ВойтиPagi itu, Nadin kembali ke puskesmas dengan wajah letih, namun matanya menyimpan api kecil yang baru saja menyala. Ia berjanji pada dirinya sendiri: Aku tidak boleh terus tenggelam. Kalau aku diam, aku akan hancur. Aku harus berdiri, meski pelan-pelan.
Suasana puskesmas ramai. Pasien antre, sebagian ibu hamil, sebagian lagi membawa anak-anak mereka yang demam atau batuk pilek. Nadin langsung sigap, mengenakan jas putihnya yang sederhana namun selalu rapi. "Bu Bidan, tolong lihat anak saya. Semalam panasnya tinggi sekali," ujar seorang ibu muda dengan wajah panik. Nadin meraih termometer dan dengan sabar memeriksa anak itu. "Tenang, Bu. Mari kita cek dulu suhunya, jangan khawatir berlebihan." Setelah memeriksa, ia memberikan penjelasan singkat tentang perawatan rumah yang bisa dilakukan sambil menunggu resep obat dari dokter. Ibu muda itu mengangguk penuh syukur. "Terima kasih banyak, Bu. Kalau sama Ibu, rasanya tenang," katanya. Ucapan sederhana itu membuat hati Nadin menghangat. Setiap kali ia berada di puskesmas, ia merasa berharga. Pasien-pasien menghargai dedikasinya, meski ia hanyalah bidan honorer. "Kalau di sini aku bisa dihormati, kenapa di rumah sendiri aku dipandang rendah?" Nadin bergumam lirih sambil menuliskan catatan medis. Hari itu, ia sempat membantu persalinan seorang ibu muda. Bayi mungil lahir dengan tangisan keras, membuat seluruh ruangan lega. Nadin menggendong bayi itu sebentar, lalu menyerahkan pada ibunya. Senyum kebahagiaan di wajah sang ibu membuat Nadin merasa hidupnya tidak sia-sia. "Selamat ya, Bu. Bayinya sehat sekali," ucap Nadin suaranya lembut. Seketika Nadin tersadar, inilah kekuatannya: ia bisa menjadi penolong, meski dirinya sendiri sedang terluka. Pulang ke rumah. Namun kebahagiaan itu hanya sebentar. Begitu Nadin sampai di rumah, ia kembali dihadapkan pada wajah mertuanya yang datar. "Kamu pulang jam segini? Rumah berantakan, siapa yang mau beresin kalau bukan kamu?" suara mertuanya menusuk telinga. Nadin menunduk. "Iya, Bu. Saya langsung kerjakan." Rama yang duduk di ruang tamu hanya diam, pura-pura sibuk dengan ponselnya. Nadin sempat menatapnya sejenak, berharap ada pembelaan. Tapi yang ia dapat hanya keheningan. Hatinya perih, tapi ia menahan. Aku harus kuat. Aku tidak boleh kalah. Malam itu, setelah semua pekerjaan rumah selesai, Nadin duduk di kamar dengan buku catatannya. Ia menuliskan kalimat baru: "Aku akan buktikan bahwa aku pantas. Aku tidak akan membiarkan kata-kata mereka membunuhku. Aku bukan sekadar bidan honorer. Aku punya arti." Beberapa minggu kemudian, puskesmas mengadakan program penyuluhan kesehatan ibu hamil di desa. Nadin ditunjuk menjadi salah satu pemateri. Awalnya ia ragu, merasa dirinya tidak cukup pantas. Namun kepala puskesmas percaya padanya. "Nadin, kamu yang paling sabar dan komunikatif. Saya yakin warga akan mudah menerima kalau kamu yang menyampaikan," ujar Bu Lilis, atasannya. Nadin mengangguk pelan. "Baik, Bu. Saya akan coba." Hari penyuluhan tiba. Aula desa penuh dengan ibu-ibu, sebagian membawa anak kecil. Nadin berdiri di depan, tangan dingin, suara sempat bergetar saat membuka acara. "Selamat pagi, Ibu-Ibu. Hari ini kita akan belajar bersama tentang pentingnya pemeriksaan rutin saat hamil..." Perlahan, kata-kata mengalir lancar. Nadin menjelaskan dengan sederhana, disertai contoh-contoh yang mudah dipahami. Sesekali ia tersenyum, sesekali ia bertanya balik untuk membuat suasana interaktif. Ibu-ibu tertawa kecil, mengangguk, bahkan ada yang mencatat. Wajah-wajah mereka terlihat puas dan bersemangat. Di akhir acara, seorang ibu berkata lantang, "Terima kasih, Bu Bidan. Penjelasannya gampang dimengerti. Saya jadi lebih semangat periksa rutin." Tepuk tangan pun terdengar. Nadin menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia merasa bangga-bukan pada dirinya sendiri saja, tapi karena ia bisa bermanfaat. Momen itu menjadi titik balik. Nadin sadar, dirinya punya nilai yang tidak bisa dihapuskan hanya karena status "honorer." Nadin mungkin beruntung punya pasien pasien yang baik, namun kemalangan nya adalah mempunyai Mertua yang Kian Tajam menghina profesinya. Sayangnya, kabar keberhasilan Nadin tidak membuat rumahnya lebih hangat. Suatu sore, Bu Rahayu mendengar kabar dari tetangga tentang penyuluhan itu. "Katanya kamu jadi pembicara di balai desa ya?" tanya Bu Rahayu. Nadin mengangguk, tersenyum kecil. "Iya, Bu. Itu program dari puskesmas." Alih-alih bangga, Bu Rahayu justru berkata dingin, "Ah, paling juga karena nggak ada orang lain. Kalau kamu itu kan statusnya cuma honorer, jadi suruh aja. Orang yang benar-benar penting pasti sibuk dengan urusan lain." Ucapan itu membuat senyum Nadin pudar. Hatinya kembali teriris. Namun kali ini, ia tidak langsung menangis. Ia hanya menarik napas dalam-dalam. "Kalau Ibu menganggap begitu, ya nggak apa-apa, Bu. Yang penting saya bisa bantu orang lain." Bu Rahayu menatapnya, seakan terkejut dengan jawaban itu. Nadin tidak lagi hanya diam atau menunduk. Ada ketegasan lembut yang baru muncul. Malam itu, di kamar, Nadin memberanikan diri bicara pada Rama. "Ram, aku tahu kamu sayang sama aku. Tapi aku juga butuh kamu ada buat aku. Bukan cuma di kamar, tapi juga di depan Ibu." Rama terdiam, menunduk. "Nad, kamu tahu sendiri gimana Ibu. Aku susah kalau harus melawan dia." Nadin menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku nggak minta kamu melawan. Aku cuma minta kamu berdiri di sampingku. Supaya aku tahu aku nggak sendirian." Rama menggenggam tangan istrinya. Ada getar di genggamannya. "Aku janji, Nad. Aku akan coba lebih berani. Aku nggak mau kamu terus merasa sendirian." Nadin tersenyum lemah. Ia tahu janji itu mungkin tidak akan mudah ditepati. Tapi setidaknya, Rama mulai menyadari luka yang selama ini ia pendam. "Aku mulai belajar berdiri. Aku bukan perempuan lemah yang bisa diinjak seenaknya. Aku mungkin hanya bidan honorer, tapi aku tahu nilai diriku. Dan aku akan terus melangkah, meski satu per satu. dan aku akan buktikan kepada semua termasuk ibu mertua aku akan sukses" Dengan itu, ia menutup bukunya, tersenyum tipis, lalu memejamkan mata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidur dengan hati yang sedikit lebih ringan. Nadin menarik napas panjang sebelum memejamkan mata. Ia tahu jalan di depannya masih penuh batu, tapi kini hatinya tidak lagi sama. Luka itu memang belum sembuh, namun tekadnya tumbuh. Dalam diam, ia berjanji: Aku akan bertahan, dan aku Hari-hari berikutnya, Nadin lebih banyak tersenyum di puskesmas. Ia menemukan kekuatan baru di balik pekerjaannya. Setiap kali seseorang berterima kasih padanya, ia merasa sedikit lebih utuh. Di rumah, ia masih sering mendapat komentar sinis dari Bu Rahayu. Namun kini, ia tidak lagi larut dalam tangis setiap malam. Sesekali ia membalas dengan jawaban tenang, sesekali ia hanya diam tanpa merasa kalah. Dalam hati, Nadin bertekad: Aku akan buktikan. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan perbuatan. Malam itu, Nadin kembali menulis di buku catatannya : Aku akan bertahan dan aku akan menang.Keesokan paginya, saat bertemu Nadin di dapur, Bu Rahayu hanya berdiri terpaku beberapa detik. Nadin menunduk, berusaha menyembunyikan sembab matanya, lalu melanjutkan mengiris bawang. Bu Rahayu ingin membuka mulut, mengatakan sesuatu, apa saja. Tapi lidahnya kelu. Yang keluar justru hanya kalimat dingin"Kalau nggak kuat tinggal di sini, nggak usah dipaksakan." Nadin menoleh, senyum terpaksa pun akhirnya kembali menghiasi wajah cantiknya."aku tidak pernah merasa tidak kuat bu, rumah ini rumah suamiku yang artinya rumah ku juga. aku nyaman disini bu." ucapnya, ya walaupun sedikit berbohong.pada kenyataan nya rumah ini tidak nyaman untuk Nadin, namun dia tidak punya pilihan lain. kembali pindah dan mencari kontrakan hanya akan membuang waktu saja, pada akhirnya mereka harus kembali ke rumah tersebut karena Rama anak satu satunya bu Rahayu."Huh,,," Bu Rahayu mendengus sebal. Namun begitu masuk ke kamarnya lagi, Bu Rahayu menepuk dahinya sendiri. Kenapa mulut ini selalu bicara keba
Suasana rumah mendadak panas. Nadin menahan tangisnya. Ia ingin pergi dari ruangan itu, tapi kakinya seakan terpaku. Rasanya hampa, seperti terjebak di antara dua sisi ingin tetap sabar demi suami, tapi juga lelah diperlakukan seolah selalu salah. Malam itu, rumah yang biasanya riuh dengan suara keluarga mendadak hening. Tegangan di antara tiga orang itu menggantung, tak ada yang mau mengalah. Malam itu, setelah makan malam yang hambar, Bu Rahayu masih duduk di ruang tengah. Wajahnya masam, matanya tajam ke arah Nadin yang sedang membereskan piring. Rama mencoba mengalihkan suasana dengan menyalakan televisi, tapi jelas tidak berhasil. "Nad," suara Bu Rahayu akhirnya pecah, dingin, "sebenarnya kamu itu mau apa sih? Jadi istri Rama, atau jadi orang besar yang dikejar-kejar pejabat?" Sendok di tangan Nadin hampir jatuh. Ia menoleh, wajahnya pucat. "Bu, saya nggak pernah-" "Tolong jangan banyak alasan!" potong Bu Rahayu keras. "Dari dulu saya nggak pernah percaya sama perempu
Pagi itu, udara desa masih lembap. Embun menempel di dedaunan, ayam-ayam berkokok bersahutan, dan suara ibu-ibu terdengar riuh di warung Bu Minah. Warung kecil di pinggir jalan itu memang jadi pusat segala macam kabar-dari harga cabai sampai urusan rumah tangga orang. "Eh, sudah dengar belum? Istrinya Rama pulang dari kota dapat piagam." "Piagam apa? Piagam lomba masak?" "Bukan. Katanya penghargaan dari dinas kesehatan. Peserta terbaik, gitu." "Lha, kok bisa? Baru juga kerja di puskesmas, sudah hebat. Jangan-jangan ada orang dalam." Tawa kecil terdengar. Satu orang menyahut dengan nada lebih rendah, seakan membisikkan rahasia besar. "Kabarnya, Nadin dekat sama pejabat waktu pelatihan. Makanya dapat penghargaan." "Ya Allah, jangan-jangan bener? Kasihan Rama kalau begitu." Bisik-bisik itu makin lama makin keras. Semakin jauh cerita berpindah dari mulut ke mulut, semakin banyak bumbu ditambahkan. Yang awalnya hanya gosip soal "ada orang dalam" berubah menjadi tudingan ya
Hari-hari pelatihan berjalan padat. Nadin belajar banyak hal baru teknik persalinan modern, penanganan gawat darurat, sampai manajemen program kesehatan desa. Ia kagum dengan bidan lain dari berbagai daerah. Namun setiap malam, ia selalu menyempatkan menelepon Rama. "Ram, aku capek banget hari ini, tapi aku senang bisa belajar banyak," suaranya riang di telepon. "Bagus, Nad. Aku bangga sama kamu, kamu pasti bakalan jadi bidan yang hebat setelah ini. selamat ya," jawab Rama lembut. "Terimakasih Ram, doain aku terus ya." "tentu saja aku bakalan doain terus Nad, aku akan selalu jadi orang nomor satu yang selalu mendoakan kamu." ucap Rama, walaupun sejujurnya saat ini Rama mulai merindukan istrinya itu. Tapi, di rumah, gosip semakin ramai. Beberapa tetangga mendatangi Bu rahayu. "Bu, katanya Nadin satu hotel sama bidan-bidan lain? Hati-hati lho, jauh dari suami..." "Eh, kalau perempuan pergi jauh, biasanya macam-macam, Bu." Bu Rahayu menahan wajahnya tetap tegar, tapi dalam
Pagi itu, Nadin berangkat lebih awal ke puskesmas. Sejak statusnya berubah menjadi pegawai kontrak daerah, tanggung jawabnya makin besar. Ia ditunjuk sebagai koordinator program kesehatan ibu dan anak di wilayahnya. Sebuah langkah penting, yang sekaligus menuntut lebih banyak tenaga dan pikiran. Di sisi lain, Bu Rahayu sudah mulai bisa berjalan dengan tongkat. Meski tubuhnya lemah, suaranya masih sering tajam. Suatu sore, ketika Nadin pulang kerja dengan seragam rapi, Bu Rahayu menatapnya lama. "Kamu kerja terus, kapan punya anak?" suaranya dingin, tapi menusuk. Nadin tercekat. Pertanyaan itu kembali menghantam luka lamanya. pernikahan nya baru berjalan satu tahun, Nadin dan Rama masih belum juga dikaruniai buah hati. Nadin berusaha tersenyum. "Insya Allah, Bu... kalau Allah kasih rezeki, pasti ada waktunya." Namun Bu Rahayu mendengus, seolah tidak puas dengan jawaban itu. "Ibu cuma takut, kamu sibuk ngejar karier sampai lupa kewajiban. Perempuan itu kodratnya ngurus
Di malam pertama setelah pulang, Rama menemani ibunya di kamar. sementara Nadin duduk di kursi ruang tamu, menunggu sambil menahan kantuk. Ketika Rama keluar, ia mendekat. "Gimana, Ram? Ibu sudah tidur?" Rama mengangguk. "Iya, Nad. Dia masih keras kepala, tapi aku lihat tadi dia nggak menolak waktu kamu bantuin tadi siang. Itu langkah kecil, kan?" Nadin tersenyum tipis. "Iya... meski rasanya masih jauh." ucap Nadin dengan helaan napas berat nya.meskipun sudah berusaha bersikap sebaik mungkin, bahkan diam saat di rendahkan namun nyata nya hati bu Rahayu belum sepenuh nya terbuka.untuk terus menjaga dan merawat sang mertua selama proses pemulihan, Rama dan Nadin memutuskan untuk tingal dirumah itu lagi sampai bu rahayu benar benar pulih. Beberapa hari kemudian, Bu Rahayu duduk di teras rumah, menatap halaman. Nadin keluar membawa teh hangat. "Bu, ini teh. Biar badan lebih hangat." Bu Rahayu awalnya tidak merespons. Namun saat Nadin hendak kembali, suaranya terdengar pelan. "T







