"Sialan! Memangnya aku percaya dengan pesan seperti ini? Jangan karena Martin orang yang supel bisa kamu ajak seperti itu!" geram Karin melihat pesan Brenda, adik tirinya.
Walau Brenda kadang bermulut besar, tapi sepertinya pesan yang dikirimkan Brenda mengusik hatinya. Dibacanya sekali lagi pesan itu, "Hari ini aku akan bercinta dengan kekasihmu!" Pesan itu singkat, tapi menohok hatinya. "Kali ini, akan aku buktikan, kalau kamu pembual ulung, Brenda!" Digenggamnya erat gawai miliknya karena kesal, dilihat jam dinding sudah hampir waktu jam pulang kerja. Karin pun segera membereskan meja kerjanya. Jam lima sore tepat, Karin sudah bergegas keluar kantor. Taksi yang melintas di jalan raya, segera dipanggilnya. "Apartemen Cempaka Putih!" ujar Karin yang masuk duduk dibelakang supir. "Baik, Nona." Supir taksi melajukan kendaraannya menuju tempat yang dituju Karin, Apartemen Cempaka Putih, tempat Martin tinggal. Dilihatnya jam tangan dan jalanan yang macet, membuat Karin tidak sabar. Dia sudah mencoba menghubungi Martin, tetapi tidak ada jawaban. Pikirannya langsung mengarah pada pesan yang dikirimkan Brenda kepadanya. "Kucing, jika diberi ikan, siapa sih yang tidak tergoda?" Pertanyaan itu sering Karin dengar untuk korban-korban pelakor diluaran sana. Dia hanya berdoa, semoga Martin bukan salah satu pria yang tergoda dengan perempuan gatal seperti Brenda. Karin ingat betul ketika dirinya menerima Martin sebagai kekasihnya, dan menanyakan masalah Brenda dan mencoba membandingkan dengan dirinya. Martin dengan percaya diri menjawab, bahwa dirinya tidak menyukai Brenda, tetapi menyukai dirinya. Itulah yang menyebabkan Brenda bermulut besar berkata kalau bisa merebut Martin darinya. Jika Martin dapat dihubungi dan bisa menjawab sedang berada di kantor, mungkin Karin tidak akan sepanik sekarang ini. Semenjak pesan dari Brenda dibaca, Karin mencoba menghubungi Martin dan ternyata panggilannya tidak dijawab. "Kamu ada dimana, Sayang?" pikir Karin dengan cemas. "Nona, sudah sampai," ucap supir taksi. Karin yang melamun, tersadar kalau dirinya sudah tiba di depan gedung apartemen, "Terima kasih," jawab Karin sambil mengeluarkan dompet dan membayar ongkos taksinya. "Terima kasih, Nona," pamit sang supir. Karin masuk ke dalam lobby dan memencet tombol lift yang berada di samping meja resepsionis. Lift itu menuju lantai tujuh, dimana tempat tinggal Martin berada. Dengan hati bergetar hebat, Karin melangkahkan kakinya menuju apartemen Martin. Dipencet password kunci pintunya dan terbuka. Karin masuk dengan perlahan-lahan. Dilihat apartemen bagian dalam, ruang keluarga, sepi. Bahkan tidak ada Martin maupun Brenda. Hatinya sedikit lega. Namun ketika melihat dua gelas dan sebotol wine di minibar milik Martin, segera Karin berjalan ke kamar Martin. Di depan pintu kamar Martin, ada sepatu berwarna merah tergeletak, maka hatinya kembali bergejolak. Didekatinya pintu kamar itu, dan Karin mendengar desahan seorang perempuan sedang melakukan aktivitas suami istri. Tangan Karin mengepal, matanya menyipit dengan kemarahan. Dibukanya pintu kamar Martin yang tidak terkunci itu. Karin melihat bagaimana Brenda sedang berada dibawah kungkungan Martin tanpa busana sambil mengerang menikmati gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Martin. "Apa yang kalian lakukan!" teriak Karin dan tanpa terasa meneteskan air matanya. "Karin? Sedang apa disini?" tanya Martin terkejut. "Sedang apa katamu? Aku sedang memergoki kalian berselingkuh dibelakangku!" kembali Karin berteriak. Martin melepaskan diri dari Brenda dan mengenakan kembali pakaiannya, sedangkan Brenda menarik selimut dan menutupi tubuhnya. "Dasar brengs*ek!" tunjuk Karin pada Martin. Martin yang dikatakan brengs*ek, tidak terima, mencoba mendatangi Karin untuk memberi penjelasan, "Sayang! Ini salah paham, Sayang! Aku khilaf, aku diberi minuman oleh adikmu! Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa mengeceknya!" bela Martin. Mata Karin langsung menatap tajam pada Brenda yang berdiri dibelakang Martin sambil tersenyum. "Dasar jal*ng!" teriak Karin. Karin hendak menampar pipi Brenda, tapi dicegah oleh Martin. "Hei! Hati-hati berbicara kakak tiri! Bukankah sudah aku bilang, kalau Martin mencintaiku?" ucap Brenda dengan tersenyum. Dia memilin rambutnya dan mendekati Martin. "Apa kamu bilang? Aku mencintaimu? Aku mencintai Karin! Kamu menjebakku, Brenda!" hardik Martin kepada Brenda dengan marah. "Tidak, kamu memang mencintaiku, Martin! Bahkan eranganmu itu menyebut namaku dan bukan menyebut Karin!" Karin melihat pertengkaran dua orang di hadapannya merasa jengah. "Pintar kalian bersandiwara yah? Martin, mulai sekarang kita putus!" ucap Karin membalikkan badannya untuk segera pergi dari apartemen Martin, tapi dengan cekatan, Martin menarik tangan Karin dan memeluknya. "Karin, maafkan aku yah? Aku khilaf. Aku terpengaruh minuman dan obat yang diberikan Brenda padaku. Kamu harus percaya, bahwa cintaku hanya milikmu seorang," rayu Martin. "Khilaf? Sebelum kamu meminumnya, seharusnya kamu sudah bisa menolak Brenda masuk ke dalam apartemenmu!" bentak Karin. Dia merasa jijik dipeluk Martin dan berusaha untuk melepaskannya. "Maafkan aku, Sayang!" mohon Martin. "Khilaf? Kamu menikmatinya, Sayang, tidak ada kata khilaf. Kita sama-sama saling mencintai," protes Brenda pada Martin. Melihat Brenda yang senang dengan keadaan ini, Karin segera melepaskan diri dari Martin. "Kita putus, Martin!" pekik Karin yang mendorong Martin dan menampar pipi Brenda. "Puas? Ambil sampah ini untukmu!" gertak Karin kepada Brenda dengan mata melotot, lalu keluar dari kamar Martin dan berlari keluar apartemen sambil menangis. Di tepi jalan raya, Karin memanggil taksi dan masuk ke dalam jok penumpang sambil menangis. Sang supir menunggu beberapa saat sampai Karin menarik napas lega. "Maaf, Nona, Anda mau diantar kemana?" tanya sang supir yang tidak enak menyela karena Karin masih saja menangis. "Jalan saja dulu, Pak." Sang supir pun mengangguk, mungkin untuk menenangkan hati penumpangnya, sang supir melaju kendaraannya dengan perlahan. Hingga akhirnya Karin sudah merasa tenang, dia melihat sebuah pub dengan neon box besar bertuliskan The Glaze. "Pak, berhenti disini saja," perintah Karin. Supir menepikan kendaraannya dan membukakan pintu untuk Karin. "Baik, Nona, hati-hati," pamitnya. Karin tersenyum berterima kasih. Dilihatnya kembali gedung bertingkat itu, terdapat sebuah pub terkenal yang menyatu dengan hotel bintang lima. "Aku ingin bersenang-senang! Akan aku lupakan si Martin brengs*k itu!" teriak Karin di depan pub The Glaze. "Maaf, Nona, bisa menyingkir sebentar?" tanya seorang satpam menarik Karin agak ke pinggir. "Ada apa yah, Pak?" tanya Karin kaget dirinya disuruh minggir. "Kami mau sterilkan jalan buat bos kami," ucap satpam acuh. Beberapa bodyguard berpakaian serba hitam membentuk barisan sebelah kiri dan kanan. Ditengah-tengahnya, dibuat kosong. Karin hanya bisa memperhatikan apa yang dilakukan para bodyguard itu. Dua buah mobil datang dan menepi di depan pub The Glaze. Pada mobil pertama, salah satu bodyguard membuka pintu penumpang, dan seorang berbadan tambun keluar dengan pakaian jas lengkap. Tangan kanannya memegang cerutu yang baru dinyalakan oleh bodyguard, dan tangan kirinya memegang tongkat. Kumisnya tebal berkalungkan emas mencolok dengan cincin-cincin batu di jari-jari yang gemuk. "Siapa orang itu, sampai harus dibuat barisan bodyguard?" pikir Karin.Safira tersenyum tipis. “Apa aku datang terlalu malam?” katanya, lalu melangkah masuk seolah tidak ada yang aneh.Semua mata tertuju padanya. Keheningan menyelimuti ruangan, dan hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar.Ethan berdiri tegak, sorot matanya tajam menatap mantan istrinya. “Untuk apa kamu datang ke sini, Safira?” suaranya rendah namun dingin.Safira mengangkat dagunya angkuh. “Apa salahnya aku datang ke rumah... suamiku?”“Mantan suamimu,” tegas Ethan. “Kita sudah bercerai. Kamu sendiri yang menghilang, pergi tanpa penjelasan. Sekarang datang-datang seperti tidak terjadi apa-apa?”Safira melangkah lebih dekat, lalu menatap Ethan dengan mata yang nyaris berkaca-kaca, tapi senyumnya masih sama—manipulatif dan penuh ego.Safira melangkah lebih dekat, menatap Ethan dengan sorot mata penuh keyakinan. “Ethan, kamu tidak bisa membohongi aku. Aku tahu kamu masih
Lorong menuju lift rumah sakit terasa dingin dan sunyi. Setelah melihat jenazah Brenda, tak ada lagi kata-kata yang mampu diucapkan. Diam menjadi satu-satunya bahasa yang mereka punya hari ini.Di dalam mobil, suasana tetap senyap. Karin menyandarkan kepalanya di jendela, matanya kosong menatap keluar. Ethan mengemudi dalam hening, tapi sesekali melirik ke arahnya, memastikan wanita yang ia cintai itu masih bertahan.Mobil berhenti di lobi Sky Signature Tower. Ethan mematikan mesin dan memandang Karin.“Kamu yakin nggak mau aku temani ke atas?” tanyanya pelan, suaranya penuh perhatian.Karin menggeleng pelan. “Aku cuma... butuh waktu sendiri sebentar.” Ia menoleh. “Tapi makasih. Karena hari ini kamu menemani.”Ethan menyentuh pipinya, ibu jarinya menyapu lembut bekas air mata yang masih tertinggal. “Kamu nggak sendirian. Aku di sini.”Karin menggenggam tangan Ethan dan menatapnya lekat. Tat
Ethan memacu mobilnya menembus jalanan Jakarta yang padat. Wajahnya serius, jemarinya mencengkeram erat kemudi. Dari kaca spion tengah, ia sesekali melirik ke belakang.Di bangku belakang, Karin memangku kepala Brenda yang pingsan. Napas Brenda cepat, kulitnya terasa panas, tapi tubuhnya menggigil. Keringat dingin masih terus keluar dari pelipisnya.“Kita hampir sampai…” gumam Ethan, lebih kepada dirinya sendiri, meski hatinya gelisah.Begitu sampai di depan instalasi gawat darurat, Ethan segera turun dan membukakan pintu belakang.“Perawat! Tolong bantu kami!” teriak Karin.Beberapa petugas IGD segera datang membawa brankar. Ethan mengangkat tubuh Brenda ke atas brankar dengan sigap, lalu mereka segera mendorong masuk ke ruang tindakan. Karin dan Ethan berjalan cepat mengikuti.Setelah memeriksa, dokter jaga memberi instruksi. “Suhu tubuhnya tinggi. Kami akan beri penurun de
Karin memandang Ethan dengan mata penuh pikiran, tapi menjawab pelan, “Ya, Aku harus tahu semuanya.” Ethan menggenggam tangan Karin memberikan kekuatan. Lalu berjalan melangkah mendekati sosok Brenda.Brenda tiba-tiba menangkap sosok yang familiar.Karin.Namun yang membuat Brenda terdiam sejenak bukan hanya karena perempuan itu—melainkan pria tampan yang berdiri di samping Karin. Pria tinggi, berwajah tegas, dengan sorot mata tajam dan tatapan dingin.Brenda mengerjap cepat.Bukankah itu pria yang beberapa hari lalu datang ke lantai ini? Yang bertanya padanya soal unit 2010?Pandangannya langsung terarah pada tangan Ethan yang menuntun Karin dengan ringan. Sikap mereka terlihat dekat. Terlalu dekat.Ada desir aneh di dada Brenda.Rasa iri menyeruak—karena lelaki setampan itu kini berdiri di sisi Karin, bukan dirinya. Tapi juga rasa penasaran yang dalam.Siapa dia sebe
Setelah Karin menerima hasil DNA, mereka berencana hendak kembali ke kantor, mobil hitam itu meluncur pelan keluar dari area rumah sakit. Di dalam kabin yang sunyi, hanya terdengar hembusan napas Ethan yang berat. "Aku mau ketemu Brenda," kata Ethan tiba-tiba, "aku ingin tau asal mula bayi Karin bisa sampai ke tangan Safira." Karin menoleh pelan, menatap wajah pria itu. Tak ada tanya di matanya—hanya anggukan. “Baiklah,” jawab Karin pelan, suaranya dingin dan penuh tensi emosi yang belum selesai. Karin pun ingin tahu bagaimana bisa Brenda menjual si kembar ke tangan Safira Dimitri. “Kita ke apartemen Green Hills, Brenda tinggal disana.” “Green Hills?” tanyanya ragu, melajukan mobilnya ke arah gedung apartemen mewah yang mulai tampak dari kejauhan. “Bukankah ini... tempat kamu tinggal dulu? Sebelum pindah ke Sky Signature?” Karin tidak langs
Ethan melangkah pelan ke arah jendela, memandangi gelap yang menyelimuti halaman rumah. Kini saatnya dia harus membuka bagian yang menjadi privasi dirinya. “Safira, sejak menikah tidak menginginkan memiliki anak. Dia tidak mau karena bentuk tubuhnya yang akan berubah ketika hamil, dan melahirkan. Pada suatu hari, dia mengatakan bahwa dia siap untuk hamil. Aku begitu semangatnya, kami bercinta dan tidak lama dia memberitahu kalau dia hamil. Begitu senangnya dia hamil, sampai aku tidak mencurigainya. Dia tidak pernah memperlihatkan perut hamilnya, bahkan tidak mengijinkan aku bercinta dengannya selama kehamilannya hingga saat proses melahirkan—.” “Brenda.” Ethan membalik tubuhnya perlahan saat Karin menyebut nama itu. “Brenda?” tanyanya, suaranya nyaris berbisik, tapi penuh ketegangan. Karin menelan ludah, mencoba mengatur detak jantungnya yang kacau.