LOGINDemi membalas dendam kematian sang ayah, Anastasia Moreau nekat menyusup ke lingkaran terdalam pangeran mafia paling ditakuti, Alaric De Luca. Di balik pertaruhan sandiwara, gairah posesif, dan rekayasa kematian, Anastasia melarikan diri membawa benih cinta haram yang disembunyikannya.
View More"Jangan biarkan jalang itu lolos! Tangkap dia!"
Suara teriakan serak itu menggema di sepanjang koridor sunyi lantai VIP Hotel L’Empire. Langkah kaki yang berat dan tergesa memecah keheningan malam musim dingin di pinggiran kota Paris. Di atas karpet merah tebal yang membentang tanpa ujung, Anastasia Moreau berlari dengan sisa tenaga yang ia miliki. Napasnya memburu, terasa panas dan menyiksa di paru-parunya yang seolah hampir meledak.
Kedua tangannya yang gemetar berusaha memeluk tubuhnya sendiri. Gaun satin tipis sewarna gading yang ia kenakan telah robek parah dari dada hingga paha, memperlihatkan kulit pucatnya yang kini dihiasi memar kebiruan yang mengerikan. Di pelipis kirinya, darah segar mengalir lambat, melewati pipi, dan menetes ke atas karpet merah, meninggalkan jejak-jejak merah gelap yang kontras.
"Sialan! Berhenti kau, Anna!"
Suara itu terdengar semakin dekat. Itu adalah suara Robert Still, seorang pengusaha lokal bertubuh tambun yang memesan jasanya malam ini. Pria paruh baya itu murka karena Anna menolak melayani fantasi kasarnya dan nekat memukul kepalanya dengan botol wiski sebelum melarikan diri. Sekarang, Robert bersama dua pengawal pribadinya mengejar Anna bagai binatang pemburu yang tidak akan melepaskan mangsanya.
Kedua kaki telanjang Anna terasa kebas menapak lantai marmer dingin di ujung koridor. Pandangannya mulai mengabur, berputar karena kehilangan cukup banyak darah dari luka di kepalanya. Setiap langkah terasa seperti duri yang menusuk dalam. Namun, ketakutan akan siksaan yang lebih kejam jika ia tertangkap membuat kakinya terus dipaksa melangkah.
Di ujung koridor berbelok, sebuah pintu kayu mahoni ganda terbuka perlahan. Sinar lampu hangat berpendar dari dalam ruangan VIP tersebut, membiaskan bayangan tinggi menjulang ke arah koridor.
Anna tidak sempat mengerem langkahnya. Tubuhnya yang limbung dan rapuh menabrak dada bidang seseorang yang baru saja melangkah keluar dari ruangan itu.
Bruk!
Benturan itu tidak membuat pria di hadapannya bergeming satu inci pun. Sebaliknya, tubuh Anna yang ringkih justru terpental ke belakang dan jatuh terduduk di atas lantai dingin. Rasa sakit menjalar ke seluruh sendinya, membuat Anna mengerang lirih. Dengan sisa kesadaran yang kian menipis, ia mendongak.
Di hadapannya berdiri seorang pria dengan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna tanpa cela. Pria itu memiliki rahang tegas yang tercukur rapi, rambut hitam yang disisir klimis ke belakang, dan sepasang mata sebiru es yang memancarkan aura dingin yang mematikan. Dia adalah Alaric De Luca. Sosok yang dikenal di dunia bawah sebagai The Black Heir, calon tunggal penguasa dinasti mafia De Luca yang paling ditakuti di seantero Eropa. Di belakangnya, berdiri tegak tangan kanannya yang berwajah tanpa ekspresi, Marcus.
"T-tolong..." bisik Anna dengan suara serak yang nyaris tidak terdengar.
Jari-jemari Anna yang gemetar dan bernoda darah menjangkau ujung celana bahan Alaric, meremasnya dengan keputusasaan yang teramat sangat. Ia tidak peduli siapa pria di hadapannya ini. Baginya, siapa pun yang berada di koridor ini adalah sedotan terakhir yang bisa menyelamatkan nyawanya dari kematian.
Alaric menurunkan pandangannya. Matanya yang dingin menatap noda darah segar yang kini mengotori celana panjangnya yang berharga ribuan dolar. Tidak ada kilatan rasa iba atau terkejut di wajahnya yang sekeras patung marmer. Yang ada hanyalah kilatan kejengkelan yang samar.
"Singkirkan tangan kotormu dari pakaianku," desis Alaric. Suaranya rendah, bariton, dan bergaung dengan otoritas yang membuat bulu kuduk Anna meremang.
Sebelum Anna sempat merespons atau menarik tangannya, derap langkah kaki Robert Still dan kedua pengawalnya tiba di tempat itu. Napas Robert tersengal-sengal, wajahnya yang gemuk memerah padam karena amarah dan kelelahan.
"Akhirnya kau terpojok, jalang tak tahu diri!" bentak Robert, mengabaikan kehadiran Alaric karena matanya hanya tertuju pada Anna yang ketakutan di lantai. Robert melangkah maju hendak mencengkeram rambut Anna. "Minggir kau! Jangan menghalangi jalanku untuk memberi pelajaran pada mainanku!" tuntut Robert kasar kepada Alaric.
Langkah Robert terhenti seketika saat Marcus, pengawal Alaric, melangkah satu langkah ke depan. Tubuh Marcus yang tinggi besar menghalangi akses Robert ke arah Anna.
"Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, Tuan Still," ucap Marcus dengan nada datar namun penuh ancaman.
Robert mendengus kasar, wajahnya mengencang sombong. "Aku tidak peduli siapa kalian! Aku adalah Robert Still, pemilik jaringan logistik terbesar di kota ini! Singkirkan pengawalmu, atau aku akan memastikan kalian berdua membusuk di sel tahanan besok pagi!"
Mendengar ancaman itu, Alaric perlahan menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis tanpa kehangatan yang justru terlihat mengerikan. Ia perlahan merogoh saku jasnya, mengambil sebatang cerutu, dan mematikannya tanpa mengalihkan pandangan esnya dari Robert. Setelah mengembuskan asap tipis ke udara, ia bersuara.
"Robert Still," gumam Alaric dingin, menyebut nama itu seolah nama itu hanyalah sampah yang mengotori lidahnya. "Kau berisik sekali di wilayah kekuasaanku."
Robert mengernyit, mulai merasakan firasat buruk dari ketenangan pria di hadapannya. "K-kekuasaanmu? Siapa sebenarnya kau?"
Alaric tidak menjawab. Ia hanya memberikan isyarat kecil dengan jentikan jarinya yang mengenakan cincin perak berlogo keluarga De Luca—lambang kepala serigala hitam.
Seketika, mata salah satu pengawal Robert melebar saat menyadari lambang tersebut. "T-Tuan... Dia... Dia Alaric De Luca."
Mendengar nama keluarga legendaris itu, seluruh warna kulit di wajah Robert langsung lenyap, menyisakan pucat pasi yang mengerikan. Tubuh tambunnya gemetar seketika. "D-De Luca? Maafkan saya, Tuan De Luca... Saya tidak bermaksud—"
"Marcus," potong Alaric tanpa emosi, bahkan tidak sudi mendengarkan permohonan maaf itu. "Bersihkan koridor ini. Suara babi mendengkur membuat kepalaku pening."
"Baik, Tuan."
Hanya dalam hitungan detik, sebelum pengawal Robert sempat menarik senjata mereka, Marcus bergerak dengan kecepatan luar biasa. Dua pukulan presisi bersarang di rahang kedua pengawal Robert, membuat mereka terkapar tak sadarkan diri di atas karpet merah dalam sekejap. Robert yang ketakutan setengah mati jatuh terduduk, memohon ampun dengan suara mencicit saat moncong pistol hitam milik Marcus kini menempel tepat di dahinya.
"Pergi sebelum aku berubah pikiran untuk mengirim kepalamu ke kantor logistikmu besok pagi," desis Alaric tanpa melihat ke arah Robert.
Tanpa perlu diperingatkan dua kali, Robert merangkak mundur dengan panik, mengabaikan dua pengawalnya yang pingsan dan berlari sekencang mungkin menuju lift, meninggalkan koridor itu dalam kesunyian yang mencekam kembali.
Alaric mengembuskan asap cerutunya sekali lagi, lalu mengalihkan pandangannya ke bawah.
Anna masih di sana, meringkuk gemetar dengan sisa-sisa kesadaran yang hampir habis. Matanya yang sayu menatap Alaric dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa takut yang amat sangat dan kekaguman yang aneh pada sosok yang baru saja mengusir monster yang mengejarnya.
"T-terima kasih..." lirih Anna sebelum matanya perlahan terpejam, dan tubuhnya terkulai sepenuhnya di atas karpet, tidak sadarkan diri.
Alaric menatap tubuh wanita yang babak belur itu dengan tatapan datar.
"Apa yang harus kita lakukan dengannya, Tuan?" tanya Marcus setelah mengamankan senjatanya kembali. "Haruskah kita memanggil ambulans atau membawanya ke rumah sakit terdekat?"
Alaric terdiam sejenak. Ia benci kekacauan. Membawa wanita ini ke rumah sakit umum berarti akan ada laporan polisi, penyelidikan atas Robert Still, dokumen-dokumen formalitas, dan interogasi yang membuang-buang waktunya yang berharga. Dinasti De Luca tidak bekerja dengan cara yang meninggalkan jejak birokrasi seperti itu.
"Bawa dia ke mansion," perintah Alaric dingin seraya melangkah melewati tubuh Anna tanpa ragu. "Panggil Dr. Reinhardt ke sana. Pastikan dia tidak mati di dalam mobilku."
Alaric terus berjalan menuju lift VIP, meninggalkan jejak sepatu hitamnya yang kini sedikit ternoda oleh darah Anastasia Moreau. Ia tidak pernah menduga bahwa keputusan dinginnya malam itu akan menjadi awal dari jeratan tak kasat mata yang akan mengikat hidupnya selamanya.
"Kunci pintu utama dan periksa perimeter lorong timur!"Gema suara berat pengawal di balik pintu ganda ruang kerja membuat seluruh sel di tubuh Anastasia menegang kaku. Dalam hitungan seperseribu detik, refleks terlatih seorang agen kepolisian mengambil alih penuh kendali pikirannya.Tanpa menimbulkan gesekan kain sedikit pun, Anastasia melangkah mundur bagai bayangan. Tubuh mungilnya menyelinap halus ke balik tirai beludru tebal bernuansa merah marun yang melapisi pintu kaca balkon.Krek.Gagang pintu mahoni berputar penuh. Daun pintu terbuka lebar, membiarkan pendar cahaya lampu lorong menyiram sebagian lantai kayu ek."Marcus meminta map manifestasi kargo pelabuhan selatan," ucap seorang pengawal bersenjata otomatis seraya melangkah masuk."Ambil cepat di meja tengah. Kita harus menyisir area gerbang sebelum helikopter Tuan Alaric mendarat," sahut pengawal kedua yang tetap bersiaga di ambang pintu.Di balik lipatan beludru dingin, Anastasia menahan napasnya secara terukur. Jemari l
"Kau pikir kain sutra gading ini bisa menghapus bau selokan tempatku memungutmu, Anna?"Suara bariton Alaric De Luca memecah keheningan pagi di dalam kamar suite Sayap Timur. Pria itu berdiri menjulang di dekat ujung ranjang kanopi, memutar cerutunya yang belum dipantik. Tatapan mata sebiru es miliknya menyapu gaun sutra gading yang kini membungkus tubuh ringkih Anastasia.Anastasia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangannya meremas lembut kain gaun mahal itu, membiarkan tubuhnya gemetar pelan secara terukur."S-saya hanya mencoba merapikan diri, Tuan Alaric," bisik Anastasia dengan nada suara yang parau dan rapuh. "Saya tidak bermaksud..."Bruk!Sebuah map kulit hitam dilemparkan Alaric secara kasar ke atas meja kaca di samping ranjang."Anastasia Moreau. Dua puluh tujuh tahun," desis Alaric seraya melangkah mendekat, menciptakan aura tekanan yang menghimpit udara di antara mereka. "Marcus baru saja menyerahkan laporan latar belakangmu."Jantung Anastasia berdesir tajam. Sebagai se
"Siapa wanita berdarah yang kau bawa ke bawah atap De Luca, Alaric?"Suara bariton yang berat, dalam, dan sarat akan dominasi mutlak itu bergaung dari arah pintu ganda aula utama. Tuan Besar De Luca, pria paruh baya berambut perak dengan tongkat berkepala serigala emas, melangkah masuk tanpa mengetuk. Di sampingnya, berdiri Lord Voss, patriark dinasti mafia Marseilles yang bertubuh jangkung dengan tatapan mata sehitam jelaga.Alaric berdiri tegak di puncak tangga melingkar, merapikan kancing kemeja hitamnya tanpa mengalihkan pandangan esnya. Rahangnya mengeras kaku, namun ekspresi wajahnya tetap dingin tak tersentuh."Kau melintasi batas wilayahku tanpa pemberitahuan, Ayah," sahut Alaric datar, suaranya tenang namun sanggup mengedapkan udara di ruangan itu."Ini wilayah De Luca, dan aku adalah pemilik sah takhta tertinggi keluarga ini," potong Tuan Besar De Luca seraya menghentakkan tongkat kayunya ke lantai marmer dengan dentang keras. "Marcus memberitahuku kau membawa pelacur jalana
"Jahit lukanya tanpa bius jika wanita ini terlalu banyak bersuara, Dokter."Suara bariton dingin itu bergaung ketus di dalam kamar tamu sayap barat Mansion De Luca. Alaric berdiri tegap di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke pelataran malam, mengapit sebatang cerutu yang asap tipisnya membubung pelan ke udara. Jas hitam mewahnya telah dilepas, menyisakan kemeja yang lengan bagian bawahnya digulung kencang, memperlihatkan lengan berotot dan rahang tegas yang membeku tanpa emosi."T-Tuan De Luca..." cicit Dr. Reinhardt, jemarinya yang terampil sedikit gemetar saat memegang jarum bedah dan benang steril. "Pendarahan di pelipisnya cukup deras. Saya harus membersihkan dan menjahitnya dengan ketelitian ekstra.""Lakukan tugasmu tanpa banyak alasan," potong Alaric datar, bahkan tanpa sudi membalikkan badan. "Aku memanggilmu ke mansion ini untuk memastikan dia tidak mati di atas karpetku, bukan untuk mendengarkan keluhanmu.""Baik, Tuan. Saya mengerti," balas sang dokter tergesa-gesa,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.