LOGINRama mematung. Mulutnya membuka dan menutup, ia tidak tahu harus berkata apa.
"Kasihan sekali kamu," lanjut Alya. "Lelaki sepertimu ... seharusnya tidak disia-siakan begitu."
Rama menelan ludahnya. Ia menjadi canggung seketika.
“Sudah, Ram, habiskan dulu makannya. Biar Ibu sekalian cuci,” ujar Alya, mengalihkan pembicaraan. Melihat wajah Rama yang canggung, Alya seolah paham dengan menantunya. Rama mengangguk cepat dan menghabiskan sisa mi serta jusnya. Alya bangkit menghampirinya, mengambil piring dan gelas kosong, menatanya dengan rapi. Posisi mereka kini sangat dekat—kepala Rama tepat sejajar dengan dada mertuanya. Rama menelan ludah berkali-kali. Akal sehatnya mulai goyah. Malam semakin larut, begitu pula pikirannya yang makin kalut. Akhirnya ia bangkit dan pamit kembali ke kamar, tak lupa mengucapkan terima kasih karena Alya sudah membuatkan mi yang sangat enak. Paginya, Rama terbangun dengan perasaan hambar. Ia bahkan tak mendapati istrinya terbaring di sampingnya. Tanpa perlu bertanya, Rama sudah sangat paham ke mana istrinya pergi sepagi itu. “Sayang?” panggil Rama sambil berdiri di depan pintu kamar mandi. Tidak ada jawaban. Hanya suara gemericik air yang terdengar dari balik pintu. Mau tidak mau, Rama pun turun ke lantai bawah dengan niat menggunakan kamar mandi di sana. Ia melingkarkan handuk di leher, lalu berjalan santai menuju pintu kamar mandi. Namun, tepat saat ia hendak memutar knop pintu, daun pintu itu justru terbuka dari dalam. Ibu mertuanya, Alya, muncul dari balik pintu. Keduanya sontak tersentak kaget. “Astaga!” seru mereka hampir bersamaan.Waktu seolah mengecil. Masa-masa mengunjungi toko bunga mendiang ibu Rama telah usai. Alya adalah orang yang paling berat melepaskan kenangan di sana. Ia menatap bangunan tua itu berkali-kali dengan pandangan berat, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil jemputan yang dikirim oleh Tansri. Di dalam mobil, keheningan menyelimuti. Alya menatap lurus ke arah jalanan Eropa yang mulai menjauh, hingga ia merasakan tangan hangat dan kekar Rama menyelusup masuk, menggenggam jemarinya erat. Alya menoleh, mendapati wajah Rama yang tampak gelisah. "Kenapa, Bu? Apa Ibu keberatan jika kita lanjut ke Malaysia?" tanya Rama pelan. Alya menggeleng pelan, namun kemudian mengangguk tipis. Rama mengernyit bingung. "Maksud Ibu?" "Sepertinya Ibu harus pulang duluan, Ram. Terlalu lama Ibu meninggalkan Nadia sendirian di rumah," ucap Alya lirih. "Ibu juga takut... bagaimana perasaan ibu tiri dan saudara tirimu nanti jika melihatmu datang bersama mertuamu, bukan istrimu?" Rama terdiam. Ia ingin m
"Ram, ah! Kamu ini kebiasaan!" desah Alya mencoba protes. Namun, alih-alih mendengarkan, Rama justru dengan sigap membopong tubuh sintal mertuanya itu. Alya kembali memekik kaget, jantungnya berdegup kencang antara takut dan gairah yang meluap. Rama melangkah mantap, seolah sudah hafal setiap sudut dan celah di dalam toko bunga peninggalan ibunya itu. Ia hendak membawa Alya masuk ke sebuah ruangan pribadi di bagian belakang, namun langkahnya terhenti seketika. Ting! Suara lonceng pintu depan berbunyi nyaring, menandakan ada pelanggan yang masuk. Alya mendesah kesal, segera merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Rama menurunkan tubuh Alya dengan berat hati, lalu menggandeng tangannya menuju bagian depan toko. Ternyata, sosok yang datang adalah Lucia. "Ram, halo..." sapanya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi, tak ada lagi sisa-sian keangkuhan yang ia tunjukkan beberapa hari lalu. Alya, yang pada dasarnya tidak pernah benar-benar bisa membenci seseorang, langsun
Dua hari telah berlalu. Kondisi Rama membaik dengan cepat hingga ia diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Anehnya, sejak Lucia dipanggil oleh Tansri hari itu, wanita bule tersebut tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Bahkan saat Rama dan Alya mengunjungi toko bunga peninggalan mendiang ibu Rama, Lucia tetap tidak terlihat. Alya sempat ingin bertanya, namun rasa sungkan menahannya. Di hotel pun, Lucia seolah hilang ditelan bumi. Alya berusaha menepis prasangka buruk; ia tidak ingin memikirkan hal negatif tentang apa yang mungkin dilakukan besannya terhadap asisten tersebut. "Kenapa, Bu?" tanya Rama yang rupanya menyadari raut gelisah di wajah mertuanya. Alya menggeleng pelan, lalu jemarinya menyentuh satu tangkai bunga lili yang putih bersih. "gak apa-apa, Ram. Bunga ini cantik sekali..." "Bawa saja, Bu. Jika Ibu mau, aku akan memenuhi seluruh mansion kita dengan bunga lili seperti ini," sahut Rama sungguh-sungguh. Alya terkekeh, namun ia menyimpan kembali bunga
Ceklek. Pintu kamar rawat inap itu kembali terbuka. Ketiganya menoleh serentak. Sosok Tansri berdiri di sana dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Sang ayah akhirnya sampai. "Ram, bagaimana kabarmu?" tanya Tansri seraya menduduki kursi yang diberikan oleh Alya. Alya sendiri memilih untuk berdiri, memberikan ruang bagi ayah dan anak itu. "Terima kasih, Al," ucap Tansri singkat pada besannya. Alya hanya menunduk dan mengangguk sopan, Lucia mengerang dalam hati; ia merasa kalah cepat dalam mengambil hati sang tuan besar. "Papa mau bicara," ucap Tansri sengaja menggunakan bahasa Inggris agar Lucia mengerti bahwa pembicaraan ini bersifat pribadi. "Kalau begitu, kami permisi dulu, Tuan," sahut Lucia cepat. Ia khawatir Alya akan kembali mencuri perhatian Tansri jika mereka tetap di sana. "Pa, saya keluar dulu," pamit Alya yang langsung disambut anggukan oleh Tansri. Setelah pintu tertutup rapat, Tansri menatap tajam ke arah pintu kayu tersebut. "Ada apa, Pa?" tanya Rama pelan.
Matahari mengintip malu-malu di balik cakrawala, menyinari sisa-sisa amukan badai salju yang semalam suntuk melumpuhkan kota-kota di Eropa. Gedung-gedung megah kini tertutup jubah putih yang tebal, membeku dalam keheningan pagi. Di dalam kamar rumah sakit yang hangat, Rama perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah lembut Alya . Senyum manis tak pernah luruh dari bibir mertuanya itu, seolah berusaha menghalau sisa-sisa ketegangan semalam. Dokter mengatakan Rama mengalami hipotermia ekstrem. Beruntung, Lucia sigap menghubungi layanan darurat dan membawanya ke rumah sakit tepat saat Rama tumbang di tengah badai. "Bu... masih marah?" tanya Rama dengan suara yang sangat lemah. Alya menggeleng pelan. Ia menyendokkan makanan rumah sakit yang hambar itu ke mulut Rama. "Tidak, Sayang. Sudahlah, lupakan saja. Maafin Ibu, ini semua salah..." "Salahku!" sela Rama cepat, menatap mata Alya dengan intens. Alya terdiam sejenak, namun senyumnya kembali merekah meski t
Lucia sudah berdiri mematung tak jauh di belakang Rama. Dan benar saja, sosok di depan pria itu memang Alya. "Ram?" lirih Alya. Suara itu seketika menarik fokus Rama kembali pada perempuan di hadapannya. Hening melanda. Situasi semakin kacau dan menyesakkan. Rama kini terhimpit di antara dua perempuan; yang satu lokal, yang satu bule, sementara badai salju mulai mengamuk tanpa ampun. Tubuh kokoh Rama yang sudah dipaksakan bergerak melampaui batas, ditambah syok suhu ekstrem yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, akhirnya mencapai titik nadir. Pertahanannya runtuh. Bruk! "RAMA!" pekik kedua perempuan itu bersamaan saat melihat tubuh Rama ambruk ke atas tumpukan salju yang dingin. **** "Mana uangnya? Mau bayar pakai uang atau tubuh? Aku hanya memberikan dua pilihan yang sebelumnya kamu tawarkan padaku!" Suara Indra memantul dingin di dinding mansion mewah milik Nadia—tempat yang seharusnya menjadi zona nyaman Rama. Setelah berbagai pertimbangan pelik, Nadia ak
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa sangat kontras. Nadia masih melanjutkan daftar tuntutannya sambil sibuk memoles kuku, sementara Alya hanya terdiam memperhatikan Rama dengan tatapan yang penuh kasih namun menyimpan kesedihan mendalam. "Mas, ingat ya, pokoknya daftar yang aku kirim di W***
“Hah…” terdengar helaan napas panjang dari Putri. “Aduh, nafasku terasa sangat sesak, benar-benar tertahan. Pria itu memiliki wibawa yang luar biasa,” ucapnya lagi setelah melihat Tan Sri beserta para anak buahnya pergi. Rama menoleh sekilas, hanya menanggapi dengan senyum tipis. “Baru kali in
Beruntung, insting Alya sangat tajam. Sebelum Nadia benar-benar melangkah masuk, Alya sudah berdiri tegak dan bergerak menuju meja kerja Rama, seolah-olah sedang merapikan beberapa dokumen yang berserakan. "Ini lho, Nad... Ibu cuma mau memastikan dokumen-dokumen penting Suamimu nggak ada yang keti
Ketiganya bersiap menemui tamu kehormatan itu. Suara decit ban mobil terdengar nyaring di pelataran gedung. Dari balik kaca, tampak seorang pria matang turun dengan langkah mantap. Usianya hampir menginjak lima puluh tahun, namun posturnya tetap tegap dan berwibawa. Rambutnya yang mulai memutih







