LOGINKeadaan di dalam mansion mewah itu kian mencekam. Gigi Nadia bergemertak, rahangnya mengeras menahan amarah yang membuncah. Dengan gerakan kasar, ia mencoba menyentakkan tangannya, berharap cengkeraman Ambar terlepas. Namun, tenaga Ambar jauh lebih kuat dari dugaannya. Dengan satu gerakan taktis, Ambar memelintir tangan Nadia ke belakang punggung—sebuah pitingan kuat yang membuat Nadia memekik kesakitan. "Mas! Apa kamu bodoh atau bagaimana?! Kenapa kamu diam saja melihat istrimu diperlakukan seperti ini oleh orang asing?!" teriak Nadia histeris. Matanya tertuju pada Rama yang berdiri mematung, hanya menonton perdebatan itu seolah sedang menikmati pertunjukan komedi yang hambar. Rama menatap Nadia dengan pandangan sedingin es. "Ini konsekuensinya, Nadia. Kamu berhak memakiku semuamu, tapi jangan harap ada bantuan dariku. Hadapi semuanya sendiri. Bukankah kamu begitu hebat melakukan pengkhianatan di belakangku selama bertahun-tahun tanpa merasa perlu memberitahuku?" Jawaban teg
"Kamu tidak akan pernah tahu siapa saya, tapi yang jelas, kamu tahu siapa bosmu di kantor itu, perempuan sialan!" pekik Ambar tajam. Pernyataan itu seketika membuat seisi rumah terperangah. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan sejenak sebelum Ambar melanjutkan serangannya. "Kenapa kaget?" Ambar menyeringai, lalu mendorong kuat bahu Nadia hingga wanita muda itu nyaris terjungkal. "Nyonya... Ambar?" lirih Nadia. Napasnya tercekat. Ia tidak percaya istri dari bosnya—wanita yang dikenal sangat dingin, berkuasa, dan kaya raya itu—turun tangan sendiri menghampirinya ke sini. Senyum kemenangan terpancar di wajah Ambar, membuat Nadia mati kutu. Lidahnya terasa kelu, seolah seluruh kata makian yang ia siapkan menguap begitu saja. "Kamu itu hidup di bawah bayang-bayang harta saya! Pria sialan itu sudah saya gugat cerai. Dia tidak punya apa-apa lagi! Dia hanya pengelola, dan sisanya adalah milik saya, termasuk harta yang sudah kamu cicipi selama ini!" ucap Ambar tegas, menatap
"Siapa Anda sebenarnya? Kenapa Anda bisa tahu nama saya?!" tuntut Rama sekali lagi, suaranya memberat, berusaha menjaga wibawa di rumahnya sendiri. Alih-alih menjawab, perempuan matang itu justru terkekeh pelan. Sebuah tawa hambar yang menyiratkan kebencian mendalam. Matanya yang tajam bak elang kini menyisir ke arah tangga. "Di mana istrimu itu?!" desisnya penuh penekanan. "Dia sedang tidur! Jangan ganggu anak saya!" sela Alya tegas, mencoba menghalangi langkah wanita asing tersebut. Namun, sebelum Alya sempat mengusirnya, perempuan itu justru berlari menerjang ke arah tangga. Alya berusaha mengejar, namun rasa nyeri di kakinya kembali menusuk, membuatnya tersentak dan nyaris tumbang. Rama yang melihat itu langsung sigap merangkul mertuanya. "Ibu jangan paksakan! Biar aku yang urus!" ucapnya sebelum melesat mengejar tamu tak diundang tersebut. "Nadia! Di mana kamu, Nadia?!" Teriakkan perempuan itu menggema di seluruh penjuru mansion, penuh dendam seolah ingin mengu
Setelah badai masalah mereda, Rama kembali tenggelam dalam tumpukan pekerjaannya. Matanya fokus memantau data di layar, membereskan setiap detail yang kurang. Untuk saat ini, rencana ke Malaysia ia hapus jauh-jauh dari agendanya. Sementara itu, Alya sibuk mengurus Nadia. Putrinya itu masih terkapar tak berdaya, tak sadarkan diri akibat pengaruh alkohol yang dikonsumsinya semalam suntuk. Perut Rama mulai berbunyi keroncongan. Biasanya, Alya selalu sigap menyiapkan sarapan, namun kali ini wanita itu lupa karena terlalu sibuk mengurus anaknya yang manja. Bahkan, sesekali Nadia mengigau, menyebut-nyebut nama bosnya dengan suara serak. Alya memijat pelipisnya, merasa Nadia sudah hampir gila. "Bagaimana mungkin dia terus memanggil orang lain dibanding suaminya sendiri?" lirih Alya, menatap nanar ke arah putri angkatnya itu. Ceklek. Pintu kamar terbuka. Rama muncul di ambang pintu, menatap Alya dan Nadia bergantian. "Aku pesan makanan online saja ya, Bu? Ibu mau makan apa?" tany
Semua foto yang sempat diunggah Nadia bulan lalu tak luput dari ribuan hujatan dan hinaan. Mata Rama terbelalak, namun terselip rasa puas yang mendalam. Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya. Ia membaca setiap komentar jahat itu seolah itu adalah untaian pujian yang memberinya kekuatan.Tiga tahun, hampir empat tahun ia diinjak oleh Nadia. Ditekan, dihina, dicaci maki, bahkan dibanding-bandingkan. Hal itu sukses membuat hati Rama mati dan membeku untuk istrinya sendiri. Ia memang sudah memilih satu prinsip:jalani saja sampai benar-benar lelah…agar nanti, tak ada lagi sisa cinta yang tertinggal."Perempuan murahan! Lonte! Cih, murahan sekali. Aku lihat di akun anonim isinya foto dan video dia... ternyata serendah itu! Akhirnya akun itu mengetag orangnya langsung, jadi kita bisa hujat dia habis-habisan! Ini pelajaran buat para pelakor dan tukang selingkuh!" tulis salah satu komentar."Betul! Bahkan ia menjelekkan ibunya sendiri loh. Kalau gak percaya nih aku bagi link-nya
Akun anonim itu benar-benar berhasil menggerus mental Nadia. Sejak awal, Nadia memang bukan tipe orang yang bisa dijatuhkan dengan kekerasan atau amarah. Titik lemahnya justru ada pada pujian. Ia hidup dari validasi. Selama orang-orang memujinya, ia merasa kuat, percaya diri, dan seolah berada di atas segalanya. Namun begitu pujian itu hilang—digantikan oleh hujatan dan cibiran—dunianya runtuh seketika. Kepercayaan dirinya hancur. Yang tersisa hanyalah sosok rapuh… kehilangan pegangan, kehilangan harga diri, dan tak lagi tahu bagaimana cara berdiri. Rama hanya terdiam, menyaksikan pemandangan itu tanpa kata. Di dalam hatinya, ia dilanda kebingungan—antara merasa iba… atau justru diam-diam berterima kasih pada akun anonim tersebut. Namun, Rama masih belum tega meninggalkan Nadia begitu saja. Kemarin, semua yang ia katakan hanyalah gertakan. Ia ingin melihat sejauh mana keangkuhan istrinya bertahan saat dihantam masalah sebesar ini. Dan hasilnya… Sama saja. Ego N
Ia meraih ponsel, menatap layar beberapa detik, lalu akhirnya menekan nomor Nadia. Nada sambung terdengar panjang. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga entah panggilan ke berapa, akhirnya diangkat. “Ada apa, Mas?” suara Nadia terdengar datar, bahkan cenderung ketus. “Kamu kenapa belum pulang?” ta
Nadia menoleh cepat. Alisnya berkerut, ada kesal, dan heran, tapi juga sebersit gelisah yang tak sempat ia sembunyikan. “Kamu kenapa sih ngomongnya kayak gitu?” balasnya. “Kehilangan apaan? Kamu tuh drama.” Ia terkekeh hambar, berusaha menganggapnya bercanda. “Ya biasa aja lah, Mas. Emang kena
Tak terasa, mereka tiba di sebuah rumah besar dan mewah yang terletak di kawasan strategis. Di sampingnya berdiri sebuah butik yang tampak elegan meski belum sepenuhnya beroperasi. Rama tertegun saat mobil berhenti. Kekagumannya pada mertuanya semakin bertambah—Alya adalah sosok wanita yang muda, ma
Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil mendadak berubah menjadi sangat dingin dan serius. Alya menatap lurus ke depan, jemarinya bertautan erat, sebelum akhirnya ia menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan keberanian yang sudah dipendamnya selama puluhan tahun. “Ram,” panggil Alya







