Share

RAMA MULAI BANGKIT

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-02-26 21:54:27

Rama menggeleng pelan. Ia menggenggam jemari Alya dengan lembut, menghapus bulir air mata yang jatuh di atas pipi mulus mertuanya itu.

​"Enggak, Bu. Tapi aku gak enak kalau harus selalu pakai black card beliau. Aku juga mau membuktikan semuanya bu. mau Sampai kapan aku harus diam saat terus-menerus direndahkan Nadia?"

Alya terdiam beberapa detik, menatap Rama dalam-dalam.

“Lalu?” tanyanya pelan.

Rama mengernyitkan dahi. “Lalu?” ia mengulang, bingung dengan maksud pertanyaan itu.

Alya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   ANTARA IBU DAN SAUDARA TIRI

    Ia mengambil foto itu, menyingkirkan pecahan kaca yang menghalangi gambarnya. Ia menatapnya kembali, menelisik dengan saksama. ​"Tapi ini sangat mirip dengan Ibu? Apa ini keluarganya juga? Tapi kenapa aku enggak pernah tahu?" ucapnya lagi. Keningnya menyengrit, merasakan kebingungan yang luar biasa. ​"Ah, sudahlah!" ​Akhirnya ia bangkit, meninggalkan foto itu tergeletak begitu saja di lantai. Setelah selesai mengeruk semua uang yang ada di lemari, Nadia melangkah keluar dengan senyum yang merekah. ​"Bi, tolong bersihkan pecahan kaca itu ya. Buang ke tong sampah, semuanya!" titah Nadia tanpa menatap sang bibi yang sedang mengepel lantai di lantai bawah. ​"Iya, Non!" ​Setelah selesai mengepel lantai yang luasnya minta ampun, Nunu langsung bergegas ke atas membawa sapu beserta pengki. Ia masuk ke dalam kamar Alya sambil menggeleng kecil. ​"Non Nadia ini sifatnya sangat jauh berbeda dengan Nyonya Alya," bisiknya sambil berjongkok memunguti beling ke dalam pengki. ​Ia sempa

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   FOTO SIAPA?

    Waktu seolah mengecil. Masa-masa mengunjungi toko bunga mendiang ibu Rama telah usai. Alya adalah orang yang paling berat melepaskan kenangan di sana. Ia menatap bangunan tua itu berkali-kali dengan pandangan berat, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil jemputan yang dikirim oleh Tansri. ​Di dalam mobil, keheningan menyelimuti. Alya menatap lurus ke arah jalanan Eropa yang mulai menjauh, hingga ia merasakan tangan hangat dan kekar Rama menyelusup masuk, menggenggam jemarinya erat. ​Alya menoleh, mendapati wajah Rama yang tampak gelisah. "Kenapa, Bu? Apa Ibu keberatan jika kita lanjut ke Malaysia?" tanya Rama pelan. ​Alya menggeleng pelan, namun kemudian mengangguk tipis. Rama mengernyit bingung. "Maksud Ibu?" ​"Sepertinya Ibu harus pulang duluan, Ram. Terlalu lama Ibu meninggalkan Nadia sendirian di rumah," ucap Alya lirih. "Ibu juga takut... bagaimana perasaan ibu tiri dan saudara tirimu nanti jika melihatmu datang bersama mertuamu, bukan istrimu?" ​Rama terdiam. Ia ingin m

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   PAPA RAMA?

    ​"Ram, ah! Kamu ini kebiasaan!" desah Alya mencoba protes. Namun, alih-alih mendengarkan, Rama justru dengan sigap membopong tubuh sintal mertuanya itu. Alya kembali memekik kaget, jantungnya berdegup kencang antara takut dan gairah yang meluap. ​Rama melangkah mantap, seolah sudah hafal setiap sudut dan celah di dalam toko bunga peninggalan ibunya itu. Ia hendak membawa Alya masuk ke sebuah ruangan pribadi di bagian belakang, namun langkahnya terhenti seketika. ​Ting! ​Suara lonceng pintu depan berbunyi nyaring, menandakan ada pelanggan yang masuk. Alya mendesah kesal, segera merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Rama menurunkan tubuh Alya dengan berat hati, lalu menggandeng tangannya menuju bagian depan toko. ​Ternyata, sosok yang datang adalah Lucia. "Ram, halo..." sapanya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi, tak ada lagi sisa-sian keangkuhan yang ia tunjukkan beberapa hari lalu. ​Alya, yang pada dasarnya tidak pernah benar-benar bisa membenci seseorang, langsun

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   APAKAH MUNGKIN?

    ​Dua hari telah berlalu. Kondisi Rama membaik dengan cepat hingga ia diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Anehnya, sejak Lucia dipanggil oleh Tansri hari itu, wanita bule tersebut tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Bahkan saat Rama dan Alya mengunjungi toko bunga peninggalan mendiang ibu Rama, Lucia tetap tidak terlihat. ​Alya sempat ingin bertanya, namun rasa sungkan menahannya. Di hotel pun, Lucia seolah hilang ditelan bumi. Alya berusaha menepis prasangka buruk; ia tidak ingin memikirkan hal negatif tentang apa yang mungkin dilakukan besannya terhadap asisten tersebut. ​"Kenapa, Bu?" tanya Rama yang rupanya menyadari raut gelisah di wajah mertuanya. ​Alya menggeleng pelan, lalu jemarinya menyentuh satu tangkai bunga lili yang putih bersih. "gak apa-apa, Ram. Bunga ini cantik sekali..." ​"Bawa saja, Bu. Jika Ibu mau, aku akan memenuhi seluruh mansion kita dengan bunga lili seperti ini," sahut Rama sungguh-sungguh. ​Alya terkekeh, namun ia menyimpan kembali bunga

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   KETAKUTAN DI MATA LUCIA

    Ceklek. ​Pintu kamar rawat inap itu kembali terbuka. Ketiganya menoleh serentak. Sosok Tansri berdiri di sana dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Sang ayah akhirnya sampai. ​"Ram, bagaimana kabarmu?" tanya Tansri seraya menduduki kursi yang diberikan oleh Alya. Alya sendiri memilih untuk berdiri, memberikan ruang bagi ayah dan anak itu. ​"Terima kasih, Al," ucap Tansri singkat pada besannya. Alya hanya menunduk dan mengangguk sopan, Lucia mengerang dalam hati; ia merasa kalah cepat dalam mengambil hati sang tuan besar. ​"Papa mau bicara," ucap Tansri sengaja menggunakan bahasa Inggris agar Lucia mengerti bahwa pembicaraan ini bersifat pribadi. ​"Kalau begitu, kami permisi dulu, Tuan," sahut Lucia cepat. Ia khawatir Alya akan kembali mencuri perhatian Tansri jika mereka tetap di sana. ​"Pa, saya keluar dulu," pamit Alya yang langsung disambut anggukan oleh Tansri. ​Setelah pintu tertutup rapat, Tansri menatap tajam ke arah pintu kayu tersebut. "Ada apa, Pa?" tanya Rama pelan. ​

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   SIAPA YANG SALAH?

    Matahari mengintip malu-malu di balik cakrawala, menyinari sisa-sisa amukan badai salju yang semalam suntuk melumpuhkan kota-kota di Eropa. Gedung-gedung megah kini tertutup jubah putih yang tebal, membeku dalam keheningan pagi. ​Di dalam kamar rumah sakit yang hangat, Rama perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah lembut Alya . Senyum manis tak pernah luruh dari bibir mertuanya itu, seolah berusaha menghalau sisa-sisa ketegangan semalam. ​Dokter mengatakan Rama mengalami hipotermia ekstrem. Beruntung, Lucia sigap menghubungi layanan darurat dan membawanya ke rumah sakit tepat saat Rama tumbang di tengah badai. ​"Bu... masih marah?" tanya Rama dengan suara yang sangat lemah. ​Alya menggeleng pelan. Ia menyendokkan makanan rumah sakit yang hambar itu ke mulut Rama. "Tidak, Sayang. Sudahlah, lupakan saja. Maafin Ibu, ini semua salah..." ​"Salahku!" sela Rama cepat, menatap mata Alya dengan intens. ​Alya terdiam sejenak, namun senyumnya kembali merekah meski t

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   PERTEMUAN

    ​Hari demi hari berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Sikap Rama terhadap Nadia berubah total; ia menjadi sosok yang sangat dingin dan tidak terjangkau. Rama hanya menunjukkan sisi hangat dan manisnya kepada Alya, itu pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi di belakang Nadia. Di depan istrinya, R

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   KECUPAN YANG MENENANGKAN

    Alya membuka pintu kamarnya dengan sisa tenaga yang ada. Tangannya masih bergetar hebat, dan meski ia berusaha menahan isak tangisnya, suara sesenggukan itu tetap lolos, menyayat kesunyian lorong. Air mata yang terus mengalir membasahi pipinya membuat sosok wanita berdarah Belanda itu tampak begit

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   TANTANGAN KECIL

    ​"Ngapain bawa dia?!" teriak Nadia lagi, suaranya melengking tinggi membuat semua orang di ruangan itu spontan berdiri. ​"Nadia, kamu datang-datang kenapa teriak-teriak? nggak sopan!" sela Alya muak dengan sikap putrinya yang semakin tak tahu tatakrama. ​Nadia menatap nyalang ke arah suaminya, me

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   SEMAKIN RUMIT SAJA

    Setelah mendapat informasi dari rekan kerjanya, Rama benar-benar gelisah. Ia sebenarnya sudah menduga pria itu akan datang ke kantornya, tempat ia bekerja sekarang. Sejak kepulangannya dari Malaysia, Rama bahkan belum pernah menyalakan ponsel utamanya lagi. Ia memilih menghindar, terlalu takut men

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status