Home / Romansa / MAS IT & MBAK SECRETARY / Bab 4: Dialog Kakak Beradik

Share

Bab 4: Dialog Kakak Beradik

last update publish date: 2026-07-21 11:05:56

"Aduh, si Non ...."

Malam hari di tengah kompleks perumahan mewah, sopir berseragam hitam-hitam itu kelimpungan. Badan kecilnya agak susah kalau harus membopong tubuh Erina.

Dia menelepon Nathan, adik Erina. Yang harusnya malam ini menemani Erina, tapi memutuskan berduaan bersama pacarnya di rumah mumpung kedua orang tua mereka sedang staycation di Bogor.

Pemuda itu masih mengucek-ngucek mata waktu melihat kakaknya dibiarkan tergeletak.

"Padahal masukin aja, Pak."

"Ah, gak berani, Mas."

Nathan berjongkok, menepuk-nepuk pipi kakaknya. "Kak Erin! Bangun dong! Lo janji loh gak keterlaluan mabuknya. Heh!"

Dengan sekali guncangan di bahu, gadis itu membuka mata. Dia menyingkirkan rambut tebalnya yang menghalangi pandangan. Saat melihat Nathan, dia tersenyum lebar. “Dikit kok, Nate."

"Tai lah, ganggu aja. Ayo bangun!"

Dari halaman luas keluarga Rudolf yang bisa menampung enam mobil, mereka masuk ke ruang tengah raksasa dengan lampu kuning menggantung tinggi dari lantai tiga. Harum kayu dan jasmine menyebar di setiap sudut ruangan, wangi kesukaan Mama Christy yang tak boleh diusik oleh siapa pun.

Nathan meletakkan kakaknya ke sofa putih. Erina membuka mata lagi, berpura-pura sadar. "Sama siapa lo, Kak? Sendiri?"

Erina membenarkan posisi duduknya sehingga dia bisa bersandar dengan nyaman, menaikkan kedua kakinya ke meja kaca. "Sendiri dong. Kakak lo ini jomblo ngenes tau."

"Astaga, Kak. Lo tuh baru jomblo tiga bulan doang."

"Lo tau, Nate, gue ini anaknya physical touch abis. Gue gak bisa tanpa sandaran," rengek Erina berlebihan.

"Halah, kemakan label lo! Dulu ngakunya words of affirmation, terus receiving gifts, sekarang ganti lagi?"

"Lo jangan salah ya!" Erina menoyor dahi Nathan dengan telunjuknya. "Erina ini dewi cinta. Semua bahasa cinta itu ada di diri gue. Tapi masalahnya gue gak punya pasangan dewa cintanyaaaa!"

"Berisik!" Nathan kali ini membekap pelan mulut kakaknya dengan bantal. Erina merebut bantal itu dan mendekapnya sambil memelototi Nathan.

"Lo main dating apps lagi aja, Kak. Biasanya juga lo main di situ."

"Bosen, Nate. Mereka cuma ada maunya doang!"

"Kan lo juga sama cuma ada maunya doang!"

"Iya ya, hehe. Tapi gue lagi naksir orang." Erina menggigit bibirnya. Matanya melirik ke atas seolah membayangkan sesuatu. Yang membuat Nathan merinding, mendadak pipi kakaknya itu memerah.

"Siapa itu?”

"IT guy di kantor gue," jawab Erina. Pandangannya muram waktu mengingat cincin di kolong mejanya.

"Tunggu, temen kantor lo?" Nathan hampir tak percaya mendengarnya. Pasalnya, setahu Nathan pacar Erina selalu seseorang yang berasal dari club malam yang sama dengannya.

Erina mengangguk. "Kayaknya dada gue mau meledak cuma dengan nyebut namanya aja."

"Hiperbola, anying. Kalau gue lihat lo ke club sendirian malam ini, kayaknya dia gak naksir lo deh. Iya gak?"

"Jangan gegabah! Gue cuma belum kenal dekat sama dia. Kecuali kalo dia beneran udah kawin maka mundur lah gue."

“Lo kan stalker handal. Masa beginian aja bingung?”

“Susaaah. Masalahnya gue nemuin cincin itu di deket CPU setelah dia benerin kabel komputer gue. Pasti punya dia kan?” Semakin ujung kalimatnya, Erina semakin lirih. Nathan mengernyit bingung melihat kakaknya betulan menitikkan air mata.

“Cincin itu tulisannya apa?”

“Gak tau. Gue langsung tendang.”

“Setidaknya kan lo bisa make sure, Kak. Ada ukiran nama siapa? Tanggal berapa?”

“Nathan, mana ada orang pakai cincin kawin orang lain?!” sentak Erina.

“Masalahnye, itu cincin kawin beneran bukan?!” sentak Nathan balik.

Erina cemberut. Rasanya tak kuasa kalau dia musti memeriksa cincin itu.

Ia merasa sudah berekspektasi jauh soal Akmal.

Kapan lagi dia bisa mendapatkan kombinasi lelaki hot, cuek perhatian, di saat yang bersamaan?

Namun Nathan benar.

Mau tak mau dia harus melihatnya.

Keesokan harinya, Erina berjongkok. Dia mengatur napas sambil merogoh ke bawah meja. Mengambil benda kecil yang dingin, menariknya sambil gemetar.

Matanya melihat langsung ke cincin itu. Emas, tebal, minimalis. Memang model yang suka dipakai lelaki. Tapi saat Erina putar, rupanya ada bagian bulat seperti batu yang memiliki ukiran-ukiran kecil.

Bukan nama, bukan tanggal. Tapi seperti memiliki energi magis yang menghipnotis.

“Mbak Erin?”

Langkah sepatu pantofel membuat Erina bergegas bangun sampai terantuk meja.

Kia, HRD berkacamata dengan rambut sebahu dan poni membingkai wajah mungilnya itu menatap bingung. “Ngapain jongkok?”

“Oh, ini.”

“Cincin Akmal ya?” Kia menatap cincin di tangan Erina.

“Kok tau?” Erina kembali meneliti cincinnya.

“Itu emang cincin keluarganya Akmal, Mbak. Gak akan ada cincin yang sama lagi.”

“Maksudnya cincin keluarga?” Erina bertanya hati-hati. Khawatir yang dimaksud Kia adalah pernikahan atau apa.

“Akmal itu keluarganya masih pegang tradisi. Dia keturunan Lebanon dari kakek buyutnya. Dia dulu dipaksa pakai cincin itu buat perlindungan dari kesialan, Mbak.”

Bibir Erina membulat seolah mengeluarkan beban sesak di dadanya. “Bukan cincin kawin?”

“Hah? Nggak lah!” Respons Kia begitu kaget hingga seperti membentak.

Erina melihat cincin itu lagi. Dia mengeluarkan kekhawatirannya dengan tawa yang lepas.

“Sini saya balikin aja. Tadi saya ke sini mau tanya soal Xavier aspri Bu Berta, katanya dia titip dokumen ke Mbak Erin.”

Erina memberikan cincin itu ke Kia, dia mendesah lega. “Bohong dia, gak ada dokumen apa-apa di sini. Nanti kalau si Xavier nyebelin itu datang, titip tolong tendang kakinya, Mbak.”

Kia melipat bibirnya. Dia menggenggam cincin Akmal. “Kayaknya itu orang sekali-kali emang harus ditendang.”

Selepas kepergian Kia, Erina duduk santai di kursinya. Otaknya baru saja menerima fakta baru. Akmal ternyata ada keturunan Lebanon, tak heran kenapa pesonanya itu betul-betul unik dan menarik.

Yang penting kini sudah jelas lelaki itu single. Pintu emas yang megah resmi kembali terbuka di depan Erina.

Melamunnya Erina dipecahkan karena sebuah notifikasi muncul di pojok kanan layar komputernya.

W******p dari kontak bernama AKMAL L WINARTO memberikan pesan singkat yang menghentikan detak jantung Erina.

“Erina, ditunggu di studio kosong lantai 2.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 30: Akmal Punya Rahasia?

    "Saya rasa, ini saatnya bagi kita untuk mulai buat peraturan tegas di kantor soal hubungan percintaan, Bu," tegas Steve membukan pembicaraan di ruang rapat lantai satu.Bu Berta terpaksa hadir di tengah kesibukannya atas permintaan mendesak Steve dan Kia. Ruangan itu terasa bising karena berbatasan langsung dengan area ruko sebelah yang sedang dirombak untuk perluasan kantor.Kia menyodorkan ponsel Samsung S22 Ultra miliknya, menampilkan sebuah rekaman video yang diambil dari jarak jauh saat Family Gathering. Video itu berfokus pada area gelap lapangan, memperlihatkan keakraban Erina dan Akmal di dekat api unggun.Di video itu, Akmal tampak tersenyum sangat tulus, senyum lepas yang tak pernah Bu Berta lihat selama bertahun-tahun mengenal pria itu. Tayangan berlanjut dengan kompilasi foto diam-diam: saat mereka berpegangan tangan di kantin, bergandengan menuju bus, hingga Erina yang tertidur di bahu Akmal.Bu Berta kini yakin sepenuhnya bahwa keponakannya dan karyawan teladannya itu me

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 29: Modus Erina

    "Kamu sengaja bikin PC ini error ya?" tuduh Akmal saat ia berhasil menemukan sumber masalah di komputer Erina.Ia berdiri di ruangan kekasihnya itu seraya mendelik curiga. Tampilan layar komputer Erina yang miring acak-acakan sebenarnya bukan hal sulit untuk diperbaiki oleh Akmal. Namun, akar masalahnya jelas bukan gangguan teknis biasa.Mata Erina mengerjap cepat, kebiasaan khasnya jika tertangkap basah. "Kata siapa? Sembarangan kamu...""Oke, kalau kamu gak mau ngaku, aku tinggal kirim balik sedikit virus ke laptop Nathan," gertak Akmal. "Biar dia ada kerjaan lain selain ngeremote dan ngacak-ngacak PC kantor.""Eh...!" potong Erina cepat, membongkar sendiri rekayasa kecilnya bersama Nathan. "Iya deh, iya! Aku emang sengaja bikin kayak gitu. Habisnya kamu sih! Ini udah dua minggu tau kita gak ngedate. Kamu sibuuuuuuk terus! Tiap minggu selalu pulang ke Tangerang. Katanya mau berbagi waktu sama aku?"Akmal menggaruk kepalanya yang tak gatal, kehabisan kata-kata melihat kelakuan gadis

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 28: Malam Api Unggun

    "Sahabat atau pasangan?" bisik Akmal pada dirinya sendiri.Pertanyaan itu terasa amat berat. Bagi Akmal, jawabannya sangat tergantung situasi. Saat sendiri, hanya sahabat yang menemani. Namun ketika komitmen baru hadir, waktu untuk kawan tentu berkurang karena ada prioritas yang harus diutamakan.Akmal sebenarnya tak tega saat melihat Raya tergopoh-gopoh menghampirinya waktu api unggun dinyalakan. Raya memintanya menemani Kia di villa karena anaknya terus rewel. Namun, Akmal tak bisa mengiyakannya. Selain memiliki janji dengan Erina, keberadaan Fiki suami Kia harus sangat ia hormati.Akmal duduk di posisi paling ujung lapangan, memegang rokok yang menyisa ujungnya. Dari posisinya, ia menyaksikan Fiki menggenjreng gitar akustik membawakan lagu 'Tak Segampang Itu' bersama band-nya. Insting Akmal membuatnya menengok ke kiri. Erina tampak berjalan riang menghampirinya dengan atasan kemeja flowy dan celana putih. Akmal buru-buru mengelap permukaan rumput dengan tangannya agar Erina tak me

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 27: Curhat Kakak Beradik

    "AAA!"Erina berteriak kegirangan sembari menutup mulutnya rapat-rapat di dalam kamar mandi.Beberapa jam terakhir terasa bagai mimpi indah. Sensasi melayang dan bayangan pelangi seakan tak mau hilang dari pandangannya. Usai berendam di bathtub berbusa merah muda wangi bunga, barulah kesadarannya pulih utuh.Jadi, semua ini nyata? Akmal benar-benar sudah resmi menjadi miliknya?Erina buru-buru membilas tubuhnya di bawah shower. Ia memilih memakai piyama satin putih, lengkap dengan skincare, maskara, dan

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 26: Cinta Ditengah Sawah

    "Selamat sore para karyawan dan karyawati PT Ang Siwa Pintar Indonesia!" Rendy Kharisma, pria bertubuh gempal sang MC acara, menyambut lebih dari lima puluh peserta family gathering yang duduk di rumput empuk."Saya senang sekali bisa hadir di sini, bertemu rekan-rekan yang luar biasa bersemangat. Ya iyalah semangat, masa liburan gak semangat sih?" lanjut Rendy disambut sorakan tunggal Steve yang membuat semua orang tertawa."Nah, yang suaranya paling kencang biasanya tekanan kerjanya paling berat. Betul gak, Pak?" goda Rendy. Steve kembali berseru menyetujui, memancing gelak tawa untuk kedua kalinya.Rendy lantas membacakan susunan acara sore hingga malam nanti: pembukaan, game anak, game kekompakan, istirahat, lalu dilanjutkan pengumuman hadiah, penampilan band Bridgewall, api unggun, dan makan bersama. Ia juga mengingatkan peserta yang memiliki kendala fisik untuk melapor ke staf bertopi atau berkaos putih."Siap semuanya?" seru Rendy memandu. Jawaban serentak mengudara di area ter

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 25: Lembang We're In Love

    "Mas Akmal? Tidur?"Ridwan menyenggol lutut Akmal dengan lututnya."Gak," sahut Akmal singkat sambil menggulir layar ponselnya sampai ke bagian bio Instagram Erina. Highlight di instastory-nya kosong.Bus family gathering Ang Siwa Learning Center sudah masuk area pegunungan.Jalanan berkelok, pepohonan rimbun, dan sawah membentang luas membuat Akmal mual. Pura-pura tidur pun tak membuatnya berhasil tidur betulan.Apalagi dia harus duduk di kursi bus paling pojok kanan. Nasib lajang, bus depan dipenuhi karyawan yang membawa keluarga. Nyanyian karaoke ibu-ibu bersahutan dengan tangis bayi. Harapan Akmal duduk di samping Erina pupus karena Nathan yang dipaksa ikut Pak Rudolf takut mabuk dan memilih duduk bersama Jessica, adik Xavier. Sementara Xavier dan Erina di tiga bangku depan tampak membuang muka sepanjang jalan.Sambil memeluk perut dengan bantal Arsenal milik Ridwan, Akmal membuka maps di ponselnya. Masih ada empat puluh lima menit lagi menuju villa di atas gunung. Semakin meliha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status