu ruangan dibuka. "Ibu Viola, silakan."Adriel buru-buru bangun dari posisi jongkoknya. Ia berterima kasih dalam hati pada semesta yang kali ini berada di pihaknya. "Ayo."Vio melangkah paling cepat dan masuk ruang USG lebih dulu. Meski begitu ia masih penasaran dengan maksud ucapan Rocky soal Adriel akan senang jika janin mereka tidak selamat.Ruangan USG redup dan hening. Hanya ada suara mesin yang pelan berdengung. Vio berbaring kaku. Tangannya menggenggam sprei, sampai akhirnya tanpa sadar ia meraih tangan seseorang di sampingnya.“Salah tangan. Ini tangan pangeran." Rocky menarik tanganya. Ia menunjuk tangan Adriel, "Ini mau?""Ish!" Vio kesal tapi malu.Adriel ingin sekali memegang tangan Vio. Tapi ia tak mau hubungan mereka merenggang jika memaksakan diri. Belum lagi iparnya baru saja berulah. Vio pasti akan bertanya lagi soal ucapan Rocky tadi.Dokter perempuan itu menggerakkan probe perlahan di perut Vio. Layar hitam di depan mereka mulai menampilkan gamb
“Kan-kandungan apa?”Tidak ada yang menjawab.Qairo baru sadar ucapannya salah. Wajahnya berubah pucat.Rocky mengusap wajahnya, Eyang berhenti menyiram Bonsai, dan Adriel tidak bergerak. Tangannya masih menggenggam gagang koper sampai jari-jarinya memutih karena terlalu kuat menekan.“Qai.” suara Rocky pelan, hampir berbisik. “Lo—”“Aku pikir kamu udah tau,” potong Qairo panik. “Aku kira Adriel udah bilang.”Vio menoleh perlahan ke arah Adriel minta penjelasan tanpa kata-kata.Adriel membuang napas kesusahan. Seribu kalimat yang sudah ia siapkan selama sebelas hari terakhir tiba-tiba hilang. Ini bukan cara yang di rencanakan. Bukan di ruang tamu, bukan di depan semua orang, bukan saat Vio berdiri sejauh itu darinya.Adriel membalikkan badan. Wajahnya tegang. “Vio, kamu lagi hamil.”Vio tidak bereaksi. Matanya hanya berkedip pelan seolah otaknya menolak memproses kalimat itu.“Hamil?” Vio menunjuk diri sendiri. "Aku?”Tidak ada yang berani menjawab.Tatapan Vi
Pagi datang terlalu cepat.Vio tidak benar-benar tidur semalaman. Ia hanya berpindah dari satu posisi ke posisi lain di ranjang lamanya, menatap langit-langit kamar yang penuh bekas glow in the dark bintang masa kecilnya.Ia ingat menempelkannya. Ia ingat Eyang Kakung memarahinya karena lemnya menempel di cat. Memori kecil seperti ini ada dan jelas. Tapi memori tentang Adriel kosong."Kenapa diantara banyak orang gue harus lupa suami sendiri, ya?"Suara piring dari dapur terdengar pelan. Rocky sudah bangun. Bau roti bakar memenuhi rumah.Vio duduk di tepi ranjang, memandangi ponsel yang baru diberikan Adriel beberapa hari setelah ia bangun dari koma. Ponsel itu hanya menyimpan nomor Adriel, Rocky, Mama-Papa dan Eyang Kakung."Hape baru, ingetan baru. Ini harus sampe kapan sih gue kebingungan sama hidup sendiri?"Pintu dibuka. “Udah bangun?”Vio menoleh. Rocky berdiri di ambang pintu sambil membawa mug teh.“Lo pucet banget." katanya pelan.Vio menerima mug itu. “Q
“Rocky!” Suara Adriel menggema.Tidak sampai sepuluh detik, pintu kamar tamu terbuka keras.“Kenapa sih jam segini udah manggil tamu? Gak sopan ba—”Rocky berhenti bicara saat melihat Vio pingsan di pelukan Adriel. Wajahnya pucat, darah masih mengalir di bawah hidung. Ekspresinya langsung runtuh. Semua leluconnya hilang dalam satu detik.“Ya ampun, Vio?!”“Kita ke IGD sekarang!”Rocky tidak banyak tanya. Ia langsung mengambil kunci mobil.Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat lama. Jalanan kosong, lampu kota berlari cepat di kaca jendela mobil. Detik terasa seperti menit. Menit terasa seperti jam.Adriel duduk di kursi belakang, memeluk Vio erat. Tangannya gemetar, tapi suaranya tetap stabil saat memberi instruksi pada Rocky.“Jangan ngerem mendadak. Jaga kecepatan stabil.”Rocky melirik spion. Ia tidak pernah melihat Adriel setegang ini. Lelaki yang biasanya tenang di ruang operasi kini terlihat seperti kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.Pintu IGD terbu
Koridor ruang rawat tiba-tiba terasa sempit. Rocky dan Adriel menatap Qairo. Qairo menatap Vio. Dan Vio menatap Qairo seperti menemukan sesuatu yang familiar dan membuatnya merasa aman.“Qai, kamu dateng?" Mata Vio berkaca-kaca. Nada suara itu hangat, lega, penuh harapan. Nada yang baru terdengar ia ucapkan pasca siuman.Qairo diam sebentar. "Kamu inget aku?""Banget." Jawaban Vio membuat Adriel langsung siaga satu.Adriel berdiri sedikit lebih tegak. Rahangnya mengeras tipis, mempersiapkan segala kemungkinan percakapan istri dan mantan kekasihnya terjadi tanpa prediksi. Sedang Rocky menutup mata sebentar. Seolah tahu badai baru saja memesan tiket masuk.“Kita lagi beres-beres mau pulang,” kata Adriel.Qairo mengangguk. “Bagus. Rumah emang tempat terbaik buat recovery.”“Qai, kamu ikut pulang bareng kita, 'kan?" Kalimat itu keluar begitu saja tanpa Vio pikir panjang.Semua orang langsung menoleh ke Vio tidak habis pikir. “Kayaknya belum bisa.” Qairo menolak halus.
Vio menggeleng.Dia kembali menatap lelaki di depannya. Wajahnya tenang tapi rahangnya mengeras. “Nama dokter siapa?” Tanya Vio pelan.“Adriel.”“Nama lengkap?”“Adriel Rakatama.” Jawabannya datar. Di balik nada stabil itu ada sedikit jeda napas yang nyaris tak terdengar.Vio menyipitkan mata. Dia menunjuk dirinya sendiri. “Nama aku?”“Viola Renata Fernandez.”“Umur aku?”“Dua puluh delapan.”“Golongan darah?”“B+.”Semua jawaban keluar tanpa jeda. Tanpa berpikir dan ragu.Vio membuang nafas. Oke. Ini mulai aneh. Dia mencoba pertanyaan yang lebih personal.“Kesukaan aku?”“Susu Coklat hangat. Tapi kamu pura-pura bilang suka Americano biar kelihatan dewasa.”Vio membeku. Itu benar. Tapi masih bisa dijelaskan. Bisa saja dokter ini stalking. Bisa saja Rocky yang memberi tahu. Alasannya masih bisa dijelaskan ilmiah.“Kamu takut Kecoa,” lanjut Adriel tenang. “Dan kamu selalu nyanyi lagu anak-anak kalau lagi panik di ruang operasi. Padahal tugas kamu cuma







