LOGINMobil yang dikemudikan Alea terus membelah jalanan malam, dengan air mata yang mulai menetes meski sebelumnya ia sudah yakin kalau hatinya itu sudah mulai kebas.
"Nggak, kamu nggak boleh lemah, Alea." Getir! itu yang dirasakan Alea, setelah tahu kenyataan bahwa suaminya dan keluarganya sendiri tidak menginginkannya. dan itu karena Serena. Ya, Serena. Kakak yang tertukar dengannya sejak lahir. Gadis yang selalu mendapatkan semua yang seharusnya menjadi milik Alea—kasih sayang, kemewahan, bahkan pria yang ia cintai. Masih jelas dalam ingatan Alea, dua bulan setelah kebenaran pertukaran bayi terungkap, Alea “dikembalikan” ke keluarga Morgan seperti barang hilang. Namun sambutan yang datang hanyalah dingin dan perhitungan. “Kami tak bisa menyingkirkan Serena,” ujar sang ayah waktu itu. “Dia sudah menjadi bagian keluarga ini selama dua puluh lima tahun. Kau? Kau hanya kebetulan berdarah sama, dan kembali di saat yang tidak tepat.” Alea menunduk waktu itu, menahan perih yang menyesakkan dada. Ia tidak menangis—karena sudah terlalu sering melakukannya. Lalu suara sang ibu terdengar, datar dan penuh perhitungan. “Serena ini lemah dan mudah sakit. Kau keras kepala, Alea. Anggap saja ini kesempatanmu menebus sesuatu yang berguna. CrestMiles Corp siap membantu proyek keluarga ini asalkan Serena menikah dengan Sean Miller. Anggap saja, ini kompensasi atas luka Serena karena tahu dia bukan putri satu-satunya.” Alea tersenyum getir waktu itu. Kalau Serena kecewa karena kehilangan status putri tunggal, lalu bagaimana dengan dirinya yang kehilangan segalanya sejak lahir? Namun ia terlalu lelah untuk melawan. Terlalu haus akan kasih sayang keluarga yang bahkan tidak benar-benar menginginkannya. Ketika ia mencoba berbicara, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku tidak bisa dengannya. Aku sudah memiliki seseorang… kami saling mencintai.” Sang ibu menatapnya dengan kening berkerut. “Saling mencintai? Maksudmu Ethan Vale? Kau mau menghancurkan hati Serena? Dia sudah mencintai Ethan sejak lama. Apa kau mau menambah lukanya?” Ayahnya, David Morgan, ikut menimpali. “Jangan memperkeruh keadaan. Biarkan Serena bahagia. Jika kau bisa melepaskan Ethan dan menggantikan posisinya untuk menikah dengan Sean Miller, maka separuh warisan keluarga akan jadi milikmu. Kami bahkan akan mengakui kau sebagai putri Morgan di depan publik.” Alea diam lama, menatap mereka satu per satu. Lalu akhirnya ia mengangguk pelan. “Kalau begitu, biarkan aku yang menggantikannya. Aku yang akan menikahi Sean Miller. Bukan Serena.” Seketika ruangan itu hening. Tak ada yang menyangka ia akan setegas itu. Dan sebelum siapa pun sempat bicara, Alea melanjutkan, suaranya tenang namun tajam. “Sebagai gantinya, hapus nama Alea Morgan dari semua dokumen keluarga. Aku tak butuh warisan, tak butuh nama ini. Anggap saja aku tak pernah lahir.” Sang ibu menatapnya dengan mata basah. “Kau tak tahu apa yang kau lakukan, Alea.” “Oh, aku tahu,” jawabnya lirih. “Aku hanya melakukan apa yang kalian inginkan sejak dulu—membuang seseorang yang tidak diinginkan.” Alea menegakkan punggung, menatap ayahnya untuk terakhir kali. “Sampaikan pada Ethan Vale… ini hadiah terakhirku: kebebasan yang ia dambakan seumur hidupnya.” Tak ada jawaban. Hanya keheningan panjang yang menggantung di udara. --- Helaan napas berat terdengar ketika mobil yang dikemudikan Alea berhenti di basement apartemen. Segala kenangan pahit yang berputar di kepalanya coba ia usir dengan menggeleng pelan, meski tetap saja—bayangan masa lalu itu menempel kuat. Ya, malam ini Alea kembali ke apartemen Ethan. Tempat yang dulu terasa hangat dan penuh cinta, kini hanya ruang dingin yang sunyi. Begitu pintu terbuka, aroma lilin vanilla menyambutnya. Di meja makan, dua piring tersaji rapi, lilin menyala lembut, seolah menunggu seseorang. Sesaat, jantung Alea berhenti berdetak. Mungkinkah… ini untuknya? Apakah Ethan mulai berubah, mulai kembali seperti dulu? Namun suara dari dapur menghancurkan seluruh harapan itu. “Serena, aku tahu kamu sibuk. Tak apa kalau nggak bisa datang malam ini. Jangan dipaksakan.” Tubuh Alea membeku. Serena? Jadi semua ini… untuknya? “Setidaknya izinkan aku masak sesuatu buat kamu,” lanjut suara itu. “Alea akan pulang sebentar lagi, aku bisa kasih sisanya ke dia.” Langkah Alea terasa berat saat melangkah masuk. Ethan menoleh, terlihat kaget—kemudian wajahnya berubah kesal. “Alea, kenapa baru pulang? Aku udah bilang jangan lembur. Orang-orang bisa salah paham, mereka akan berpikir aku atasan kejam yang nyuruh asistennya kerja terus.” Alea menatapnya tak percaya. “Asisten? Sekarang aku cuma itu buat kamu?” Ethan tak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas panjang. Alea menunduk, jemarinya menyentuh kelopak mawar di tengah meja—indah, sama seperti buket bunga pernikahan mereka dulu. Namun tamparan keras mendarat di tangannya, membuatnya terkejut. “Jangan sentuh itu!” bentaknya spontan. Alea mundur selangkah. Sekilas terlihat penyesalan di mata Ethan, tapi cepat ia tutupi. “Maaf… aku nggak bermaksud kasar. Aku cuma nggak mau kamu merusak dekorasi ini. Aku menyiapkannya dengan susah payah.” Alea diam. Menahan perih yang naik sampai ke tenggorokan. Beberapa menit kemudian, Ethan meletakkan sebuket bunga di hadapannya. “Ini, buat kamu.” Alea menatap buket itu lama. Identik dengan milik Serena di foto tabloid pagi tadi. Mungkin hanya sisa yang tak diinginkan. “Nggak apa-apa,” ucapnya pelan. “Aku udah punya cukup kenangan yang nggak perlu diingat.” Suasana kembali hening. Ethan mencoba bersikap biasa, seolah tamparan barusan tidak pernah terjadi. Alea membuka tas, mengeluarkan map cokelat, dan meletakkannya di atas meja. Dia tidak bisa lagi menunggu esok hari, Alea mau…semuanya selesai dengan cepat. “Ethan, tolong tanda tangani ini.” “Apa ini?” “Dokumen biasa, dan ini hanya formalitas. Tapi tetap butuh tandatanganmu, agar semuanya dianggap sah dan jelas.” Ponsel Ethan bergetar. Nama di layar membuat hati Alea serasa diremas. Serena. Tanpa ragu, Ethan menjawab panggilan itu sambil membelakanginya. “Ya, aku masih di apartemen. Tunggu aku lima menit lagi. Aku segera datang.” Ia menutup telepon, lalu langsung menandatangani dokumen tanpa membaca. “Aku bakal tanda tangan apa pun yang kamu mau. Tapi jangan marah karena aku harus pergi, Alea. Dan jangan ganggu aku setelah ini, aku akan sibuk.” “Ethan, apa kamu nggak mau baca dulu? Ini—” “Aky sudah tanda tangan kan? Kenapa harus dibaca? Sudahlah, jangan kekanakan, Alea.” Ia meraih mantel, berjalan cepat, lalu menutup pintu tanpa menoleh sedikit pun. Alea menatap map itu lama. Tulisan di halaman pertama terbaca jelas: Surat Perjanjian Cerai – Ethan Vale & Alea Morgan. Senyum pahit muncul di bibirnya. Pria itu bahkan tak sadar baru saja menandatangani akhir dari pernikahannya sendiri. Alea mengambil ponsel, memotret halaman terakhir, lalu mengirimkannya ke satu nomor. Beberapa detik kemudian, pesan balasan masuk. [Sean Miller: Aku sudah terima dokumennya. Sebulan lagi, aku akan datang menjemputmu.] Alea menatap layar itu lama, lalu menutup matanya. Udara malam Volka terasa lebih dingin dari biasanya. Mungkin bagi dunia, hidupnya memang sudah berakhir. Tapi bagi Alea Morgan—malam itu, segalanya baru saja dimulai."Diam, atau kurobek mulutmu," ucap Allea dengan wajah datar, dan suara yang terdengar tegas. Untuk pertama kalinya, ekspresi Serena membeku. Tangannya yang menggenggam lengan Ethan mengendur sepersekian detik, jelas tidak menyangka Allea akan berani berbicara seperti itu di ruang publik.Beberapa pengunjung butik di sekitar mereka spontan menoleh. Suasana yang semula elegan berubah tegang.Ethan mengernyit, ia tidak pernah melihat sisi Allea yang seperti ini. Dan jelas itu membuat egonya sedikit terusik dan harga dirinya tergores.“Kau... Kenapa kau bisa bicara sekasar itu, Allea? Kau benar-benar berubah,” katanya pelan, namun nada suaranya mulai mengeras."Apa urusannya denganmu?""Allea, jangan terus bermain peran didepanku. Jangan karena kemarin aku diam dan Kau dibelakang seseorang yang berpengaruh, kau berani berulah seperti ini. Kau lupa, siapa kau sebenarnya? Apa hanya karena pria lumpuh itu, kau berani bertingkah kasar pada Kakakmu sendiri?"Allea mendengus mendengar nada ren
Seperti yang ia rencanakan sebelumnya, Allea mendatangi salah satu butik yang memiliki brand ternama di Volka, dengan kumpulan brand dari desainer terbaik. "Berikan aku dasi dan juga Jas dari beberapa brand terbaik, dengan rancangan terbaru. Aku mau, semuanya kualitas terbaik," pinta Allea pada salah satu pegawai butik yang langsung menegakkan tubuhnya begitu mendengar permintaan itu. “Tentu, Nona. Apakah ada warna atau potongan yang diinginkan?” tanyanya dengan nada profesional. Allea menggeleng pelan. “Sesuaikan saja. Aku ingin yang paling layak dipakai suamiku, Sean Miller Kingston.” Nama itu membuat beberapa pegawai saling melirik satu sama lain, lalu bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Rak demi rak dibuka, gantungan jas diturunkan dengan hati-hati. Satu per satu pilihan dikeluarkan, dari potongan klasik hingga desain modern dengan detail rapi dan tegas. Allea berdiri dengan sikap tenang, matanya menilai tanpa ragu. Ia memilih jas hitam dengan potongan lurus, bahu tegas, d
Allea melangkah mendekat ke cermin besar di sudut kamar. Pantulan wajahnya terlihat begitu tenang, nyaris dingin. Namun hanya dia yang tahu, betapa rapuhnya lapisan ketenangan itu. Luka lama tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya belajar menyimpannya rapi, jauh di dasar hati. Tangannya terangkat, menyentuh lehernya sendiri, seolah memastikan ia masih bisa bernapas dengan bebas. “Burung dalam sangkar emas,” gumamnya pelan, kali ini keluar sebagai suara. “Setidaknya sangkarnya indah, tanpa membuatku terluka hanya karena ingin merasakan terbang sedikit bebas.” Ia tersenyum miris. Dulu, di rumah Morgan, ia bahkan tidak diberi sangkar. Ia hanya dibiarkan berdiri di luar, menyaksikan bagaimana kasih sayang dibagikan pada orang lain, sementara ia diminta tahu diri hanya karena dilahirkan dari rahim yang sama. Langkahnya terhenti di depan rak gaun. Berderet rapi, mahal, dan indah. Semua yang dulu hanya bisa ia pandangi dari jauh, kini tersedia tanpa syarat. Perhiasan mahal, tas
Allea merasakan hatinya berdenyut nyeri, saat dengan terang-terangan Vanessa mengatakan bahwa ia sama sekali tidak akan pernah sama dengan Serena. Meski notabenenya dia anak kandung, namun posisinya tidaklah sama berharga dengan anak angkat mereka. "tapi Ibu, aku sama sekali tidak mengambil gaun kakak. Aku hanya menerima dari bibi pelayan, dan bilang kalau itu dari ayah," elak Allea, berusaha menyangkal apa yang dituduhkan padanya. Serena dengan wajah yang penuh kesedihan, menyentuh lengan David dengan pelan disertai isakan yang terdengar memilukan. "Ayah... Maafkan aku, tidak seharusnya aku membuat keributan hanya karena gaun,” ucap Serena terputus, bahunya bergetar. “Aku hanya… aku hanya kaget. Itu gaun yang Ayah janjikan untukku.”"Ini bukan salahmu, Serena. Lagipula, gaun itu memang ayah belikan untukmu. Tidak seharusnya Allea mengambil apa yang bukan menjadi haknya, meski dia anak kandung kami," sahut David tanpa ragu, seolah kalimatnya bukanlah hal yang salah. Namun tanpa
Allea menutup laci nakas itu perlahan. Jemarinya masih terasa hangat, seolah ada sisa sentuhan dari sesuatu yang tak kasat mata tertinggal di sana. Ia berdiri cukup lama di depan tempat tidur, memandangi kotak beludru dan amplop putih yang kini kembali tertata rapi. Dadanya naik turun tidak beraturan, karena sebuah perasaan asing yang perlahan mulai menggantikan perasaan lain yang sudah mengendap lama. “Aku akan menuruti ucapanmu kali ini,” gumam Allea pelan, seolah berbicara pada Sean yang tidak ada di ruangan itu. “Aku akan bersenang-senang. Setidaknya… mencoba.” Ia berbalik menuju menuju walk in closet, dimana ternyata begitu banyak baju untuk ya yang sudah tersusun rapi. "Astaga, Sean. Kau benar-benar melakukan ini untukku?" gumam Allea, menatap deretan pakaian yang begitu indah, elegan dan terlihat sesuai dengan apa yang menjadi ciri khas pakaian kesukaannya."Dia tahu akau sebanyak ini, atau... dia hanya menebak dari kriteriaku?"Ketika nyaris berpikir lebih jauh, Allea seke
Allea mendengus ketika membaca pesan dari seseorang yang sama sekali tidak asing untuk ya. Meski ia mengganti nomor ponsel dengan yang baru, Allea jelas tahu siapa yang tidak suka dengan kebahagiaannya. [Sebegitu tidak bahagianya kah hidupmu, kakak. Sampai-sampai, kau selalu mengganggu kehidupanku yang sudah bahagia]Allea meletakkan ponsel di atas meja, setelah memberikan balasan pada orang yang memang tidak pernah menginginkan kebahagiaannya sejak ia menjejakkan kaki di kediaman Morgan. Dengan santai, Allea kembali menikmati sarapannya tanpa merasa terganggu. Hingga sebuah pesan kembali masuk kedalam ponselnya dan membuat atensinya teralih.[Katakan kalau kau tidak menyukai apa yang aku siapkan hari ini. Jangan memaksa menelan sesuatu yang tidak kau inginkan.]Senyum tipis terbit dibibir Allea. Pesan yag singkat dan sedikit terkesan dingin, namun Allea bisa merasakan kehangatan perhatian didalamnya. Sean... Suaminya itu tengah berusaha menunjukkan sosoknya sebagai suami, meski or







