로그인Langkah Aurin mendadak tertahan di ambang pintu. Di hadapannya, berdiri Rita Wisesa—ibunya Rayden. Meski belum pernah bertemu Rita sebelumnya, tapi Aurin pernah melihat sosok wanita ini ada di foto dekat ruang keluarga. Ia pun menebak demikian.
“Mengapa wajahmu merah?” tanya wanita itu sambil terus mendekat.Suara ketukan sandal hak tahu milik Rita beradu dengan lantai marmer yang mengkilap, menggema tajam ke seluruh ruangan, serta menciptakan irama yang sangat menekan ment“Aurin, ada yang salah?”“Ah! Iya, iya, tidak apa-apa.”Panggilan keras Rayden menyadarkan Aurin dari lamunannya.Mata Aurin berkedip-kedip bingung, ia menyahut tergagap.“Yakin perutmu tidak apa-apa?” tanya Rayden lagi, memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Aurin tersenyum canggung, “Iya, Tuan, saya baik-baik saja.”Meski begitu, Rayden mendecakkan lidahnya pelan. Lalu, ia menghela napas. Ia juga menyeletuk, “Akhir-akhir ini, kamu aneh.”“A-aneh?” Aurin menatap Rayden takut-takut. “Aneh bagaimana, Tuan? Saya … baik-baik saja. Sungguh.”“Entahlah,” tanggap Rayden tak acuh. “Kamu sering sekali melamun dan bengong di dekat saya. Kenapa? Takut sama saya yang agak galak ini?”Pertanyaan itu membuat Aurin panik. “I-iya, Tuan … eh, bukan! Bukan! Bukan itu maksud saya, Tuan!”Rayden mendengus mendengar jawaban jujur itu. Sudut bibirnya berkedut, sedikit terangkat. Aneh sekali rasanya sa
“Kalau tidak apa-apa, kenapa suhu tubuhmu dingin?” Rayden menunggu reaksi Aurin, tapi Aurin justru bungkam entah karena apa. Maka, Rayden melanjutkan, “Atau kamu butuh yang hangat-hangat dulu?” Di sisi lain, Aurin sebenarnya sedang nge-lag. Apa maksud Rayden menanyakan yang ‘hangat-hangat’? Apa pria itu akan memberinya … pelukan hangat, atau lebih dari sekedar itu? Atau … ini kode dari Rayden? Pria itu mungkin … mengajaknya seranjang bersama. Bisa jadi, ‘kan? Entahlah, Aurin tidak tahu. Rasanya tidak mungkin. Ia juga tidak mau GeeR. Aurin pun menggeleng, “T-tidak, Tuan. H-hanya saja, AC mobil ini terlalu dingin.” “Oh, syukurlah. Kukira kenapa ….” Rayden mengucap syukur, lega karena Aurin tak ada keluhan. Ia lantas menepuk pundak Jack dan bilang, “Turunkan suhu AC mobil, dia k
“Mana yang sakit?” Rayden datang dengan langkah tergesa-gesa. Begitu sampai di dekat ranjang, ia langsung memegang perut Aurin, meraba-raba, mencoba merasakan kehadiran tiga bayinya. Saat tak ada gerakan apapun, pria iru semakin resah. Nadanya terdengar kian mendesak, menuntut kejelasan sedetail-detailnya, “Perutmu sakit, kram, atau semacamnya?” Aurin, yang saat itu ketakutan dengan perubahan sikap majikannya, beringsut menjauh. Perhatian ini bukan seperti yang ia harapkan. “T-tuan, saya baik-baik saja, sungguh.” Rayden tersinggung saat Aurin menjauhinya. Ia naik ke atas ranjang dan mengejar wanita itu yang hendak berlari. “Kamu … yakin?” Mengangguk, Aurin benar-benar gugup saat itu. “S-saya baik. Kata Dokter Ken, saya hanya—” “Dia hanya memeriksamu di luar tubuh, tapi kondisi di dalamnya dia tidak tahu!” tukas Rayden, menyela ucapan Aurin. Aurin bungkam, ia tak tahu harus berea
“Apa yang kamu lakukan, Dea!” Suara itu membuat Dea menelan ludah, gugup. Di sana, Rayden menyorotnya. Saat Rayden berjalan ke arah Dea, tatapan pria itu mengeras, tajam, dan menusuk, seolah ingin menelan Dea bulat-bulat. Dea melihat Rayden berada tepat di samping Aurin. Ia pun beralasan, “Dia … memijatku terlalu keras. Aku hanya memperingatkannya.” “Cukup!” Rayden menyela, cepat dan tak memberi Dea mengungkapkan alibinya. Rayden, yang cemas akan bayinya, segera menolong Aurin. Dia menopang tubuh wanita itu dengan kedua lengan kekarnya. Sambil membawa Aurin berdiri, ia mengutuk perbuatan Dea. “Kenapa kamu tidak menjaga sikap, huh? Aurin itu ha—” “Siapa yang harus menjaga sikap, huh?” Dea memotong lantang. “Aku atau kamu?” Rayden bungkam. Hampir saja ia salah bicara. Dea semakin menjadi. Sambil memegangi tiang infus, ia berjalan mendekati Rayden, lal
“Mana suamiku, Rega? Kenapa dia tidak di sini?” ucap Dea ketika melihat asisten pribadi Rayden masuk ke dalam kamar ini, tapi Rayden tak bersamanya.Rega menjawab, ekspresinya dingin. “Beliau ada di kamar sebelah, Nyonya.”Tubuh Dea menegang. “Di kamar Aurin?”“Bukan, Nyonya. Ada di kamar depan sana.” Menggeleng, Rega jabarkan semuanya pada Dea, mengenai Rayden yang mual dan muntah hebat, kemudian Rayden yang hampir pingsan.Setelah itu, Dea membiarkan Rega pergi dengan perasaan malu luar biasa. “Sial! Jadi, Rayden melihatku saat … aaaaaargh!”Dea tak melanjutkan ucapannya. Ia segera menjambak rambutnya, frustasi.Jelas saja Rayden mual dan muntah melihatnya dalam kondisi menjijikkan seperti itu.Saat ini, Dea sebenarnya ingin menemui Rayden di kamar sebelah. Tapi, dokter bilang ia tidak boleh pergi kemana-mana lantaran kondisinya sangat lemah.Hingga akhirnya, Dea hanya pasrah menunggu sambil menatap selang inf
“Dea! Buka pintunya!”Rayden menggedor pintu berulang-ulang. Nadanya memang terdengar mendesak, namun yang ia lakukan justru jauh dari kata khawatir sungguhan. Pria itu hanya bersandar pada samping kusen pintu kamar mandi. Satu tangannya mengetuk-ngetuk pintu dengan keras, seolah terburu-buru. Padahal, Rayden hanya sedang berakting. Dia berusaha menunjukkan kesan prihatin dan cemas pada wanita yang ada di dalam sana.Di balik topeng itu, batinnya justru terkikik kegirangan. Akhirnya, ia bisa membalaskan rasa kesalnya satu persatu pada Dea. Dan rasa mulas dari obat pencahar itu, hanyalah permulaan yang manis.Mendengar tidak ada sahutan dari dalam, Rayden memilih kembali menggedor untuk memastikan apakah Dea sudah parah atau belum.“Dea! Dea, kamu dengar aku? Kenapa pintunya dikunci?” Suara Rayden terdengar keras, sengaja dibuat bergetar seolah ia panik. Tak lupa ia juga menekan handle pintu ke bawah secara berulang-ul
“Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Ahhh …. Jangan hanya diam dan menatapku seolah aku ini monster,” bisik Rayden. Jari jemarinya yang kasar membelai paha Aurin dan memberikan tekanan yang menuntut. “Tunjukkan padaku betapa kamu menginginkanku. Kendalikan aku sesuka hatimu atau kamu akan menyesali hukuman yang kuberikan nanti ka
“Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.







