เข้าสู่ระบบSuasana sore di Eropa membuat dunia serasa begitu cantik dengan matahari yang mulai bergerak terbenam. Di sudut sebuah toko, seorang perempuan dengan tangan lembutnya tengah memegang teko penyiram tanaman berwarna merah muda. Alya tersenyum simpul, memandangi setiap kelopak bunga yang nampak cantik dan berwarna-warni di hadapannya. Ia sesekali mengusap pelan perutnya yang saat ini sudah berusia sembilan bulan—ukuran yang cukup besar dan sedikit membuatnya sedikit sulit untuk bergerak bebas. "Kalau kamu lelah, sudah lah, Sayang. Kita pulang yuk," ucap Rama yang sejak tadi duduk di pojokan toko. Ia menatap cemas ke arah sang istri yang sedari tadi berdiri menyiram tanaman tanpa henti. Alya menggeleng kepala sambil mengerucutkan bibirnya manja. "Sebentar dulu, Sayang. Ini tanggung loh. Yang lain sudah aku siram, masa yang satu ini enggak!" balasnya sedikit ketus. Toko bunga mereka sekarang sudah menjadi sangat megah setelah hasil renovasi bulan lalu. Perubahan itu membuat
Dada Nadia sesak bukan main. Ia meraup seluruh pasokan udara di sekitarnya, namun oksigen seolah-olah lenyap begitu saja dari bumi. Ia masih diam mematung di sana untuk beberapa menit. Padahal, siaran berita di televisi sudah berakhir dan kini beralih menampilkan film kesukaannya yang baru saja mulai tayang. Namun, fokusnya telah mati. Ingatannya masih tertancap kuat pada tayangan tadi. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Pikirannya mulai berputar kembali pada kejadian sebulan lalu saat ia melihat bahkan memarahi Alya dan Rama di toko bunga. “Apa mereka sudah menikah?” lirihnya . Nada suaranya bergetar hebat, ia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri. "Astaga..." rintihnya. Tubuhnya langsung luruh, terjatuh di atas lantai apartemen yang masih penuh dengan debu. Ia bahkan menarik rambutnya sendiri dengan sangat kuat, menjambaknya demi mencoba menyadarkan diri bahwa semua kenyataan pahit ini hanyalah mimpi buruk. Namun, usahanya sia-sia. In
Nadia tak menjawab. Ia tahu Indra pasti selalu punya cara untuk membungkam setiap protes atau perkataannya. Nadia sangat ingin mengakhiri hubungan beracun ini, namun di sisi lain, ia terlanjur gengsi jika harus menyandang status sebagai janda lagi. Terlebih, ia tidak siap jika harus hidup miskin. Jika ia nekat berpisah dari Indra sekarang, ia tak akan memiliki apa-apa lagi. "Dengar aku. Jangan pernah mengganggu kehidupan mereka lagi. Jangan pernah menginjakkan kakimu di toko bunga itu lagi! Jika aku melihatmu melakukan hal gila itu sekali lagi, aku bisa dengan mudah membuangmu. Dan kamu tahu sendiri, kan? Kamu akan berakhir jadi gembel di negeri orang!" desis Indra penuh ancaman. Nadia tetap tak bergeming. Tatapannya kosong menatap lurus ke depan, seolah sudah pasrah dengan takdir pahit yang harus dijalaninya. Seketika, bayangan indah saat dirinya masih bersama Rama kembali terngiang di kepalanya. Dulu hidupnya begitu senang, tenang, dan bahagia; memiliki suami yang san
Setelah acara pernikahan yang cukup mewah itu selesai, keduanya masuk ke dalam apartemen yang disewa oleh Nadia. Bahkan, seluruh biaya pernikahan ditanggung sepenuhnya oleh Nadia dengan mengambil uang dari perusahaan milik mendiang ibunya yang baru saja ia pegang. Indra awalnya menolak, tetapi Nadia yang gengsian tidak mau merayakan pernikahan dengan sederhana. Indra langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang super empuk. Nadia tersenyum geli. Ingatannya kembali berputar pada masa dimana saat ia diam-diam bermain gila dengan Indra ketika masih berstatus sebagai istri sah Rama. Dengan senyum malu-malu, Nadia ikut naik ke atas ranjang setelah menanggalkan pakaiannya hingga hanya menyisakan tank top dan celana pendek. Namun, alih-alih sambutan hangat, yang Nadia dapatkan justru tepisan tangan yang sangat kasar dari Indra. "Mas?" panggil Nadia. Ia begitu kaget pasalnya tatapan hangat Indra seketika berubah drastis 360 derajat. “Jangan lancang, Nadia. Aku menikahimu bu
Namun, saat mesin mobil dinyalakan, pandangan Nadia kembali tertuju pada bangunan megah toko bunga itu. Napasnya tiba-tiba memburu. Pikirannya langsung berputar, mempertanyakan mengapa Alya dan mantan suaminya bisa berada bersama di sana. Tepat saat pedal gas hendak diinjak oleh Indra, Nadia langsung membuka sabuk pengamannya. Indra menoleh dengan tatapan kaget. Nadia hanya melirik suaminya itu sekilas. lalu membuka pintu mobil dan berlari kembali ke arah toko. Saat Nadia masuk dengan mendobrak pintu toko. Pandangannya langsung tertuju pada mantan suami dan bibinya yang sedang berpelukan sangat romantis. Pemandangan itu seketika membuat dada Nadia terasa seperti terbakar. Ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Berbagai pertanyaan langsung memenuhi pikirannya. Bagaimana bisa mantan suaminya bersanding dengan ibu angkatnya? Sejak kapan semua ini terjadi? Semua spekulasi berputar di kepalanya hingga ia berteriak nyaring, "BAJINGAN!" Rama maupun Alya lan
Keduanya tercekat. Tatapan bingung di antara mereka benar-benar kentara jelas. Namun sedetik kemudian, Nadia berdehem pelan. Ia menatap Alya dengan pandangan meremehkan, lalu memutar matanya menilai interior toko bunga itu dari atas hingga bawah. Nadia berdecak sinis, bibirnya mengerucut tipis penuh ejekan. "Oh, sekarang jadi pelayan? Miskin ya, setelah semua bisnis orang tua saya Anda berikan pada saya?" ucapnya dengan nada yang penuh akan penghinaan. Nadia melipat kedua tangan di dada, lalu bersandar pada rak bunga. “Hmm… sejauh ini kamu mencariku? Untuk apa? Kamu membuntutiku, ya? Sudahlah, aku bukan anakmu lagi, Bibi,” lanjutnya sambil menekankan kata “Bibi” dengan tatapan tajam ke arah Alya. Alya masih tak bergeming. Ia hanya menggeleng pelan, ingin menyanggah perkataan Nadia, namun lidahnya terlalu kelu. Ia masih sangat terkejut memikirkan bagaimana bisa dirinya bertemu dengan Nadia di sini. Alya membulatkan matanya seketika. Ia teringat bahwa perusahaan mendiang
Bukan hanya mereka, para tetangga pun mendengar keributan itu. Satu per satu warga mulai keluar dan akhirnya berkerumun, membuat Rama dan Alya merasa malu dan tertekan. Nadia, yang sama sekali tidak mengetahui apa pun, tampak kebingungan. “Ada apa sih ini? Pulang saja, Mas, ayo!” ucap Nadia kesal
Alya mencoba sekuat tenaga untuk tetap pada pendiriannya. Ia membuang muka, berusaha mengabaikan debaran jantungnya yang mulai tak beraturan. Namun, Rama yang sekarang benar-benar berbeda. Ia seolah ingin menebus dua hari diamnya Alya dengan serangan kasih sayang yang bertubi-tubi. Rama tidak
Setelah makan malam yang hangat, aku berniat membantunya mencuci piring. Ia melarang dengan kelembutan yang khas, jadi aku hanya berdiri di dekat wastafel, sekadar menemaninya. Sesaat, segalanya terasa indah. Seperti pasangan biasa di dapur kecil yang sunyi. Kami seolah lupa pada realita yang me
Setelah pertengkaran hebat malam itu, Rama memutuskan untuk tak tidur di kamar utama. Ia memilih merebahkan tubuhnya di kamar tamu karena merasa terlalu muak dengan sikap Nadia yang semakin hari semakin membuat kepalanya berdenyut. "Dia benar-benar menyebalkan," batinnya geram sebelum akhirnya ke