Share

Gema di Jakarta

Author: Pena itu
last update publish date: 2026-03-30 21:19:38

Layar televisi di ruang tunggu Rumah Sakit Umum Daerah Labuan Bajo itu tidak pernah berhenti berkedip. Berita sela demi berita sela muncul dengan latar belakang musik yang menegangkan. Wajah-wajah yang selama ini hanya muncul di kolom opini koran atau di balik meja-meja eksekutif Jakarta, kini terpampang sebagai tersangka. Nama "Mawar Hitam" menjadi tren nomor satu di media sosial. Dan di tengah pusaran badai informasi itu, ada satu nama yang terus disebut oleh para analis: Kinan Dirgantara.

​A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Gema di Jakarta

    Layar televisi di ruang tunggu Rumah Sakit Umum Daerah Labuan Bajo itu tidak pernah berhenti berkedip. Berita sela demi berita sela muncul dengan latar belakang musik yang menegangkan. Wajah-wajah yang selama ini hanya muncul di kolom opini koran atau di balik meja-meja eksekutif Jakarta, kini terpampang sebagai tersangka. Nama "Mawar Hitam" menjadi tren nomor satu di media sosial. Dan di tengah pusaran badai informasi itu, ada satu nama yang terus disebut oleh para analis: Kinan Dirgantara.​Aku duduk di kursi plastik yang keras, memandangi pantulan wajahku di kaca jendela yang buram. Aku tampak seperti hantu. Lingkaran hitam di bawah mataku menceritakan lebih banyak daripada yang bisa diungkapkan kata-kata. Di sampingku, Langit tertidur pulas dengan kepala bersandar di pahaku, tidak sadar bahwa ibunya baru saja menekan tombol "hancurkan" pada sebuah dinasti yang telah berkuasa selama tiga dekade.​"Nan, minumlah," Fajar menyodorkan segelas air mineral yang sudah terbuka tutupnya. Ta

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Detak Jantung di Sela Karang

    ​Labuan Bajo tahun 2031 bukanlah lagi pelabuhan sepi yang dulu menyembunyikan luka-lukaku. Kini, deru mesin kapal pesiar dan tawa turis asing menjadi musik latar setiap pagi. Namun, di sudut warung kami, "Warung Aspal & Madu", waktu seolah berjalan lebih lambat. Aku berdiri di ambang pintu, memandangi uap kopi yang menari-nari di udara lembap sisa hujan semalam. Lima tahun telah berlalu sejak api itu melalap gubuk lama kami, namun setiap kali aku mencium aroma kayu terbakar dari panggangan ikan, jantungku masih berdesir hebat. Trauma itu seperti noda tinta di atas kertas putih; ia tidak pernah benar-benar hilang, hanya memudar menjadi abu-abu.​Aku mengusap sudut mataku yang kini dihiasi garis-garis halus. Jejak dari ribuan malam yang kuhabiskan untuk menghitung angka-angka kecil agar kami bisa makan, dan ribuan siang yang kuhabiskan untuk mengawasi setiap orang asing yang turun dari dermaga. Di sampingku, Langit yang kini berusia lima tahun, sedang asyik di atas lantai semen yang din

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Garis Baru di Aspal

    ​Suara deburan ombak Labuan Bajo pagi ini terasa berbeda. Tidak lagi terdengar seperti ancaman atau bisikan konspirasi, melainkan seperti nyanyian tua yang menenangkan. Aku berdiri di ambang pintu warung kami yang baru, menghirup aroma kayu jati yang masih segar bercampur dengan uap kopi tubruk yang baru saja kuseduh. Matahari baru saja mengintip dari balik bukit, menyirami aspal di depan warung dengan warna keemasan yang berkilau.​Di sudut warung, Fajar sedang sibuk menata kursi. Langkahnya masih sedikit menyeret, dan tongkat kayu jati dengan ukiran komodo—hadiah dari warga kampung—selalu menemaninya. Namun, sorot matanya tidak lagi kosong. Setiap kali ia melihatku, ada binar yang dulu sempat padam, kini menyala lebih terang daripada lampu mercusuar.​"Nan, kopinya jangan terlalu kental. Nanti perutmu makin mulas," tegur Fajar sembari tersenyum kecil. Ia menghampiriku, meletakkan tangannya yang kasar namun hangat di atas perutku yang kini sudah mencapai puncaknya.​"Anak ini suka ko

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sisa Abu dan Jejak yang Tertinggal

    Suara sirine pemadam kebakaran terdengar jauh, meredam oleh deburan ombak yang menghantam karang Labuan Bajo. Aku masih bersimpuh di atas aspal yang panas, memandangi api yang mulai mengecil, menyisakan kerangka bambu gubuk kami yang hitam arang. Asapnya membumbung tinggi, berwarna kelabu pekat, membawa aroma kayu terbakar dan—aku tidak sanggup memikirkannya—bau sisa kehidupan suamiku.​Hujan sudah berhenti, menyisakan genangan air di lubang-lubang aspal yang memantulkan cahaya merah dari sisa api. Aku merangkak maju, mengabaikan teriakan Pak Haji yang baru saja turun dari bukit bersama Bumi. Lututku bergesekan dengan batu-batu tajam, daster batikku robek di bagian bawah, tapi aku tidak peduli.​"FAJAR!" suaraku hilang, hanya menyisakan bisikan parau yang tertelan angin laut.​Aku sampai di depan reruntuhan pintu. Hawa panasnya masih menyengat wajahku, membuat bulu kudukku meremang. Aku mulai menggali abu panas itu dengan tangan kosong. Aku tidak butuh sekop. Aku ingin merasakan sisa-

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Negosiasi di Ujung Maut

    Hujan di Labuan Bajo malam ini turun seperti tangisan yang dipaksakan—deras, kasar, dan menghantam atap seng gubuk kami dengan bunyi yang memekakkan telinga. Aku duduk di sudut ruangan yang remang-remang, hanya diterangi sebatang lilin yang cahayanya menari-nari ditiup angin yang menerobos celah dinding bambu. Di depanku, bungkusan ikan mati dengan mulut dijahit itu masih tergeletak, baunya amis busuk, menyengat hingga ke ulu hati.​Fajar tertidur di samping Bumi, napasnya berat, sesekali kakinya berkedut hebat—reaksi saraf yang mencoba menyambung kembali namun terus gagal. Aku mengusap perutku. Ada pergerakan kecil di sana, sebuah protes bisu dari nyawa yang belum lahir atas ketegangan yang kuhadapi.​"Ibu akan menyelesaikannya, Nak," bisikku pelan. "Ibu tidak akan membiarkanmu lahir di atas aspal yang berlumuran darah."​Tepat pukul dua pagi, sebuah pesan masuk ke ponsel tuaku yang layarnya sudah retak seribu. Hanya sebuah koordinat: Dermaga Tua, Titik Nol. Sendiri.​Aku berdiri per

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sisa Abu dan Harapan Baru

    Labuan Bajo menyambut kami dengan senja yang tidak biasa. Langitnya berwarna ungu pekat, seperti memar di pipi Fajar yang belum kunjung sembuh. Bau laut yang asin bercampur dengan aroma ikan bakar dari warung-warung pinggir jalan menyengat hidungku, membawa sejuta kenangan tentang pengkhianatan yang baru saja kami lewati di Sumatera.​Kami turun dari kapal feri dengan langkah yang berat. Fajar masih di kursi roda, namun kali ini ia tidak menunduk. Ia memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang merah, sementara tangannya menggenggam erat jemari Bumi yang melonjak kegirangan melihat pelabuhan. Di belakang kami, Bima memanggul tas besar berisi "Buku Hitam" yang kini sudah disita secara hukum namun salinannya tetap menjadi milik kami—sebuah asuransi nyawa.​"Kita pulang, Nan," bisik Fajar saat roda kursi rodanya menyentuh aspal dermaga yang kasar.​"Iya, Dit. Pulang ke rumah kita yang sebenarnya," jawabku sembari mengelus perutku yang mulai terasa sedikit menonjol. Gejolak di dalam

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Makan Malam dengan Iblis Berwajah Malaikat

    Dinginnya angin Wellington yang menyusup lewat celah jendela tidak ada apa-apanya dibanding rasa dingin yang merayapi sumsum tulang belakang Kinan. Ia masih mematung di dapur, ponselnya tergeletak di lantai dengan layar yang retak seribu, persis seperti hatinya saat ini. Suara Ratih di telepon tadi

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Cermin yang Retak

    Rumah sakit itu sunyi, hanya deru mesin oksigen yang menemani kesunyian di kamar 502. Kinan duduk di kursi kayu yang keras, matanya tak lepas dari sosok wanita yang terbaring di atas ranjang putih itu. Ratih. Nama yang selama lima tahun ini menjadi hantu dalam rumah tangganya, kini nyata di depanny

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Perjamuan di Mulut Naga

    Mobil hitam itu berhenti tepat di depan Kinan, seperti sebuah peti mati mewah yang menunggu isinya. Aroma aspal panas yang terpanggang matahari siang ini bercampur dengan bau kulit jok mobil yang sangat mahal saat kaca jendelanya turun perlahan. Di dalamnya, Tuan Besar—pria yang menjadi sumber dari

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Meja Makan yang Berduri

    Angin malam di desa itu berdesir masuk melalui celah-celah kayu dinding, membawa aroma petrikor dan melati yang mendadak terasa mencekik. Kinan berdiri mematung di balik pintu. Tangannya yang menggenggam gagang parang terasa licin oleh keringat dingin. Di luar, Adrian Pratama—atau monster yang dulu

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status