Share

CEMOOHAN UNTUK NADIA

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-04-08 21:21:57

​"Nadia, sudah cukup! Aku bilang cukup!" potong Rama dengan suara yang menggelegar tegas. "Bersiaplah ke kamar kalau kamu mau ikut. kalau enggak, yaudah—biar aku dan Ibu yang pergi ke pesta itu, dengan atau tanpa kamu!"

​Nadia ternganga, matanya membulat sempurna. "Mas?"

​"Masuk ke kamar sekarang!" perintah Rama tajam, jarinya menunjuk lurus ke arah tangga menuju kamar mereka. Nadia menggeleng tak percaya; untuk pertama kalinya, Rama berani memerintahnya dengan nada seotoriter itu.

​"Tapi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   ADA YANG MASUK

    "RAMA, CUKUP!" suara Alya melengking, memotong kalimat Rama tepat sebelum rahasia besar itu meluncur bebas. ​Alya segera mendekat, mendorong bahu Rama agar menjauh dari Nadia. Dadanya naik turun karena panik, matanya menatap Rama dengan permohonan yang amat sangat. ​"Bu..." Rama mendesis, napasnya masih memburu karena emosi yang tertahan. ​Alya menggeleng pelan, memberikan isyarat tegas agar Rama tidak melanjutkan ucapannya. Ia tahu, kebenaran itu adalah bom waktu yang belum saatnya diledakkan. Rama hanya bisa mendengus kasar, merasa kecewa sekaligus geram dengan kesabaran mertuanya yang menurutnya sudah tidak masuk akal. ​"Nadia, bangun sayang. Ayo masuk kamar, istirahat. Wajahmu pucat, riasanmu juga sudah longsor," ucap Alya lembut sembari mengulurkan tangan untuk membantu putrinya bangkit. ​Namun, Nadia justru menepis tangan itu dengan kasar. Ia berdiri sendiri, menatap Alya dengan sorot mata penuh kebencian dan rasa jijik. Perih rasanya bagi Alya; ia yang mati-matian membe

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   MEMBONGKAR?

    Nadia mendelik tak suka, dadanya naik turun menahan amarah karena merasa terus-menerus diintimidasi oleh orang-orang di rumahnya sendiri. ​"Sebenarnya ada apa ini, Nadia?!" tanya Rama lagi, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia menoleh pada mertuanya dengan tatapan yang sangat berbeda—penuh simpati dan perlindungan—sebelum kembali menatap tajam ke arah istrinya. ​"Ibu kujadikan jaminan, puas Mas?! Lagipula kamu sewot banget sih? Itu Ibuku, wajar dong dia membantu anaknya yang kesusahan. Lagipula punya suami kayak kamu nggak guna banget!" sela Nadia ketus. Ia merasa tidak bersalah sedikit pun, seolah menjual harga diri ibunya adalah hal lumrah. ​Tubuh Rama membeku. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. "Jaminan? Jaminan apa?!" teriaknya lantang, membuat Alya dan Nadia terhenyak kaget. Suara Rama menggelegar memenuhi seisi ruangan. ​"Sudah, Ram... nggak enak sama Papa di atas," bisik Alya berusaha menenangkan, tangannya gemetar menyentuh lengan Rama. ​"

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   KALAH TELAK

    Semua terperangah saat Ambar mengenali sosok pria paruh baya yang berdiri tegak dengan aura otoritas yang tak terbantahkan. Ambar tahu siapa pria ini; pria yang kekuasaannya sanggup meruntuhkan bisnis orangtuanya dalam satu jentikan jari. ​"Apa yang Anda lakukan dengan mertua dari an—" ​"Iya, apa yang Anda lakukan!" sela Rama cepat, sembari menggelengkan kepala ke arah sang ayah agar tidak membongkar hubungan mereka lebih jauh di depan semua orang. ​Tansri menghela napas panjang, mengangkat dagunya sedikit tinggi. Ada rasa kesal yang tertahan pada putranya; kenapa Rama begitu enggan mengakui dirinya sebagai ayah di depan publik, padahal Tansri bukanlah orang sembarangan? Namun, ia memilih mengikuti permainan Rama. ​Ambar bergetar hebat. Rasa takut terpahat jelas di wajahnya yang mendadak pucat. "Tu... Tuan Tansri, kenapa Anda ada di sini dan mengenali... mereka?" tanyanya terbata-bata. Ia menatap Rama dan Tansri bergantian, semakin terpana karena menyadari betapa miripnya waja

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   AMBAR MENGENALINYA?

    Pintu itu akhirnya jebol, terbuka lebar menampakkan pemandangan yang membuat seluruh tubuh Alya bergetar hebat. Napasnya tersendat di kerongkongan, seolah oksigen di ruangan itu telah lenyap. ​"Ya Tuhan...!" lirihnya. Matanya menatap liar kedua pria di hadapannya, di mana salah satunya masih menggenggam linggis dengan dingin. ​"Enggak! Jangan!" teriak Alya saat kedua pria itu mulai melangkah masuk, mendekatinya dengan seringai yang mematikan. ​"Tunggu apa lagi, bodoh? Bawa dia!" teriak Ambar yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang mereka, menonton dengan rasa puas. ​Alya menggeleng hebat. Tubuhnya terus mundur hingga terbentur meja rias. Rama... Rama... aku mohon, datanglah! Ke mana kamu, Ram! batinnya menjerit, memohon keajaiban di tengah keputusasaan yang mencekik. ​"Seret!" bentak Ambar lagi, kesal melihat kedua pengawalnya bergerak terlalu lambat. ​"AKHH!" Alya menjerit histeris saat tangannya dicengkeram kasar dan ditarik paksa. "Tolong! Lepaskan!" Ia memberontak,

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   DI GAGAHI DUA PRIA NEGRO?

    Ponselnya terjatuh, tergeletak di atas lantai marmer yang dingin. Saat Alya hendak meraihnya, kedua pria itu semakin mendekat, bayangan besar mereka seolah mengunci pergerakan Alya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul dadanya dengan irama yang mematikan. ​"Hah... hah... hah..." ​Napasnya tersengal. Alya bimbang, antara harus mengambil ponsel itu atau segera masuk ke dalam kamar. Namun, jika ponsel itu tertinggal, ia tahu Nadia—ular yang ia besarkan sendiri—akan menemukan semua rahasia hubungannya dengan Rama. ​Beruntung, di dekatnya ada sebuah guci kecil. Dengan sisa tenaga, ia melemparnya ke arah kedua pria itu. ​PRANG! ​Suara pecahan beling terdengar nyaring. Kedua pria itu tersentak mundur agar tak terkena serpihan. Dengan gerakan secepat kilat, Alya menyambar ponselnya dan melesat masuk ke kamar. ​BRAK! ​Pintu terbanting keras. Alya langsung mengunci pintu itu dari dalam. ​"HAH... HAH... HAH... HAMPIR SAJA!" ​Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, l

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   "AYOLAH BU HANYA SEMALAM SAJA!"

    ​"NADIA!" Pekik Alya tak percaya. Ia mundur perlahan, melepaskan genggamannya pada tangan putri yang selama ini ia biayai dan besarkan sendirian tanpa bantuan siapa pun.Dunianya terasa runtuh seketika. ​"Bu, ini hanya semalam. Lihat tubuh kedua pria itu, sangat tegap. Ibu pasti akan puas, apalagi sudah lama Ibu gak ada yang menyentuh," ucap Nadia gamblang tanpa rasa malu sedikit pun pada ibunya sendiri. ​Napas Alya tertahan di kerongkongan. Ada rasa menyesal yang amat dalam karena telah memungut dan membesarkan Nadia. Di benaknya, ia merasa seperti memelihara seekor ular; ia memberinya makan, tapi setelah kenyang, ular itu justru menggigit dan menghancurkannya. ​"Gila kamu, Nadia! Gila! Aku ini ibumu! Aku yang membesarkanmu, yang mengurusmu!" teriak Alya, mencoba menyentak kesadaran Nadia yang sudah dibutakan oleh harta. ​Nadia hanya menggeleng acuh tak acuh. Sementara itu, Ambar menyaksikan drama itu dengan senyum kemenangan. Ia tidak perlu repot-repot menekan salah satunya; k

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   SUARA PRIA ITU

    Ia meraih ponsel, menatap layar beberapa detik, lalu akhirnya menekan nomor Nadia. Nada sambung terdengar panjang. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga entah panggilan ke berapa, akhirnya diangkat. “Ada apa, Mas?” suara Nadia terdengar datar, bahkan cenderung ketus. “Kamu kenapa belum pulang?” ta

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   SEMAKIN TEROBSESI

    Namun detik berikutnya, Alya justru terkekeh pelan. Suara tawa yang rendah itu terasa menggetarkan udara di ruangan yang sepi itu. Bukannya menjauh, Alya justru menggeser duduknya, memperkecil jarak hingga aroma parfumnya yang manis semakin pekat mengelilingi Rama. ​Rama ikut tersenyum kecil, namun

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   OBROLAN DI TENGAH MALAM

    "Gapapa, Bu..." balas Rama sambil tersenyum kikuk. Ia mencoba mengalihkan pandangan, namun sudut matanya tetap tak bisa di bohongi. ​Alya terkekeh kecil melihat tingkah laku menantunya itu. Ia sangat tahu ,Rama bukanlah tipe pria buaya yang akan langsung bertindak agresif. Rama justru terlihat s

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   LUKA LAMA DI MASA LALU

    Mereka duduk di ruang tengah. Rama menatap sekeliling rumah itu. Semuanya benar-benar masih sama, tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia pergi. Pandangan Rama lalu tertuju ke sudut rumah. Di sanalah dulu ia sering dipukuli dan disiksa oleh ayah sambungnya, sementara ibunya hanya diam, lebih m

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status