LOGINMasih dua hari lagi sebelum jadwal latihan presentasi yang ketiga. Hari ini Sera masih bisa sedikit bersantai, besok dia baru tertekan lagi.
Siang ini, Sera makan di kantin langganan bersama teman-teman. Masakannya memang tidak seenak kantin sebelah, tapi di sini porsinya jumbo banget, free air minum juga. Kalau sedang tidak punya bahan masakan, Sera memang tidak bawa bekal ke kampus, seperti hari ini. Saat menunggu pesanannya, Sera dan teman-teman duduk di kursi paling pojok. Hanya itu tempat kosong, itu pun mereka membersihkan sendiri bekas makanan orang yang duduk disana sebelumnya. Kantin sedang ramai, pesanan mereka pasti yang terakhir dilayani. Mereka sudah bestie dengan Ibu Kantin, mereka juga sudah konfirmasi kalau masih santai, tidak terburu-buru, tidak ada jadwal kelas atau praktikum siang ini. Ibu Kantin tentu senang, bisa mendahulukan anak-anak lain yang berburu waktu untuk sekedar makan siang. Nanti Sera dan kawan-kawan pasti dikasih gorengan gratis sebagai apresiasi sudah mengalah. Kalau mau bantu, Ibu Kantin tidak pernah mau mengizinkan. Porsinya jadi tidak jelas kalau mereka yang tangani, sering dikomplain anak-anak. Kadang nasinya banyak, lauknya dikit. Kadang nasi dan lauk sudah pas, tapi sambelnya yang minus. Ah pokoknya lebih repot kalau dibantu orang lain, Ibu Kantin lebih suka dirinya sendiri melayani pembeli biar tidak banyak drama. Sera bersandar di dinding, memejamkan mata sejenak. Tadi malam mereka pulang sudah sangat larut. Pagi ini juga dia sudah di kampus dari jam enam pagi, mengejar Pak Ardi, petugas yang membuka gerbang dan ruangan di fakultas mereka. Beliau kadang juga disebut sebagai juru kunci, entah oleh siapa yang memulai sebutan itu, tapi tampaknya sudah ada sejak lama, sebelum Sera hadir. Pak Ardi hanya datang pukul 6 pagi untuk membuka gerbang dan jam 7.30 untuk membuka ruangan. Pagi tadi jadwal praktikum Sera dimulai dari jam 7. Kebetulan dia penanggung jawab mata acara hari ini, jadi tugasnya menyiapkan semua hal, dari kelengkapan alat bahan, soal respon, bahkan juga menyiapkan ruangan. Sera bangun dan mandi dari jam lima pagi, setengah enam dia berangkat ke kampus, jalan kaki. Jarak kampus dan kosnya tidak terlalu jauh, sekitar 10-15 menit jalan kaki. Jam segitu sudah terang di tempat Sera yang memang dekat area pesisir. Sejak pagi hingga pukul sepuluh dia sibuk berceloteh menjelaskan praktikum, setelah itu dia juga harus membawa sampel untuk diuji di laboratorium terpadu. Alat ujinya hanya ada disana, tidak bisa dipakai sembarangan. Harus oleh mahasiswa yang sudah berpengalaman seperti Sera, itu pun masih tetap diawasi penggunaannya oleh laboran yang agak galak. Butuh waktu sekitar dua jam hingga pengujian selesai. Setelah data diperoleh, barulah Sera bisa kembali, tentu harus membereskan meja kerja dan mencuci alat-alatnya. Sera tidak sempat tidur, padahal dari pagi masih mengantuk. Teman-temannya mengajak Sera makan siang, katanya keburu ayam geprek habis. Memang menu itu best seller di kantin ini, ayamnya jumbo, tepungnya crispy dan tebal, incaran anak kos banget. Kalau sudah habis, menu lain tidak ada yang menarik karena hanya ada ikan, tahu tempe, telur dan soto yang kuahnya melimpah tapi ayam suwirnya seuprit. Sera sudah mengincar duduk paling pojok biar enak tidurnya, tapi keduluan oleh temannya yang lain. Sera malah kebagian duduk paling ujung, tidak strategis untuk tidur, karena berada paling pinggir dekat orang lalu-lalang. Sera itu sensitif sekali tentang aroma, berbagai jenis aroma parfum dan bau badan orang yang melintas mengganggu hidungnya. Tapi tak lama, hidungnya terasa dimanjakan lagi. Siapa lagi kalau bukan Gana. Sera baru sadar jika dia tertarik pada Gana karena dua hal. Hal pertama, wanginya. Sera sangat ingin bertanya parfum apa yang digunakan pria itu. Semerbak nyaman menyelusup hidung. Hal kedua, agak sulit dideskripsikan. Gana putih, tinggi, tidak terlalu berisi malah cenderung kurus. Pembawaannya cuek, tapi di saat bersamaan seperti ada kesan peduli, tapi bukan tipe yang perhatian dan ramah juga. Ah, sulit dijelaskan secara gamblang. Intinya, dia charming di mata Sera. Wajahnya lumayan ganteng sih, tapi masih banyak yang lebih ganteng. Jadi Sera tidak mengkategorikan ketampanan sebagai daya tarik Gana. Gana duduk di samping Sera, setelah meminta izin tentunya. Tidak ada kursi kosong lagi, hanya sedikit space di samping Sera. Kursi panjang yang mereka tempati memang tipe sharing chair ala ala warung. Teman-teman Sera berbisik-bisik, tidak terlalu terkejut sih melihat Sera punya kenalan dari berbagai jurusan, hanya saja tetap ada rasa penasaran. Sera sebenarnya berniat untuk tidur, masih ada setengah jam hingga jam makan siang selesai, selama itu pula mereka harus menunggu untuk dilayani. Mereka sudah request menu di awal, jadi ayam geprek mereka sudah disisihkan. Tapi kehadiran Gana selain membuatnya salah tingkah, juga membuat Sera disenggol-senggol temannya. "Kenalin guys, Gana, anak kimia, ketua tim yang lolos bareng kita" ucap Sera, malas diganggu lebih lanjut. Urusan berikutnya biar Gana yang ambil alih. Biar saja dia ditanya-tanya, siapa suruh duduk di samping Sera. Sok akrab padahal baru kenal. Eh kok jadi judes gini sih? Sera dideketin crush gak ada bersyukur-bersyukurnya. Memang, tidur adalah prioritas Sera sejak dulu. Mau dunia ini gembar-gembor entah oleh apa pun itu, selagi Sera butuh tidur dia akan tidur. Tapi, tunggu dulu. 'Kenapa empuk?' batin Sera. Sera ini modusnya bisa banget. Tadi bersandar ke dinding, sekarang malah nyender dikit di lengan Gana, padahal di sebelah kanannya ada temen cewek. Gana juga tidak menunjukkan gerak-gerik tidak nyaman, malah ikut nyender ke tembok, mencegah gerakan tambahan yang bisa mengganggu Sera. Teman-temannya Sera sudah tidak heran dengan kelakuannya. Dulu waktu praktikum lapangan saja dia pernah nyender ke dosen yang lumayan killer. Walaupun Sera aktif dan cukup dekat di kelas dengan dosen tersebut, tapi kalau dia sadar kelakuannya, pasti tetap ciut nyalinya. Setelah bangun, dia minta maaf sampai hampir menangis, beruntung dosen tersebut memaklumi. Melihat Sera tidur di berbagai tempat dan nyender ke orang random sudah bukan hal baru bagi yang mengenal Sera, jadi semua bodo amat dengan posisi saat ini. Ibu Kantin yang membawa pesanan mereka juga hanya menggeleng dan tersenyum melihat kelakuan Sera. Minuman kemasan dingin menyentuh pipi kanan Sera, membangunkannya. "Makan dulu Ra, nih minuman gratis buat yang ngantuk" gurau Ibu Kantin dibalas gemuruh protes teman-teman Sera yang ikut pura-pura ngantuk. "Hoam, makasih tan" jawab Sera. Lagaknya, seperti lupa ada Gana di samping. Sera langsung berdoa dan menyantap makanan tanpa memperhatikan sekitar."Ya ampun, enak banget wanginya" ujar Sera, saat mereka mampir untuk sniff parfum incarannya. Gana setuju. Aroma vanillanya kalem, rose yang lembut dan lemon yang segar. Dry down nya sedikit woody. Tidak terlalu manis. Sepertinya aman dipakai panas-panasan. Sera sudah tahu harganya. Sudah lama mengincar parfum tersebut, tapi baru kesampaian untuk sniff. Botol besar 100 mL harganya 300 ribuan, botol kecil 15 mL harganya hampir 100 ribu. Kalau sudah punya uang, Sera mau beli size besar, lebih untung. Selain parfum mahal (versi Sera) tadi, Sera juga mencari parfum lain yang lebih affordable. Ketemu. Hanya 1 ukuran. 35 mL. Harganya under 100k. Aroma jasmine yang kalem, namanya parfum affordable ya pasti tidak tahan lama. Hanya tahan 3 jam, tapi harga semurah itu sudah sangat worth it. Jasminenya kalem, tidak bikin enek. Jarang ada parfum murah sekalem itu. Sera memang penyuka parfum kunti core. Miskin-miskin gini, Sera juga tetap pilih-pilih masalah wewangian. Hidungnya kan s
Setelah pemanasan, Sera dan Gana mulai berlari santai. Tapi Sera paling lemah urusan lari. Hanya beberapa putaran dia sudah menyerah. Sera memilih duduk, Gana melanjutkan lari lebih cepat. Sepertinya sejak tadi pria itu menahan kecepatan larinya menyesuaikan Sera. Sera bosan, otot kakinya mulai terasa ditarik. Dia mencari olahraga lain yang lebih cocok baginya. Plank cuma bisa 30 detik, 2 sesi. Elbow plank paling parah, hanya sampai hitungan 10 sudah ambruk. Padahal Sera lihat gerakannya gampang, kok setelah dicoba kayak mau mati? Skip perut rata, mari bulatkan bokong. Squat masih aman, Sera sering olahraga ini. Dilanjut Lunges, masih bisa juga walau hanya masing-masing kaki 15 hitungan. Berikutnya Donkey kicks, Sera menyerah. Pahanya kayak mau lepas. Sembari berlari, ternyata Gana memperhatikan Sera. Hampir semua gerakan Sera berantakan. Tidak ada postur yang tepat, kecuali Squat. Gana menghampiri Sera dengan hoodie putihnya yang basah kuyup. Saat dibuka, betul-betul bis
Bukan hanya Sera yang terkejut. Pemilik wajah tadi tak kalah pucat. Terkejut pintu tiba-tiba terbuka tanpa suara, belum lagi muncul wajah Sera dengan tampilan yang sedikit berani. Dasternya model V neck yang agak rendah, tidak ketat tapi kainnya seperti katun, cukup jelas memperlihatkan leher, dada dan punggung gadis itu. Putih sekali. Seperti tak ada darah yang mengalir. Wajahnya juga tak kalah putih. Memang Sera sehabis mandi selalu seperti itu, putih bersih seperti habis perawatan, padahal mah boro-boro perawatan, pakai sunscreen aja diirit-irit biar tahan lama. Setelah aksi saling kaget, keduanya tertawa begitu menyadari tingkah konyol mereka. "Tunggu bentar, jemur baju dulu" ucap Sera, bergegas naik ke lantai 2. Gana sejak tadi menunggu sembari main ponsel. Ketika Sera menghampiri, barulah dia menyimpan ponselnya. *Keduanya berangkat saat jam belum genap pukul setengah enam pagi. Jalannya lambat kayak siput. Padahal biasanya kalau Sera jalan sendiri, jalannya ngebut bange
"Malam ini saya selesaikan revisi poster. Besok kalian cari tempat percetakan, ya" ucap Andra pada Sera dan Aldi. Mereka sedang diskusi di gazebo, hanya sebentar karena semua sama-sama sibuk. Sepulang dari kampus, Sera bergegas mencari-cari tempat percetakan berkualitas di kota mereka. Keesokan harinya, Gana mengajak Sera berkeliling kota untuk mencari tempat percetakan bersama. Tempat percetakan yang dipilih Sera masih dirahasiakan dari Gana. Harganya cukup fantastis, berkali lipat dari harga poster sempro dan skripsi. Lebih mahal juga dari baliho yang biasa dicetak untuk kegiatan kampus atau organisasi. Pokoknya tempat percetakan ini hidden gem banget, Sera dapat pujian lagi dari Kak Andra karena penemuannya ini tadi pagi. Jelas Sera menolak ajakan Gana. Padahal momen ini bisa diplesetin buat nge date al-ala, tapi Sera lebih memprioritaskan kepercayaan Golden Team. Tapi yang namanya jodoh, pasti ada aja jalannya untuk bertemu. Sera sih mikirnya begitu. Pulan
Hingga jadwal presentasi berikutnya, Sera tak pernah lagi bertemu Gana. Hanya beberapa kali melihat story pria itu di WhatsApp sejak ia menyimpan kontaknya. Sera juga tidak berani pura-pura melintas di area lab itu, yang belakangan ini diketahui Sera sebagai basecamp Gana dan kawan-kawan. Dari loby ada tangga yang langsung mengarahkan ke lantai 2, jalur yang biasa digunakan oleh Sera. Jadi, kalau bukan mau ke kantin atau ruang jurusan, Sera memang jarang turun ke lantai 1. Beberapa hari itu Sera agak uring-uringan, tidak terlalu bersemangat karena tidak bertemu pujaan hati. Sera juga tidak banyak diskusi dengan tim karena persiapan mereka sambil begadang itu sudah lebih dari cukup. Hanya sore ini mereka berkumpul sebentar, memantapkan latihan sebelum besok dicecar lagi. Sebelum diskusi, Sera harus meminjam pointer lagi. Tidak terlalu berharap ketemu Gana, karena story pria itu sedang menunjukkan lokasi di luar kota. Tapi yang namanya jodoh pasti ketemu, eh?"Sera" panggil Gana a
Ibu Kantin datang lagi, kali ini membawa soto. Aromanya membuat Sera melirik, barulah saat itu dia sadar akan keberadaan Gana. Dia tidak sampai tersedak, tapi tiba-tiba kerongkongannya seret. Kerongkongan loh ya, bukan tenggorokan. Jalur makanan itu kerongkongan. Kalau tenggorokan itu jalur nafas, bermuara ke paru-paru, bukan lambung. Sera sedikit meringis menatap Gana. Sebenarnya dia ingat tentang modus nyender tadi, tapi sudah tidak ada muka untuk mengaku, jadi biarlah pura-pura tidak tahu. Karena ekspresi Sera seperti ingin ikut menikmati soto di mangkok Gana, pria itu menawarkan. Entah serius atau sekedar basa-basi, tapi diangguki oleh Sera. Gana mulai menyendokkan kuahnya ke piring Sera, hampir memindahkan isi soto juga, tapi dicegah oleh Sera. "Kuahnya aja" jawab Sera sambil nyengir. Setelah dirasa cukup, Sera menghentikan aksi Gana. Tak lupa Sera menyerahkan satu gorengan tempe favoritnya ke mangkok Gana. Barter ceritanya. Gana menahan senyum geli, namun tetap m







