Share

KONDISI KRITIS MENANTU YANG DISEPELEKAN

BAB 3

Kedamaian, ketentraman, dan keamanan tingkahku terjamin secara totalitas di rumah ini. Hunian yang ku tempati selama puluhan tahun ini. Tanpa harus berebut kekuasaan. Tanpa harus berbagi dengan ahli waris lain, karena diriku terlahir sebagai anak tunggal di keluarga Mama dan Papa. Terkadang Mama suka heran, bagaimana bisa anak sepertiku hidup di bawah aturan dari suami, sementara kelakuanku di rumah ini saja terus semena-mena. Hahaha. Aku meyakinkan Mama supaya percaya kepada anaknya satu-satunya ini, bahwa diriku bisa melakukan semua hak yang diragukan oleh orang yang telah melahirkanku itu. 

“Nisa, Yusuf, ayo makan malam, Nak.” ajak Mama sambil mengetok pelan pintu kamar kami yang setengah terbuka.

“Iya.. Ma.” sahutku hampir bersamaan dengan Mas Yusuf.

Mamaku memang terbaik, setiap kali kami pulang ke rumah, aku dan suami diperlakukan seperti raja dan ratu. Semua pekerjaan rumah sampai memasak diambil alih oleh beliau. Tugasku hanya sibuk merebahkan diri di kamar seharian seperti orang baru keluar dari penjara saja. Penjara kehidupan yang mencekam bersama mertua lebih tepatnya. Hehehe. 

Aku menggandeng mesra lengan suamiku satu-satunya ini, menuju ke tempat makan. Sudah ada Papa dan Mama yang sudah duduk di kursi makan. Menunggu kami bergabung untuk makan bersama keduanya. 

“Gimana pekerjaanmu, Suf? Lancar?” Papa mengawali pembicaraan saat kami semua sedang  makan malam.

“Alhamdulillah lancar, Pa.” jawab Mas Yusuf sopan.

“Kapan mau liburan berdua dengan Annisa?” tanya Papa serius. 

“Emmm.... belum ada planning, Pa.” Mas Yusuf menimpali. Kami berdua saling melirik, kening Mas Yusuf sempat berkerut. Bingung sepertinya dengan apa yang papa pertanyakan. 

“Ajaklah dia berlibur. Kamu butuh waktu free untuk mencetak generasi baru kalian dengan otak yang fresh. Teman Papa dulu bahkan rela resign dari pekerjaannya hanya untuk merefresh otaknya, rechager fisiknya dan fokus dengan keseriusan ingin memiliki keturunan.”

Deg ... jantungku serasa berhenti berdetak sementara. Mendengar nasehat Papa yang tiba-tiba sangat serius. Ada benarnya juga sih kata Papa, bahwa selama ini kami biasa-biasa saja. Belum ada keseriusan untuk membahas masalah kehamilan. Tapi jika sikap papa begini,  takut juga kalau-kalau Mas Yusuf tersinggung atas ucapan Papa barusan.

“Baik, Pa. Akan Yusuf pikirkan dengan serius masukan Papa.” balas Mas Yusuf dengan ekspresi yang entahlah. Aku tahu dia pasti tersinggung. 

“Gitu dong. Pumpung kalian masih muda. Dan kami masih bisa menimang cucu dengan kuat. Ya kan, Ma?”

“Hahhahahahaa” kami saling tertawa. Tapi kulihat  tawa Mas Yusuf tampak  tidak setulus biasanya. 

Ada raut tegang dan serius di muka Mas Yusuf. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Yang penting bagiku sekarang adalah  dia tetap makan dengan lahap. Masalah yang barusan dibahas oleh Papa biar menjadi urusan kami nanti.

Ahh….  Masakan  Mama memang yang tercocok di lidah Mas Yusuf dibandingkan masakan istrinya sendiri. Pikirku dengan perasaan gelisah. 

🌿🌿🌿🌿🌿

“Nis, kamu kirim pesan apa ini sama Ibu? Kok bahas Mas Rama segala?”

Aku sengaja tidak menghapus isi chatku kemarin dengan Ibu di handphone Mas Yusuf.

“Itu loh, Ibu kupingnya terganggu ada tetangga lagi hajatan, makanya ku telfonkan Mas Rama supaya menjemput ibu ke rumah karena ibu mengeluh  pusing.”

“Terus, Ibu mau?” tanyanya balik dengan ekspresi tidak senang. 

“Enggak mau, soalnya kata Mas Rama Ibu enggak pusing, biasa saja gitu bilangnya. Jadi Beliau tetap tidur di rumah.” jawabku polos dan apa adanya. 

“Kamu kan sudah tahu kalau  Ibu tidak cocok dengan istri Mas Rama. Kenapa kasih solusi semacam itu tanpa seizin Mas, sih!” Mas Yusuf mulai tampak geram denganku. 

“Loh, namanya juga cari solusi. Supaya Ibu tidak terganggu jam tidurnya.” sahutku tak kalah kesal. 

“Kamu juga, janganlah Nis kerjaan rumah yang sudah dikerjakan Ibu kamu ulang lagi. Kasian Ibu sakit hati. Anggap saja beliau sudah tua dan kekanakan lagi sifatnya.” omelnya padaku. 

Aku hanya mendengarkan nasehat suamiku tanpa membalas ucapannya. Sambil sesekali mengangguk. Mungkin Mas Yusuf tidak tahu rasanya bagaimana menjadi Aku yang selalu  diolok Ibunya dalam segala hal. Baru saja dinasehati Papa dengan sopan masalah tadi, ujungnya anaknya Papa yang jadi pelampisan. Aku hafal betul sifat Mas Yusuf, karena aku istrinya. 

🌿🌿🌿🌿🌿

“Nisa, ambilkan selang dong. Mau cuci mobil, nih.” suruh Mas Yusuf kepadaku  pagi-pagi. Semalam mungkin masih sebel dengannua, tapi pagi ini rasanya sudsh sembuh begitu saja. Mungkin efek tinggal berdekatan dengan orang tua sendiri, jadi mood baikku lah yang berhasil menguasai diri. 

“Nanti masuk angin kamu, Mas. Masih pagi banget loh ini. Dingin.” jawabku setengah mengomel.

“Nggak papa, mobilku sama mobil Papa kotor ini. Biar sekalian ku cucikan.” jawabnya penuh semangat.

“Ya sudah. Ini…” kusodorkan selang yang ia minta di hadapannya. Sementara Mas Yusuf sedang menyiapkan keperluan lain yang ia butuhkan untuk mencuci mobil. Entah apa yang merasuki suamiku pagi ini, sehingga dia berubah sebaik ini dan sepagi ini.

“Aku  bantuin Mama beli bahan buat masak dulu ya, Mas. Awas jangan sampai kedinginan loh.” pesanku kepada suami tercinta sebelum pergi bersama Mama.

Sebenarnya awal-awal  ada  rasa khawatir meninggalkannya sendiri di rumah, kasian saja jika dirinya tidak ada teman, tapi sekarang dia sudah biasa kami tinggalkan sendiri atau kadang bersama Papa. Akhirnya aku dan Mama pergi belanja bersama berdua ke pasar naik motor. 

Bahagianya aku memiliki Mama yang sekaligus bisa dijadikan sahabat. Aku tidak pernah menceritakan bagaimana susahnya aku berdamai dengan keadaan di rumah suami. Bahkan segala perlakuan buruk mertuaku ku anggap perlakuan biasa seperti  perlakuan ibuku sendiri. Sehingga aku merasa tidak ada yang perlu kuceritakan. Aku bisa menghadapinya sendiri, meski suamiku jarang mendukungku. Suatu saat pasti dia akan sadar sendiri. Begitu doaku dalam hati.

*********

[Nis, istriku nanti sore rencana melahirkan SC di rumah sakit. Kamu sama Yusuf sekalian jemput Ibu ya kalau beliau mau ikut]

Pesan dari Mas Rama di ponselku. Segera kusodorkan handphoneku ke Mas Yusuf.

“Ya sudah nanti kita jemput Ibu sama Mia. Supaya sama-sama  ke Rumah sakitnya.” kata Mas Yusuf.

Mia adalah adik bungsu Mas Yusuf  yang juga sudah menikah baru beberapa bulan yang lalu, tetapi ia lebih beruntung dari kami karena  sudah diberi kepercayaan untuk hamil. Sudah dua bulan usia kehamilannya sekarang. Itulah yang selalu menjadi patokan Ibu untuk terus menekanku agar lebih cepat lagi hamil karena Aku dan Mas Yusuf lebih dahulu menikah dari Mia dan suaminya. 

[Baik Mas Rama. Semoga diberikan kelancaran ya sampai nanti jam operasi tiba] balasku. 

[Aamiin. Makasih Nis] 

🌿🌿🌿🌿🌿🌿

Aku, Mama dan Mas Yusuf santai mengobrol di halaman depan. Dari membicarakan tentang kehidupan Mama waktu muda hingga beliau berumah tangga. Mama waktu itu juga sama, tidak langsung diberikan kepercayaan untuk hamil. Dua tahun menanti akhirnya beliau baru bisa hamil. Meski akhirnya keguguran di kehamilan pertamanya. Aku hadir di usia pernikahan Mama dan Papa yang ketiga tahun.

“Itu Papa. Sudah selesai juga nyuciin mobilnya.” kata Mama menjelaskan kepergian Papa kemana sejak tadi.

“Loh, Papa habis nyuciin mobil, Ma?” tanyaku memastikan.

“Iya Nisa, bagian bawah mobil milik papa itu loh katanya kotor sekali. Setiap beliau nyuci sendiri kan hanya bagian bodi saja yang ke cuci. Katanya gitu.” jawab Mama yang sepertinya enggak ngerti kalau mobil Papa sudah dicuci oleh menantunya.

Muka Mas Yusuf sudah memerah seperti udang yang baru saja digoreng. Sudah lelah dia membersihkan mobil Papa tadi pagi, eh malah dicucikan ulang sama Papa.

“Yusuf masuk kamar dulu ya, Ma. Silakan dilanjutkan ngobrolnya.” pamitnya kepada kami. 

Aku berbisik pada Mama, memberitahu hal yang sebenarnya. Mama syock dan merasa tidak enak karena sudah sembarangan menjawab tanpa memikirkan perasaan menantunya.

Aku bergegas menyusul Mas Yusuf ke dalam kamar. Berusaha membujuknya yang sedang ngambek dan mungkin saja hatinya terluka. 

“Maafkan Papa... ya, Mas. Papa tidak sengaja karena tidak tahu perihal sudah kamu cucikan tadi mobilnya.”

Mas Yusuf semakin marah kepadaku. Dia bahkan tidak menjawab permintaan maafku.

Akupun tertawa dalam hati. Meski berdosa tapi entah kenapa hatiku sangat bahagia melihat kejadian ini.

“Kamu mau tahu kan, gimana rasanya melakukan sesuatu dan diulang kembali oleh orang tua kita. Ini kamu baru sekali Mas, dan satu pekerjaan. Bagaimana kalau banyak pekerjaan dan diulang terus menerus setiap harinya? Bisa gila pasti kamu. Itulah yang aku rasakan di rumah Ibu. Kuharap kamu mengambil pelajaran dan hikmah dari kejadian ini.” seruku percaya diri. 

Aku pergi meninggalkan keberadaan suami di dalam kamar. Setidaknya supaya dia berpikir dengan keras bahwa pembelaannya terhadap Ibu selama ini bukanlah solusi yang terbaik untuk kami semua.

Jadilah penengah yang baik, pendengar yang baik, yang tidak memihak salah satu diantara istri atau ibu. Jadilah pengarah bagi yang salah arah. Juga berani membenarkan jika memang ibunya yang salah. Itu tugas sesungguhnya sebagai seorang suami dan anak.

********

Setelah menelepon Ibu dan Mia, kami berdua bergegas menuju ke rumah Ibu. Tampak Ibu dan Mia di depan Rumah sudah berpakaian rapi. Suami Mia juga ikut serta dengan kami. Selama perjalanan Ibu selalu mengutuk kakak ipar yang sebentar lagi akan melahirkan ini. Istri Mas Rama bernama Mbak Rini. Dia memang tipikal wanita yang tegas dan judes. Itu sebabnya Ibu kurang begitu cocok. Setiap kali dinasehati mertuanya selalu berani membangkang. Jangankan tanpa Mas Rama, ada Mas Rama pun mbak Rini tetap berani memarahi ibu jika ia tidak terima.

Saking banyaknya problem sehari-hari antara ibu dan istrinya, Mas Rama kewalahan menengahi antara keduanya. Itu sebabnya mas Rama buru-buru membeli rumah untuk istrinya supaya bisa hidup mandiri.

“Si Rini itu, terlalu membangkang sama orang tua dan suami, jadilah sekarang melahirkannya tidak bisa normal. Makannya jadi istri itu yang nurut sama suami dan orang tua.”

Ibu memulai pembicaraan di mobil yang membuat mataku terbelalak lebar. Entah apa motifnya, yang jelas bagi orang awam sepertiku ini sungguh menyakitkan. Aku juga wanita dan juga menantunya. Pastilah tidak jauh beda nasib kami kelak misalkan aku memang suatu hari nanti harus melahirkan secara SC.

“Ibu ngomong apa sih? Nggak enak tahu, kalau Mas Rama mendengar pasti Ibu dimarahin nanti.” sahut Mia yang mungkin merasa tidak enak kepadaku. Membicarakan seorang ipar di depan anak kandung mungkin sudah biasa dilakukan seorang mertua, tapi membicarakan menantu di depan menantunya yang lain, seharusnya tidak pernah terjadi. 

“Kan Ibu ngomong tentang kenyataan, Mia. Ngapain Rama marah!” protes Ibu. Ibu memang selalu emosi kalau di kasih tahu.

“Ya sudah, nanti Ibu ngomong kayak tadi aja di depan Mas Rama, supaya Ibu tahu, dia responnya gimana.” jawab suamiku konyol membuat hatiku seketika terpingkal. Buru-buru ku tutup rapat mulutku supaya tidak kebablasan menertawakan ibu mertua.

“Ibu itu punya anak perempuan yang lagi hamil. Harusnya ngomongnya jangan begitu. Nanti kalau Mia ngalamin hal yang sama kayak mbak Rini, Ibu bisa apa?” sahut Mia.

“Ya Enggak mungkinlah Mia, kamu kan bidan, jadi tahu betul bagaimana cara melahirkan normal seperti Ibumu. Jangan malas kayak anak sekarang, dikit-dikit operasi. Nggak mau susah.” tutur Ibu seperti manusia yang tak punya perasaan. Jadi setiap wanita hamil yang melahirkan secara SC itu hina bagi beliau? Begitu kah? Batinku ngedumel.

“Astaghfirullah Ibu. Mia juga manusia, Bu, semua itu yang menentukan Allah. Mau bidan, dokter, suster, kalau waktunya SC, ya SC.”

“Terserah kalian lah. Anak capek-capek digedein pas sudah gede dikasih tau orang tua ngejawab mulu!” keluh Ibu.

Tidak ada obrolan lagi setelahnya. Hening, hanya terdrngar suara mobil yang sedang melaju dengan kecepatab sedang. Sisanya adalah suara dengkuran Ibu yang kecewa karena aspirasinya ditolak mentah oleh anak-anaknya. Beliau lebih memilih untuk tidur. 

********

“Mas Rama, kenapa?” tanyaku bingung melihat kakak iparku menangis di ruang tunggu. Kami berlima bergegas mendekati keberadaannya.

“Rini sekarang di ICU Nis, dia kritis pasca operasi.” ucapnya terbata. 

Hatiku seperti diiris-iris. Perih mendengar pengakuan iparku tersebut. “Bayinya gimana,Mas?” tanyaku lagi.

“Bayinya selamat. Kakakmu Rini mengalami komplikasi kehamilan. Dia meminta dokter menyelamatkan nyawa anak kami jikalau ada hal mendesak nyawa.”

Aku dan Mia tak sadar ikut meneteskan air mata. Merasakan bagaimana sedihnya Mbak Rini di dalam sana tadi.

“Dulu enggak usah ribet operasi malah semuanya selamat.” celetuk Ibu diantara obrolan serius kami.

“Ibu ... “ Mas Yusuf kasih kode ke Ibu supaya tidak banyak berkomentar dulu.

“Loh, kenyataan kok, Suf. Tanyalah sana sama almarhum Bapak.” sahut Ibu lagi.“

“Ini menyangkut nyawa istriku Bu, kalau hati ibu memang tidak bisa iba dengan kondisi Rini, setidaknya jangan ngomong yang macam-macam. Bawa pulang saja, Suf. Aku tahu Ibu kesini tidak ikhlas.” balas Mas Rama geram.

“Dasar kamu ya, Rama. Selalu saja belain istrimu. Aku itu Ibu yang ngelahirin kamu! Tahu nggak!” bentak Ibu. Beliau memang tipe manusia yang tidak mau tahu suasana hati orang lain. Pinginnya selalu dimengerti tapi tidak berlaku sebaliknya. 

“Tahu Bu, tapi istriku rela mengorbankan nyawanya demi melahirkan anakku. Dan pengorbanan nyawa itu seakan tidak Ibu anggap di depan Rama. Dia perempuan berharga dalam hidup Rama Bu. Tolong hargai.” imbuh Mas Rama. 

Ibu merasa kalah dan teraniaya. Akhirnya menangis histeris. Meski dilihat oleh banyak orang beliau tidak peduli. Mia dan Raihan suaminya segera memisahkan Ibu dari Mas Rama. Membawanya pulang bersama mereka. Kini tinggal Aku dan Mas Yusuf yang menemani Mas Rama.

Aku baru tahu kenapa Ibu tidak cocok hidup dengan pasangan kakak iparku ini, karena Mas Rama sangat menghargai istrinya. Sedangkan Ibu, mungkin beliau terbakar api cemburu dengan sikap anak lelakinya yang melindungi istrinya dengan baik. Beda jauh dengan sikap Mas Yusuf terhadapku.

Mas Yusuf terdiam seribu kata. Entah apa yang ada di dalam benaknya sekarang? Sakit hati oleh sikap kakaknya? Atau malah sadar bahwa sikap kakaknya itu memang sudah sikap yang terbaik.

Aku pingin nangis terharu, bahkan kagum dengan sosok Mas Rama, tapi melihat celana yang di pakai suamiku bolong agak lebar bagian pantatnya, membuatku jadi tertawa terpingkal-pingkal.

“Tolooooooooong… kenapa Yusuf sangat memalukan!”

hahahahaha.

**********

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status