Share

5

Author: Echa Moira
last update Last Updated: 2025-11-20 21:04:56

Setelah selesai dengan setorannya, Sera kembali bergegas mengambil baju lab dan bergabung dalam praktikum. Sera memeriksa buku respon. Keningnya mengernyit sesekali saat melihat jawaban ngawur dari praktikannya.

Ting. Ponsel Sera lupa dibisukan. Ia terkekeh malu, mengucap maaf dan segera mengambil ponsel itu untuk dicekik agar tidak bersuara.

Tapi notifikasi di layar lebih dulu menarik perhatian Sera. Ada pesan baru. Berisi permintaan maaf. Dari doi.

Sera menggigit bibirnya menahan senyum salah tingkah. Ia merosot ke kolong meja agar ekspresinya tidak jadi tontonan adik-adik yang sedang fokus mendengar penjelasan asisten lain tentang praktikum yang akan mereka laksanakan.

Hatinya membuncah, perutnya geli-geli seperti ada kecoa yang merayap. Bukan kupu-kupu, karena sangat jarang ada kupu-kupu mau merayap di perut.

+628xxxx

~ Maaf

Cuma satu kata, empat huruf, tapi mampu mengguncang kewarasan Sera. Rasanya seperti mendapat permintaan maaf dari pacar. Sera bertingkah malu-maluin, belum juga apa-apa sudah halu tidak jelas.

Me

~ kenapa?

Aslinya Sera ingin mencecar banyak pertanyaan, tapi cuma itu yang sanggup dia kirimkan.

+628xxxx

~ Tadi sepertinya kamu kesal saat saya kembalikan pointer. Maaf terlambat mengembalikan.

"Ututuu, peka banget" gumam Sera. Padahal tidak terlambat mengembalikan, Sera juga tidak kesal karena hal itu.

Sera tidak suka dipanggil Ser dengan nada itu, rasanya seperti pelafalan Sir. Lebih baik dia dipanggil Ser dengan agak menebalkan huruf e, atau panggil Sera sekalian, nambah 1 huruf tidak bikin capek.

Jadi pria itu sejatinya tidak salah, dia kan tidak tahu kalau Sera kesal dipanggil seperti itu.

Me

~ tidak apa-apa, tadi lagi kebelet banget, tidak bermaksud kesal seperti itu

Sera sedikit menyesal mengirim pesan itu, khawatir Gana akan berpikiran aneh tentangnya, malu tapi sudah terlanjur.

+628xxxx

~ Begitu ya. Saya pikir saya ada berbuat salah, kalau begitu terima kasih sudah dipinjamkan.

Me

~ aman

Tidak ada balasan lagi, tapi pesannya sudah dibaca. Sera simpan ponselnya dan melanjutkan memeriksa buku respon sebelum bergabung ke meja praktek.

Aksi salah tingkah dan sembunyi-sembunyi tadi ternyata diperhatikan oleh teman-temannya yang jadi asisten juga.

Alhasil, Sera dibombardir pertanyaan usai praktikum. Sera tentu saja tak mau jujur, lagian mau jujur apa coba, dekat juga belum. Sera hanya bilang senang mendapat tip dari anak sekolah yang joki tugas kemarin.

Padahal mah joki apaan, sudah beberapa minggu ini dia sepi job. Dia tidak bisa terima job apa pun karena harus fokus dengan persiapan Golden Team, nama tim ambis milik Andra.

Tapi tak apa, selain dapat ilmu dan pengalaman, makan siang (kadang juga malam) mereka ditanggung.

Bahkan tadi pagi mereka dapat sarapan roti yang enak dan nasi kotak ayam bakar dari rumah makan elit yang masih Sera simpan di totebag. Rencana mau dimakan nanti sore agar malamnya tak perlu makan lagi, sekalian diet.

*

Rasanya terlalu banyak kebetulan, atau mungkin keberuntungan, yang Sera dapat hari ini.

Sudah hampir jam pulang kantor saat Sera mengembalikan pointer ke ruang jurusan kimia. Keluar dari ruangan itu, sekelebat wangi yang Sera kenal menyeruak ke dalam hidung agak peseknya.

Betul saja, ternyata ada Gana yang muncul dari gang kecil di samping ruangan itu, penghubung gedung utama dan gedung samping.

Sera mau menyapa, tapi keburu salah tingkah. Hidungnya terlalu meresapi aroma itu.

"Dari mana Ser?"

Ealah, kebahagiaan Sera terampas tiba-tiba. Tapi tak apa, ini saat yang tepat untuk klarifikasi pada crush nya itu.

"Jangan panggil begitu, kayak bicara sama bapak-bapak aja" ucap Sera.

Gana tentu saja bingung. Sambil mereka berjalan, ia menatap Sera dengan alis sedikit menukik ke atas.

"Panggil Ser boleh, tapi e nya diperjelas, jangan gantung, atau sekalian Sera aja. Kalo Ser kayak tadi itu berasa manggil Sir" jelas Sera.

Gana mengangguk-angguk, sudah mengerti maksud Sera.

"Jadi, darimana Sera?" ulang Gana.

Perut Sera sempat geli, namanya dipanggil dengan nada lembut.

"Ngembaliin pointer" eh apa ini, suaranya kayak tikus kejepit lagi.

"Oh, udah beres?" tanya Gana lagi, lebih seperti basa basi busuk agar tidak diam saja menyusuri koridor yang agak panjang ini.

Sera berdeham menjawab, ragu mengeluarkan kata, takut kayak tikus kejepit lagi.

Sebentar lagi mereka juga berpisah, Sera akan naik tangga di depan, menuju ke lab jurusan mereka di lantai 2.

Tiba di dalam lab, Sera bergegas makan nasi kotaknya tadi. Tidak akan ada lagi waktu luang untuk makan, sebentar lagi dia akan ke lab botani. Tim mereka akan mulai mengerjakan revisi sehabis presentasi tadi.

Lab yang Sera tempati saat ini adalah lab tempatnya praktikum tadi pagi, memang disinilah basecamp Sera dan kawan-kawan.

Di sela istirahat sebelum percobaan presentasi yang entah ke berapa, Sera mendengus kesal melihat ponselnya.

Tumben sekali adiknya menghubungi duluan, biasanya cuek kayak bebek jutek. Kalo bukan Sera yang bertanya duluan, jangan harap adiknya itu mau berkabar.

Tapi Sera sudah hafal dengan sifat yang satu ini. Tidak mungkin adiknya itu menghubungi kalau tidak punya maksud, tak mungkin juga hanya basa-basi bertanya kabar.

Ndut Adekku

~ Selamat malam kakak cantik

Hm, roman-romannya, kalau bukan minta duit, pasti nyuruh kerjain tugas. Sera terlalu malas menebak lebih lanjut antara dua opsi itu.

Me

~ kenapa?

Ndut Adekku

~ Udah makan kakak?

Me

~ udah, kenapa? lagi di kampus ini

Ndut Adekku

~ Ada nya uang kakak?

Me

~ mau berapa?

Ndut Adekku

~ Terserah kakak aja, udah habis uangku padahal besok ke kampus

Me

~ cuma ada seratus

Ndut Adekku

~ Nggak apa-apa kak

Haduh, nggak apa-apa darimana, Sera saja menghemat luar biasa disini, awal bulan masih lama.

Adiknya itu memang sudah memasuki awal perkuliahan, baru masuk semester 3. Jarak Sera dan adiknya cukup dekat, hanya terpaut 2 tahun.

Orang tuanya mungkin dulu terlalu bucin, menghabiskan terlalu banyak stok cinta di awal pernikahan, jadilah setelah beberapa tahun kemudian banyak cekcoknya dari pada cintanya.

Sera mengirimkan uang seratus ribu yang berharganya kepada adiknya.

Adiknya itu gampang sakit, tidak pintar mengelola keuangannya juga, kiriman untuk adiknya itu jelas lebih banyak.

Semua anggota keluarga sangat sayang pada bocah gendut itu. Di mata Sera, dia selalu tampak seperti bocah manja yang selalu merengek kalau keinginannya tidak terpenuhi.

Tapi poin lebihnya, adiknya itu sangat rajin dan ulet mengerjakan pekerjaan rumah. No malas-malas club, tanpa disuruh pun tangannya sudah gatal melihat yang berantakan dan kotor.

Adiknya itu juga jago memasak. Selain suka makan, dia juga suka bereksperimen dengan berbagai macam masakan, yang bahkan keluarga mereka tidak tahu sebelumnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MAS BUCIN, MILIKKU   12

    "Ya ampun, enak banget wanginya" ujar Sera, saat mereka mampir untuk sniff parfum incarannya. Gana setuju. Aroma vanillanya kalem, rose yang lembut dan lemon yang segar. Dry down nya sedikit woody. Tidak terlalu manis. Sepertinya aman dipakai panas-panasan. Sera sudah tahu harganya. Sudah lama mengincar parfum tersebut, tapi baru kesampaian untuk sniff. Botol besar 100 mL harganya 300 ribuan, botol kecil 15 mL harganya hampir 100 ribu. Kalau sudah punya uang, Sera mau beli size besar, lebih untung. Selain parfum mahal (versi Sera) tadi, Sera juga mencari parfum lain yang lebih affordable. Ketemu. Hanya 1 ukuran. 35 mL. Harganya under 100k. Aroma jasmine yang kalem, namanya parfum affordable ya pasti tidak tahan lama. Hanya tahan 3 jam, tapi harga semurah itu sudah sangat worth it. Jasminenya kalem, tidak bikin enek. Jarang ada parfum murah sekalem itu. Sera memang penyuka parfum kunti core. Miskin-miskin gini, Sera juga tetap pilih-pilih masalah wewangian. Hidungnya kan s

  • MAS BUCIN, MILIKKU   11

    Setelah pemanasan, Sera dan Gana mulai berlari santai. Tapi Sera paling lemah urusan lari. Hanya beberapa putaran dia sudah menyerah. Sera memilih duduk, Gana melanjutkan lari lebih cepat. Sepertinya sejak tadi pria itu menahan kecepatan larinya menyesuaikan Sera. Sera bosan, otot kakinya mulai terasa ditarik. Dia mencari olahraga lain yang lebih cocok baginya. Plank cuma bisa 30 detik, 2 sesi. Elbow plank paling parah, hanya sampai hitungan 10 sudah ambruk. Padahal Sera lihat gerakannya gampang, kok setelah dicoba kayak mau mati? Skip perut rata, mari bulatkan bokong. Squat masih aman, Sera sering olahraga ini. Dilanjut Lunges, masih bisa juga walau hanya masing-masing kaki 15 hitungan. Berikutnya Donkey kicks, Sera menyerah. Pahanya kayak mau lepas. Sembari berlari, ternyata Gana memperhatikan Sera. Hampir semua gerakan Sera berantakan. Tidak ada postur yang tepat, kecuali Squat. Gana menghampiri Sera dengan hoodie putihnya yang basah kuyup. Saat dibuka, betul-betul bis

  • MAS BUCIN, MILIKKU   10

    Bukan hanya Sera yang terkejut. Pemilik wajah tadi tak kalah pucat. Terkejut pintu tiba-tiba terbuka tanpa suara, belum lagi muncul wajah Sera dengan tampilan yang sedikit berani. Dasternya model V neck yang agak rendah, tidak ketat tapi kainnya seperti katun, cukup jelas memperlihatkan leher, dada dan punggung gadis itu. Putih sekali. Seperti tak ada darah yang mengalir. Wajahnya juga tak kalah putih. Memang Sera sehabis mandi selalu seperti itu, putih bersih seperti habis perawatan, padahal mah boro-boro perawatan, pakai sunscreen aja diirit-irit biar tahan lama. Setelah aksi saling kaget, keduanya tertawa begitu menyadari tingkah konyol mereka. "Tunggu bentar, jemur baju dulu" ucap Sera, bergegas naik ke lantai 2. Gana sejak tadi menunggu sembari main ponsel. Ketika Sera menghampiri, barulah dia menyimpan ponselnya. *Keduanya berangkat saat jam belum genap pukul setengah enam pagi. Jalannya lambat kayak siput. Padahal biasanya kalau Sera jalan sendiri, jalannya ngebut bange

  • MAS BUCIN, MILIKKU   9

    "Malam ini saya selesaikan revisi poster. Besok kalian cari tempat percetakan, ya" ucap Andra pada Sera dan Aldi. Mereka sedang diskusi di gazebo, hanya sebentar karena semua sama-sama sibuk. Sepulang dari kampus, Sera bergegas mencari-cari tempat percetakan berkualitas di kota mereka. Keesokan harinya, Gana mengajak Sera berkeliling kota untuk mencari tempat percetakan bersama. Tempat percetakan yang dipilih Sera masih dirahasiakan dari Gana. Harganya cukup fantastis, berkali lipat dari harga poster sempro dan skripsi. Lebih mahal juga dari baliho yang biasa dicetak untuk kegiatan kampus atau organisasi. Pokoknya tempat percetakan ini hidden gem banget, Sera dapat pujian lagi dari Kak Andra karena penemuannya ini tadi pagi. Jelas Sera menolak ajakan Gana. Padahal momen ini bisa diplesetin buat nge date al-ala, tapi Sera lebih memprioritaskan kepercayaan Golden Team. Tapi yang namanya jodoh, pasti ada aja jalannya untuk bertemu. Sera sih mikirnya begitu. Pulan

  • MAS BUCIN, MILIKKU   8

    Hingga jadwal presentasi berikutnya, Sera tak pernah lagi bertemu Gana. Hanya beberapa kali melihat story pria itu di WhatsApp sejak ia menyimpan kontaknya. Sera juga tidak berani pura-pura melintas di area lab itu, yang belakangan ini diketahui Sera sebagai basecamp Gana dan kawan-kawan. Dari loby ada tangga yang langsung mengarahkan ke lantai 2, jalur yang biasa digunakan oleh Sera. Jadi, kalau bukan mau ke kantin atau ruang jurusan, Sera memang jarang turun ke lantai 1. Beberapa hari itu Sera agak uring-uringan, tidak terlalu bersemangat karena tidak bertemu pujaan hati. Sera juga tidak banyak diskusi dengan tim karena persiapan mereka sambil begadang itu sudah lebih dari cukup. Hanya sore ini mereka berkumpul sebentar, memantapkan latihan sebelum besok dicecar lagi. Sebelum diskusi, Sera harus meminjam pointer lagi. Tidak terlalu berharap ketemu Gana, karena story pria itu sedang menunjukkan lokasi di luar kota. Tapi yang namanya jodoh pasti ketemu, eh?"Sera" panggil Gana a

  • MAS BUCIN, MILIKKU   7

    Ibu Kantin datang lagi, kali ini membawa soto. Aromanya membuat Sera melirik, barulah saat itu dia sadar akan keberadaan Gana. Dia tidak sampai tersedak, tapi tiba-tiba kerongkongannya seret. Kerongkongan loh ya, bukan tenggorokan. Jalur makanan itu kerongkongan. Kalau tenggorokan itu jalur nafas, bermuara ke paru-paru, bukan lambung. Sera sedikit meringis menatap Gana. Sebenarnya dia ingat tentang modus nyender tadi, tapi sudah tidak ada muka untuk mengaku, jadi biarlah pura-pura tidak tahu. Karena ekspresi Sera seperti ingin ikut menikmati soto di mangkok Gana, pria itu menawarkan. Entah serius atau sekedar basa-basi, tapi diangguki oleh Sera. Gana mulai menyendokkan kuahnya ke piring Sera, hampir memindahkan isi soto juga, tapi dicegah oleh Sera. "Kuahnya aja" jawab Sera sambil nyengir. Setelah dirasa cukup, Sera menghentikan aksi Gana. Tak lupa Sera menyerahkan satu gorengan tempe favoritnya ke mangkok Gana. Barter ceritanya. Gana menahan senyum geli, namun tetap m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status