Home / Romansa / MENGAJAR CINTA / 12. Seperti Dua Anak Kecil

Share

12. Seperti Dua Anak Kecil

Author: Nd.park
last update Petsa ng paglalathala: 2025-07-05 21:39:07

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA

…

Siang itu, matahari bersinar cerah, seolah tahu bahwa ada satu anak kecil yang akhirnya bisa kembali bermain lagi.

Ares berjalan pelan menggandeng tangan Putra. Di tangan kirinya, boneka ikan flanel berwarna biru yang ia beri nama Upang tak lepas dari pelukannya. Ia mengenakan jaket bergambar dinosaurus dan ransel kecil berkarakter Smurfs berisi biskuit buatan Nissa pagi tadi.

Begitu sampai di depan pintu rumah, Ares berhenti sejenak.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • MENGAJAR CINTA   80. Mencoba untuk Memulai

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Saat Dinda hendak segera menyusul Ares, Putra tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Ayu, sebentar..." panggil Putra. Dinda pun membalikkan badan saat mendengar suara Putra. "Ya, kenapa, Mas?" tanyanya bingung. "Emm... ada satu lagi yang belum Mas berikan kepadamu," ucap Putra. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dinda memperhatikan benda di tangan Putra dengan tatapan penuh tanda tanya. "Mas, kamu..." ucap Dinda tertahan saat melihat Putra perlahan membuka kotak kecil tersebut. Untuk kedua kalinya hari itu, Dinda kembali kehilangan kata-kata. Ia bahkan tak tahu harus memberikan reaksi seperti apa atas kejutan yang baru saja diberikan Putra. Bagaimana tidak? Di hadapannya kini terpampang sebuah cincin yang begitu cantik. Desainnya terlihat anggun dan elegan, dengan kilauan yang membuat mata Dind

  • MENGAJAR CINTA   79. Masih dengan Pantai

    * SELAMAT MEMBACA SEMUANYA* * * * Putra memandang Dinda dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya. Namun, kedua tangannya sedikit bergetar karena gugup. Lucu sekali. Seorang pemimpin perusahaan yang terbiasa menghadapi berbagai persoalan besar justru dibuat gugup oleh sebuah momen sederhana seperti ini. "Mas..." ucap Dinda sekali lagi. Namun, ucapannya terhenti ketika Putra menggelengkan kepala, memberikan isyarat agar Dinda membiarkannya berbicara terlebih dahulu. "Biar Mas saja yang berbicara," ujar Putra yang masih setia dengan posisi berlututnya. Ia menarik napas cukup panjang, berusaha mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya mengutarakan sesuatu yang selama ini tersimpan di dalam hatinya. "Ayu, mungkin menurutmu ini gila. Ah, tidak. Mungkin menurutmu Mas memang orang gila," ucap Putra sambil terkekeh pelan. Ia kemudian kembali melanjutk

  • MENGAJAR CINTA   78. Pantai dan Bunga

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Setelah kejadian beberapa hari lalu yang sempat membuat Dinda canggung terhadap Putra, Dinda akhirnya menjelaskan bahwa semua itu murni kebetulan. Putra pun sama sekali tidak mempermasalahkannya. Hubungan mereka nyatanya justru semakin dekat. Hari ini, Putra kembali mengajak Dinda dan Ares jalan-jalan. Kali ini, Putra mengajak mereka berdua pergi ke pantai. Seperti biasa, Ares duduk nyaman di kursi belakang, sementara Dinda duduk di samping kursi pengemudi. Sepanjang perjalanan, sesekali mereka saling bercanda. Putra juga beberapa kali menjawab pertanyaan-pertanyaan random yang keluar dari mulut kecil Ares. "Sudah sampai. Ayo, waktunya kita turun," ucap Putra kepada Dinda dan Ares. "Yeay, sudah sampai!" seru Ares dengan penuh kegembiraan. Setelah itu, mereka bertiga turun dari mobil. Dinda membantu Ares turun sekaligus mengambil beberapa barang keperluan mereka. Sementar

  • MENGAJAR CINTA   77. Yang Seharusnya Hanya Bertiga

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Semenjak Putra dan Dinda mulai berbaikan, hubungan mereka perlahan kembali dekat. Entah itu karena sering berbincang saat di bimbel, atau sekadar makan siang bersama di sela kesibukan masing-masing. Seperti hari ini, mereka bertiga sudah berjanji untuk makan siang bersama lagi. Putra membelokkan mobilnya menuju bimbel tempat Dinda bekerja. Sementara itu, Ares duduk anteng di kursi belakang, dengan tablet di pangkuannya. “Sudah sampai belum, Pa?” tanyanya sesekali, di sela-sela menonton. “Sebentar lagi, Boy,” jawab Putra sambil tersenyum pelan. Tak lama kemudian, mereka pun sampai. “Tunggu sebentar, ya. Papa jemput Miss Dinda dulu,” ucap Putra sambil menoleh ke arah belakang. Ares mengangguk patuh, lalu mengangkat tangannya ke pelipis sebagai tanda hormat. “Good job,” ujar Putra, sebelum akhirnya keluar dari mobil untuk segera menjemput Dinda.

  • MENGAJAR CINTA   76. Badai Pasti Berlalu

    SELAMAT MEMBACA SEMYANYA***Keesokan harinya, Putra berencana menjemput Ares di bimbel lebih cepat dari biasanya. Ia ingin meminta kejelasan mengapa Dinda menghindarinya. Putra sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk menanyakan hal itu. Ia segera berdiri dari kursi kantornya dan langsung mengambil kunci mobil. "Sudah mau pulang, Pak?" tanya Nindi saat melihat Putra keluar dari ruangannya. "Iya, saya duluan," ucap Putra singkat. "Baik, Pak. Hati-hati di jalan," balas Nindi sopan. Putra hanya mengangguk pelan sebelum melangkah pergi. Tak lama kemudian, Putra akhirnya sampai di tempat bimbel Ares. Dari dalam mobil, ia melihat Dinda tengah duduk di mejanya, fokus menatap layar laptop. Setelah memastikan itu benar Dinda, Putra menarik napas pelan. Ia pun keluar dari mobil dan memutuskan menunggu Ares di dalam. “Assalamualaikum,” ucapnya pelan saat memasuki bimbel. “Waalai

  • MENGAJAR CINTA   75. Pikiran yang Mulai Kacau

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA***Hampir satu bulan lamanya Putra dan Dinda tidak saling menyapa. Putra sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sedangkan Dinda juga tenggelam dalam kesibukannya di bimbel. Bahkan saat Putra sesekali menjemput Ares di bimbel, mereka tak pernah bertemu. Entah Dinda yang sudah pulang lebih dulu, atau justru sengaja menghindar ketika tahu Putra yang akan menjemput Ares. "Pak, Pak Putra," panggil Satria pada Putra yang tampak tidak fokus sejak tadi. "Pak..." panggilnya lagi sambil menepuk pelan pundak Putra, membuatnya sedikit tersentak. Putra menoleh ke arah Satria, alisnya menukik. "Ada apa?" ucapnya datar. Satria menghela napas pelan. "Bapak perlu istirahat?" tanyanya. "Atau ada yang bisa saya bantu? Dari tadi Bapak kelihatan kurang fokus," lanjutnya. Putra mengusap wajahnya pelan dengan kedua tangan, lalu mengembuskan napas panjang. "Sorry, Sat. Gue lagi nggak fokus,"

  • MENGAJAR CINTA   50. Langkah Kecil Cerita Besar

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Hari ini adalah hari yang sangat Ares nantikan, karena Putra akhirnya memasukkannya ke TK. Itu artinya, ia akan segera punya banyak teman baru. “Papa Yes sudah siap!” seru Ares sambil berlari menuruni tangga dan menuju dapur bersama Nita.

  • MENGAJAR CINTA   48. Dua Cerita Satu Kehangatan

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Terhitung sudah seminggu sejak mereka pulang dari Jakarta, dan kini aktivitas Dinda tak jauh dari bimbel. Pagi itu, Dinda tengah duduk manis di kursi meja adminnya. Ia membuka bimbel lebih awal dari biasanya—jam delapan pagi—agar semua pers

  • MENGAJAR CINTA   47. Mulai Kacau

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...“Din… itu—” suara Cindy menahan kata-kata.Dinda menoleh ke arah sahabatnya. Tatapan mereka bertaut sepersekian detik—lalu sebuah senyum perlahan merekah di bibir Dinda. Senyum yang seolah berkata, Ah… jadi ini."Ini...?" tanya Dind

  • MENGAJAR CINTA   46. Pertemuan tak Terduga

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Langit cerah perlahan berganti gelap, menandakan hari sudah hampir berakhir. Mobil mereka melaju menuju hotel yang sudah dipesan sejak beberapa hari lalu. Ares terlelap di car seat-nya, wajah mungil itu tampak tenang setelah seharian penuh

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status