LOGINSementara itu, Rama menatap datar ke arah balkon. Tangannya meremas kuat pagar besi hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menggertakkan rahang, merasa kecewa dengan perkataan papanya yang seolah-olah buta; membela kedua perempuan ular itu dan menyalahkannya terus-menerus. Ia tak bisa diam saja. Ia tak akan membiarkan papanya terjerumus lebih dalam. Apalagi ia tahu, di dalam aset kekayaan papanya, terdapat harta peninggalan mendiang ibunya—bahkan hampir seluruhnya adalah milik ibunya. "Bagaimana bisa Papa tak menyadari kelakuan mereka?" pikirnya heran. Namun, setelah merenung cukup lama, Rama mulai memahami. Tansri adalah pria yang hancur setelah kehilangan dua orang tersayangnya: Lili dan dirinya. Rama mengangguk paham; dulu Sofia datang tepat saat Tansri berada di titik terendah, saat ia kehilangan putra tunggalnya dan didera duka mendalam akibat kematian istrinya yang tragis. Di masa sulit itulah, Sofia dan Anggita memainkan peran dengan sangat sempurna sebagai istri dan
"Apa yang kamu katakan pada istri Papa?!" ucap Tansri sambil melangkah mendekat ke arah Sofia dan Rama. Tatapannya menghunus tajam ke arah putra tunggalnya itu. "Dia itu ibumu, Ram! Jaga ucapanmu padanya. Kenapa kamu jadi seperti ini?" "Tidak apa-apa, Mas. Jangan terlalu kasar... aku paham kenapa dia belum bisa menerimaku," sela Sofia dengan nada yang dibuat-buat lemah, padahal jelas sekali dialah yang memicu pertikaian tadi. "Pa..." Ucapan Rama menggantung di udara saat tangan sang ayah terangkat ke atas, mengisyaratkan perintah untuk diam. "Sofia, masuk!" titah Tansri. Pandangannya masih terkunci rapat pada Rama. Sofia mengangguk dengan senyum puas yang tersembunyi, lalu melenggang pergi. Sepeninggal Sofia, suasana menjadi makin tegang saat ayah dan anak itu saling berhadapan. "Papa tak pernah ingin kita bertengkar, Ram. Apalagi kita baru bertemu setelah puluhan tahun kamu hilang. Tapi kenapa kamu berubah? Perasaan saat pertama bertemu ibu tirimu, bicaramu ti
"Jangan harap bisa mengambil apa pun dari sini! Ingat, jika kamu berani macam-macam, aku akan sakiti papamu!" Anggita berkata dengan tajam. sangat berbanding terbalik dengan tatapan penuh gairahnya beberapa saat lalu. Rama menghela napas panjang. Ia merasa muak dengan tingkah perempuan itu. "Itu hakku dan aku bebas melakukan apa pun. Soal menyakiti papaku? Kamu yakin bisa?" ledek Rama sembari melangkah mendekat, bahkan sengaja merapatkan tubuhnya ke arah Anggita. Anggita sedikit gemetar, namun ada rasa takjub yang menyelinap saat melihat wajah tampan itu berada begitu dekat di hadapannya. “Kamu hanya anak yang baru muncul setelah dewasa. Kami yang berhak menentukan soal harta itu! Pergilah, atau kami akan terus membuatmu tidak nyaman di sini!” desaknya, berusaha menekan Rama agar mundur. Rama berdecak. Sikapnya benar-benar sudah berubah; ia bukan lagi pria lemah yang dulu. "Kamu lupa siapa aku? Aku putra dari Tuan Tansri, kolega terbesar di Malaysia ini!" Rama memperjela
Ia mengambil foto itu, menyingkirkan pecahan kaca yang menghalangi gambarnya. Ia menatapnya kembali, menelisik dengan saksama. "Tapi ini sangat mirip dengan Ibu? Apa ini keluarganya juga? Tapi kenapa aku enggak pernah tahu?" ucapnya lagi. Keningnya menyengrit, merasakan kebingungan yang luar biasa. "Ah, sudahlah!" Akhirnya ia bangkit, meninggalkan foto itu tergeletak begitu saja di lantai. Setelah selesai mengeruk semua uang yang ada di lemari, Nadia melangkah keluar dengan senyum yang merekah. "Bi, tolong bersihkan pecahan kaca itu ya. Buang ke tong sampah, semuanya!" titah Nadia tanpa menatap sang bibi yang sedang mengepel lantai di lantai bawah. "Iya, Non!" Setelah selesai mengepel lantai yang luasnya minta ampun, Nunu langsung bergegas ke atas membawa sapu beserta pengki. Ia masuk ke dalam kamar Alya sambil menggeleng kecil. "Non Nadia ini sifatnya sangat jauh berbeda dengan Nyonya Alya," bisiknya sambil berjongkok memunguti beling ke dalam pengki. Ia sempa
Waktu seolah mengecil. Masa-masa mengunjungi toko bunga mendiang ibu Rama telah usai. Alya adalah orang yang paling berat melepaskan kenangan di sana. Ia menatap bangunan tua itu berkali-kali dengan pandangan berat, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil jemputan yang dikirim oleh Tansri. Di dalam mobil, keheningan menyelimuti. Alya menatap lurus ke arah jalanan Eropa yang mulai menjauh, hingga ia merasakan tangan hangat dan kekar Rama menyelusup masuk, menggenggam jemarinya erat. Alya menoleh, mendapati wajah Rama yang tampak gelisah. "Kenapa, Bu? Apa Ibu keberatan jika kita lanjut ke Malaysia?" tanya Rama pelan. Alya menggeleng pelan, namun kemudian mengangguk tipis. Rama mengernyit bingung. "Maksud Ibu?" "Sepertinya Ibu harus pulang duluan, Ram. Terlalu lama Ibu meninggalkan Nadia sendirian di rumah," ucap Alya lirih. "Ibu juga takut... bagaimana perasaan ibu tiri dan saudara tirimu nanti jika melihatmu datang bersama mertuamu, bukan istrimu?" Rama terdiam. Ia ingin m
"Ram, ah! Kamu ini kebiasaan!" desah Alya mencoba protes. Namun, alih-alih mendengarkan, Rama justru dengan sigap membopong tubuh sintal mertuanya itu. Alya kembali memekik kaget, jantungnya berdegup kencang antara takut dan gairah yang meluap. Rama melangkah mantap, seolah sudah hafal setiap sudut dan celah di dalam toko bunga peninggalan ibunya itu. Ia hendak membawa Alya masuk ke sebuah ruangan pribadi di bagian belakang, namun langkahnya terhenti seketika. Ting! Suara lonceng pintu depan berbunyi nyaring, menandakan ada pelanggan yang masuk. Alya mendesah kesal, segera merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Rama menurunkan tubuh Alya dengan berat hati, lalu menggandeng tangannya menuju bagian depan toko. Ternyata, sosok yang datang adalah Lucia. "Ram, halo..." sapanya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi, tak ada lagi sisa-sian keangkuhan yang ia tunjukkan beberapa hari lalu. Alya, yang pada dasarnya tidak pernah benar-benar bisa membenci seseorang, langsun
Malam yang sunyi di Kuala Lumpur . Ia baru saja merebahkan diri, menatap langit-langit kamar hotel sambil menikmati ketenangan yang jarang ia dapatkan. Tak ada Nadia yang cerewet, tak ada makian yang meremehkannya. Namun, kesunyian itu justru memanggil kerinduan mendalam akan sentuhan hangat sang
Keesokan paginya, profesionalitas Rama kembali diuji. Tak ada lagi sisa-sisa kegalauan malam sebelumnya atau bayangan panggilan video panas dengan ibu mertuanya. Rama muncul di ruang pertemuan dengan kemeja yang disetrika rapi dan aura yang sangat berbeda—lebih tajam dan terkendali. Di hadapan T
Rama merasa panas dinginnya semakin menjadi-jadi. "Bu... tolong jangan salahkan aku kalau nanti aku pulang, aku gak akan membiarkan Ibu keluar dari kamar semenit pun." Mendengar itu, Alya tertawa renyah, suara yang terdengar sangat intim dan menggetarkan di telinga Rama. "Itu yang Ibu tunggu, Sa
Setelah beberapa jam hanya diam duduk di kafe, menikmati momen yang tersisa, Rama akhirnya bangkit dan memutuskan untuk pulang. Sesampainya di hotel, saat ia baru saja hendak memasuki kamarnya, Rama berpapasan dengan seorang perempuan tua—wajah yang langsung ia kenali. Perempuan itulah yang perta