Share

Perjamuan Para Hakim

Author: Pena itu
last update publish date: 2026-03-06 17:13:01

Malam itu, mendung menggantung rendah di langit, membuat udara terasa pengap dan lembap. Kinan baru saja selesai mandi dan berniat melanjutkan pekerjaannya di laptop ketika ia mendengar suara beberapa motor dan mobil berhenti di depan rumah. Biasanya, jam segini rumah sudah sepi. Firasatnya mulai tidak enak. Suara tawa yang dipaksakan dan langkah kaki yang berat memenuhi ruang tamu.

​Kinan membuka pintu kamar sedikit. Di sana, di ruang tamu yang lampunya dinyalakan semua hingga terang benderang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Mengeja Nama di Atas Awan

    Dunia ini terasa terlalu terang. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kecil helikopter terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk mataku. Aku mengerjap, mencoba mengenali ruang sempit yang bergetar hebat ini. Bau avtur yang tajam dan suara deru baling-baling yang memekakkan telinga seharusnya membuatku takut, tapi anehnya, hatiku terasa kosong. Benar-benar kosong. Seperti sebuah neraca yang baru saja di-reset ke angka nol sebelum transaksi pertama dimulai.​Aku menoleh ke samping. Seorang pria dengan wajah yang dipenuhi debu dan bekas luka sedang menatapku. Matanya merah, bengkak, seolah-olah ia baru saja kehilangan harta paling berharga dalam hidupnya. Ia menggenggam tanganku begitu erat, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, aku akan menguap menjadi udara.​"Nan... kamu dengar aku?" suaranya serak, bergetar di sela deru mesin.​Aku menatap tangannya yang kasar, lalu menatap matanya yang memohon. Aku tahu pria ini. Bukan dengan otakku, tapi dengan sesuatu yang jauh di d

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Perjamuan Sang Pemangsa

    Lembah Dirgantara malam ini tidak tampak seperti tanah leluhur yang agung. Ia tampak seperti luka yang menganga di wajah Sumatera. Lampu-lampu sorot dari menara pengawas The Orchard membelah kegelapan kabut, menciptakan garis-garis cahaya yang dingin dan tajam seperti pisau bedah. Bau aspal basah bercampur dengan aroma tanah yang digali paksa menyengat hidungku. Di bawah kaki kami, tanah yang dulu menjadi tempatku berlari mengejar capung, kini tertutup oleh beton-beton raksasa fasilitas pemurnian data ilegal.​Aku melangkah maju, tanganku digenggam erat oleh Fajar. Aku bisa merasakan telapak tangannya yang kasar sedikit berkeringat. Ini bukan ketakutan, ini adalah kewaspadaan seorang pelindung yang tahu bahwa ia sedang memasuki sarang naga.​"Nan, kalau terjadi sesuatu, jangan lihat ke belakang. Berlari saja ke arah gerbang barat," bisik Fajar tepat di telingaku.​Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang kusimpan untuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa lari jika

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Darah di Atas Saldo

    Udara di dalam lorong bawah tanah itu terasa makin tipis, seolah-olah tanah Flores sendiri enggan memberikan ruang bagi rahasia yang kami bawa. Aku berlari dengan kaki yang terasa seperti dipimpin oleh memori yang bukan milikku. Di depanku, Ibu bergerak seperti bayangan—tangkas, dingin, dan asing. Aku menatap punggungnya, mencoba mencari sosok wanita yang dulu sering mengajariku cara membuat sambal terasi di dapur sempit kami di Jakarta. Namun, yang kulihat hanyalah seorang prajurit yang sedang pulang dari pengasingan.​"Kakek...?" suaraku akhirnya keluar, parau dan penuh penolakan. "Maksud Ibu, Kakek Ibrahim? Pria yang fotonya selalu Ibu simpan di dalam alkitab tua itu? Pria yang Ibu bilang mati sebagai pahlawan di perbatasan?"​Ibu berhenti mendadak di ujung lorong yang berbatasan dengan dinding gua karang. Ia berbalik, cahaya lampu LED kecil di dinding menciptakan bayangan cekung di wajahnya yang kuyu.​"Pahlawan hanyalah label bagi pemenang, Kinan," suara Ibu terdengar seperti ges

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Kuburan Kosong di Jakarta

    Duniaku mendadak hening. Suara deru helikopter The Orchard di kejauhan, desis angin pegunungan Flores, bahkan tangis kecil Langit, semuanya seolah tersedot ke dalam sebuah lubang hitam yang hampa. Aku berdiri mematung di tepi tebing, mataku terpaku pada wanita di depanku. Ia mengenakan kain tenun ikat berwarna indigo yang kusam, rambutnya yang sudah memutih disanggul sederhana, namun sorot matanya... sorot mata itu adalah milik wanita yang dulu selalu mencium keningku sebelum tidur dan membisikkan doa-dua keberuntungan.​"Ibu...?" Suaraku pecah, lebih mirip bisikan orang yang sedang meracau dalam demam. "Ini tidak mungkin. Aku... aku memakamkanmu sepuluh tahun lalu. Di Karet Bivak. Aku yang menaburkan bunga di atas nisanmu setiap tahun!"​Wanita itu melangkah maju. Langkahnya tenang, tidak ada keraguan, sangat berbeda dengan bayangan ibuku yang penyakitan dan lemah di ingatanku. Ia mengulurkan tangannya yang kasar—tangan seorang pekerja tanah, bukan tangan seorang ibu rumah tangga Jak

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Jejak yang Hilang

    Dinginnya air sungai bawah tanah di kaki Gunung Kelimutu seolah sanggup membekukan ingatan. Perahu motor kecil yang membawa kami melaju dalam kegelapan yang pekat, hanya dibantu oleh senter kecil yang dipegang Fajar di ujung haluan. Suara gemericik air yang menghantam dinding gua terdengar seperti bisikan-bisikan masa lalu yang menuntut pertanggungjawaban. Aku duduk di tengah, memeluk Bumi dan Langit yang gemetar hebat. Tubuh mereka basah kuyup, dan di mata mereka, aku melihat ketakutan yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak-anak sekecil itu.​"Nan, kita sudah keluar dari jalur utama," suara Fajar terdengar parau, tertutup oleh deru mesin motor yang sengaja ia pelankan.​Aku menoleh ke belakang, ke arah lubang gua yang kini tampak seperti mata raksasa yang perlahan mengecil. Di sana, di puncak gunung yang tertutup asap, aku masih bisa melihat kilatan api. Rey masih di sana. Kakakku, yang baru saja kutemui, mungkin sedang menyerahkan nyawanya agar kami bisa mendapatkan selisih waktu

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Danau Tiga Nyawa

    Kabut di puncak Kelimutu tidak sekadar dingin; ia memiliki berat, seolah-olah arwah para leluhur Flores sedang turun untuk menyaksikan penghakiman terakhir. Suara deru helikopter di kejauhan terdengar seperti dengung lalat pemakan bangkai yang tidak sabar. Aku berdiri membeku, memeluk Buku Besar Mawar erat di dadaku, merasakan tekstur kulitnya yang kasar beradu dengan detak jantungku yang liar. Di depanku, tiga bayangan bertopeng mawar hitam itu tampak seperti iblis yang keluar dari dasar kawah.​"Nan, mundur. Bawa anak-anak ke balik tebing itu!" Suara Fajar terdengar seperti gesekan aspal yang retak—keras, kering, dan penuh tekad.​"Dit, mereka punya senjata api..." suaraku bergetar, nyaris hilang ditelan angin gunung.​"Mereka tidak akan menembakmu, Nan. Mereka butuh otakmu untuk membaca buku itu. Itu kelemahan mereka," Fajar melangkah maju. Cahaya bulan yang pucat memantul di mata pisaunya. Ia tidak lagi tampak seperti nelayan Bajo yang ramah; ia kembali menjadi sosok yang dulu per

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status