Home / Romansa / MAS IT & MBAK SECRETARY / Bab 5: Misi Mengenal Akmal

Share

Bab 5: Misi Mengenal Akmal

last update publish date: 2026-07-21 11:08:51

“Lo lagi bikin sekte, Mas?”

Mata Erina menatap tajam ke Akmal. Mereka berdua berdiri di depan pintu studio enam lantai dua yang terbuka. Studio itu dibilang kosong karena memang tak digunakan untuk shooting keperluan e-learning perusahaan edukasi ini. Namun Erina tak menyangka ajakan Akmal adalah untuk meeting bersama tim IT enam orang yang semuanya lelaki.

“Itu anggota sekte pengabdi Erina katanya. Buruan masuk, mereka butuh bantuan susun proposal pengajuan tambahan manpower ke Bu Berta,” jawab Akmal datar.

“Emang urusan gue? Penambahan karyawan tuh urusan Mbak Kia.” Erina melirik ke para lelaki yang sudah senyum-senyum menunggunya.

“Kia aja angkat tangan. Cuma lo yang diharapkan bisa bujuk Bu Berta. Lo kan karyawan kesayangannya.”

Hanya karena Erina tak terlihat sibuk dan punya ruangan sendiri, itulah yang orang pikirkan. Tak ada yang tahu bahwa ini karena Erina memang punya ikatan keluarga dengan Bu Berta.

“Gak mau! Masa gue cewek sendiri?” bisik Erina kesal.

“Ya gimana lagi? Ini meeting-nya diajuin sama anak IT.”

“Mas!” Erina membelakangi pintu, matanya serasa berair dia berbisik, “Gue takut.”

Kedua bahu Akmal turun, suaranya melembut. “Maaf banget, gue cuma jalanin tugas. Gue masuk juga kok. Lo boleh duduk deket gue kalo lo kurang nyaman di tengah-tengah sana.”

“Iya,” Erina mengangguk. Entah kenapa usulan itu langsung seperti menjadi perisai yang melindungi kekhawatirannya. “Tolong ambilin kursinya deket pintu. Terus gue maunya deket lo.”

“Ya, gue aturin dulu ya.”

Cuma satu kalimat singkat, mengandung nada manis yang berusaha membuat nyaman.

Nada itu berulang-ulang terputar di ingatan Erina.

Erina merasa semesta menjadikan Akmal sebagai manusia favorit. Karena rasanya tak masuk akal ada pria semanis itu, sebaik itu, sewaras itu di tengah para lelaki kelaparan.

Walau saat ini Erina sudah tiduran di kursi santai samping kolam renang rumahnya, otak Erina masih saja tersita di kantor. Di mana dia sepertinya kena tulah akibat ulahnya sendiri yang dulu cenderung malas kerja. Sekarang dia justru tak bisa melepas bayangan kantor di hari liburnya.

“Gue dari tadi cerita soal mantan gue yang ngajak balikan, tapi lo gak jawab. Kenapa sih? Lo mikirin apa?"

Erina menoleh ke Nathan. Dia sampai lupa sejak tadi mereka berjemur berdua setelah lomba renang tiga balikan.

"Masih gara-gara mas-mas IT itu?" tanya Nathan lagi, menegaskan.

Erina tak menjawab. Dia bersedekap seolah kode mau menutup dirinya dari Nathan.

"Gue rasa lo cuma penasaran aja, Kak, sama dia. Maklum, dia kan cowok pertama yang gak terlalu nanggepin lo."

“Gak gitu juga. Dia tetep perhatian dan jadi gentleman kok buat gue.”

“Atauu dia cuma bersikap sebagai seorang lelaki dewasa yang normal?”

Sialan. Itu jugalah yang dipikirkan Erina. Akmal terlihat spesial karena lelaki lainnya bersikap cabul.

“Terus kenapa dia gak suka gue? Maksud gue, lelaki normal pasti ada hasrat lah, Nate, ke gue. Minimal godain dikit. Dia tuh kayak gak ngeliat gue. Kayak gak nganggap gue sebagai The Hot Erina.”

“Mungkin karena dia cowok baik-baik.”

“Maksud lo?” sahut Erina, sewot.

"Lo sendiri yang bilang, lo tuh topik hangat di kantor. Orang-orang pada nganggep lo remeh dan lain sebagainya. Mungkin sebagai mas-mas yang punya reputasi baik, dia merasa harus jaga diri dan jauh-jauh dari lo."

Jawaban Nathan berhasil menutup mulut Erina.

Mungkin Akmal sopan, tapi Akmal juga jelas mendengar banyak hal tentangnya. Apa kata orang kalau Akmal dekat dengan seorang Erina?

Pastinya orang akan berpikiran negatif pada Akmal dan itu bukan hal bagus.

"Yang membuat gue jelek di mata orang kantor adalah postingan sosmed gue. Itu yang pertama. Padahal apa salahnya pake bikini di pantai?"

"Salahnya lo foto dan lo post. Apalagi akun I*******m lo di-publik. Siapa pun bisa liat."

"Ya iya, gue gak bisa nyalahin mereka juga kan ya?"

"Jelas!"

"Jadi gue harus berubah? Harus hapusin foto dan ubah citra gue demi bisa deketin Akmal?"

"Pertanyaannya balik lagi ke lo, Kak."

"Tapi rasanya gak fair, Nate. Kenapa gue harus berubah untuk orang lain? Kenapa gue gak bisa jadi diri gue sendiri? Kalau gue ngegebet Akmal dengan menjadi 'cewek baik-baik' yang bukan gue, nanti gue malah tertekan gak sih?"

"Itu lo tau, Kak. Sebelumnya, saran gue lo pastiin, si Akmal itu beneran worth it gak buat dikejar? Lo perkuat juga alasan kenapa lo harus ngejar Akmal." Nathan mengambil handuk kecil dari sandaran kursi, menutup dahi dan rambut cokelatnya yang mulai terlalu kepanasan akibat sinar matahari.

"Gue suka dia karena dia hot," jujur Erina. Itu yang pertama kali muncul di otaknya saat dia tahu adalah seonggok makhluk keren bernama Akmal.

"Tuh kan! Lo cuma tertarik ke fisiknya doang! Kalo gitu, alasannya gak cukup kuat untuk lo ngorbanin banyak hal demi dapetin dia. Percaya sama gue, lo coba keliling club, lo pasti bisa nemu yang bikin lo lebih ngerasa greget."

"DAN, sabar ada lanjutannya. Dia tuh beda dari cowok-cowok lain. Dia gak jelalatan sama gue tapi dia perhatian banget sama detail." Faktor kedua ini sejujurnya mulai jadi alasan pertamanya menyukai Akmal. Soalnya selama berada di kantor, selama dia bercanda dengan semua orang, tak pernah ada satu pun yang mengesankan seperti Akmal.

“Lo harus lebih sering merhatiin dia, Kak. That’s the key.”

“Perhatiin gimana maksudnya?”

“Pastiin dia emang ramah ke semua orang atau ke lo doang? Itu poin penting. Biar lo tau sebenernya posisi lo di mata dia di mana sekarang. Apakah dia baik karena kasihan? Baik karena emang sifatnya gitu? Atau ada hal tertentu.”

“Gitu ya?”

Erina bersandar lagi ke kursi, menatap langit biru dan sinar matahari menyilaukan.

Memperhatikan Akmal akan jadi kegiatan yang menyenangkan.

Hanya saja Erina belum yakin, apakah dia siap ya dengan hasil akhirnya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 7: Kebab Untuk Erina

    "Mari kita deketin cowok itu."Erina membisikkan kalimat tersebut pada bayangannya sendiri. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Kantor sepi, hanya suara langkah Akmal yang sesekali terdengar naik turun tangga.Dalam proses menunggu, Erina mulai ragu.Kok dia harus sampai segininya hanya untuk mendapatkan perhatian seorang lelaki? Biasanya satu kedipan saja sudah cukup membuat lelaki rela diseret ke kasur. Jangan-jangan semesta sedang memberitahunya bahwa Akmal memang tidak layak diperjuangkan.Ah, sudahlah.Semuanya harus dibuktikan terlebih dahulu.Erina berdiri dari kursinya lalu memeriksa penampilannya melalui pantulan monitor yang sudah mati. Dia mengenakan kemeja floral berlengan panjang dan rok merah gelap yang nyaris ungu. Kebetulan, warna kemeja Akmal hari itu hampir senada dengan roknya.Bisa jadi pertanda mereka memang serasi.Selalu ada kemungkinan.Erina berkaca melalui layar iPhone 13 pro max miliknya. Riasannya masih bagus, bulu mata ekstensi tetap rapi,

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 6: Si Rajin Erina

    "Pantri untuk apa?" seru Bu Berta."Makan, Bu ... " jawab semuanya serentak.Erina juga ikut menjawab. Dia menunduk sok patuh. Padahal dalam hatinya ngakak, karena dia tahu tantenya itu penggila sambal terasi. Jangan-jangan, dia ngamuk mencium sambal terasi di area kantor karena tidak ditawari."Kantor untuk apa?""Bekerja, Bu.""Kalau makan di mana?""Di pantri, Bu.""Kalian mau ulangi seperti ini gak?""Tidak, Bu."Bu Berta memperhatikan wajah karyawan-karyawannya seolah bisa membaca ekspresi siapa yang kurang meyakinkan. Namun akhirnya ia mengangguk, "Erina dan Kia, buat klasifikasi makanan yang diperbolehkan dimakan di area kerja dan yang tidak. Saya tunggu laporannya hari ini.""Baik, Bu," Erina dan Kia menjawab hampir bersamaan."Xavier, tolong pantau lantai dua. Pastikan gak ada yang mukbang juga di studio."Lelaki sipit berkacamata itu mengangguk patuh, "siap, Bu.""Silakan kembali bekerja." Bu Berta kemudian menuju tangga turun, disusul Xavier yang selalu jadi buntutnya.Erin

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 5: Misi Mengenal Akmal

    “Lo lagi bikin sekte, Mas?”Mata Erina menatap tajam ke Akmal. Mereka berdua berdiri di depan pintu studio enam lantai dua yang terbuka. Studio itu dibilang kosong karena memang tak digunakan untuk shooting keperluan e-learning perusahaan edukasi ini. Namun Erina tak menyangka ajakan Akmal adalah untuk meeting bersama tim IT enam orang yang semuanya lelaki.“Itu anggota sekte pengabdi Erina katanya. Buruan masuk, mereka butuh bantuan susun proposal pengajuan tambahan manpower ke Bu Berta,” jawab Akmal datar.“Emang urusan gue? Penambahan karyawan tuh urusan Mbak Kia.” Erina melirik ke para lelaki yang sudah senyum-senyum menunggunya.“Kia aja angkat tangan. Cuma lo yang diharapkan bisa bujuk Bu Berta. Lo kan karyawan kesayangannya.”Hanya karena Erina tak terlihat sibuk dan punya ruangan sendiri, itulah yang orang pikirkan. Tak ada yang tahu bahwa ini karena Erina memang punya ikatan keluarga dengan Bu Berta.“Gak mau! Masa gue cewek sendiri?” bisik Erina kesal.“Ya gimana lagi? Ini m

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 4: Dialog Kakak Beradik

    "Aduh, si Non ...."Malam hari di tengah kompleks perumahan mewah, sopir berseragam hitam-hitam itu kelimpungan. Badan kecilnya agak susah kalau harus membopong tubuh Erina.Dia menelepon Nathan, adik Erina. Yang harusnya malam ini menemani Erina, tapi memutuskan berduaan bersama pacarnya di rumah mumpung kedua orang tua mereka sedang staycation di Bogor.Pemuda itu masih mengucek-ngucek mata waktu melihat kakaknya dibiarkan tergeletak."Padahal masukin aja, Pak.""Ah, gak berani, Mas."Nathan berjongkok, menepuk-nepuk pipi kakaknya. "Kak Erin! Bangun dong! Lo janji loh gak keterlaluan mabuknya. Heh!"Dengan sekali guncangan di bahu, gadis itu membuka mata. Dia menyingkirkan rambut tebalnya yang menghalangi pandangan. Saat melihat Nathan, dia tersenyum lebar. “Dikit kok, Nate.""Tai lah, ganggu aja. Ayo bangun!"Dari halaman luas keluarga Rudolf yang bisa menampung enam mobil, mereka masuk ke ruang tengah raksasa dengan lampu kuning menggantung tinggi dari lantai tiga. Harum kayu dan

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 3: Cincin Akmal?

    “Akmal Lucius Winarto.”Erina membaca nama pada label alamat, lalu meletakkan paket plastik hitam seukuran kotak sepatu itu di meja Akmal.Lelaki itu membuka sebelah headphone-nya, “Kenapa lo bawain ke sini?”“Sekalian naik aja.” Erina tersenyum.“Oh. Thank you.” Akmal meletakkan paket itu ke kolong meja, memakai kembali headphone-nya, lalu menatap komputer seolah Erina sudah tak ada di depannya.“Anytime, Mas Akmal.” Erina tak peduli Akmal tak meliriknya lagi. Sejujurnya dia sedang mencari alasan untuk menyebut nama itu. Nama yang akhir-akhir ini muncul di otaknya, sesering wajah Akmal yang tak bisa lepas dari mimpi di tidurnya.Di ruangan pengap yang hanya menjadi hunian bagi Erina, kursi putarnya yang sering macet dan meja besar yang berhimpitan dengan lemari arsip, dia hanya bisa memperhatikan keramaian di luar ruangan dari suara-suara yang terdengar. Pintunya memang tipis, jadi ruangannya tak kedap suara sama sekali.Minimal dua jam sekali pasti nama Akmal disebut.Ketika mendada

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 2: Pahlawan Baju Kusut

    "Hi, guys. Udah pada makan?"Erina mengangkat sebelah tangannya menyapa tiga pemuda yang baru masuk ke pantri lantai satu. Mereka memakai seragam putih-hitam, kemungkinan karyawan baru yang butuh sekitar tiga hari lagi untuk diperbolehkan pakai pakaian formal bebas."Udah, Mbak. Mbak Erin baru mau makan?" Pemuda berambut cepak menjawab. Dia duduk di kursi dekat pintu. Kedua temannya saling menyikut, jelas salah tingkah disapa wanita seksi paling populer di kantor ini."Iya nih."Erina meletakkan pisang Sunpride dan satu bungkus kopi di atas meja keramik. Entah kenapa sejak masuk ke kantor ini dia justru jatuh cinta pada kopi sachet yang rasanya terlalu manis. Makan siang berat hampir tidak pernah menjadi pilihannya."Makan apa kalian tadi?""Nasi kotak, Mbak.” Kini pemuda berkacamata yang menjawab. Dia terkikik sendiri setelah berhasil bicara tanpa gemetar."Emangnya Mbak Erin nggak pernah makan katering?" Si rambut cepak bertanya lagi, tak ingin kalah.Erina menunjukkan pisangnya. "S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status