Share

TEKAD DIANA

Di sisi lain, Yoga langsung meninggalkan Diana setelah memuaskan hasrat birahinya.

Dia kini menyantap sarapan bersama sang ibu.

"Yoga! Kapan kamu bawa Rista ke mari? Mama mau mengenalnya lebih dalam lagi. Mama juga ingin memastikan dia jauh lebih baik daripada istrimu yang tidak berguna itu," ucap bu Rossa sembari mengoles roti dengan selai kacang dan memberikannya kepada anak lelaki kesayangannya itu.

"Secepatnya, Ma. Aku sudah tidak sabar, menanti hari-hariku yang indah bersama Rista," sahutnya sambil tersenyum sumpringah.

"Lalu bagaimana dengan Diana? Apa kamu masih tetap mempertahankan perempuan tak tahu diri itu?" tanya bu Rossa sambil menutup wadah--tempat selai kacang.

"Tentu saja Ma, aku akan tetap mempertahankan dia. Memangnya Mama mau gaji pembantu naik? Kalau ada Diana, ada pekerja gratisan,

Sementara Yoga tengah berbicara sengit dengan sang istri, Rista kini tengah asyik berbincang dengan mamanya.

Perempuan itu tampak bahagia begitu membicarakan kekasihnya. Tak peduli meski pria itu telah beristri.

"Apa kamu tidak salah pilih? Kamu tidak ingin memikirkan kembali keputusanmu yang tidak masuk akal ini? Kamu ingin menikah dengan laki-laki beristri? Apa kamu tidak pikirkan perasaan istrinya? Coba kamu bayangkan! Bagaimana perasaanmu, jika berada di posisi wanita yang suaminya kamu rebut paksa? Mama tidak setuju," ungkap bu Bianca tegas.

"Mama, Rista sangat mencintai mas Yoga. Lagian istri mas Yoga tidak keberatan, jika suaminya menikah lagi. Pokonya Mama harus mengizinkan kami menikah. Jika Mama tidak mau melakukannya, jangan harap Mama bisa bertemu denganku lagi di dunia ini. Lebih baik aku mati saja, daripada harus hidup tanpa mas Yoga," ucap Rista penuh penekanan dengan ekspresi wajah yang sendu. Tentu saja membuat hati mamanya rapuh.

Mata Bu Bianca membesar. Terkejut dengan ucapan sang anak.

"Nak...!"

"Pokoknya, aku harus menikah dengan Yoga," putus Rista tegas.

Bu Bianca lemah dengan putrinya itu. Wanita itu pun mengangguk. "Baiklah. Yang penting, jangan sembarangan berucap seperti itu! Maafkan Mama. Kamu anak satu-satunya Mama di dunia ini," lirihnya sambil memeluk sang putri.

Rista tersenyum licik dalam pelukan mamanya. "Walaupun Mama melarangku, aku tidak peduli. Aku akan tetap menikah dengan mas Yoga. Laki-laki dewasa yang telah membuatku susah tidur akhir-akhir ini. Persetan dengan istrinya. Yang terpenting kebahagiaanku dengan mas Yoga. Wanita itu bisa aku singkirkan dengan mudah dari rumah mas Yoga," gumam Rista dalam hati.

***

Hari terus berlalu. Tak terasa, persiapan pernikahan Rista dan Yoga sudah mulai rampung.

"Ma! Minggu depan pernikahanku dengan Mas Yoga digelar. Papa kapan pulang, Ma?" ucap Rista riang.

"Apa? Secepat itu? Mama belum tahu kapan, tapi yang pasti papa akan pulang akhir bulan ini."

Bu Bianca sebenarnya ingin menghentikan anak itu. Tapi, dia tampak keras kepala.

"Lewat telepon video saja, jika papa belum pulang. Lagian sekarang masih dalam masa pandemi, Ma. Belum tentu papa bisa pulang cepat. Jika ada penjagaan ketat dari petugas kepolisian, tentu saja papa akan disuruh putar balik."

"Nah itu lagi pandemi, apa tidak bisa nanti-nanti saja menikahnya?" tanya wanita itu seraya menatap putrinya dengan tatapan sendu. Bu Bianca kembali beralasan.

Namun, Rista justru menggelengkan kepala. "Kenapa mesti ditunda, Ma? Resepsi tetap boleh diadakan, dengan syarat tetap memenuhi protokol kesehatan."

"Jujur saja, Mama masih berat melepasmu untuk menikah. Andai saja calon suamimu masih bujangan, bukan suami orang," gumam Bu Bianca dalam hati.

"Mah! Mah! Kok malah bengong sih?"

Ucapan Rista menyadarkan Bu Bianca dari lamunannya. "Eh iya-iya maaf, Mama kurang fokus akhir-akhir ini."

"Apa sebabnya Ma, kangen sama papa ya?" ucap Rista sedikit meledek. Tak menyadari bahwa dirinyalah penyebab hati sang ibu gundah.

"Sudah pasti kangen sama papa, tetapi bukan itu masalahnya."

"Lalu, masalah apa Ma?" tanya Rista penasaran.

"Mama memikirkan kamu Rista. Mama takut keputusan yang kamu ambil ini salah."

"Mama tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja. Lagian laki-laki yang akan menikahiku, dia laki-laki yang baik Ma, keputusan ini tidak salah."

"Ya sudah, tetapi berjanjilah sama Mama! Kamu akan memperlakukan istri pertama suamimu dengan baik!” ucap bu Bianca memohon.

"Mama tenang saja! Aku tidak akan berbuat jahat dengannya."

"Baiklah Mama percaya sama kamu."

*******

"Diana tolong siapkan pakaian kerjaku! Hari ini aku ada rapat di kantor pusat," seru Yoga dengan wajah memelas.

"Bisa Mas, tapi bayar dulu lima ratus ribu, aku bukan pembantu, Mas."

Akhir-akhir ini, Diana sudah mulai menerapkan permintaannya. Dan jujur saja, suaminya itu tampak mulai terbebani.

"Sama suami sendiri perhitungan. Kamu mau memerasku?" ucap Yoga dengan nada membentak.

"Aku tidak memaksa kok, Mas. Jika tidak mau ya tidak masalah. Bukankah kamu yang bilang harta kamu tidak akan habis tujuh turunan, masa aku minta lima ratus ribu saja, kamu marah-marah?” sindir Diana.

"Ingat ya, Mas? Jika ingin acara pernikahanmu nanti aman, kamu harus sering-sering memberiku uang." Diana kemudian menatap Yoga dengan tatapan sinis dan senyum tipis.

‘Dengan kamu memutuskan untuk menikah lagi, itu sudah sangat menginjak-injak harga diriku, Mas. Selama ini, aku sudah tunduk sama kamu dan tidak pernah protes dengan sikap kasarmu. Tapi, apa? Kamu mencari wanita lain untuk kamu nikahi. Aku bukannya mau jadi istri durhaka Mas, ini kulakukan hitung-hitung meminta hakku yang selama ini tidak pernah kamu berikan,’ gumam Diana dalam hati.

"Ya, baiklah, ini uangnya."

"Nah begitu saja harus berdebat dulu. Tunggu sebentar aku setrika dulu bajunya," ucap Diana dengan senyum penuh kemenangan.

‘Aku akan kumpulkan uang ini. Aku akan buktikan sama kamu, kalau aku juga bisa jadi cantik, Mas,’ ucap Diana dalam hati.

. Tidak perlu kita bayar dan kita bisa memperlakukan Diana, semau kita, Ma," terangnya tanpa belas kasihan.

Bu Rossa mengembangkan senyumnya. "Wah! Cerdas juga anak Mama. Kita lihat saja apakah perempuan itu kuat dimadu?" serunya senang dengan senyum yang penuh kelicikan.

*******

Ketika sarapan usai, Bu Rossa meninggalkan Yoga yang sibuk menonton TV.

Tak lama, pria itu pun hendak menuju kamarnya. Namun, aktivitasnya terhenti begitu melihat Diana yang keluar dari kamar dengan pakaian rapi.

"Mau ke mana, kamu? Siapa yang izinkan kamu pergi?" seru Yoga dengan tatapan penuh amarah.

"Aku mau ke rumah ibuku. Sudah lama aku tak pernah mengunjungi orang tuaku sendiri," balas Diana tenang.

Yoga seketika menggelengkan kepala tak setuju. "Jangan ke mana-mana! Aku tidak mengizinkanmu pergi!" sahutnya tegas.

Dengan wajah yang masam, Diana menarik napasnya perlahan. Dia menatap tajam wajah suaminya yang menyebalkan itu.

"Apa hak kamu melarangku, Mas? Sebagai seorang suami, kamu tidak bisa menunaikan kewajiban kamu. Jadi aku tidak lah pantas untuk tunduk atas perintahmu," ketus Diana lantang.

"Setan apa yang merasukimu? Membantah terus!" bentak Yoga.

Plak!

Yoga menampar wajah istrinya sekuat tenaga. Dia paling tak suka melihat istrinya yang mulai berani.

Bruk!

Tubuh wanita itu seketika luruh ke lantai saking kerasnya tamparan sang suami. Tamparan keras tangan suaminya, membuatnya sampai tidak sadarkan diri.

Yoga panik mendapati wanita itu pingsan.

Dengan sigap, laki-laki itu menggendong istrinya, lalu merebahkannya di ranjang miliknya.

Dia raba denyut nadi istrinya. Sekilas Yoga melihat pipi Diana yang memerah, akibat perbuatannya. Jantungnya berdebar tak beraturan.

"Diana sadarlah! Diana!" ucapnya sambil mengguncang tubuh istrinya.

Namun, nihil.

Diana tak kunjung membuka mata. Yoga takut terjadi sesuatu dengan Diana.

Walaupun akhir-akhir ini sikapnya telah berubah, tetapi Yoga tidak memungkiri bahwa ia masih mencintai Diana--meski Rista juga menarik hatinya. Lagi pula, wajar kan pria memiliki lebih dari satu perempuan dalam hatinya?

"Ada apa? Mengapa berteriak memanggil istrimu?" tanya bu Rossa. Wanita itu terlihat tergopoh-gopoh lari ke kamar Yoga.

"Diana pingsan, Ma. Aku lepas kendali, aku memukulnya," beritahu Yoga sambil memijat-mijat kepala istrinya.

"Kok bisa kamu memukulnya? Apa dia bikin masalah lagi?"

"Yoga yang salah, Ma. Bantu Yoga kasih minyak ini ke badan Diana, Ma," pintanya memohon.

Bu Rossa mengambil minyak yang ada di tangan Yoga. Dia segera mengolesnya ke kaki dan perut menantunya.

"Tubuhnya terasa sangat dingin. Wajahnya juga pucat," celetuk Bu Rossa sambil terus mengusapkan minyak itu ke badan Diana.

Ini pertama kalinya Diana dan Bu Rossa dekat, setelah hampir tiga tahun menjadi menantunya.

*******

"Akhirnya kamu sadar juga. Maafkan aku, aku terlalu emosi," ucap Yoga penuh penyesalan.

"Tidak apa-apa, Mas. Apa pun yang bisa buat kamu bahagia, lakukan saja!" balas Diana dengan wajahnya sayu.

"Jangan khawatir! Sebentar lagi akan ada yang menemanimu memasak. Kamu harus bisa menerimanya dengan baik!" ucap Yoga sambil menepuk-nepuk pundak istrinya.

"Semua tergantung dari perlakuannya, Mas. Jika dia baik padaku, aku juga akan baik padanya. Tetapi jika istri barumu nanti semena-mena padaku, aku tidak akan memedulikannya," balas Diana sambil memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.

"Jangan khawatirkan akan hal itu! Dia wanita yang baik."

Diana memejamkan matanya. "Wanita baik-baik tentu saja tidak akan merebut kebahagiaan wanita lain," lirihnya menahan kesal.

"Baiklah, kita lihat saja nanti! Jika dia terbukti bukan istri dan madu yang baik, jangan salahkan aku jika aku akan bertindak kasar padanya. Enak saja mau masuk ke rumah tangga orang lain dan berlaku seenaknya denganku istri pertama. Aku akan melawan jika dia menyerangku terlebih dahulu," lanjutnya dengan yakin.

"Terserah kamu saja! Tapi bukan berarti kamu bisa bertindak sesukamu. Kamu hanya boleh bertindak, saat adik madumu melakukan kesalahan. Apa kamu paham?" seloroh Yoga sembari tersenyum tipis pada Diana.

"Tentu saja. Tapi, ada hal yang perlu Mas ingat! Aku bisa saja mengacaukan pernikahan itu, jika aku mau," ancam Diana balik.

"Jangan bodoh kamu! Akan ada banyak penjaga yang aku kerahkan untuk keamanan, selama pernikahanku berlangsung."

"Aku tidak sebodoh yang kamu kira, Mas. Aku tidak akan melakukan hal itu, asal kamu memenuhi syarat yang aku berikan! seru Diana sembari tersenyum licik.

Dia sebenarnya adalah istri yang baik. Tetapi kebaikannya sering kali dimanfaatkan oleh suaminya.

"Katakan! Apa syaratnya? Aku akan memenuhinya dan kamu berjanjilah, tidak akan mengacaukan acaraku nanti!"

"Berikan aku uang bulanan untuk kebutuhan pribadiku!"

"Hanya itu saja syarat yang kamu ajukan wahai istri cerdik?" tanya Yoga.

"Jangan berkata enteng kamu, Mas! Selama ini kamu tidak pernah memberikanku uang. Kamu memutuskan untuk menikah lagi, kamu harus memenuhi tanggung jawabmu terhadapku."

"Baiklah, bukan hal sulit. Uangku banyak, tidak akan habis tujuh turunan," balasnya acuh.

‘Dasar laki-laki sombong! Ini baru permulaan, Mas. Sakit hatiku selama dua tahun ini, tidak akan aku lupakan begitu saja.’ Diana terus merutuk dalam hati.

********

Di lain tempat, bu Masyita terlihat duduk sambil mengusap sebuah foto dalam bingkai, dengan tangannya.

"Bagaimana kabarmu, Diana? Ibu sangat merindukanmu. Sejak menikah kamu belum pernah kemari menjenguk Ibu dan Ayahmu. Walaupun kamu bukan anak kandung Ibu, Ibu sangat menyayangimu."

Ibu angkat dari Diana itu terus saja berbicara dengan foto Diana.

"Sabar ya Bu! Mungkin suami Diana sangat sibuk, sehingga sampai saat ini Diana belum mengunjungi kita," ucap pak Ruslan menenangkan istrinya.

"Walaupun sibuk, 'kan ada ponsel Pak. Diana bisa menelepon kita kapan saja," jawabnya dengan suara parau menahan tangis.

Hanya saja mereka tidak tahu keadaan Diana. Bagaimana mau menelepon? Suami Diana yang terkenal kaya raya itu, selama ini tidak pernah memberikan ponsel kepada istrinya.

"Sudah Bu! Jangan berpikiran yang tidak-tidak! Bagaimanapun, Diana bukan anak kandung kita. Mungkin saja saat ini, Diana sudah bertemu orang tua kandungnya. Tugas kita sudah selesai Bu. Kita sudah merawat, membesarkan, dan menyekolahkannya sampai ke jenjang kuliah. Jika dia ingat dan mau menganggap kita, Alhamdulillah. Jika tidak Ibu tidak perlu bersedih! Semoga lelah kita menjadi berkah Bu," tutur Pak Ruslan.

"Iya Pak, Ibu menurut saja dengan Bapak."

"Ya sudah ayo kita tidur, Bu! Sudah larut malam. Tidak bagus untuk kesehatan kita yang sudah sepuh ini," ucap pak Ruslan seraya berdiri menggandeng tangan istrinya.

Rumah tangga mereka tetaplah utuh, walaupun tidak dikaruniai seorang anak. Bu Masyita terkena penyakit tumor dalam rahimnya, dan mengharuskan untuk diangkat. Jadi seumur hidup, beliau tidak akan memiliki anak.

Namun, keadaan itu tidak mengurangi rasa cinta pak Ruslan terhadap istrinya. Mereka juga menyayangi Diana sepenuh hati.

"Nak, kami harap kamu bahagia dengan suamimu atau keluarga kandungmu. Jika tidak, kamu bisa kembali ke kami," lirih pria tua itu dalam hati.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status