Se connecter“Pelet apa yang kamu gunakan untuk memikat hati suamiku—sampai dia begitu perhatian sama kamu?”
Deg! Aurin mencelos, jantungnya serasa berhenti berdetak-detik itu juga. Tuduhan sang majikan sama sekali tak berdasar, menciptakan rasa sesak yang kian menghujam dadanya. Kini, ia mencoba mengatur nafasnya yang mulai memburu. Aurin memberanikan diri menatap Dea tepat di manik mata. Ia mencoba menyelami apa yang s“Apa? Itu tidak mungkin! Rayden tidak mungkin selingkuh! Aku tahu itu!” Dea selalu menempatkan orang-orang terpercaya di samping Rayden. Mereka ada di bawah kuasanya, dan mereka melapor kalau Rayden tak pernah mengkhianatinya. Vince tersenyum miring. “Mungkin saja! Apa kamu menjamin suamimu setia padamu, dan hanya meniduri Aurin saja?” Agaknya, ucapan Vince mulai mempengaruhi Dea. Vince pun melanjutkan dengan nada sarkas. “Pikirkan juga kemungkinan itu, jangan terlalu denial!” Dea mendekati Vince, mencengkeram kerah kaos pria itu kasar hingga pria itu terdorong ke depan. “Dengar aku baik-baik, Vince! Rayden sutin melakukan skrining kesehatan, bahkan kami berdua melakukannya setiap bulan! Setiap bulan! Jadi, dia tidak mungkin tertular!” Suara Dea bergetar menahan amarah dan takut—terlalu takut kalau sampai yang diucapkan Vince itu benar adanya. “Bahkan saat kami melakukan program
“Ah!” Dea terjatuh. Tamparan Vince terlalu kuat. Tubuhnya terlempar ke samping, dan rasa perih menjalar dari pipi ke hati. Tak terima dengan perlakuan Vince yang kasar, Dea menyambar buat telepon Kak di atas meja lalu melemparkannya ke dinding di belakang Vince. Cairan bening memercik bersamaan dengan serpihan kaca yang berhamburan ke lantai. Nafasnya ikut memburu, dan kedua matanya basah oleh panik yang mulai berubah menjadi histeria. “Arrrrgh!” Tidak hanya itu saja. Ia juga meraih vas keramik yang ada di atas nakas, lalu membantingnya ke lantai tanpa ragu. Disusul dengan lampu tidur, pigura berisi foto Vince dengannya, serta apa saja yang terjangkau oleh tangannya. “Dasar bodoh! Gara-gara kamu, aku bisa mati oleh penyakit ini!” Vince kembali memijat pangkal hidungnya. Pusing di kepalanya semakin menja
“Katakan sama aku! Sejak kapan kamu HIV reaktif, Vince?! Katakan!” Pintu apartemen Vince terbuka setelah Dea memasukkan kata sandi yang sangat ia hafal di luar kepala. Begitu ia menutup pintu dan beranjak lebih dalam, aroma alkohol langsung menyergap begitu saja, tajam, menusuk, bercampur dengan udara pengap yang tak tersentuh ventilasi entah sejak kapan. Ketika ia berjalan ke area kamar, lampu di ruangan itu meredup. Sepanjang langkah, kakinya tersandung oleh botol-botol vodka yang bergelimpangan—persis seperti korban perang yang kalah dalam pertempuran. Tidak hanya vodka saja, tetapi banyak botol alkohol lain yang memiliki kandungan alkohol tinggi. Sebagian botol memang kosong, sebagiannya lagi masih menyisakan sedikit cairan di bagian dasarnya. Setelah Dea masuk ke area kamar, pria yang ia cari ternyata ada di sana. Vince duduk di samping ranjang, kepalanya bersandar lemah pada
“Saya tidak mau turun bersamaan dengan kamu, maaf. Penuh resiko soalnya.” Rayden mengangguk. Ia mengerti kalau ia harus menjaga kebersamaannya bersama Aurin di depan publik. Ia menjawabnya tenang, “Kalau begitu, biar Jack yang mengantarkanmu masuk lewat jalan yang lain. Saya akan pergi dulu bersama Rega.” “Hm, hati-hati,” balas Aurin perhatian. Ia melepaskan telapak tangan pria itu dari genggamannya. Setelahnya, ia tersenyum tipis diiringi tawa kecil yang terasa getir. “Rasanya lucu sekali. Saya merasa seperti barang selundupan terlarang yang harus disembunyikan agar tidak diketahui oleh pihak berwajib. Oh ya ampun! Saya tidak sanggup membayangkan sampai kapan keadaan seperti ini harus terus saya jalani. Apakah selamanya akan begini?” Senyum di wajah rayden perlahan pudar. Dia menatap wajah Aurin lekat, lalu ia mengulurkan tangan untuk mengusap pucuk kepala wanita itu dengan lembut. Ia berusaha menenangkan kegelisahann
“Mengapa kamu murung?” Rayden sungguh tak mengerti kenapa Aurin diam membisu. Seharusnya, Aurin turut berbahagia dan bangga, ‘kan? Aurin telah memberikan apa yang paling diinginkannya—yaitu dua anak laki-laki yang akan menjadi kebanggaannya. Lantas, mengapa wajah wanita itu tampak mendung dan bersedih? Apakah ia tidak senang dengan hasil ini? Rayden bukan tipe pria yang suka berbasa-basi. Ia pun menatap mata Aurin lurus untuk mencari jawaban yang jelas. Ia bertanya dengan nada pelan, namun cukup tegas. “Apa kamu tidak suka kalau anak kembar identik kita berjenis kelamin laki-laki?” “Suka,” jawab wanita itu pelan, kedua matanya masih menatap ke luar jendela, mengamati jalanan yang cukup ramai di kawasan bandara ini. Bagi Aurin, pemandangan di luar sana begitu mempesona, memamerkan kemegahan dan juga ciri khas negeri Timur Tengah yang memukau. Gedung-gedung pencakar langit menju
“Jenis kelaminnya adalah ….” Aurin merasakan jantungnya berdebar tak menentu. Kedua bola matanya terpaku pada layar monitor di hadapannya. Rasa cemas mulai menyusup ke dalam relung dada. Ia takut jika hasilnya kembali perempuan, kekecewaan di wajah Rayden adalah hal terakhir yang ingin ia lihat saat ini. Sementara di sampingnya, Rayden pun tampak menunggu dengan hati yang tak kalah gelisah. Harapan besar tergantung di sana. Meski bibir mengucap ‘perempuan saja tidak masalah’, namun sesungguhnya ia sangat mendambakan anak laki-laki. Jika kelak terlahir sepasang— laki-laki dan perempuan— maka segala hal akan terasa lebih lengkap dan lebih indah. Baby boy-nya kelak akan menjadi pelindung tangguh bagi putri, menjaga dan memposisikan diri sebagai kakak yang posesif—yang akan senantiasa menjaga adiknya bahkan hingga ia tiad
“Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.
Langkah Aurin mendadak tertahan di ambang pintu. Di hadapannya, berdiri Rita Wisesa—ibunya Rayden. Meski belum pernah bertemu Rita sebelumnya, tapi Aurin pernah melihat sosok wanita ini ada di foto dekat ruang keluarga. Ia pun menebak demikian.“Mengapa wajahmu merah?” tanya wanita itu s
“Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R
“Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk







