LOGINTiga wiper dikerahkan untuk membersihkan area kos Sera.
Penghuni lantai atas ada yang lupa menutup kran, membuat airnya tumpah-tumpah sampai ke lantai 1. Beruntung kamar Sera tidak ikut banjir, karena berada paling ujung. "Kalau airnya masuk kamarku, aku nangis bu" ucap Sera pada Ibu Kos yang sedang mengangkut sisa-sisa kertas yang melempem, terbawa air. "Jelas, Ra. Kasurmu kan tidak pakai dipan, harus mengungsi kalau sempat kebanjiran" ucap Rima, tetangga kos Sera yang ikut menarik wiper di sampingnya, menguras sisa air dari lantai teras mereka. Ibu Kos meletakkan kembali keranjang sampah di area lantai yang sudah kering. "Sudah berapa kali ibu peringatkan di grup, kalau tower lagi kosong, ingat tutup kran" omel Ibu Kos, melampiaskan unek-uneknya. Rima yang terlebih dahulu selesai, menyandarkan wiper di dinding. Gadis itu mendekat ke arah Ibu Kos. "Emang di lantai atas banyak yang bebal, nggak mikir pake otak" kesalnya. Kamar Rima juga terdampak karena banjir kiriman sore itu. Beruntung, barang-barangnya masih bisa terselamatkan. Dua ekor kucing milik Ibu Kos mencakar-cakar sisa kertas di area halaman. Tanah jadi semakin becek, bercampur bubur-bubur kertas. "Yang ikut bersih-bersih, nanti makan malam di rumah" ucap Ibu Kos, memberi apresiasi bagi tiga orang anak kos yang sudah lelah membersihkan banjir lantai satu. Sera memekik senang, rejeki nomplok di malam selasa. Dia tak perlu repot memikirkan lauk malam ini. Mereka pamit untuk membersihkan diri masing-masing, sudah keringatan karena menguras air dari dua kamar yang terdampak. Sehabis mandi, Sera duduk santai di atas ranjangnya. Menunggu panggilan Ibu Kos untuk makan malam. Begitu membuka ponsel, Sera melihat pesan dari nomor baru. +628xxxx ~ Malam Sera, maaf mengganggu waktunya, saya Gana Abimanyu. Kalian sudah dapat pointer untuk besok? Jantung Sera berdegup kencang. Dia menahan ge-er, menekan jari telunjuk dengan kuku jempolnya. "Dapet nomorku dari mana nih, mas-mas wangi" gumamnya, salah tingkah. Setelah menenangkan diri, pikiran Sera akhirnya jernih kembali. "Bjir, dari grup lah, Sera!" rutuknya pelan. Nama lengkapnya terpampang di W******p, jelas saja bisa dihubungi dengan mudah. Mereka punya grup khusus untuk persiapan bersama para dosen. Me ~ Kami pinjam dari jurusan kimia Sera mulai heran. Gana dan timnya kan dari jurusan kimia, di ruang jurusan mereka ada banyak sekali pointer. Berbeda dengan jurusan Sera, tidak ada pointer jurusan, hanya beberapa dosen yang menyediakan pointer masing-masing untuk mengajar. Bahkan, Sera bisa tahu di jurusan kimia ada pointer karena dosennya menyuruh pinjam ke sana. +628xxxx ~ Boleh kami ikut pakai besok? Dahi Sera berkerut, tapi jemarinya tetap membalas dengan sopan. Me ~ Boleh aja Gana membalas dengan ucapan terima kasih, lalu obrolan mereka berakhir. "Sera" panggilan Ibu Kos terdengar dari teras kos. Sera bergegas ke rumah Ibu Kos, tak lupa dia membawa botol minum sendiri. Dia tak terbiasa meminum air galon yang tidak dimasak, seperti di rumah Ibu Kos. Pernah dia mencoba, namun berakhir perutnya terasa tak nyaman. "Kunci serep sudah ibu taruh di rak samping tv. Besok-besok kalau ada yang lupa tutup kran, kalian buka saja pintu kamarnya" ucap Ibu Kos, menyajikan sayur bening bayam yang baru matang. "Takut lah bu, masa buka kamar orang sembarangan" protes Rima, tidak berani. "Ibu yang tanggung jawab. Nanti izin di grup kalau mau buka, supaya yang punya kamar juga tahu" ucap Ibu Kos, menarik kursi dan ikut bergabung makan malam. * Sudah jam setengah satu dini hari, Sera memberanikan diri membuka pintu kosnya untuk menjemur handuk di teras. Dia lupa karena bergegas ke rumah Ibu Kos tadi. Dia benci menjemur kain basah di dalam kamar. Sera bersiap untuk tidur, matanya sudah sangat mengantuk. Dia baru selesai mencari jurnal, request dadakan Andra dua jam yang lalu. Tapi baru saja menarik selimut, printer di meja berbunyi. Ah sial, bikin takut saja. Pagi harinya, Sera sampai duluan di ruang conference 3. Ruangan belum dibuka karena masih setengah jam lagi jadwal ruangan dibuka. Sera duduk di kursi besi yang tersusun dari 3 kursi yang saling menempel. Dia menelungkupkan wajah di lututnya yang diangkat ke atas kursi. Sera masih sangat mengantuk, tadi dia bangun jam 5 karena tim mereka harus latihan sekali lagi via Zoom, matanya tersiksa. Sera betul-betul bangun terkejut. Dia sempat ketiduran dan ketika membuka mata, ada wajah lain di sampingnya. Gana. Pria itu sama terkejutnya dengan suara Sera yang tiba-tiba memekik seperti anak tikus kejepit. Sangat tidak merdu. "Maaf" ucap Gana, padahal dia tidak bersalah. Sejak bunyi horor tadi malam, memang Sera jadi agak was-was dengan sekitar. Sera mengabaikan ucapan Gana, sedikit salah tingkah dan menyembunyikan semburat di pipinya. "Udah jam 7 lewat, ruangannya kenapa belum dibuka?" tanya Sera, basa-basi. "Tadi petugasnya sudah datang, tapi kunci ketinggalan di rumahnya" betulan Gana jawab, padahal Sera cuma asal nyeletuk. Cukup lama keduanya berdiam diri. Dalam hening, Sera sempat berpikir kenapa Gana duduk mepet di sampingnya, kan masih ada kursi satu lagi di ujung. Tapi pikiran itu segera ditepis, malu. Ruangan dibuka, bersamaan dengan rekan tim Sera juga datang dengan nafas ngos-ngosan. Meski ruangan mereka ada di lantai 4, tidak ada lift, hanya ada tangga. Sera ikut bangkit menuju ruangan, matanya sempat menangkap kursi di ujung tadi, ada bagian dudukan besi yang mencuat ke atas, tampak agak tajam. Pantas saja Gana duduk di kursi tengah tadi. Usai presentasi, Sera berlari ke fakultas mereka yang tidak terlalu jauh. Bahkan ia tidak menunggu rekan-rekannya yang lain. Sudah pukul sepuluh. Biasanya tiap pagi Sera harus setoran dulu, tapi tadi pagi tidak bisa, karena perutnya tidak selera, terlalu sibuk memikirkan presentasi. Hari ini setorannya agak terlambat, sudah sulit ditahan. Di gedung tadi ada kamar mandi, tapi Sera susah kalau setoran besar bukan di tempat yang familiar baginya. Entahlah, saluran pencernaannya manja sekali. Dia sudah hampir tiba di kamar mandi khusus laboratorium mereka di lantai 2. Tapi suara di belakangnya terdengar menyebalkan. "Ser" panggil suara itu lagi, membuat Sera mendelik menatapnya. Ayolah, perut Sera sangat tidak nyaman, ditambah panggilannya yang menyebalkan itu. Ternyata Gana yang sedikit berlari menyusul Sera, menyerahkan pointer di tangannya. Walau pun mas crush yang panggil, Sera tetap tidak suka. Dia agak ketus mengambil benda itu, berlalu tanpa membalas apa pun. Gana heran, bertanya-tanya apakah dirinya berbuat salah."Ya ampun, enak banget wanginya" ujar Sera, saat mereka mampir untuk sniff parfum incarannya. Gana setuju. Aroma vanillanya kalem, rose yang lembut dan lemon yang segar. Dry down nya sedikit woody. Tidak terlalu manis. Sepertinya aman dipakai panas-panasan. Sera sudah tahu harganya. Sudah lama mengincar parfum tersebut, tapi baru kesampaian untuk sniff. Botol besar 100 mL harganya 300 ribuan, botol kecil 15 mL harganya hampir 100 ribu. Kalau sudah punya uang, Sera mau beli size besar, lebih untung. Selain parfum mahal (versi Sera) tadi, Sera juga mencari parfum lain yang lebih affordable. Ketemu. Hanya 1 ukuran. 35 mL. Harganya under 100k. Aroma jasmine yang kalem, namanya parfum affordable ya pasti tidak tahan lama. Hanya tahan 3 jam, tapi harga semurah itu sudah sangat worth it. Jasminenya kalem, tidak bikin enek. Jarang ada parfum murah sekalem itu. Sera memang penyuka parfum kunti core. Miskin-miskin gini, Sera juga tetap pilih-pilih masalah wewangian. Hidungnya kan s
Setelah pemanasan, Sera dan Gana mulai berlari santai. Tapi Sera paling lemah urusan lari. Hanya beberapa putaran dia sudah menyerah. Sera memilih duduk, Gana melanjutkan lari lebih cepat. Sepertinya sejak tadi pria itu menahan kecepatan larinya menyesuaikan Sera. Sera bosan, otot kakinya mulai terasa ditarik. Dia mencari olahraga lain yang lebih cocok baginya. Plank cuma bisa 30 detik, 2 sesi. Elbow plank paling parah, hanya sampai hitungan 10 sudah ambruk. Padahal Sera lihat gerakannya gampang, kok setelah dicoba kayak mau mati? Skip perut rata, mari bulatkan bokong. Squat masih aman, Sera sering olahraga ini. Dilanjut Lunges, masih bisa juga walau hanya masing-masing kaki 15 hitungan. Berikutnya Donkey kicks, Sera menyerah. Pahanya kayak mau lepas. Sembari berlari, ternyata Gana memperhatikan Sera. Hampir semua gerakan Sera berantakan. Tidak ada postur yang tepat, kecuali Squat. Gana menghampiri Sera dengan hoodie putihnya yang basah kuyup. Saat dibuka, betul-betul bis
Bukan hanya Sera yang terkejut. Pemilik wajah tadi tak kalah pucat. Terkejut pintu tiba-tiba terbuka tanpa suara, belum lagi muncul wajah Sera dengan tampilan yang sedikit berani. Dasternya model V neck yang agak rendah, tidak ketat tapi kainnya seperti katun, cukup jelas memperlihatkan leher, dada dan punggung gadis itu. Putih sekali. Seperti tak ada darah yang mengalir. Wajahnya juga tak kalah putih. Memang Sera sehabis mandi selalu seperti itu, putih bersih seperti habis perawatan, padahal mah boro-boro perawatan, pakai sunscreen aja diirit-irit biar tahan lama. Setelah aksi saling kaget, keduanya tertawa begitu menyadari tingkah konyol mereka. "Tunggu bentar, jemur baju dulu" ucap Sera, bergegas naik ke lantai 2. Gana sejak tadi menunggu sembari main ponsel. Ketika Sera menghampiri, barulah dia menyimpan ponselnya. *Keduanya berangkat saat jam belum genap pukul setengah enam pagi. Jalannya lambat kayak siput. Padahal biasanya kalau Sera jalan sendiri, jalannya ngebut bange
"Malam ini saya selesaikan revisi poster. Besok kalian cari tempat percetakan, ya" ucap Andra pada Sera dan Aldi. Mereka sedang diskusi di gazebo, hanya sebentar karena semua sama-sama sibuk. Sepulang dari kampus, Sera bergegas mencari-cari tempat percetakan berkualitas di kota mereka. Keesokan harinya, Gana mengajak Sera berkeliling kota untuk mencari tempat percetakan bersama. Tempat percetakan yang dipilih Sera masih dirahasiakan dari Gana. Harganya cukup fantastis, berkali lipat dari harga poster sempro dan skripsi. Lebih mahal juga dari baliho yang biasa dicetak untuk kegiatan kampus atau organisasi. Pokoknya tempat percetakan ini hidden gem banget, Sera dapat pujian lagi dari Kak Andra karena penemuannya ini tadi pagi. Jelas Sera menolak ajakan Gana. Padahal momen ini bisa diplesetin buat nge date al-ala, tapi Sera lebih memprioritaskan kepercayaan Golden Team. Tapi yang namanya jodoh, pasti ada aja jalannya untuk bertemu. Sera sih mikirnya begitu. Pulan
Hingga jadwal presentasi berikutnya, Sera tak pernah lagi bertemu Gana. Hanya beberapa kali melihat story pria itu di WhatsApp sejak ia menyimpan kontaknya. Sera juga tidak berani pura-pura melintas di area lab itu, yang belakangan ini diketahui Sera sebagai basecamp Gana dan kawan-kawan. Dari loby ada tangga yang langsung mengarahkan ke lantai 2, jalur yang biasa digunakan oleh Sera. Jadi, kalau bukan mau ke kantin atau ruang jurusan, Sera memang jarang turun ke lantai 1. Beberapa hari itu Sera agak uring-uringan, tidak terlalu bersemangat karena tidak bertemu pujaan hati. Sera juga tidak banyak diskusi dengan tim karena persiapan mereka sambil begadang itu sudah lebih dari cukup. Hanya sore ini mereka berkumpul sebentar, memantapkan latihan sebelum besok dicecar lagi. Sebelum diskusi, Sera harus meminjam pointer lagi. Tidak terlalu berharap ketemu Gana, karena story pria itu sedang menunjukkan lokasi di luar kota. Tapi yang namanya jodoh pasti ketemu, eh?"Sera" panggil Gana a
Ibu Kantin datang lagi, kali ini membawa soto. Aromanya membuat Sera melirik, barulah saat itu dia sadar akan keberadaan Gana. Dia tidak sampai tersedak, tapi tiba-tiba kerongkongannya seret. Kerongkongan loh ya, bukan tenggorokan. Jalur makanan itu kerongkongan. Kalau tenggorokan itu jalur nafas, bermuara ke paru-paru, bukan lambung. Sera sedikit meringis menatap Gana. Sebenarnya dia ingat tentang modus nyender tadi, tapi sudah tidak ada muka untuk mengaku, jadi biarlah pura-pura tidak tahu. Karena ekspresi Sera seperti ingin ikut menikmati soto di mangkok Gana, pria itu menawarkan. Entah serius atau sekedar basa-basi, tapi diangguki oleh Sera. Gana mulai menyendokkan kuahnya ke piring Sera, hampir memindahkan isi soto juga, tapi dicegah oleh Sera. "Kuahnya aja" jawab Sera sambil nyengir. Setelah dirasa cukup, Sera menghentikan aksi Gana. Tak lupa Sera menyerahkan satu gorengan tempe favoritnya ke mangkok Gana. Barter ceritanya. Gana menahan senyum geli, namun tetap m







