Share

Bab 7

Author: Noona_SV
last update Last Updated: 2025-11-05 09:28:39

Aula utama Gala Amal VaC Corporation & Hamesworth Group berpendar dalam cahaya kristal keemasan. Langit-langitnya menjulang tinggi, dihiasi lampu gantung raksasa yang memantulkan bias lembut ke seluruh ruangan. Malam itu, acara penggalangan dana untuk anak-anak korban perang di Marawi digelar, malam yang benar-benar eksklusif yang hanya dihadiri kalangan elite Geneva dan para pemilik nama besar.

Alea datang lebih awal, mengenakan gaun hitam sederhana. Ia membawa baki kristal berisi barang lelang milik keluarga Morgan, berjalan dengan tenang melewati lorong kaca yang berembus udara dingin dari pendingin ruangan. Namun langkahnya terhenti ketika telinganya menangkap suara samar dari balik pintu kaca buram bertuliskan Restricted – Board Access Only.

Suara itu... milik Ethan Vale. Dan bersamanya—tawa orang-orang yang dulu menyebut Alea bagian dari keluarga mereka.

“Akhirnya Serena kembali,” ujar seseorang dengan nada lega.

“Antara Serena dan Alea? Yang satu pewaris Morgan, yang satu mantan asisten yang terlalu percaya diri. Mana yang kau pilih? Jelas, kau tidak mungkin memilih yang nggak seharusnya kan,” sahut yang lain, disambut derai tawa kecil.

Lalu suara Ethan terdengar. Dingin, tajam, seperti bilah pisau yang diasah sempurna.

“Alea wanita baik. Tapi dia bukan Serenaku, selama ini… aku hanya menganggapnya sebagai pengisi kekosonganku. Aku pikir, dia bisa menggantikan Kakaknya. Tapi ternyata? Dia tidak punya semua itu.”

Tubuh Alea menegang.

Kata-kata itu menembus kulit, menghantam lurus ke dada.

Menggantikan kehilangan, mengisi kekosongan.

Jadi, ia hanyalah pengganti untuk kehadiran Kakaknya yang tiba-tiba menikah?

“Astaga! Tapi, apa kau tidak takut kalau mungkin saja dia marah setelah tahu, bahwa kau ada dibalik musibah keguguran yang dia alami. Aku harap, kau sudah bisa tangani itu.”

“Tentu saja. Lagipula, itu sudah berlalu,” jawab Ethan datar. “Aku tak pernah berencana punya anak darinya. Aku sudah pastikan itu. Dan soal kemarahan? Sejak kapan dia bisa marah padaku?”

Tangan Alea yang memegang baki membeku.

Obat putih kecil yang dulu dipaksa Ethan agar ia minum, yang katanya vitamin kini seperti sebuah duri yang mengoyak kerongkongannya.

Dulu dia tidak pernah berpikir kalau itu obat lain, selain Vitamin yang dikatakan Ethan. Dan sekarang, semuanya terbuka. Itu bukan vitamin. Itu pencegah kehamilan.

Dan bodohnya, ketika keguguran dulu.. dia merasa bersalah yang begitu besar pada Ethan, karena tidak bisa menjaga anaknya.

“Tuhan. Apalagi ini, sakit apalagi yang masih kurang menusuk kedalam jiwaku?”

Dunia di sekelilingnya terasa berputar.

Ia memutar badan, berniat pergi sebelum suara itu merobeknya lebih dalam. Tapi langkahnya terhenti ketika ponselnya bergetar.

[Ethan Vale: Bawa berkasnya ke lantai dua. Sekarang. Jangan main-main, ini bukan tempat membuat masalah]

Alea menatap layar itu lama.

Senyum getir muncul di ujung bibir. Bahkan kini, ia masih dianggap bawahan, meski dia sempat dibuang dan dianggap sampah.

Pantulan dirinya di kaca lorong tampak asing, matanya sedikit sembab, bibir pucat, dan gaun hitam yang kini lebih mirip pakaian duka.

“Baiklah,” bisiknya pelan. “Kalau ini permainan terakhir, aku yang menutup tirainya.”

Alea berjalan ke arah kamar mandi, lalu mematut sedikit dirinya. Memoleskan lipstik warna nude pada bibirnya dan juga menyapukan beda, agar terlihat sedikit lebih segar.

---

Aula lelang sudah penuh ketika ia masuk.

Lampu berkilau, kamera berderet, dan gemerlap perhiasan memantul di setiap permukaan. Namun bagi Alea, semua itu tak ubahnya ruangan dingin tanpa jiwa.

Beberapa menit kemudian, Ethan muncul menggandeng Serena. Ia sedikit tertegun melihat Alea, namun segera ia tepis.

Senyumnya tampak profesional, namun genggaman tangannya di lengan Serena terasa seperti sebuah deklarasi kepemilikan.

“Alea, kau di sini juga rupanya.”

Nada suaranya datar, seolah mereka sedang membahas jadwal rapat.

Seorang reporter langsung menodong mikrofon.

“Tuan Vale, benarkah Nona Alea mengundurkan diri hari ini?”

Sebelum Ethan sempat menjawab, Alea melangkah maju.

“Benar. Masa kontrak saya sudah berakhir. Dan ini hari terakhir saya bekerja.”

“Tapi bukannya kalian..”

“Itu hanya rumor tidak mendasar. Kami tidak ada hubungan pribadi, selain asisten dan juga bossnya,” sela Alea dengan cepat dan tenang.

Bisik-bisik bertebaran di antara tamu. Ada yang tidak percaya dengan penuturan Alea, namun ada yang juga tidak menanggapi apapun.

“Lalu, setelah ini, apa anda sudah ada planning untuk bekerja dimana?” tanya salah seorang reporter.

“Tentu saja. Saya sudah mendapatkan tempat baru, dan mulai besok, saya bekerja sama dengan Crestwood Group.”

Rahang Ethan menegang. Ia tidia tahu apa maksud Alea membuat berita semacam ini. Bagaimana dengan santainya gadis itu mengaku, kalau dia bekerja untuk Crestwood, sementara selama ini Alea Tidka pernah keluar dari perusahaannya dan ruang lingkup hidupnya.

Seorang wartawan lain menimpali cepat:

“Lalu cincin pasangan itu? Masih Anda simpan?”

Alea mengangkat tangan, jari manisnya kosong.

“Apakah Anda melihatnya di sini? Lagipula, itu hanya cincin pasaran. Bukan cincin pasangan.”

Seketika ruangan terasa hening. Kilatan kamera semakin menyilaukan, seakan penuturan dan tingkah Alea ini sesuatu yang layak untuk di sorot.

“Lalu, bagaimana dengan rumor kalau anda istri rahasia dari boss anda sendiri? Bukankah kalian di rumorkan memiliki hubungan spesial.”

Wajah Ethan mengeras. Sorot matanya seakan ingin menelan Alea hidup-hidup , andai wanita itu bertingkah dan membuatnya malu. Namun alih-alih menjawab seperti yang ditakutkan Ethan, Alea justru melirik tas kecilnya, lalu menarik map perak dan menyerahkannya pada wartawan terdekat.

“Saya tahu kalau kalian akan mempertanyakan hal ini, karena rumor itu sudah sangat mengganggu,” sahut Alea dengan santai. “Ini salinan dokumen dari Pengadilan Lyones. Tidak ada catatan pernikahan antara Ethan Vale dan Alea Morgan. Hubungan kami sudah berakhir secara hukum pekerjaan, bukan hukum pernikahan atau hubungan apapun.”

Diam-diam tangan Ethan terkepal. Ada rasa yang tidak bisa ia katakan dan jelaskan, namun yang pasti… ada rasa tidak terima disana.

Bel gala berbunyi—tanda lelang utama akan dimulai dan pembicaraan mereka terhenti.

Alea menoleh sekali lagi. Tatapan Ethan penuh amarah dan kebingungan.

Ia tersenyum tipis. Seakan mengatakan.

“Kalau kau menyembunyikanku dan membungkuk dengan sadar, maka aku tidak akan mengakui apapun yang berkaitan diantara kita.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 46

    "Diam, atau kurobek mulutmu," ucap Allea dengan wajah datar, dan suara yang terdengar tegas. Untuk pertama kalinya, ekspresi Serena membeku. Tangannya yang menggenggam lengan Ethan mengendur sepersekian detik, jelas tidak menyangka Allea akan berani berbicara seperti itu di ruang publik.Beberapa pengunjung butik di sekitar mereka spontan menoleh. Suasana yang semula elegan berubah tegang.Ethan mengernyit, ia tidak pernah melihat sisi Allea yang seperti ini. Dan jelas itu membuat egonya sedikit terusik dan harga dirinya tergores.“Kau... Kenapa kau bisa bicara sekasar itu, Allea? Kau benar-benar berubah,” katanya pelan, namun nada suaranya mulai mengeras."Apa urusannya denganmu?""Allea, jangan terus bermain peran didepanku. Jangan karena kemarin aku diam dan Kau dibelakang seseorang yang berpengaruh, kau berani berulah seperti ini. Kau lupa, siapa kau sebenarnya? Apa hanya karena pria lumpuh itu, kau berani bertingkah kasar pada Kakakmu sendiri?"Allea mendengus mendengar nada ren

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 46

    Seperti yang ia rencanakan sebelumnya, Allea mendatangi salah satu butik yang memiliki brand ternama di Volka, dengan kumpulan brand dari desainer terbaik. "Berikan aku dasi dan juga Jas dari beberapa brand terbaik, dengan rancangan terbaru. Aku mau, semuanya kualitas terbaik," pinta Allea pada salah satu pegawai butik yang langsung menegakkan tubuhnya begitu mendengar permintaan itu. “Tentu, Nona. Apakah ada warna atau potongan yang diinginkan?” tanyanya dengan nada profesional. Allea menggeleng pelan. “Sesuaikan saja. Aku ingin yang paling layak dipakai suamiku, Sean Miller Kingston.” Nama itu membuat beberapa pegawai saling melirik satu sama lain, lalu bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Rak demi rak dibuka, gantungan jas diturunkan dengan hati-hati. Satu per satu pilihan dikeluarkan, dari potongan klasik hingga desain modern dengan detail rapi dan tegas. Allea berdiri dengan sikap tenang, matanya menilai tanpa ragu. Ia memilih jas hitam dengan potongan lurus, bahu tegas, d

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 45

    Allea melangkah mendekat ke cermin besar di sudut kamar. Pantulan wajahnya terlihat begitu tenang, nyaris dingin. Namun hanya dia yang tahu, betapa rapuhnya lapisan ketenangan itu. Luka lama tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya belajar menyimpannya rapi, jauh di dasar hati. Tangannya terangkat, menyentuh lehernya sendiri, seolah memastikan ia masih bisa bernapas dengan bebas. “Burung dalam sangkar emas,” gumamnya pelan, kali ini keluar sebagai suara. “Setidaknya sangkarnya indah, tanpa membuatku terluka hanya karena ingin merasakan terbang sedikit bebas.” Ia tersenyum miris. Dulu, di rumah Morgan, ia bahkan tidak diberi sangkar. Ia hanya dibiarkan berdiri di luar, menyaksikan bagaimana kasih sayang dibagikan pada orang lain, sementara ia diminta tahu diri hanya karena dilahirkan dari rahim yang sama. Langkahnya terhenti di depan rak gaun. Berderet rapi, mahal, dan indah. Semua yang dulu hanya bisa ia pandangi dari jauh, kini tersedia tanpa syarat. Perhiasan mahal, tas

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 44

    Allea merasakan hatinya berdenyut nyeri, saat dengan terang-terangan Vanessa mengatakan bahwa ia sama sekali tidak akan pernah sama dengan Serena. Meski notabenenya dia anak kandung, namun posisinya tidaklah sama berharga dengan anak angkat mereka. "tapi Ibu, aku sama sekali tidak mengambil gaun kakak. Aku hanya menerima dari bibi pelayan, dan bilang kalau itu dari ayah," elak Allea, berusaha menyangkal apa yang dituduhkan padanya. Serena dengan wajah yang penuh kesedihan, menyentuh lengan David dengan pelan disertai isakan yang terdengar memilukan. "Ayah... Maafkan aku, tidak seharusnya aku membuat keributan hanya karena gaun,” ucap Serena terputus, bahunya bergetar. “Aku hanya… aku hanya kaget. Itu gaun yang Ayah janjikan untukku.”"Ini bukan salahmu, Serena. Lagipula, gaun itu memang ayah belikan untukmu. Tidak seharusnya Allea mengambil apa yang bukan menjadi haknya, meski dia anak kandung kami," sahut David tanpa ragu, seolah kalimatnya bukanlah hal yang salah. Namun tanpa

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 43

    Allea menutup laci nakas itu perlahan. Jemarinya masih terasa hangat, seolah ada sisa sentuhan dari sesuatu yang tak kasat mata tertinggal di sana. Ia berdiri cukup lama di depan tempat tidur, memandangi kotak beludru dan amplop putih yang kini kembali tertata rapi. Dadanya naik turun tidak beraturan, karena sebuah perasaan asing yang perlahan mulai menggantikan perasaan lain yang sudah mengendap lama. “Aku akan menuruti ucapanmu kali ini,” gumam Allea pelan, seolah berbicara pada Sean yang tidak ada di ruangan itu. “Aku akan bersenang-senang. Setidaknya… mencoba.” Ia berbalik menuju menuju walk in closet, dimana ternyata begitu banyak baju untuk ya yang sudah tersusun rapi. "Astaga, Sean. Kau benar-benar melakukan ini untukku?" gumam Allea, menatap deretan pakaian yang begitu indah, elegan dan terlihat sesuai dengan apa yang menjadi ciri khas pakaian kesukaannya."Dia tahu akau sebanyak ini, atau... dia hanya menebak dari kriteriaku?"Ketika nyaris berpikir lebih jauh, Allea seke

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 42

    Allea mendengus ketika membaca pesan dari seseorang yang sama sekali tidak asing untuk ya. Meski ia mengganti nomor ponsel dengan yang baru, Allea jelas tahu siapa yang tidak suka dengan kebahagiaannya. [Sebegitu tidak bahagianya kah hidupmu, kakak. Sampai-sampai, kau selalu mengganggu kehidupanku yang sudah bahagia]Allea meletakkan ponsel di atas meja, setelah memberikan balasan pada orang yang memang tidak pernah menginginkan kebahagiaannya sejak ia menjejakkan kaki di kediaman Morgan. Dengan santai, Allea kembali menikmati sarapannya tanpa merasa terganggu. Hingga sebuah pesan kembali masuk kedalam ponselnya dan membuat atensinya teralih.[Katakan kalau kau tidak menyukai apa yang aku siapkan hari ini. Jangan memaksa menelan sesuatu yang tidak kau inginkan.]Senyum tipis terbit dibibir Allea. Pesan yag singkat dan sedikit terkesan dingin, namun Allea bisa merasakan kehangatan perhatian didalamnya. Sean... Suaminya itu tengah berusaha menunjukkan sosoknya sebagai suami, meski or

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status