بيت / Romansa / MENGAJAR CINTA / 12. Seperti Dua Anak Kecil

مشاركة

12. Seperti Dua Anak Kecil

مؤلف: Nd.park
last update تاريخ النشر: 2025-07-05 21:39:07

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA

…

Siang itu, matahari bersinar cerah, seolah tahu bahwa ada satu anak kecil yang akhirnya bisa kembali bermain lagi.

Ares berjalan pelan menggandeng tangan Putra. Di tangan kirinya, boneka ikan flanel berwarna biru yang ia beri nama Upang tak lepas dari pelukannya. Ia mengenakan jaket bergambar dinosaurus dan ransel kecil berkarakter Smurfs berisi biskuit buatan Nissa pagi tadi.

Begitu sampai di depan pintu rumah, Ares berhenti sejenak.
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • MENGAJAR CINTA   78. Pantai dan Bunga

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Setelah kejadian beberapa hari lalu yang sempat membuat Dinda canggung terhadap Putra, Dinda akhirnya menjelaskan bahwa semua itu murni kebetulan. Putra pun sama sekali tidak mempermasalahkannya. Hubungan mereka nyatanya justru semakin dekat. Hari ini, Putra kembali mengajak Dinda dan Ares jalan-jalan. Kali ini, Putra mengajak mereka berdua pergi ke pantai. Seperti biasa, Ares duduk nyaman di kursi belakang, sementara Dinda duduk di samping kursi pengemudi. Sepanjang perjalanan, sesekali mereka saling bercanda. Putra juga beberapa kali menjawab pertanyaan-pertanyaan random yang keluar dari mulut kecil Ares. "Sudah sampai. Ayo, waktunya kita turun," ucap Putra kepada Dinda dan Ares. "Yeay, sudah sampai!" seru Ares dengan penuh kegembiraan. Setelah itu, mereka bertiga turun dari mobil. Dinda membantu Ares turun sekaligus mengambil beberapa barang keperluan mereka. Sementar

  • MENGAJAR CINTA   77. Yang Seharusnya Hanya Bertiga

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Semenjak Putra dan Dinda mulai berbaikan, hubungan mereka perlahan kembali dekat. Entah itu karena sering berbincang saat di bimbel, atau sekadar makan siang bersama di sela kesibukan masing-masing. Seperti hari ini, mereka bertiga sudah berjanji untuk makan siang bersama lagi. Putra membelokkan mobilnya menuju bimbel tempat Dinda bekerja. Sementara itu, Ares duduk anteng di kursi belakang, dengan tablet di pangkuannya. “Sudah sampai belum, Pa?” tanyanya sesekali, di sela-sela menonton. “Sebentar lagi, Boy,” jawab Putra sambil tersenyum pelan. Tak lama kemudian, mereka pun sampai. “Tunggu sebentar, ya. Papa jemput Miss Dinda dulu,” ucap Putra sambil menoleh ke arah belakang. Ares mengangguk patuh, lalu mengangkat tangannya ke pelipis sebagai tanda hormat. “Good job,” ujar Putra, sebelum akhirnya keluar dari mobil untuk segera menjemput Dinda.

  • MENGAJAR CINTA   76. Badai Pasti Berlalu

    SELAMAT MEMBACA SEMYANYA***Keesokan harinya, Putra berencana menjemput Ares di bimbel lebih cepat dari biasanya. Ia ingin meminta kejelasan mengapa Dinda menghindarinya. Putra sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk menanyakan hal itu. Ia segera berdiri dari kursi kantornya dan langsung mengambil kunci mobil. "Sudah mau pulang, Pak?" tanya Nindi saat melihat Putra keluar dari ruangannya. "Iya, saya duluan," ucap Putra singkat. "Baik, Pak. Hati-hati di jalan," balas Nindi sopan. Putra hanya mengangguk pelan sebelum melangkah pergi. Tak lama kemudian, Putra akhirnya sampai di tempat bimbel Ares. Dari dalam mobil, ia melihat Dinda tengah duduk di mejanya, fokus menatap layar laptop. Setelah memastikan itu benar Dinda, Putra menarik napas pelan. Ia pun keluar dari mobil dan memutuskan menunggu Ares di dalam. “Assalamualaikum,” ucapnya pelan saat memasuki bimbel. “Waalai

  • MENGAJAR CINTA   75. Pikiran yang Mulai Kacau

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA***Hampir satu bulan lamanya Putra dan Dinda tidak saling menyapa. Putra sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sedangkan Dinda juga tenggelam dalam kesibukannya di bimbel. Bahkan saat Putra sesekali menjemput Ares di bimbel, mereka tak pernah bertemu. Entah Dinda yang sudah pulang lebih dulu, atau justru sengaja menghindar ketika tahu Putra yang akan menjemput Ares. "Pak, Pak Putra," panggil Satria pada Putra yang tampak tidak fokus sejak tadi. "Pak..." panggilnya lagi sambil menepuk pelan pundak Putra, membuatnya sedikit tersentak. Putra menoleh ke arah Satria, alisnya menukik. "Ada apa?" ucapnya datar. Satria menghela napas pelan. "Bapak perlu istirahat?" tanyanya. "Atau ada yang bisa saya bantu? Dari tadi Bapak kelihatan kurang fokus," lanjutnya. Putra mengusap wajahnya pelan dengan kedua tangan, lalu mengembuskan napas panjang. "Sorry, Sat. Gue lagi nggak fokus,"

  • MENGAJAR CINTA   74. Sore yang Sederhana

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini

  • MENGAJAR CINTA   73. Aneh

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini

  • MENGAJAR CINTA   45. Hari yang Berbelok

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Angin sore dari balkon kamar hotel membawa aroma susu coklat yang samar. Dinda duduk di tepi ranjang, jemarinya memainkan ujung selimut tanpa sadar. Langkah cepat Cindy terdengar mendekat, diikuti bunyi pintu yang terbuka tergesa. "Bagaiman

  • MENGAJAR CINTA   43. Perjalanan

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA ... Dinda yang baru saja keluar dari rumah terlonjak kaget. "Hai, Ares," sapanya sambil tertawa kecil saat melihat mobil berhenti tepat di depan rumahnya, disusul pekikan semangat dari Ares. "Miss Dindaaa!" teria

  • MENGAJAR CINTA   41. Teman Baru?

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Hari ini, Ares dan Nita kembali pergi ke taman. Tepatnya, hanya Ares yang akan bermain, sementara Nita hanya mengawasi dari kejauhan.Ares terlihat sangat senang. Ia duduk di bangku taman bersama Nita sambil memperhatikan anak-anak lain yang

  • MENGAJAR CINTA   40. Tulul Gulung

    SELAMAT MEMBACA AEMUANYA...Sore yang membosankan bagi Ares. Ia hanya berdiam diri di rumah—ya, seperti biasanya juga begitu."Mbak, Yes mau jalan," adu Ares pada Nita yang sedang menyiapkan bahan masakan."Jalan ke mana, Dek?" tanya Nita sambil tetap sibuk me

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status