Mag-log in"Ram, ah! Kamu ini kebiasaan!" desah Alya mencoba protes. Namun, alih-alih mendengarkan, Rama justru dengan sigap membopong tubuh sintal mertuanya itu. Alya kembali memekik kaget, jantungnya berdegup kencang antara takut dan gairah yang meluap. Rama melangkah mantap, seolah sudah hafal setiap sudut dan celah di dalam toko bunga peninggalan ibunya itu. Ia hendak membawa Alya masuk ke sebuah ruangan pribadi di bagian belakang, namun langkahnya terhenti seketika. Ting! Suara lonceng pintu depan berbunyi nyaring, menandakan ada pelanggan yang masuk. Alya mendesah kesal, segera merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Rama menurunkan tubuh Alya dengan berat hati, lalu menggandeng tangannya menuju bagian depan toko. Ternyata, sosok yang datang adalah Lucia. "Ram, halo..." sapanya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi, tak ada lagi sisa-sian keangkuhan yang ia tunjukkan beberapa hari lalu. Alya, yang pada dasarnya tidak pernah benar-benar bisa membenci seseorang, langsun
Dua hari telah berlalu. Kondisi Rama membaik dengan cepat hingga ia diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Anehnya, sejak Lucia dipanggil oleh Tansri hari itu, wanita bule tersebut tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Bahkan saat Rama dan Alya mengunjungi toko bunga peninggalan mendiang ibu Rama, Lucia tetap tidak terlihat. Alya sempat ingin bertanya, namun rasa sungkan menahannya. Di hotel pun, Lucia seolah hilang ditelan bumi. Alya berusaha menepis prasangka buruk; ia tidak ingin memikirkan hal negatif tentang apa yang mungkin dilakukan besannya terhadap asisten tersebut. "Kenapa, Bu?" tanya Rama yang rupanya menyadari raut gelisah di wajah mertuanya. Alya menggeleng pelan, lalu jemarinya menyentuh satu tangkai bunga lili yang putih bersih. "gak apa-apa, Ram. Bunga ini cantik sekali..." "Bawa saja, Bu. Jika Ibu mau, aku akan memenuhi seluruh mansion kita dengan bunga lili seperti ini," sahut Rama sungguh-sungguh. Alya terkekeh, namun ia menyimpan kembali bunga
Ceklek. Pintu kamar rawat inap itu kembali terbuka. Ketiganya menoleh serentak. Sosok Tansri berdiri di sana dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Sang ayah akhirnya sampai. "Ram, bagaimana kabarmu?" tanya Tansri seraya menduduki kursi yang diberikan oleh Alya. Alya sendiri memilih untuk berdiri, memberikan ruang bagi ayah dan anak itu. "Terima kasih, Al," ucap Tansri singkat pada besannya. Alya hanya menunduk dan mengangguk sopan, Lucia mengerang dalam hati; ia merasa kalah cepat dalam mengambil hati sang tuan besar. "Papa mau bicara," ucap Tansri sengaja menggunakan bahasa Inggris agar Lucia mengerti bahwa pembicaraan ini bersifat pribadi. "Kalau begitu, kami permisi dulu, Tuan," sahut Lucia cepat. Ia khawatir Alya akan kembali mencuri perhatian Tansri jika mereka tetap di sana. "Pa, saya keluar dulu," pamit Alya yang langsung disambut anggukan oleh Tansri. Setelah pintu tertutup rapat, Tansri menatap tajam ke arah pintu kayu tersebut. "Ada apa, Pa?" tanya Rama pelan.
Matahari mengintip malu-malu di balik cakrawala, menyinari sisa-sisa amukan badai salju yang semalam suntuk melumpuhkan kota-kota di Eropa. Gedung-gedung megah kini tertutup jubah putih yang tebal, membeku dalam keheningan pagi. Di dalam kamar rumah sakit yang hangat, Rama perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah lembut Alya . Senyum manis tak pernah luruh dari bibir mertuanya itu, seolah berusaha menghalau sisa-sisa ketegangan semalam. Dokter mengatakan Rama mengalami hipotermia ekstrem. Beruntung, Lucia sigap menghubungi layanan darurat dan membawanya ke rumah sakit tepat saat Rama tumbang di tengah badai. "Bu... masih marah?" tanya Rama dengan suara yang sangat lemah. Alya menggeleng pelan. Ia menyendokkan makanan rumah sakit yang hambar itu ke mulut Rama. "Tidak, Sayang. Sudahlah, lupakan saja. Maafin Ibu, ini semua salah..." "Salahku!" sela Rama cepat, menatap mata Alya dengan intens. Alya terdiam sejenak, namun senyumnya kembali merekah meski t
Lucia sudah berdiri mematung tak jauh di belakang Rama. Dan benar saja, sosok di depan pria itu memang Alya. "Ram?" lirih Alya. Suara itu seketika menarik fokus Rama kembali pada perempuan di hadapannya. Hening melanda. Situasi semakin kacau dan menyesakkan. Rama kini terhimpit di antara dua perempuan; yang satu lokal, yang satu bule, sementara badai salju mulai mengamuk tanpa ampun. Tubuh kokoh Rama yang sudah dipaksakan bergerak melampaui batas, ditambah syok suhu ekstrem yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, akhirnya mencapai titik nadir. Pertahanannya runtuh. Bruk! "RAMA!" pekik kedua perempuan itu bersamaan saat melihat tubuh Rama ambruk ke atas tumpukan salju yang dingin. **** "Mana uangnya? Mau bayar pakai uang atau tubuh? Aku hanya memberikan dua pilihan yang sebelumnya kamu tawarkan padaku!" Suara Indra memantul dingin di dinding mansion mewah milik Nadia—tempat yang seharusnya menjadi zona nyaman Rama. Setelah berbagai pertimbangan pelik, Nadia ak
Rama mendadak menghentikan langkah. Jantungnya yang sempat mencelos kembali berdenyut perih saat menyadari sosok yang ia dekati ternyata bukan Alya. Perempuan asing itu menoleh dengan raut kaget, mendapati wajah Rama yang sudah sepucat mayat. "Are you okay, Mister?" tanya perempuan itu khawatir. Rama membalas dengan anggukan kaku. “Yes, I’m okay,” jawabnya singkat. Ia segera meminta maaf sedalam-dalamnya karena telah mengganggu, lalu bergegas menjauh. Namun sebelum pergi, matanya sempat melirik mantel yang dikenakan orang asing itu—begitu mirip dengan yang biasa dipakai ibu mertuanya. Ia mengerang, tangannya terkepal kuat hingga buku jarinya memutih. "Jika aku tak menemukan Alyaku, aku gak akan pernah memaafkan diriku sendiri," lirihnya terengah-engah di tengah hantaman angin yang semakin kencang. "Ya Tuhan, Kamu di mana, Bu?!" batinnya menjerit. Ia mendongak, menatap langit yang mulai memuntahkan butiran salju ke wajahnya yang membeku. Rama kehilangan arah. Tak ada ja
Saat aku menoleh, ternyata Ibu mertuaku sudah berdiri di sana. Entah sejak kapan ia mematung, menatapku dengan tatapan yang dipenuhi rasa iba. Rasanya aku ingin menghilang saat itu juga; malu karena ia harus menyaksikan betapa hinanya aku diperlakukan oleh putrinya sendiri. "Ram..." panggilnya
Ningsih tergagap. Kata-kata Rama seolah menghantam dadanya bertubi-tubi. Sudah kepalang basah, pikirnya. Ia menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak, lalu menjawab dengan dingin, “Ibu… nggak tahu.” Rama bangkit berdiri. Wajahnya menegang, sorot matanya penuh amarah. “Bagaimana bisa, Bu
"Mas? Apa kamu di dalam?" Suara Nadia terdengar sangat dekat, hanya terhalang selembar pintu kayu yang tipis. Jantungku berdegup kencang, namun gairahku jauh lebih dominan. Tepat saat gagang pintu bergerak, aku memasukkan pusakaku ke dalam liang surganya dalam satu hentakan kuat. Alya membelalak
"Kenapa ikut masuk?" tanya Alya dengan suara bergetar, ia mundur selangkah sambil menghapus air mata di pipinya yang memerah. "Bu, tolong... dengarkan aku dulu!" potong Rama cepat. Tanpa menunggu persetujuan atau jawaban dari Alya, Rama menumpahkan segalanya. Ia menceritakan kejadian di Malay







