Home / Romansa / MENGAJAR CINTA / 13. Sebelum Hujan Turun

Share

13. Sebelum Hujan Turun

Author: Nd.park
last update Petsa ng paglalathala: 2025-07-07 22:41:14
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA

Pagi itu, setelah mandi dan hampir menyelesaikan sarapan, aroma roti panggang dan mentega masih menggantung di udara. Ares duduk di kursi makan kecilnya, menyelesaikan gigitan terakhir roti sambil mengetuk meja dengan sendok plastik biru.

“Miss Dinda datangnya lama banget,” gumam Ares sambil menyuap rotinya yang sedikit lagi.

Nita terkikik pelan. “Mungkin Miss-nya masih dandan, biar cantik buat ketemu Ares.”

Ares langsung menggeleng. “Miss Dinda cudah ca
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • MENGAJAR CINTA   75. Pikiran yang Mulai Kacau

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA***Hampir satu bulan lamanya Putra dan Dinda tidak saling menyapa. Putra sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sedangkan Dinda juga tenggelam dalam kesibukannya di bimbel. Bahkan saat Putra sesekali menjemput Ares di bimbel, mereka tak pernah bertemu. Entah Dinda yang sudah pulang lebih dulu, atau justru sengaja menghindar ketika tahu Putra yang akan menjemput Ares. "Pak, Pak Putra," panggil Satria pada Putra yang tampak tidak fokus sejak tadi. "Pak..." panggilnya lagi sambil menepuk pelan pundak Putra, membuatnya sedikit tersentak. Putra menoleh ke arah Satria, alisnya menukik. "Ada apa?" ucapnya datar. Satria menghela napas pelan. "Bapak perlu istirahat?" tanyanya. "Atau ada yang bisa saya bantu? Dari tadi Bapak kelihatan kurang fokus," lanjutnya. Putra mengusap wajahnya pelan dengan kedua tangan, lalu mengembuskan napas panjang. "Sorry, Sat. Gue lagi nggak fokus,"

  • MENGAJAR CINTA   74. Sore yang Sederhana

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini

  • MENGAJAR CINTA   73. Aneh

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini

  • MENGAJAR CINTA   72. Tanda Tanya?

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Dinda menjalani pagi dengan langkah yang lebih pelan. Senyumnya tetap ada, namun hatinya tidak lagi seutuh biasanya. “Ada masalah, Mbak?” tanya Tari sambil menatap Dinda heran. Dinda tersenyum sambil menggeleng pelan. “Nggak kok. Emang lagi capek aja beberapa hari ini.” Tari hanya mengangguk paham, paham bahwa Dinda belum ingin bercerita apa-apa padanya. Tak lama kemudian, bunyi pintu dibuka dari luar, menampakkan sosok laki-laki yang sejak tadi memenuhi pikiran Dinda. “Mas Putra,” ucap Dinda pelan sambil berdiri. Putra membalas panggilan itu dengan senyum tipis. “Aku antar Ares untuk belajar hari ini,” ujarnya. “Halo, Miss Dinda,” sapa Ares sambil melambaikan tangan. “Iya, Mas. Hai, Ares,” balas Dinda sambil tersenyum, membalas lambaian itu. Dinda melihat Putra berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Ares.

  • MENGAJAR CINTA   71. Perasaan yang Disalahkan

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA***Sudah beberapa hari komunikasi Dinda dan ibunya merenggang. Hal itu tentu saja disadari oleh sang suami, Sulin. “Buk?” panggil Sulin, mencoba membuka obrolan dengan istrinya, Ara. “Bapak perhatikan ibu dan kakak sepertinya sedang bertengkar, ya?” lanjutnya tanpa menunggu jawaban atas panggilannya. Ara yang sejak tadi sibuk menyiapkan makan malam akhirnya duduk dalam dekat suaminya setelah semua menu tersaji. “Perasaan bapak saja kali,” sahut Ara, masih berusaha menghindar. “Bapak sudah hafal kebiasaan ibu kalau sedang marah,” ujar Sulin sambil menggenggam tangan Ara dan mengelusnya pelan. Ara menghela napas pelan, lalu berkata, “Ibu kesal, Pak,” ucapnya, memulai cerita.Sulin tetap diam, menunggu istrinya melanjutkan. “Ibu kesal sama kakak. Bapak masih ingat, kan, anak laki-laki kecil yang pernah kakak bawa ke rumah kita?” lanjutnya. Sulin yang memang ma

  • MENGAJAR CINTA   70. Sore yang Menyimpan Isyarat

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA*...Pintu itu terbuka pelan. Putra melangkah masuk sambil menggenggam tangan Ares yang setia dengan tas dinosaurus kesayangannya. “Assalamualaikum/salamualaikum,” ucap mereka hampir bersamaan. Dinda dan Tari seketika terdiam, menghentikan keributan mereka. Dinda menatap Putra dan Ares dengan ekspresi sedikit bingung. Tanpa sadar, ia mengerjapkan matanya beberapa kali—antara kebingungan dan rasa malu yang tiba-tiba muncul. Putra terkekeh pelan saat melihat reaksi Dinda yang menurutnya begitu lucu. Berbeda dengan Tari. Pandangannya bergantian meneliti Dinda dan Putra, seolah mencoba membaca sesuatu di antara keduanya. Sementara itu, si kecil yang belum banyak memahami dunia di sekitarnya hanya menatap Dinda dengan senyum cerahnya. “Miss Dinda, Yes datang lagi hali ini. Sudah siap buat belajal lagi?” seru Ares, memecahkan suasana canggung di antara mereka. “Ah… ah… oh, hai Ares. Apa kabarnya?” sahut Dinda. Saking bingungnya, ia sampai lupa menjawab sal

  • MENGAJAR CINTA   56. Confess!!

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA ... Semakin hari, kedekatan antara Putra dan Dinda semakin terasa, apalagi setiap kali Ares pulang dari bimbel, Putra lah yang selalu menjemputnya Namun hari ini, Dinda hanya berada di bimbel setengah hari, sehingga Ares terpak

  • MENGAJAR CINTA   55. Taman dan Pantai

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Mobil Putra melaju pelan memasuki sebuah tempat wisata yang cukup ramai di hari Minggu ini. Hari yang memang pas untuk keluarga menikmati waktu bersama. “Kita sampai, Papa?” tanya Ares saat merasakan mobil yang dikendarai Putra mulai melamb

  • MENGAJAR CINTA   53. Hari Pertama Bimbel

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Ares sudah kelelahan bertanya soal tujuan perjalanan mereka, dan akhirnya tertidur. Padahal, perjalanan baru memakan waktu sekitar dua puluh menit. Putra membelokkan mobilnya, memasuki area parkir tempat bimbel. Sesuai perkataannya pada Are

  • MENGAJAR CINTA   52. Kemana Papa?

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Malam itu rumah sudah mulai tenang. Hanya suara jarum jam di ruang kerja yang terdengar, menemani Putra menatap tumpukan berkas di mejanya. Namun pikirannya justru melayang entah ke mana, bukan pada angka-angka atau laporan yang terbuka di hadapannya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status