Compartilhar

Bab 6 - Teka-Teki Baru

Autor: Rahmani Rima
last update Data de publicação: 2026-05-21 20:10:24

“Kan-kandungan apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Qairo baru sadar ucapannya salah. Wajahnya berubah pucat.

Rocky mengusap wajahnya, Eyang berhenti menyiram Bonsai, dan Adriel tidak bergerak. Tangannya masih menggenggam gagang koper sampai jari-jarinya memutih karena terlalu kuat menekan.

“Qai.” suara Rocky pelan, hampir berbisik. “Lo—”

“Aku pikir kamu udah tau,” potong Qairo panik. “Aku kira Adriel udah bilang.”

Vio menoleh perlahan ke arah Adriel minta penjelasan tanpa kata-kata.

Adriel membuang napas kesusahan. Seribu kalimat yang sudah ia siapkan selama sebelas hari terakhir tiba-tiba hilang. Ini bukan cara yang di rencanakan. Bukan di ruang tamu, bukan di depan semua orang, bukan saat Vio berdiri sejauh itu darinya.

Adriel membalikkan badan. Wajahnya tegang. “Vio, kamu lagi hamil.”

Vio tidak bereaksi. Matanya hanya berkedip pelan seolah otaknya menolak memproses kalimat itu.

“Hamil?” Vio menunjuk diri sendiri. "Aku?”

Tidak ada yang berani menjawab.

Tatapan Vio turun perlahan ke perutnya sendiri. Tangannya terangkat tanpa sadar. Menyentuh perut yang masih datar.

Tidak ada gejala apapun yang dirasakan. Tapi setelah mendengar informasi yang seharusnya ia tahu sejak siuman, tiba-tiba seluruh tubuhnya terasa asing.

“Nggak. Nggak mungkin.” Air matanya jatuh tanpa aba-aba. “Aku bahkan nggak inget suami sendiri. Gimana bisa aku punya anak dari dia?”

Adriel memejamkan mata sesaat. Hatinya sakit. Tapi ia tidak punya hak untuk marah. Karena bagi Vio kalimat itu memang benar.

"Udah berapa lama?” Tanya Vio sambil mengelus perutnya pelan.

“Masuk minggu ke sembilan.”

Vio menggeleng cepat. Napasnya mulai tidak teratur. “Ini kejam banget. Aku yang punya badan ini tapi jadi orang terakhir yang tahu kalo aku lagi hamil?”

Adriel tak membela diri. Ia akui memang salah karena terlalu lama mempertimbangkan menyampaikan berita penting ini pada Vio.

Rocky berdehem pelan. “Qai, bukannya lo mau pulang?"

Qairo tidak protes. Ia tahu ini bukan ruangnya lagi. Ia mengangguk sopan lalu menghilang dibalik pintu.

Vio duduk pelan di sofa. Gerakannya hati-hati, takut gerakkan sekecil apapun bisa membahayakan janinnya. Adriel duduk di disebelahnya agak jauh.

Adriel menunduk sebentar sebelum bicara. “Hari pertama kamu bangun dari koma… aku mau bilang. Waktu kamu tanya bukti aku suami kamu, aku juga mau bilang. Tapi tiap kamu kaget, kamu mimisan. Dokter bilang jangan kasih shock besar dulu.”

Vio mengangkat kepala perlahan. “Jadi kamu pilih diem?”

“Aku pilih nunggu kamu siap.”

Vio mengusap perutnya lagi. "Aku gak ngerasain gejala apapun. Ini pasti salah."

"Setiap kamu bilang pusing dan mual, aku juga kadang gak bisa bedain. Itu karena efek kecelakaan atau dari kehamilan. Tapi aku pastiin janinnya baik-baik aja."

“Tiap hari aku muntah dan pusing yang mungkin efek kehamilan, dan kamu tahu semuanya sendiri? Kamu dokter, abang dokter. Cuma aku disini yang jadi pasien di hidup sendiri.” Kalimat itu keluar pelan, tapi menghantam.

Adriel menunduk. Jari-jarinya saling mengunci kuat. “Dokter bilang jangan kasih tahu seka—”

“Kamu lihat aku tiap hari. Aku tanya kenapa badan aku aneh, kenapa gampang capek. kenapa aku gampang nangis. Tiap kali aku tanya jawaban kamu bohong.”

“Aku nggak pernah bohong.” suara Adriel serak.

“Kalau tadi Qairo gak ngomong, kamu bakal simpan rahasia ini sampai kapan?”

Pertanyaan itu tidak ditujukan untuk dijawab. Karena Vio yakin Adriel tidak akan menjawabnya.

"Aku mau tahu, apa sebelum kecelakaan aku... bahagia sama kehamilan ini?"

Eyang Kakung berjalan mendekati Vio, merasa harus membantu jawab. Beliau duduk di hadapannya. "Kamu bahagia banget. Kamu nangis waktu liat garis dua. Katanya kamu belum pernah ngerasa hidupmu selengkap ini."

"Oyah?"

Eyang Kakung mengangguk semangat.

"Lo kirim foto tespek ke gue jam dua dini hari, Vi. Katanya, bang, siap-siap jagain anak gue nanti, ya." Rocky menambahkan. Nadanya ceria mengingat momen itu.

Vio melirik Adriel, menagih bagiannya untuk mengkonfirmasi.

"Kamu rela titip Churros sama Croissant karena takut kena Tokso."

Dahi Vio merengut. "Churros sama Croissant? Kucing pengganti Donat sama Waffle?" Matanya berbinar.

Adriel mengangguk tersenyum. "Iya. Kamu bilang nanti habis lahiran bakal ambil mereka balik."

Vio menangis lagi. Kini air mata haru. Berarti dulu ia sangat menginginkan kehamilan ini sampai rela berpisah dengan kedua kucingnya.

"Tapi..."

Semua orang menunggu lanjutan kalimat itu.

"Sekarang aku gak bahagia sama kehamilan ini." Kalimat itu keluar seperti pengakuan dosa. Air matanya jatuh lagi. “Harusnya ibu yang baik nggak kayak gini, 'kan?”

“Kamu baru tahu hari ini. Itu wajar." Adriel menimpal cepat.

“Tapi ini anak kamu. Anak dari pernikahan yang bahkan nggak aku inget."

Adriel menarik napas panjang. Ia tahu kalimat itu akan terucap. Ia bahkan sudah mempersiapkan momen ini puluhan kali.

Adriel mengubah posisi duduknya. “Kamu nggak harus langsung bahagia hari ini. Pelan-pelan aja."

"Iya, Vi. Santai. Udah gue, Eyang dan yang lain wakilin kok kebahagiaan lo. Anak lo juga pasti ngerti." Rocky mengamini.

***

Siang itu terasa berbeda bagi Vio. Bukan karena matahari yang lebih terik, tapi karena ada satu hal kecil di dalam dirinya yang akhirnya mulai ia terima. Kehamilannya. Dan anehnya, setelah semua penolakan, kepanikan, dan tangis diam-diam kini yang tersisa justru rasa ingin menjaga.

Ia jalan mondar-mandir di ruang tamu seperti orang kehilangan arah, sementara Rocky santai selonjoran di sofa sambil mengunyah keripik dengan suara nyaring.

“Bang?” Vio membuka suara pelan.

Rocky bahkan tidak menoleh. “Kalau mau minjem duit, gak ada.”

“Bukan.”

“Pinjem mobil? Bensinnya kosong.”

“Bukan juga.”

Rocky akhirnya duduk tegak. Wajahnya berubah waspada. “Oh iya, lo gak boleh stres. Kenapa?”

Vio menarik napas panjang. “Gue mau USG.”

"Gue gak punya alatnya." Reaksi Rocky dramatis seperti biasa.

"Ya maksudnya anter gue USG."

"Ya pergi sama bapaknya lah, kenapa harus sama gue?!"

“Sssst!” Vio refleks menutup mulut Rocky. “Jangan kenceng-kenceng!”

Rocky menurunkan volume tapi tidak menurunkan dramanya. “Ya pergilah sama bapaknya.”

“Gue malu ngomongnya.”

Rocky mengangkat sebelah bibirnya. “Pas bikin aja nggak malu.”

Vio mendengus. “Gue pergi sendiri aja!"

Dan seperti biasa, Rocky panik belakangan. Ia lari ke dalam rumah. Di ruang keluarga orang yang ia cari ada disana. Percakapan belum terjadi, Adriel sudah memainkan kunci mobil.

“Ayo.”

"Kemana?" Rocky tiba-tiba linglung.

"USG."

Vio yang mendengar itu dari ruang tamu merasa Adriel terlalu siaga untuk ukuran suami yang dilupakan.

Begitu mobil sampai parkiran rumah sakit, dimana Rocky yang menjadi supir langsung melompat keluar seperti anak yang kebanyakan makan gula. Adriel turun pelan membuka pintu mobil untuk istrinya. Sedang Vio belum bergerak dari kursi.

“Aku deg-degan." Katanya dengan wajah panik yang tak bisa disembunyikan.

“Aku juga.” jawab Adriel pelan.

"Gue juga deg-degan takut disuruh bayar." Rocky bicara keras sambil meregangkan ototnya.

Vio turun. Dia berjalan pelan di samping Adriel.

Di kursi ruang tunggu USG, Vio membuang nafasnya beberapa kali.

“Takut?” Tanya Adriel pelan sambil jongkok di depannya.

Vio mengangguk kecil. “Takut kalau ada apa-apa.”

“Suami dan kakak kamu dokter kandungan. Kita bakal pantau terus.” Kalimat sederhana itu terdengar seperti janji.

Vio menunduk. "Kalau misal dia kenapa-napa kamu pasti benci banget sama aku."

Adriel tersenyum. "Gak bakal."

Vio menatap Adriel. "Kamu di lupain istri sendiri, kalau amit-amit janinnya... Gak bertahan... Kamu pasti marah."

"Kalau janinnya gak bertahan, si Adriel bukannya marah, tapi malah seneng." Kata Rocky yang baru bergabung dengan mereka.

Vio mendongak bingung. Sedang Adriel menutup mata menunggu bom waktu meledak.

"Eh, maksud gue—" Rocky tak bisa bicara lagi.

Vio melirik Adriel sebelum menatap Rocky. "Apa maksud ucapan lo barusan?"

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 90 - Janggal

    Sarah duduk di kursi sebrang Vio di ruang observasi persalinan.Vio masih menatapnya dengan wajah bingung."Aku boleh ngobrol sebentar?"Vio mengangguk pelan.Sarah tersenyum. "Makasih, ya."Vio langsung mengerutkan kening. "Buat apa, kak?""Karena kamu.... Kalau bukan karena kamu, mungkin aku masih tetep akan menikah sama dokter Sam."Vio langsung terdiam. Jantungnya berdegup. "Bentar."Sarah menatapnya. "Kenapa?""Papa bilang sama Kak Sarah kalau batal nikah karena aku?"Sarah menggeleng. "Enggak."Vio mengerutkan kening. "Terus kenapa makasihnya ke aku?"Sarah tersenyum kecil. "Karena kamu yang bikin dokter Sam berpikir ulang."Vio langsung menggeleng. "Enggak."Sarah berkedip. "Enggak?""Aku bahkan belum sempet ngomong apa-apa waktu itu.""Tapi kamu datang ke ruangan dokter Sam sebelum aku.""Iya, tapi sebelum aku ngomong, papa udah punya keputusan sendiri."Sarah tersenyum, "Tapi menurutku, kamu tetap punya pengaruh."Vio menggeleng cepat. "Enggak. Enggak begi

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 89 - Menelisik

    Pagi itu Vio sarapan bersama Adriel. Tapi dari tadi dia diam. Adriel yang awalnya sibuk makan akhirnya meletakkan sendok.“Kamu marah sama aku?”“Enggak.”“Terus kenapa mukamu gitu?”“Gitu gimana?”“Kayak kita baru cekcok serius." Vio langsung menatapnya tajam.“Oke. Berarti kamu marah.”Vio kembali menyendok nasi. “Papa gak jadi nikah sama Sarah.”Adriel langsung berhenti makan. “Hah?”“Papa gak jadi nikah sama Kak Sarah.” Vio mengulangi kalimat yang sama.“Kenapa?”“Gak tahu.”“Vio?”“Aku beneran gak tahu. Papa belum bilang.”Adriel menatap istrinya beberapa detik. “Terus kenapa kamu keliatan kesel? Bukannya harusnya kamu seneng?”Vio menusuk telurnya dengan garpu. “Harusnya Papa nikah aja sama Kak Sarah.”Adriel membeku. Bingung dengan istrinya. “Bukannya kamu yang paling gak mau mereka nikah?”“Iya. Kemaren-kemaren.”“Bukannya kamu yang kemarin sibuk minta Papa batal nikah?”“Iya.”“Terus sekarang kenapa—”“Biar Kak Sarah gak bisa rebut kamu!”Hening.“Ap

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 88 - Menjaga Rahasia

    “Gue... gagal ngomong.”Adriel langsung memegang bahunya pelan. “Gak apa-apa.”Vio menatap suaminya. Entah kenapa, justru kalimat itu yang membuatnya semakin merasa bersalah.“Beneran gak papa?” Rocky menyelidik.Vio mengangguk.“Papa ngomong apa?” tanya Adriel. “Gak tahu.”“Lah, lo baru keluar dari ruangan papa, masa gak tahu?”Vio menatap Rocky datar.Rocky langsung mengangkat kedua tangan. “Oke-oke, jangan galak.”Adriel masih memperhatikan wajah Vio. Istrinya terlalu tenang. Bukan tenang yang biasa. Vio terlihat seperti seseorang yang baru saja mengetahui sesuatu, lalu berusaha keras menyimpannya sendirian.“Vio.” Jantung Vio langsung berdegup. “Iya?”“Ada yang papa bilang?”Vio berkedip. “Nggak.”Jawabannya terlalu cepat. Adriel menyipitkan mata. Vio langsung sadar. Sial.“Aku maksudnya...” Vio buru-buru memperbaiki. “Papa cuma bilang kalau semuanya belum jelas.”Rocky langsung mendengus. “Berarti gak ada kemajuan?”“Nggak.”“Sarah tetep mau nikah?”Vio terd

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 87 - POV Papa

    Sarah langsung berdiri. “Jangan.”Papa menatapnya.Sarah menggeleng cepat. Wajahnya langsung pucat. “Jangan biarin mereka masuk.”Asisten yang masih berdiri di dekat pintu langsung menoleh kepada Papa.Papa tidak menjawab. Ia hanya menatap Sarah. “Sarah.”“Saya belum siap. Saya belum siap ketemu mereka lagi.” tangannya gemetar.Papa mengangguk pelan. "Mbak Maya, tolong minta mereka menunggu di ruang tunggu.”Asisten mengangguk. “Baik, Dok.”Pintu kembali tertutup.Sarah berdiri membeku. Papa tidak langsung bicara. Ia membiarkan Sarah menarik napas beberapa kali sampai tubuhnya sedikit lebih tenang.“Dok.”“Iya?”“Kalau mereka benar-benar bohong... “Kenapa mereka masih mau saya menikah dengan Dokter Sam?”Papa menatapnya lama. “Itu yang harus kita cari tahu.”Sarah menelan ludah. “Kalau utang saya sudah lunas...” Ia menatap map di tangannya. Berarti saya gak punya kewajiban lagi secara finansial?”Papa mengangguk.Sarah menutup matanya. Air mata kembali mengalir.“Ki

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 86 - POV Sarah

    Vio masih menatap papa tanpa berkedip. Botol air mineral di tangannya hampir terlepas kalau saja jemarinya tidak buru-buru menggenggam lebih erat.“Karena takut aku mimisan lagi?”Papa mengembuskan napas pendek. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Papa emang gak tahan lihat kamu sakit.”Vio langsung menunduk. Hidungnya kembali terasa panas. Untung belum sampai mimisan lagi.“Tapi... bukan itu alasannya.”Papa meletakkan cangkir wedang jahe di atas meja. Tangannya bertaut di pangkuan, seperti sedang memilih kata-kata yang tepat.“Papa ini dokter, Vi.”Vio mengangguk pelan.“Kalau pasien datang dengan demam, papa gak cuma kasih obat penurun panas. Papa cari penyebabnya.”Vio mulai mengangkat wajah.“Sarah bukan penyebab masalahnya.”“Terus?”“Masalahnya jauh lebih rumit dari itu.”Papa bangkit pelan, lalu berjalan ke arah jendela. “Papa sudah bicara dengan orang tua Sarah.”Mata Vio langsung membesar.“Papa juga sudah bicara sama Sarah. Jawabannya tetap sama.”Vio ikut berd

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 85 - Mulai Beraksi

    Mereka pindah ke lorong sepi. Rocky langsung mode briefing tim perang.Adriel masih ragu. “Papa gak akan berubah pikiran cuma karena diajak ngomong. Gue tahu sifatnya.”Rocky langsung nyaut, “Ya karena yang ngajak ngomong bukan orang yang tepat.” Adriel melotot. “Maksud lo?”Rocky santai, “Lo anak pungut, makanya gak akur. Anak kesayangan beliau itu Vio.”Qairo langsung batuk nahan ketawa. Adriel mendengus. “Gue masih di sini, Ky.”Rocky tepuk bahu Vio. “Makanya yang ngomong harus dia.”Vio langsung tegang. “Gue.. harus ngomong apa?”Rocky angkat jari satu per satu. "Pertama, lo jangan bilang, ‘jangan nikahin Sarah’.”Vio mengangguk cepat.“Lo bilang, 'aku takut papa nanti kesepian.' Bikin beliau ngerasa lo mikirin kebahagiaannya, bukan ngelarang.”Adriel mulai memperhatikan serius."Kedua, singgung perbedaan usia secara halus. Bukan bilang papa ‘terlalu tua’. Itu bunuh diri. Yang ada lo ditendang dari ruangan."Qairo menimpali, “Kamu bilang fase hidupnya beda.”Rocky

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 2 - Masih Ragu

    Vio menggeleng.Dia kembali menatap lelaki di depannya. Wajahnya tenang tapi rahangnya mengeras. “Nama dokter siapa?” Tanya Vio pelan.“Adriel.”“Nama lengkap?”“Adriel Rakatama.” Jawabannya datar. Di balik nada stabil itu ada sedikit jeda napas yang nyaris tak terdengar.Vio menyipitk

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 1 - Maaf, Dok, Kita Saling Kenal?

    Viola menekan tombol lift dengan siku. Tangannya sibuk membawa ratusan map laporan operasi dan rekam medis pasien. Dia sempat melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 18.05 wib. Jam pulang manusia normal, tapi jadi jam kekacauan bagi residen Obgyn tahun ke dua.Drrrrt~"Halo, sayang?""Kamu

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 5 - Fakta Baru

    Pagi datang terlalu cepat.Vio tidak benar-benar tidur semalaman. Ia hanya berpindah dari satu posisi ke posisi lain di ranjang lamanya, menatap langit-langit kamar yang penuh bekas glow in the dark bintang masa kecilnya.Ia ingat menempelkannya. Ia ingat Eyang Kakung memarahinya karena lemnya

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 3 - Rumah Asing

    Koridor ruang rawat tiba-tiba terasa sempit. Rocky dan Adriel menatap Qairo. Qairo menatap Vio. Dan Vio menatap Qairo seperti menemukan sesuatu yang familiar dan membuatnya merasa aman.“Qai, kamu dateng?" Mata Vio berkaca-kaca. Nada suara itu hangat, lega, penuh harapan. Nada yang baru terdengar

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status