LOGIN“Lo lagi bikin sekte, Mas?”
Mata Erina menatap tajam ke Akmal. Mereka berdua berdiri di depan pintu studio enam lantai dua yang terbuka. Studio itu dibilang kosong karena memang tak digunakan untuk shooting keperluan e-learning perusahaan edukasi ini. Namun Erina tak menyangka ajakan Akmal adalah untuk meeting bersama tim IT enam orang yang semuanya lelaki.
“Itu anggota sekte pengabdi Erina katanya. Buruan masuk, mereka butuh bantuan susun proposal pengajuan tambahan manpower ke Bu Berta,” jawab Akmal datar.
“Emang urusan gue? Penambahan karyawan tuh urusan Mbak Kia.” Erina melirik ke para lelaki yang sudah senyum-senyum menunggunya.
“Kia aja angkat tangan. Cuma lo yang diharapkan bisa bujuk Bu Berta. Lo kan karyawan kesayangannya.”
Hanya karena Erina tak terlihat sibuk dan punya ruangan sendiri, itulah yang orang pikirkan. Tak ada yang tahu bahwa ini karena Erina memang punya ikatan keluarga dengan Bu Berta.
“Gak mau! Masa gue cewek sendiri?” bisik Erina kesal.
“Ya gimana lagi? Ini meeting-nya diajuin sama anak IT.”
“Mas!” Erina membelakangi pintu, matanya serasa berair dia berbisik, “Gue takut.”
Kedua bahu Akmal turun, suaranya melembut. “Maaf banget, gue cuma jalanin tugas. Gue masuk juga kok. Lo boleh duduk deket gue kalo lo kurang nyaman di tengah-tengah sana.”
“Iya,” Erina mengangguk. Entah kenapa usulan itu langsung seperti menjadi perisai yang melindungi kekhawatirannya. “Tolong ambilin kursinya deket pintu. Terus gue maunya deket lo.”
“Ya, gue aturin dulu ya.”
Cuma satu kalimat singkat, mengandung nada manis yang berusaha membuat nyaman.
Nada itu berulang-ulang terputar di ingatan Erina.
Erina merasa semesta menjadikan Akmal sebagai manusia favorit. Karena rasanya tak masuk akal ada pria semanis itu, sebaik itu, sewaras itu di tengah para lelaki kelaparan.
Walau saat ini Erina sudah tiduran di kursi santai samping kolam renang rumahnya, otak Erina masih saja tersita di kantor. Di mana dia sepertinya kena tulah akibat ulahnya sendiri yang dulu cenderung malas kerja. Sekarang dia justru tak bisa melepas bayangan kantor di hari liburnya.
“Gue dari tadi cerita soal mantan gue yang ngajak balikan, tapi lo gak jawab. Kenapa sih? Lo mikirin apa?"
Erina menoleh ke Nathan. Dia sampai lupa sejak tadi mereka berjemur berdua setelah lomba renang tiga balikan.
"Masih gara-gara mas-mas IT itu?" tanya Nathan lagi, menegaskan.
Erina tak menjawab. Dia bersedekap seolah kode mau menutup dirinya dari Nathan.
"Gue rasa lo cuma penasaran aja, Kak, sama dia. Maklum, dia kan cowok pertama yang gak terlalu nanggepin lo."
“Gak gitu juga. Dia tetep perhatian dan jadi gentleman kok buat gue.”
“Atauu dia cuma bersikap sebagai seorang lelaki dewasa yang normal?”
Sialan. Itu jugalah yang dipikirkan Erina. Akmal terlihat spesial karena lelaki lainnya bersikap cabul.
“Terus kenapa dia gak suka gue? Maksud gue, lelaki normal pasti ada hasrat lah, Nate, ke gue. Minimal godain dikit. Dia tuh kayak gak ngeliat gue. Kayak gak nganggap gue sebagai The Hot Erina.”
“Mungkin karena dia cowok baik-baik.”
“Maksud lo?” sahut Erina, sewot.
"Lo sendiri yang bilang, lo tuh topik hangat di kantor. Orang-orang pada nganggep lo remeh dan lain sebagainya. Mungkin sebagai mas-mas yang punya reputasi baik, dia merasa harus jaga diri dan jauh-jauh dari lo."
Jawaban Nathan berhasil menutup mulut Erina.
Mungkin Akmal sopan, tapi Akmal juga jelas mendengar banyak hal tentangnya. Apa kata orang kalau Akmal dekat dengan seorang Erina?
Pastinya orang akan berpikiran negatif pada Akmal dan itu bukan hal bagus.
"Yang membuat gue jelek di mata orang kantor adalah postingan sosmed gue. Itu yang pertama. Padahal apa salahnya pake bikini di pantai?"
"Salahnya lo foto dan lo post. Apalagi akun I*******m lo di-publik. Siapa pun bisa liat."
"Ya iya, gue gak bisa nyalahin mereka juga kan ya?"
"Jelas!"
"Jadi gue harus berubah? Harus hapusin foto dan ubah citra gue demi bisa deketin Akmal?"
"Pertanyaannya balik lagi ke lo, Kak."
"Tapi rasanya gak fair, Nate. Kenapa gue harus berubah untuk orang lain? Kenapa gue gak bisa jadi diri gue sendiri? Kalau gue ngegebet Akmal dengan menjadi 'cewek baik-baik' yang bukan gue, nanti gue malah tertekan gak sih?"
"Itu lo tau, Kak. Sebelumnya, saran gue lo pastiin, si Akmal itu beneran worth it gak buat dikejar? Lo perkuat juga alasan kenapa lo harus ngejar Akmal." Nathan mengambil handuk kecil dari sandaran kursi, menutup dahi dan rambut cokelatnya yang mulai terlalu kepanasan akibat sinar matahari.
"Gue suka dia karena dia hot," jujur Erina. Itu yang pertama kali muncul di otaknya saat dia tahu adalah seonggok makhluk keren bernama Akmal.
"Tuh kan! Lo cuma tertarik ke fisiknya doang! Kalo gitu, alasannya gak cukup kuat untuk lo ngorbanin banyak hal demi dapetin dia. Percaya sama gue, lo coba keliling club, lo pasti bisa nemu yang bikin lo lebih ngerasa greget."
"DAN, sabar ada lanjutannya. Dia tuh beda dari cowok-cowok lain. Dia gak jelalatan sama gue tapi dia perhatian banget sama detail." Faktor kedua ini sejujurnya mulai jadi alasan pertamanya menyukai Akmal. Soalnya selama berada di kantor, selama dia bercanda dengan semua orang, tak pernah ada satu pun yang mengesankan seperti Akmal.
“Lo harus lebih sering merhatiin dia, Kak. That’s the key.”
“Perhatiin gimana maksudnya?”
“Pastiin dia emang ramah ke semua orang atau ke lo doang? Itu poin penting. Biar lo tau sebenernya posisi lo di mata dia di mana sekarang. Apakah dia baik karena kasihan? Baik karena emang sifatnya gitu? Atau ada hal tertentu.”
“Gitu ya?”
Erina bersandar lagi ke kursi, menatap langit biru dan sinar matahari menyilaukan.
Memperhatikan Akmal akan jadi kegiatan yang menyenangkan.
Hanya saja Erina belum yakin, apakah dia siap ya dengan hasil akhirnya?
"Saya rasa, ini saatnya bagi kita untuk mulai buat peraturan tegas di kantor soal hubungan percintaan, Bu," tegas Steve membukan pembicaraan di ruang rapat lantai satu.Bu Berta terpaksa hadir di tengah kesibukannya atas permintaan mendesak Steve dan Kia. Ruangan itu terasa bising karena berbatasan langsung dengan area ruko sebelah yang sedang dirombak untuk perluasan kantor.Kia menyodorkan ponsel Samsung S22 Ultra miliknya, menampilkan sebuah rekaman video yang diambil dari jarak jauh saat Family Gathering. Video itu berfokus pada area gelap lapangan, memperlihatkan keakraban Erina dan Akmal di dekat api unggun.Di video itu, Akmal tampak tersenyum sangat tulus, senyum lepas yang tak pernah Bu Berta lihat selama bertahun-tahun mengenal pria itu. Tayangan berlanjut dengan kompilasi foto diam-diam: saat mereka berpegangan tangan di kantin, bergandengan menuju bus, hingga Erina yang tertidur di bahu Akmal.Bu Berta kini yakin sepenuhnya bahwa keponakannya dan karyawan teladannya itu me
"Kamu sengaja bikin PC ini error ya?" tuduh Akmal saat ia berhasil menemukan sumber masalah di komputer Erina.Ia berdiri di ruangan kekasihnya itu seraya mendelik curiga. Tampilan layar komputer Erina yang miring acak-acakan sebenarnya bukan hal sulit untuk diperbaiki oleh Akmal. Namun, akar masalahnya jelas bukan gangguan teknis biasa.Mata Erina mengerjap cepat, kebiasaan khasnya jika tertangkap basah. "Kata siapa? Sembarangan kamu...""Oke, kalau kamu gak mau ngaku, aku tinggal kirim balik sedikit virus ke laptop Nathan," gertak Akmal. "Biar dia ada kerjaan lain selain ngeremote dan ngacak-ngacak PC kantor.""Eh...!" potong Erina cepat, membongkar sendiri rekayasa kecilnya bersama Nathan. "Iya deh, iya! Aku emang sengaja bikin kayak gitu. Habisnya kamu sih! Ini udah dua minggu tau kita gak ngedate. Kamu sibuuuuuuk terus! Tiap minggu selalu pulang ke Tangerang. Katanya mau berbagi waktu sama aku?"Akmal menggaruk kepalanya yang tak gatal, kehabisan kata-kata melihat kelakuan gadis
"Sahabat atau pasangan?" bisik Akmal pada dirinya sendiri.Pertanyaan itu terasa amat berat. Bagi Akmal, jawabannya sangat tergantung situasi. Saat sendiri, hanya sahabat yang menemani. Namun ketika komitmen baru hadir, waktu untuk kawan tentu berkurang karena ada prioritas yang harus diutamakan.Akmal sebenarnya tak tega saat melihat Raya tergopoh-gopoh menghampirinya waktu api unggun dinyalakan. Raya memintanya menemani Kia di villa karena anaknya terus rewel. Namun, Akmal tak bisa mengiyakannya. Selain memiliki janji dengan Erina, keberadaan Fiki suami Kia harus sangat ia hormati.Akmal duduk di posisi paling ujung lapangan, memegang rokok yang menyisa ujungnya. Dari posisinya, ia menyaksikan Fiki menggenjreng gitar akustik membawakan lagu 'Tak Segampang Itu' bersama band-nya. Insting Akmal membuatnya menengok ke kiri. Erina tampak berjalan riang menghampirinya dengan atasan kemeja flowy dan celana putih. Akmal buru-buru mengelap permukaan rumput dengan tangannya agar Erina tak me
"AAA!"Erina berteriak kegirangan sembari menutup mulutnya rapat-rapat di dalam kamar mandi.Beberapa jam terakhir terasa bagai mimpi indah. Sensasi melayang dan bayangan pelangi seakan tak mau hilang dari pandangannya. Usai berendam di bathtub berbusa merah muda wangi bunga, barulah kesadarannya pulih utuh.Jadi, semua ini nyata? Akmal benar-benar sudah resmi menjadi miliknya?Erina buru-buru membilas tubuhnya di bawah shower. Ia memilih memakai piyama satin putih, lengkap dengan skincare, maskara, dan
"Selamat sore para karyawan dan karyawati PT Ang Siwa Pintar Indonesia!" Rendy Kharisma, pria bertubuh gempal sang MC acara, menyambut lebih dari lima puluh peserta family gathering yang duduk di rumput empuk."Saya senang sekali bisa hadir di sini, bertemu rekan-rekan yang luar biasa bersemangat. Ya iyalah semangat, masa liburan gak semangat sih?" lanjut Rendy disambut sorakan tunggal Steve yang membuat semua orang tertawa."Nah, yang suaranya paling kencang biasanya tekanan kerjanya paling berat. Betul gak, Pak?" goda Rendy. Steve kembali berseru menyetujui, memancing gelak tawa untuk kedua kalinya.Rendy lantas membacakan susunan acara sore hingga malam nanti: pembukaan, game anak, game kekompakan, istirahat, lalu dilanjutkan pengumuman hadiah, penampilan band Bridgewall, api unggun, dan makan bersama. Ia juga mengingatkan peserta yang memiliki kendala fisik untuk melapor ke staf bertopi atau berkaos putih."Siap semuanya?" seru Rendy memandu. Jawaban serentak mengudara di area ter
"Mas Akmal? Tidur?"Ridwan menyenggol lutut Akmal dengan lututnya."Gak," sahut Akmal singkat sambil menggulir layar ponselnya sampai ke bagian bio Instagram Erina. Highlight di instastory-nya kosong.Bus family gathering Ang Siwa Learning Center sudah masuk area pegunungan.Jalanan berkelok, pepohonan rimbun, dan sawah membentang luas membuat Akmal mual. Pura-pura tidur pun tak membuatnya berhasil tidur betulan.Apalagi dia harus duduk di kursi bus paling pojok kanan. Nasib lajang, bus depan dipenuhi karyawan yang membawa keluarga. Nyanyian karaoke ibu-ibu bersahutan dengan tangis bayi. Harapan Akmal duduk di samping Erina pupus karena Nathan yang dipaksa ikut Pak Rudolf takut mabuk dan memilih duduk bersama Jessica, adik Xavier. Sementara Xavier dan Erina di tiga bangku depan tampak membuang muka sepanjang jalan.Sambil memeluk perut dengan bantal Arsenal milik Ridwan, Akmal membuka maps di ponselnya. Masih ada empat puluh lima menit lagi menuju villa di atas gunung. Semakin meliha







