LOGINAula utama Gala Amal VaC Corporation & Hamesworth Group berpendar dalam cahaya kristal keemasan. Langit-langitnya menjulang tinggi, dihiasi lampu gantung raksasa yang memantulkan bias lembut ke seluruh ruangan. Malam itu, acara penggalangan dana untuk anak-anak korban perang di Marawi digelar, malam yang benar-benar eksklusif yang hanya dihadiri kalangan elite Geneva dan para pemilik nama besar.
Alea datang lebih awal, mengenakan gaun hitam sederhana. Ia membawa baki kristal berisi barang lelang milik keluarga Morgan, berjalan dengan tenang melewati lorong kaca yang berembus udara dingin dari pendingin ruangan. Namun langkahnya terhenti ketika telinganya menangkap suara samar dari balik pintu kaca buram bertuliskan Restricted – Board Access Only. Suara itu... milik Ethan Vale. Dan bersamanya—tawa orang-orang yang dulu menyebut Alea bagian dari keluarga mereka. “Akhirnya Serena kembali,” ujar seseorang dengan nada lega. “Antara Serena dan Alea? Yang satu pewaris Morgan, yang satu mantan asisten yang terlalu percaya diri. Mana yang kau pilih? Jelas, kau tidak mungkin memilih yang nggak seharusnya kan,” sahut yang lain, disambut derai tawa kecil. Lalu suara Ethan terdengar. Dingin, tajam, seperti bilah pisau yang diasah sempurna. “Alea wanita baik. Tapi dia bukan Serenaku, selama ini… aku hanya menganggapnya sebagai pengisi kekosonganku. Aku pikir, dia bisa menggantikan Kakaknya. Tapi ternyata? Dia tidak punya semua itu.” Tubuh Alea menegang. Kata-kata itu menembus kulit, menghantam lurus ke dada. Menggantikan kehilangan, mengisi kekosongan. Jadi, ia hanyalah pengganti untuk kehadiran Kakaknya yang tiba-tiba menikah? “Astaga! Tapi, apa kau tidak takut kalau mungkin saja dia marah setelah tahu, bahwa kau ada dibalik musibah keguguran yang dia alami. Aku harap, kau sudah bisa tangani itu.” “Tentu saja. Lagipula, itu sudah berlalu,” jawab Ethan datar. “Aku tak pernah berencana punya anak darinya. Aku sudah pastikan itu. Dan soal kemarahan? Sejak kapan dia bisa marah padaku?” Tangan Alea yang memegang baki membeku. Obat putih kecil yang dulu dipaksa Ethan agar ia minum, yang katanya vitamin kini seperti sebuah duri yang mengoyak kerongkongannya. Dulu dia tidak pernah berpikir kalau itu obat lain, selain Vitamin yang dikatakan Ethan. Dan sekarang, semuanya terbuka. Itu bukan vitamin. Itu pencegah kehamilan. Dan bodohnya, ketika keguguran dulu.. dia merasa bersalah yang begitu besar pada Ethan, karena tidak bisa menjaga anaknya. “Tuhan. Apalagi ini, sakit apalagi yang masih kurang menusuk kedalam jiwaku?” Dunia di sekelilingnya terasa berputar. Ia memutar badan, berniat pergi sebelum suara itu merobeknya lebih dalam. Tapi langkahnya terhenti ketika ponselnya bergetar. [Ethan Vale: Bawa berkasnya ke lantai dua. Sekarang. Jangan main-main, ini bukan tempat membuat masalah] Alea menatap layar itu lama. Senyum getir muncul di ujung bibir. Bahkan kini, ia masih dianggap bawahan, meski dia sempat dibuang dan dianggap sampah. Pantulan dirinya di kaca lorong tampak asing, matanya sedikit sembab, bibir pucat, dan gaun hitam yang kini lebih mirip pakaian duka. “Baiklah,” bisiknya pelan. “Kalau ini permainan terakhir, aku yang menutup tirainya.” Alea berjalan ke arah kamar mandi, lalu mematut sedikit dirinya. Memoleskan lipstik warna nude pada bibirnya dan juga menyapukan beda, agar terlihat sedikit lebih segar. --- Aula lelang sudah penuh ketika ia masuk. Lampu berkilau, kamera berderet, dan gemerlap perhiasan memantul di setiap permukaan. Namun bagi Alea, semua itu tak ubahnya ruangan dingin tanpa jiwa. Beberapa menit kemudian, Ethan muncul menggandeng Serena. Ia sedikit tertegun melihat Alea, namun segera ia tepis. Senyumnya tampak profesional, namun genggaman tangannya di lengan Serena terasa seperti sebuah deklarasi kepemilikan. “Alea, kau di sini juga rupanya.” Nada suaranya datar, seolah mereka sedang membahas jadwal rapat. Seorang reporter langsung menodong mikrofon. “Tuan Vale, benarkah Nona Alea mengundurkan diri hari ini?” Sebelum Ethan sempat menjawab, Alea melangkah maju. “Benar. Masa kontrak saya sudah berakhir. Dan ini hari terakhir saya bekerja.” “Tapi bukannya kalian..” “Itu hanya rumor tidak mendasar. Kami tidak ada hubungan pribadi, selain asisten dan juga bossnya,” sela Alea dengan cepat dan tenang. Bisik-bisik bertebaran di antara tamu. Ada yang tidak percaya dengan penuturan Alea, namun ada yang juga tidak menanggapi apapun. “Lalu, setelah ini, apa anda sudah ada planning untuk bekerja dimana?” tanya salah seorang reporter. “Tentu saja. Saya sudah mendapatkan tempat baru, dan mulai besok, saya bekerja sama dengan Crestwood Group.” Rahang Ethan menegang. Ia tidia tahu apa maksud Alea membuat berita semacam ini. Bagaimana dengan santainya gadis itu mengaku, kalau dia bekerja untuk Crestwood, sementara selama ini Alea Tidka pernah keluar dari perusahaannya dan ruang lingkup hidupnya. Seorang wartawan lain menimpali cepat: “Lalu cincin pasangan itu? Masih Anda simpan?” Alea mengangkat tangan, jari manisnya kosong. “Apakah Anda melihatnya di sini? Lagipula, itu hanya cincin pasaran. Bukan cincin pasangan.” Seketika ruangan terasa hening. Kilatan kamera semakin menyilaukan, seakan penuturan dan tingkah Alea ini sesuatu yang layak untuk di sorot. “Lalu, bagaimana dengan rumor kalau anda istri rahasia dari boss anda sendiri? Bukankah kalian di rumorkan memiliki hubungan spesial.” Wajah Ethan mengeras. Sorot matanya seakan ingin menelan Alea hidup-hidup , andai wanita itu bertingkah dan membuatnya malu. Namun alih-alih menjawab seperti yang ditakutkan Ethan, Alea justru melirik tas kecilnya, lalu menarik map perak dan menyerahkannya pada wartawan terdekat. “Saya tahu kalau kalian akan mempertanyakan hal ini, karena rumor itu sudah sangat mengganggu,” sahut Alea dengan santai. “Ini salinan dokumen dari Pengadilan Lyones. Tidak ada catatan pernikahan antara Ethan Vale dan Alea Morgan. Hubungan kami sudah berakhir secara hukum pekerjaan, bukan hukum pernikahan atau hubungan apapun.” Diam-diam tangan Ethan terkepal. Ada rasa yang tidak bisa ia katakan dan jelaskan, namun yang pasti… ada rasa tidak terima disana. Bel gala berbunyi—tanda lelang utama akan dimulai dan pembicaraan mereka terhenti. Alea menoleh sekali lagi. Tatapan Ethan penuh amarah dan kebingungan. Ia tersenyum tipis. Seakan mengatakan. “Kalau kau menyembunyikanku dan membungkuk dengan sadar, maka aku tidak akan mengakui apapun yang berkaitan diantara kita.”"Ada pekerjaan yang harus aku urus sekarang, Kau masuk dulu saja kedalam kamar. Nanti aku menyusul," ujar Sean, ketika mereka sudah tiba di mansion. "Tapi Sean...""Jangan khawatir, ada Lio yang bisa menemaniku dan mengantarkan aku ke kamar nanti. Kau istirahat saja ,hari ini terlalu berat. hmm," sahut Sean cepat, meminta Allea untuk beristirahat agar tubuhnya tidak drop karena terlalu lelah. "Baiklah. Kalau begitu, aku ke kamar dulu. Jangan tidur terlalu larut."Sean hanya mengangguk mendengar ucapan Allea, lantas memberikan isyarat pada Lio untuk mendorong kursi rodanya menuju ruangan khusu yang hanya bisa dimasuki oleh dirinya sendiri dan asistennya selama ia izinkan. Klik!Suara pintu yang terkunci secara otomatis ketika mereka masuk, terdengar sedikit bergema saat keduanya sudah berada di dalam ruangan dengan suasana yang begitu hening. "Apa yang terjadi, Lio? Apa dia mulai berulah?" tanya Sean dengan wajah tegang dan sama sekali tidak bersahabat."Sedikit membuat ulah, Tuan.
"Aku lelah, Sean. Di rumah itu, aku selalu membayangkan bagaimana kehidupanku yang mungkin akan bahagia saat bersama orang tua kandungku. Ya... setidaknya, mungkin aku tidak akan kelaparan saat akan tidur, aku tidak akan merasakan harus bangun dini hari untuk bekerja di ladang. Atau yang paling bahagia, setidaknya aku akan dipeluk saat aku akan tidur di malam hari. Tapi kau tahu, semua itu berhenti di khayalanku saja."Allea tersenyum getir. Namun air mata menjadi penjelasan, seberapa jauh sakit yang ia rasakan dan itu harus tumpah di depan pria asing yang kini menjadi suaminya. Sean mengangkat salah satu tangannya yang bebas, mengusap pelan pipi Allea yang basah oleh air mata. "Maaf, kalau pertanyaanku menjadi hal yang menyakitkan. Maaf, kalau pertanyaanku justru membuka luka yang sudah rapat kau simpan," ujar Sean, dengan suara yang terdengar bersalah. "Ini bukan salahmu. A-Aku tahu, cepat atau lambat semua ini akan keluar juga dari mulutku. Aku juga tidak bisa memendam semuanya
Sean hanya diam dan menatap tepat ke arah mata Allea, seolah mencari kebenaran dalam setiap kalimat yang wanita dihadapannya itu katakan. Namun, tak hanya kejujuran dan kemantapan hati yang bisa dilihat Sean dari mata Allea. Tapi juga justru kobaran kemarahan, dan luka yang mendalam yang justru terlihat semakin membara. "Sejauh itu mereka menyakitimu, hmmm?" Allea membalas tatapan Sean, napasnya tertahan sesaat sebelum akhirnya terhembus perlahan. Untuk beberapa detik, ia tidak langsung menjawab, seolah sedang memilih apakah ia akan membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat—atau membiarkannya tetap tertutup. “Lebih dari sekadar menyakiti,” ucapnya akhirnya, mengatakan dengan raut wajah yang bahkan terlalu tenang untuk sebuah pengakuan menyakitkan dan mungkin menimbulkan trauma. “Mereka bukan hanya menyakitiku secara fisik dan hati, bahkan mereka membuatku lupa bagaimana rasanya dihargai sebagai manusia.” Sean tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya mengeras, rahangnya meneg
Rapat akhirnya ditutup dengan ketukan palu kecil di ujung meja. Para direksi berdiri satu per satu, sebagian masih menyimpan raut ragu, sebagian lain memilih bersikap netral. Namun tidak ada lagi bantahan yang berart seperti sebelumnya, sebab keputusan sudah benar-benar di ambil.Ruangan perlahan kosong.Allea membereskan dokumen di hadapannya dengan gerakan teratur, napasnya baru terasa benar-benar kembali normal setelah pintu terakhir tertutup."Maaf, seharusnya ini menjadi sekedar pesta pembukaan dari Ellara's yang disiapkan untukmu, tapi... semuanya harus berakhir seperti ini," ujar Sean, menatap lekat Allea dengan kedua tangan bertumpu di atas paha dan jemari yang saling terjalin didepan dagu."Tidak apa-apa, lagipula.. kalaupun tidak sekarang, ini akan terjadi juga nantinya kan," sahut Allea, menoleh sekilas ke arah Sean dan kembali melanjutkan aktivitasnya.Meski tangannya masih membereskan map, Allea bisa merasakan sedikit canggung sebab ia tahu kalau saat ini Sean masih terus
Serena mematikan televisi dengan satu sentakan keras. Ruangan kembali hening, namun kepalanya justru semakin bising. Bayangan wajah Allea yang tersenyum bangga ketika di panggung itu terus berputar, lengkap dengan nama Kingston yang kini sah melekat padanya. Semua pasang mata menatap penuh kagum pada Allea, seakan ia menjadi pusat semesta dan pusat perhatian, yang jika berkedip sekali saja maka semuanya akan lenyap.“Tidak… aku tidak akan membiarkan ini berakhir seperti ini,” gumam Serena dingin. "Aku sengaja menolak semuanya, meminta Ayah dan ibu menekan Allea untuk menikah dengan Sean, itu semua agar wanita itu menderita. Tapi kenapa dia justru bahagia dan mendapatkan yang tidak bisa aku dapatkan!"Serena berdiri dari sofa dengan langkah perlahan namun penuh tekanan. Rahangnya mengeras, matanya menyipit tajam. namun kali ini amarahnya mulai terkendali, bahkan senyum smirk mulai terbit dibibirnya.“Sean Miller Kingston…” gumamnya pelan, seolah mengecap nama itu dengan penuh perhitun
Ethan keluar dengan wajah penuh kekesalan. Ia tidak menyangka kalau Allea yang sudha berhari-hari tidak pulang, justru mengaku kalau dirinya seorang istri dari Sean Miller Kingston. Ia tidak pernah tahu, sejak kapan mereka menikah dan menjalin hubungan. Namun satu hal yang pasti dan ia yakini saat ini, kalau Allea hanya memainkan peran dan tidak benar-benar meninggalkannya. Dia hanya kesal karena posisinya digantikan orang lain, dan dia juga kesal karena ditinggalkan ketika masih berada di rumah sakit.Langkah Ethan terhenti tepat di depan pintu kaca besar Ellara’s Diamond. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, rahangnya mengeras. Ia menghembuskan napas kasar, mencoba meredam gejolak yang masih membakar dadanya.“Dia hanya marah,” gumamnya pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Itu saja.”Di benaknya, Allea bukan perempuan yang berani memutuskan segalanya sendirian. Apapun itu, Allea selalu meminta persetujuan darinya dan selalu melakukan segala hal demi mendapatkan perhat







