Share

Bab 20: Shena

last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-08 00:06:42

"Panik ya? Panik lah masa nggak," sindir Erina.

Akmal menelan ludah. Dengan sok tenang, lelaki itu menutup pintu ruangan Erina, membiarkan mereka berdua terkurung dengan amarah Erina yang seperti sudah mewujud asap yang menyesakkan.

"Ini dulu dikasih ibu gue. Gue gak punya kotak makan, makanya dia asal ngambil aja kotak ini. Mungkin ini punya saudara gue..."

"Really? Siapa nama sodara lo? Shena?"

Akmal melihat kotak makannya yang sudah dia isi dengan fosil bekas earphone rusak. Ada tulisan puda
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 21: Sisi Terangnya Cinta

    "Senyum-senyum mulu lo, Kak. Jadiannya kapan?"Sindiran Nathan memecah lamunan Erina. Gadis itu baru saja menyelesaikan sesi Muay Thai-nya dan duduk santai di kursi goyang dekat kolam renang, sementara Nathan masih berjalan di atas treadmill.Memang banyak yang berubah dari diri Erina. Dia lebih menyayangi dirinya sendiri apa adanya. Cermin raksasa di kamarnya seperti menunjukkan sosoknya waktu SMP: gadis manis ber-makeup tipis dengan dress selutut warna putih gading. Dia sudah berhenti mengecat rambut, menghitamkan kulit, hingga memasang extension bulu mata. Kejujuran Akmal telah membuatnya percaya diri pada cantik alami yang dimilikinya."Kalem. Akmal ini cowok yang speknya beda dari yang biasa berhadapan sama gue, makanya treatment-nya harus khusus," balas Erina sambil meletakkan ponselnya ke kursi.Dia berhenti bukan karena energinya habis. Tapi baru saja online Whatsapp dengan Akmal yang sedang olahraga wall climbing dan mengakhiri pertukaran foto kegiatan mereka dengan ajakan ma

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 20: Shena

    "Panik ya? Panik lah masa nggak," sindir Erina.Akmal menelan ludah. Dengan sok tenang, lelaki itu menutup pintu ruangan Erina, membiarkan mereka berdua terkurung dengan amarah Erina yang seperti sudah mewujud asap yang menyesakkan."Ini dulu dikasih ibu gue. Gue gak punya kotak makan, makanya dia asal ngambil aja kotak ini. Mungkin ini punya saudara gue...""Really? Siapa nama sodara lo? Shena?"Akmal melihat kotak makannya yang sudah dia isi dengan fosil bekas earphone rusak. Ada tulisan pudar yang terlihat seperti Shena, tapi tulisan Love-nya terlihat jelas."Iya kayaknya. Maksud gue, gue gak hapal semua nama saudara gue di Tangerang.""Akmal... Akmal... Lo harus ya bohong kayak gitu sama gue? Lo lupa kalau gue udah tau?"Akmal tak bisa menghentikan keterkejutannya, dia menegang di tempat. "Tau?""Masih pura-pura bodoh? Oke, gue ingetin deh. Gue ini punya database karyawan di komputer gue. Gue juga tau kalau nama lengkap si Kia itu Adzkia Shenina. Sheniiina. Tulisannya agak pudar s

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 19: Misteri Kotak Makan

    "Turun ke dapur dari jam lima pagi, masak dengan kemeja kerja tanpa pake celemek. Terus senyum-senyum sendiri waktu nyiapin makanan. Coba kasih tau Papa, siapa laki-laki itu?"Gadis itu menepuk-nepuk tangannya dengan puas, menutup kotak makan biru muda tersebut. Walau Rudolf bukan ayah kandungnya, berada di dapur yang sama selama bertahun-tahun membuat Erina memiliki kemampuan memasak yang luar biasa. Pagi ini, menyajikan pasta tentu bukan hal biasa jika tanpa ada niat khusus. Makanan ini akan dia sajikan dengan manis di meja Akmal.Namun saat Erina berbalik, tangannya menggantung di udara. Sang ayah sudah bersidekap di ambang pintu, memperhatikannya dari atas ke bawah."Apa?" Erina menyampirkan rambutnya ke belakang telinga."Kamu udah denger pertanyaan Papa. Siapa laki-laki yang lagi kamu incer?"Sial. Erina yakin sekali tadi pagi papa dan mamanya pergi untuk mengunjungi villa di Lembang. Kenapa jam segini sudah ada di rumah lagi?"Papa sama Mama habis mampir ke pabrik sebentar, teru

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 18: Kencan Dadakan

    "Rin, gue mau nyari makan ke luar. Kalau mau ikut nanti gue samper, kalau nggak, bye."Akmal bertaruh takkan ada momen yang bisa menandingi pacuan adrenalinnya saat ini. Ia berada di lantai yang sama dengan Erina tanpa mata-mata usil dari kantor. Pria itu mengecek ponsel, mencari tempat makan terdekat yang masih buka.Dengan nekadnya dia berdiri depan kamar Erina. Tanpa mengecek pesan bertubi-tubi dari gadis itu. Iya atau tidak.Hari ini adalah keputusan untuk memulai segalanya.Akhirnya pintu kamar terbuka. Erina muncul hanya memakai tank top biru, rok span, dan bando telinga beruang. Wajahnya polos tanpa makeup."Kalau mau ngajak cewek jalan tuh minimal satu minggu sebelumnya! Jangan dadakan!" cemberut Erina.Akmal menahan tangannya di dalam saku celana. "Kalau mau ayo, kalau nggak, jangan ngarep lo bisa ngedate sama gue lagi.""Kita mau ngedate? Parah ah! Standar cantik gue tuh gak gini, gue merasa culun!"“Take it or leave it.” Akmal berjalan duluan.Lelaki itu tersenyum waktu men

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 17: Erina atau Kia?

    "Mari kita sambut, tim IT dan produksi!"Erina mengumumkan nama divisi itu dengan tangan gemetaran memegang mic. Seharusnya ia tak bertugas sebagai MC, namun terpaksa menggantikan MC panggilan yang alerginya kambuh karena terlalu banyak makan udang di prasmanan.Acara rapat kerja Ang Siwa Learning Center berlangsung seru di aula hotel. Para jajaran direksi, termasuk Bu Berta dan Pak Kim, duduk santai di sofa terdepan. Sementara di pojok panggung, Akmal duduk di meja kontrol bersama Xavier mengendalikan slideshow presentasi.Mendadak seluruh lampu mati. Dua pintu aula menjeblak terbuka. Steve masuk dengan jubah hitam vampir dan taring panjang, disusul Ridwan yang bertransformasi memakai kemben kuning serta wig panjang. Tim IT dan produksi tampil totalitas membawakan tarian koplo heboh.Musik semakin meriah. Tim IT menarik tangan para bos besar ke atas panggung untuk menari bersama.Melihat kekacauan yang menyenangkan itu, Steve berinisiatif menarik Erina ke tengah panggung. Erina terse

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 16: Jejak Memori si Mantan

    "Memangnya kamu harus nginep di hotel ya, Kak, sepulang acara nanti?"Rudolf memperhatikan anak pertamanya yang duduk menyantap sandwich telur di meja makan. Erina memakai tank top biru dengan jas kelabu yang disampirkan di kursi. Nathan sudah pergi sejak pagi mengantar Mama Christy ke workshop kesehatan."Erin dapet salah satu kamar free dari kantor untuk ruang dandan cewek, Pa. Kan sayang jatah kamarnya kalau gak diambil," jawab Erina santai sambil mengunyah."Tapi kamu nanti sama siapa? Mau Papa suruh Nathan nyusul ke hotel?" tawar Rudolf khawatir."Ih, jangan lah, Pa. Ada Mbak Kia kok, HRD super jujur yang udah nikah. Kita gak bakal selundupin orang," potong Erina cepat.Rudolf tetap menatap anaknya penuh selidik, teringat trauma masa lalu saat Erina berhubungan dengan pria berandalan. Namun, Erina berhasil meyakinkan sang papa bahwa dirinya kini sudah lebih dewasa, rajin kerja, dan tidak lagi suka keluyuran kelab malam.Setibanya di venue acara rapat kerja, Erina sibuk memulas bib

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status