Share

MENGHADAPI MERTUA JULID DENGAN ELEGAN

BAB 2

“Suf, istrimu itu dikasih tahu  supaya jangan permalukan Ibu lagi di depan tetangga kita.”

Aku yang tengah berada di dalam kamar secara sadar dan sengaja menguping pembicaraan ibu dan suamiku di ruang tv. Kebetulan jaraknya dekat dengan kamar tidur kami.

Tiba-tiba terdengar gerakan kaki seseorang hendak masuk ke kamar. Pasti itu kelakuan Mas Yusuf, mungkin sedang mengecek istrinya sudah tidur apa belum? Untungnya diriku sudah hapal gelagatnya, segera Aku pura-pura memejamkan mata, lalu sedikit mendengkur. Setelah kudengar gerak langkah kakinya berjalan  menjauhi kamar kami, barulah aku kembali mendengarkan obrolan mereka dengan santai. 

Setiap kali ibunya membahas tentangku, Mas Yusuf sepertinya tidak mau Aku mendengar percakapan mereka. Jadi dia berusaha keras untuk menutupinya  dariku. Mungkin  takut nanti akan  terjadi perang dunia di rumah ini. 

“Memangnya Nisa kenapa, Bu?” tanya Mas Yusuf bingung.

“Itu loh, Ibu sudah capek masak, nyapu, cuci baju. Kenapa semua diulangin lagi sama Nisa istrimu. Nanti apa kata tetangga tentang ibu, Suf?” keluh mertua kesal.

“Iya, nanti Yusuf kasih tahu Nisa, bu, supaya tidak lagi begitu.” jawab Mas Yusuf nurut seperti bayi kanguru yang selalu bersembunyi di ketiak emaknya. Lagi dan lagi, ia menjadi anak penurut yang tidak punya pembelaan sama sekali terhadap istrinya. Terlepas dengan rasa bakti dan hormatnya kepada orang tua, harusnya dia bisa menasehati jika memang apa yang dilakukan oleh ibunya adalah sesuatu yang salah atau sesuatu hal yang bisa menyakiti hati istrinya. Bukan malah berdiam diri ditengah dengan alasan tak mau ribut. 

Memang Mas Yusuf selalu begitu. Selalu membenarkan setiap perkataan ibunya terhadapku. Seakan membenarkan bahwa aku selalu salah di mata ibunya. Awalnya Aku terima saja,tapi sekarang caraku menyikapi sudahlah berubah. aku tak butuh pembelaan  darinya, karena membela diriku sendiri demi kebenaran adalah hal yang enteng. Aku tidak mau nanti malah dia dan ibunya yang ribut hanya karena aku. Ini bukan masalah membangkang atau tidak mematuhi orang tua. Tapi aku hanya ingin memberitahu ibu mertuaku untuk lebih memanusiakan manusia. Itu lebih tepatnya.

*********

Pagi sekali pukul 06.00 aku sudah selesai memasak dan mengerjakan semua pekerjaan rumah. Hari ini adalah jadwalku berkunjung ke rumah orang tuaku. Rasa bahagiaku ibaratnya seperti burung yang sudah di kurung lama dan hendak dilepaskan dari sangkarnya. Perasaanku pun senang berbunga-bunga melebihi apapun. Aku memasak makanan kesukaan Mas Yusuf. Semua sudah terhidang rapi di meja makan. Kutinggalkan semua hidangan lalu aku bergegas mandi.

“Waaahhh baunya sedap sekali. Ada ikan asin.” suara Mas Yusuf terdengar jelas di telingaku. Kulanjutkan menyikat gigi sambil menguping percakapan. Tak lama kemudian ada suara ibu menimpali. “Bukannya kamu enggak doyan ikan asin, Suf?” tanya ibu mertua.

“Suka kok, Bu.” sangkal suamiku. 

“Sejak kapan? Dulu kamu enggak suka loh, ibu masakin ikan asin. Muntah malah kamu habis makan. Soalnya keasinan juga bisa bikin naik tensi darahmu, kan? Ini juga tempe gorengnya gosong. Nih, makan masakan Ibu saja. Biar nanti Nisa yang makan masakannya.” pinta ibu mertua.

Ku lanjutkan aktivitasku di dalam kamar mandi. Menyelesaikan acara keramas secepatnya supaya tidak kedinginan. Moodku lagi bagus pagi ini, jadi tidak semudah itu dirusak oleh omongan mertua.

Lagian apa salahnya masak urap alias kuluban disertai ikan asin? juga kusertakan petai muda kesukaan Mas Yusuf, dan tempe goreng. Itu sudah paket komplit sarapan yang bagi sebagian orang sangat menarik nafsu makan. Apalagi ditambah dengan kerupuk. 

Apa katanya? Gosong? Kayaknya biasa aja deh. Maksain banget emaknya Yusuf. batinku.

Mertuaku memang tipe orang yang menganggap segala yang beliau lakukan dan beliau masak itu benar dan enak juga bagi orang lain. Makanya mulutnya suka dengan gampang mengomentari kerjaan dan masakan orang lain. Yang tidak beliau suka juga harus tidak disukai orang. Yang beliau suka harus juga disukai seluruh penghuni rumah.

“Nggak ah, Bu. Yusuf mau makan urap saja. Masak pagi-pagi suruh makan sayur bening. Nggak cocok.” sahut suamiku yang ternyata lebih tertarik dengan masakanku dari pada masakan ibunya.

Aku biasa memaklumi segala yang kumasak tidak di makan oleh mertua. Beliau lebih suka memakan hasil masakannya sendiri yang menurut beliau memang pas rasanya di lidah, meski bagiku rasanya selalu  hambar. Aku sering mencicipi masakannya diam-diam karena saking penasarannya dengan masakan nyonya sultan. Hahahaha. Ups, maksudku masakan mertua.

Akupun keluar dari kamar mandi dan berjalan dengan rasa percaya diri yang melambung tinggi. Mendengar anak sendiri lebih memilih masakan istrinya, kuyakin membuat hati mertuaku teriris-iris perih. Apalagi aku mendengar sendiri percakapan mereka karena kamar mandi dan ruang makan memang bersebelahan.

 Aku paham betul niatan ibu mertua hanya ingin membuatku kecewa atas kerja kerasku sejak pagi yang harusnya tidak dihargai oleh anaknya. Aku sangat mengerti itu maksud dia. Tapi apalah daya, anaknya bukanlah seorang bayi lagi dan kini sudah bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri. Termasuk memilih menikahi gadis cantik yang dulunya menjadi pujaan hati banyak lelaki sepertiku. Hahaha. Bercanda loh. Maksudnya anak lelakinya sudah bisa menentukan mana yang ia sukai atau tidak sukai. 

Secepat jilat aku berganti pakaian. Sengaja sarapan terlebih dahulu sebelum akhirnya berdandan. 

“Mari sarapan urap, Bu, sambalnya mantab loh... pedas, cocok di lidah Nisa.” pamerku kepada ibu mertua. Mas Yusuf tampak lahap memakan masakanku. Muka mertuaku semakin terlihat masam.

“Ibu belum lapar. Mau menjemur cucian.” sahutnya judes dan berniat meninggalkan keberadaan kami berdua di meja makan.

“Bajunya sudah Nisa jemurkan, Bu. Halaman sudah Nisa sapu. Nisa tidak mengulangi pekerjaan rumah,, hanya saja, Nisa lebih pagi mengerjakan semuanya. Ibu istirahat saja.” jawabku santai dengan rasa percaya diri yang sedang melambung tinggi.

“Iya benar Bu, istirahat saja. Kan Ibu sendiri yang nasehati Yusuf supaya Nisa tidak mengulang pekerjaan Ibu. Begitu juga sebaliknya dong.” sahut Mas Yusuf polos tanpa menatap ekspresi wajah pucat emaknya.

Sebisa mungkin kutahan rasa ingin tertawa. Aku kembali fokus dengan makanan di piring. Ibu mertua masuk ke kamar, mungkin dengan patahan hati berkeping-keping. Entah mimpi apa semalam? Tiba-tiba anak lelakinya seperti mendapat hidayah harus melindungi istri dari tekanan ibunya. Padahal sih enggak. Ini hanya sebuah kebetulan saja.

*********

“Annisa pamit dulu, Bu, mau menginap di rumah Mama Papa.” pamitku kepada ibu Ilma Meriana. Alias ibu mertua.

“Iya.” jawab beliau dengan muka penuh amarah dan ketidaksukaannya.

Ya, memang selalu begini setiap kali aku pamit pulang ke rumah orang tuaku. Jadi aku pun sudah mulai terbiasa. Awalnya aku masih sering sakit hati dengan sikap mertua semacam ini, tapi kini semua sudah ku maklumi. Sudah biasa dan bakalan terjadi berulang kali. 

Berat hati rasanya kulihat mertua melepas anak lelakinya ikut bersamaku menginap di rumah orang tuaku. Seperti mengkhawatirkan sesuatu yang tidak sepatutnya dikhawatirkan. Anakmu aman bersama orang tuaku, Bu. Lain halnya diriku yang tidak aman berada di rumah ini. 

Kami, aku dan Mas Yusuf memang belum memiliki rumah sendiri. Jadi itulah alasan kami harus bergantian menginap di rumah orang tuaku dan orang tua Mas Yusuf. Tapi jangan samakan sikap orang tuaku dan ibu Mas Yusuf, beda jauh. Aku yang merupakan anak tunggal di keluarga membuat Mas Yusuf diperlakukan bak raja di keluargaku. Rasa bahagia kedua orang tuaku yang memang sejak lama menginginkan anak lelaki akhirnya terbayar dengan kehadiran anak menantu kesayangan mereka ini. Jangankan pegang piring kotor, pegang sapu lantai saja Mas Yusuf tidak pernah. Semua pekerjaan rumah kulakukan sendiri bersama Mama.

Sudah hampir satu tahun pernikahan, Aku dan Mas Yusuf belum kunjung dikaruniai keturunan. Mungkin kami memang harus lebih sabar lagi. Kata Dokter jangan terlalu stress dan jangan terlalu menunggu juga. Biasa saja, jika waktunya tiba pasti bakalan dikasih.

Orang tuaku juga sedih, mereka selalu berdoa untuk kami, katanya. Tanpa pernah bertanya sedikitpun masalah kehamilan. Mereka mungkin berpikir akan lebih baik tidak terlalu menekan psikis anak dan menantunya.

Berbeda dengan mertuaku yang selalu membicarakan tentang diriku di depan para tetangga yang katanya rahimku tidak subur. Ibu bilang bahwa dalam keluarganya semua subur dan punya banyak anak, termasuk anak kandung Ibu pasti subur semua. Semua keburukan hanya Ibu limpahkan kepadaku tanpa perdulikan bagaimana perasaanku. Jahat ya? Banget. Tapi yakinlah di luar sana banyak makhluk bernama mertua yang memang begini kelakuannya. Jadi solusinya tetap jaga kewarasan hati dan jiwa supaya enggak cepat gila. Karena hanya itulah yang bisa menyelamatkan mental kita para menantu yang jiwa dan raganya tertekan oleh sikap buruk dari keluarga suami, terutama mertua. 

*********

Baru sehari kami berada di rumah orang tuaku, ibu mertua mengirimi pesan di handphone

Mas Yusuf.

[Nak, kepala Ibu pusing sekali. Tetangga kita ada yang nikahan dan suara musiknya keras sekali. Ibu tidak bisa tidur dari semalam, sekarang pusing sekali rasanya] ibu mulai mengadu. Dahsyat sekali memang keluhan beliau. Seperti sedang merasa menjadi pasien gawat darurat di UGD rumah sakit saja. 

Mas Yusuf sedang tidur siang. Buru-buru jariku membalas pesan dari ibu. Tidak ada rahasia untuk masalah handphone bagi kami berdua. Bahkan password layarpun kami saling tahu.

[Maaf Bu, Yusuf sedang memberi pelajaran pada Annisa. Sementara Yusuf dan Annisa tinggal di rumah mertua Yusuf dulu agak lama, sampai istri yusuf benar kelakuannya di mata Ibu. Nanti Mas Rama akan jemput Ibu supaya tidur di rumahnya. Biar Ibu tidak pusing lagi]

Pesan terkirim.

Mas Rama adalah kakak tertua di keluarga Mas Yusuf. Jarak rumahnya tidak begitu jauh dari tempat mertuaku. Hanya saja berbeda kecamatan. Membayangkan harus tinggal di rumah Mas Rama seharian pasti membuat Ibu mertua merinding disko. karena istri Mas Rama sangat galak dan tegas menurut Ibu mertua.

“Ting”

Secepat kilat Ibu mertua membalas.

[Tidak usah. Tinggal saja selamanya di rumah mertuamu. Jangan pedulikan ibumu lagi!]

“Hahahahaaa,”

Aku tertawa sepuasnya sampai hampir terjungkal dari atas kasur ke lantai membaca balasan dari mertuaku sebegitu amazingnya. 

**********

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status