Share

Bab 6

Penulis: Noona_SV
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-21 22:11:18

Keesokan harinya, begitu Alea tiba di kantor pusat Hamesworth Group, suasana terasa berbeda.

Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, seolah udara di tempat itu memberi peringatan bahwa segalanya sudah berubah.

Beberapa karyawan yang biasanya menyapa kini hanya menunduk, pura-pura sibuk dengan layar komputer.

Lobi yang biasanya riuh kini terasa seperti ruang tunggu tanpa jiwa.

Dan kemudian, suara seseorang terdengar memanggilnya dari ruangan direktur.

“Alea.”

Nada datar tanpa kehangatan sedikit pun.

Alea menoleh, mendapati Ethan Vale berdiri di depan pintu ruangannya.

Sikapnya kaku, dingin—seolah mereka hanyalah atasan dan bawahan yang tidak pernah saling mengenal.

Tangannya menegang di sisi tubuh, namun ia tetap melangkah mendekat, mengikuti perintah yang tak diucapkan.

Saat Alea masuk, Ethan bahkan tidak menoleh.

Matanya terpaku pada layar ponsel, jarinya bergerak cepat, sementara Alea berdiri di ambang pintu seperti pesakitan yang menunggu vonis.

“Tutup pintunya,” katanya akhirnya.

Klik.

Suara pintu tertutup terdengar nyaring di antara keheningan. Udara di ruangan itu seolah membeku dan penuh tekanan.

Ethan mengangkat wajahnya. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi.

“Alea, aku akan bicara singkat saja.

Orang-orang mulai membicarakanmu karena selalu ada yang melihat kalau kau pulang malam, atau bahkan pagi dari apsrtementku. Dan banyak yang mengatakan, kalau kau mulai melenceng dari profesionalitas pekerjaan. dan jujur saja, aku tidak mau reputasiku rusak karena gosip. Mulai sekarang, kamu dipecat dari posisimu sebagai asisten pribadiku. Jadi tidak perlu datang ke kantor pusat lagi. Karena mulai besok, kamu bukan asistenku.”

Suara itu menghantamnya tanpa belas kasihan.

Namun sebelum Alea sempat memahami sepenuhnya, Ethan menambahkan kalimat yang jauh lebih menyakitkan.

“Dan besok, Serena akan menggantikan posisimu.”

Nama itu menggema di kepala Alea.

Serena.

Ada sesuatu yang retak di dadanya—pelan, tapi pasti. Alea nyaris tertawa getir, tapi semua coba ia tahan.

“Jangan menangis lagi, Alea. Ini bukan pertama kalinya kau dibuang. Bahkan, Ethan sudah jauh lebih dulu menbuangmu dan kau… sekarang hanya orang asing dengannya. Bertahan sedikit lagi, sampai Sean menghubungimu.”

Meski mencoba menguatkan diri sendir,i, Alea tetap saja merasa dirinya rapuh dan kecewa begitu dalam.

Ia tidak percaya kalau Ethan—selain membuang dia dari hatinya, Ethan juga membuangnya dari perusahaan.

Selama ini, Alea selalu percaya pada impian yang mereka bangun bersama. Ia ada di setiap langkah saat Hamesworth Group mulai berdiri.

Saat investor menertawakan presentasi Ethan, Alea begadang semalaman untuk memperbaikinya.

Saat Ethan kelelahan, ia yang menyelesaikan semua pekerjaan agar pria itu bisa tidur beberapa jam.

Ia tidak pernah meminta apa pun.

Tidak saham, tidak pengakuan. Hanya sedikit penghargaan.

Tapi rupanya, bagi Ethan, ia hanyalah bagian dari strategi. Dimana dia akan selalu di prioritaskan ketika masih berguna dan dibutuhkan, lalu akan dibuang saat dipandang sudah tidak lagi bisa digunakan.

Ethan berdiri di hadapannya dengan tatapan yang kini benar-benar asing.

“Alea, kamu punya cukup pengalaman untuk bekerja di mana pun. Tapi pikirkan Serena. Dia baru kehilangan suaminya, dia butuh dukungan. Sebagai gantinya, aku akan—”

“Baiklah.”

Satu kata itu keluar begitu saja.

Hening.

Ethan menatapnya, ia tampak tidak percaya.

“Baiklah? Hanya itu? Kamu nggak marah dengan apa yang aku katakan?”

Ia menggenggam kotak beludru kecil di tangannya, Alea tahu persis isinya. Itu adalah liontin berinisial nama mereka berdua.

Simbol manipulasi manis yang dulu selalu membuatnya patuh dan bahkan semakin bergelayut manja, meski respon Ethan sangat dingin.

Alea menatapnya datar. “Tidak. Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku akan membereskan semuanya.”

“Alea… tunggu. Kenapa kamu biasa saja? Kamu nggak mau tanya apa-apa?”

Alea hanya mengembuskan napas pelan.

Ethan mengira ia akan menangis atau memohon seperti dulu, bahkan Ethan sudah bersiap jika Alea akan memberintak. Tapi kali ini tidak.

Alea melihat keanehan itu Dimata Ethan. Tapi, dia sudah tidak perduli lagi. Lukanya sudah terlalu dalam untuk ditangisi.

Saat ia hendak keluar, pintu tiba-tiba terbuka tanpa ketukan.

“Ethan! Aku sudah menyalin semua dokumen dan—oh! Alea, kamu di sini?”

Suara Serena terdengar ringan, tapi cukup manis untuk mengubah suasana.

Ia melangkah masuk dengan senyum lembut dan tas besar di lengannya.

Brak!

Sebuah kotak musik bergambar balerina jatuh dari meja kecil di pojok ruangan. Pecah.

Nada lembut yang seharusnya menenangkan kini terhenti di udara.

Alea menatap lantai—boneka porselen itu hancur berkeping.

Itu bukan sekadar benda. Itu kenangan.

Kotak itu adalah satu-satunya kenangan dia bersama calon bayinya, setelah keguguran yang ia alami. Dan di dalamnya tersimpan foto ultrasonografi anak mereka.

“Adik, maaf… aku nggak sengaja,” ucap Serena cepat, matanya berkaca. “Jangan marah, ya—”

“Kenapa dia harus marah?!” potong Ethan keras. Lalu beralih menegur Alea.

“Alea, kenapa kamu masih menyimpan barang tidak berguna seperti itu? Bagaimana kalau Serena terluka?!”

Alea membeku.

Barang tidak berguna? Porselen itu satu-satunya alasan ia masih bisa bernapas setelah kehilangan anak mereka.

Dan sekarang, itu disebut sampah yang tidak berguna? Apa Dimata Ethan, anak mereka juga sama sekali tidak berarti?

Tanpa banyak bicara, Alea memilih berlutut. Jari-jarinya gemetar saat mengumpulkan pecahan kecil itu. Salah satunya mengiris kulitnya hingga berdarah.

Tapi Ethan tidak peduli.

“Ren, apa lukamu parah? Astaga, ini berdarah,” katanya panik, meski hanya goresan kecil di tangan Serena.

“Ayo, kita bersihkan. Jangan sampai infeksi, gara-gara orang yang asal menyimpan barang.”

Ia menuntun Serena keluar dengan lembut.

Meninggalkan Alea sendirian di ruangan itu, bersama darah, serpihan porselen, dan melodi yang mati di udara.

Alea duduk lama di lantai dingin itu, menahan sakit yang terus menikam dari dua orang yang tak lagi pantas disebut manusia.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 39

    "Ada pekerjaan yang harus aku urus sekarang, Kau masuk dulu saja kedalam kamar. Nanti aku menyusul," ujar Sean, ketika mereka sudah tiba di mansion. "Tapi Sean...""Jangan khawatir, ada Lio yang bisa menemaniku dan mengantarkan aku ke kamar nanti. Kau istirahat saja ,hari ini terlalu berat. hmm," sahut Sean cepat, meminta Allea untuk beristirahat agar tubuhnya tidak drop karena terlalu lelah. "Baiklah. Kalau begitu, aku ke kamar dulu. Jangan tidur terlalu larut."Sean hanya mengangguk mendengar ucapan Allea, lantas memberikan isyarat pada Lio untuk mendorong kursi rodanya menuju ruangan khusu yang hanya bisa dimasuki oleh dirinya sendiri dan asistennya selama ia izinkan. Klik!Suara pintu yang terkunci secara otomatis ketika mereka masuk, terdengar sedikit bergema saat keduanya sudah berada di dalam ruangan dengan suasana yang begitu hening. "Apa yang terjadi, Lio? Apa dia mulai berulah?" tanya Sean dengan wajah tegang dan sama sekali tidak bersahabat."Sedikit membuat ulah, Tuan.

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 38

    "Aku lelah, Sean. Di rumah itu, aku selalu membayangkan bagaimana kehidupanku yang mungkin akan bahagia saat bersama orang tua kandungku. Ya... setidaknya, mungkin aku tidak akan kelaparan saat akan tidur, aku tidak akan merasakan harus bangun dini hari untuk bekerja di ladang. Atau yang paling bahagia, setidaknya aku akan dipeluk saat aku akan tidur di malam hari. Tapi kau tahu, semua itu berhenti di khayalanku saja."Allea tersenyum getir. Namun air mata menjadi penjelasan, seberapa jauh sakit yang ia rasakan dan itu harus tumpah di depan pria asing yang kini menjadi suaminya. Sean mengangkat salah satu tangannya yang bebas, mengusap pelan pipi Allea yang basah oleh air mata. "Maaf, kalau pertanyaanku menjadi hal yang menyakitkan. Maaf, kalau pertanyaanku justru membuka luka yang sudah rapat kau simpan," ujar Sean, dengan suara yang terdengar bersalah. "Ini bukan salahmu. A-Aku tahu, cepat atau lambat semua ini akan keluar juga dari mulutku. Aku juga tidak bisa memendam semuanya

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 37

    Sean hanya diam dan menatap tepat ke arah mata Allea, seolah mencari kebenaran dalam setiap kalimat yang wanita dihadapannya itu katakan. Namun, tak hanya kejujuran dan kemantapan hati yang bisa dilihat Sean dari mata Allea. Tapi juga justru kobaran kemarahan, dan luka yang mendalam yang justru terlihat semakin membara. "Sejauh itu mereka menyakitimu, hmmm?" Allea membalas tatapan Sean, napasnya tertahan sesaat sebelum akhirnya terhembus perlahan. Untuk beberapa detik, ia tidak langsung menjawab, seolah sedang memilih apakah ia akan membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat—atau membiarkannya tetap tertutup. “Lebih dari sekadar menyakiti,” ucapnya akhirnya, mengatakan dengan raut wajah yang bahkan terlalu tenang untuk sebuah pengakuan menyakitkan dan mungkin menimbulkan trauma. “Mereka bukan hanya menyakitiku secara fisik dan hati, bahkan mereka membuatku lupa bagaimana rasanya dihargai sebagai manusia.” Sean tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya mengeras, rahangnya meneg

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 36

    Rapat akhirnya ditutup dengan ketukan palu kecil di ujung meja. Para direksi berdiri satu per satu, sebagian masih menyimpan raut ragu, sebagian lain memilih bersikap netral. Namun tidak ada lagi bantahan yang berart seperti sebelumnya, sebab keputusan sudah benar-benar di ambil.Ruangan perlahan kosong.Allea membereskan dokumen di hadapannya dengan gerakan teratur, napasnya baru terasa benar-benar kembali normal setelah pintu terakhir tertutup."Maaf, seharusnya ini menjadi sekedar pesta pembukaan dari Ellara's yang disiapkan untukmu, tapi... semuanya harus berakhir seperti ini," ujar Sean, menatap lekat Allea dengan kedua tangan bertumpu di atas paha dan jemari yang saling terjalin didepan dagu."Tidak apa-apa, lagipula.. kalaupun tidak sekarang, ini akan terjadi juga nantinya kan," sahut Allea, menoleh sekilas ke arah Sean dan kembali melanjutkan aktivitasnya.Meski tangannya masih membereskan map, Allea bisa merasakan sedikit canggung sebab ia tahu kalau saat ini Sean masih terus

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 35

    Serena mematikan televisi dengan satu sentakan keras. Ruangan kembali hening, namun kepalanya justru semakin bising. Bayangan wajah Allea yang tersenyum bangga ketika di panggung itu terus berputar, lengkap dengan nama Kingston yang kini sah melekat padanya. Semua pasang mata menatap penuh kagum pada Allea, seakan ia menjadi pusat semesta dan pusat perhatian, yang jika berkedip sekali saja maka semuanya akan lenyap.“Tidak… aku tidak akan membiarkan ini berakhir seperti ini,” gumam Serena dingin. "Aku sengaja menolak semuanya, meminta Ayah dan ibu menekan Allea untuk menikah dengan Sean, itu semua agar wanita itu menderita. Tapi kenapa dia justru bahagia dan mendapatkan yang tidak bisa aku dapatkan!"Serena berdiri dari sofa dengan langkah perlahan namun penuh tekanan. Rahangnya mengeras, matanya menyipit tajam. namun kali ini amarahnya mulai terkendali, bahkan senyum smirk mulai terbit dibibirnya.“Sean Miller Kingston…” gumamnya pelan, seolah mengecap nama itu dengan penuh perhitun

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 34

    Ethan keluar dengan wajah penuh kekesalan. Ia tidak menyangka kalau Allea yang sudha berhari-hari tidak pulang, justru mengaku kalau dirinya seorang istri dari Sean Miller Kingston. Ia tidak pernah tahu, sejak kapan mereka menikah dan menjalin hubungan. Namun satu hal yang pasti dan ia yakini saat ini, kalau Allea hanya memainkan peran dan tidak benar-benar meninggalkannya. Dia hanya kesal karena posisinya digantikan orang lain, dan dia juga kesal karena ditinggalkan ketika masih berada di rumah sakit.Langkah Ethan terhenti tepat di depan pintu kaca besar Ellara’s Diamond. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, rahangnya mengeras. Ia menghembuskan napas kasar, mencoba meredam gejolak yang masih membakar dadanya.“Dia hanya marah,” gumamnya pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Itu saja.”Di benaknya, Allea bukan perempuan yang berani memutuskan segalanya sendirian. Apapun itu, Allea selalu meminta persetujuan darinya dan selalu melakukan segala hal demi mendapatkan perhat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status