แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: yourayas
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-27 15:52:53

Dalam hidup manusia, ada hari-hari di mana dunia terasa acuh dan menyebalkan, seolah-olah semesta sedang berkomplot untuk menguji batas kesabaran kita. Namun, ada pula hari-hari langka ketika dunia seolah berhenti sejenak dari porosnya, menoleh ke arah kita, berpihak, dan akhirnya memutuskan untuk membantu setelah sekian lama mengabaikan doa-doa yang dipanjatkan dalam sunyi.

Bagi Gerald Aiden Mahatma, hari ini adalah jenis hari yang kedua.

Cahaya sore yang keemasan menerobos masuk melalui dinding kaca ruang kerjanya yang luas di lantai eksekutif Mahatma Entertainment. Di luar sana, Jakarta masih menderu dengan kebisingan yang akrab—suara klakson, deru mesin, dan ribuan orang yang bergegas mengejar tenggat waktu. Di koridor kantor, suara langkah kaki para eksekutif yang bekerja di bawah kendali tangannya terdengar sibuk, memberikan performa terbaik mereka untuk sang Direktur Utama yang tak kenal kompromi.

Namun, di dalam ruangan itu, waktu seolah melambat, memberikan ruang bagi Gerald untuk bernapas. Ia baru saja menutup laptopnya, merasa lelah yang bukan hanya berasal dari pekerjaan, melainkan dari beban rahasia yang ia bawa selama lima tahun.

Gerald menoleh ke arah bingkai foto besar yang tergantung di dinding. Itu adalah foto pernikahannya dengan Elena Maheswari Atmaja. Ia menatap senyum mereka yang kaku—senyum yang lahir dari sebuah kesepakatan bisnis yang dingin. Ironisnya, dari kekakuan itulah Gerald justru jatuh cinta. Elena telah mengubahnya, membawanya ke dalam kedalaman perasaan yang tidak pernah bisa ia jelaskan dengan logika bisnis apa pun.

Pandangannya beralih ke laci meja kerjanya yang sedikit terbuka. Di sana, foto USG dari lima tahun lalu tersimpan. Gerald mengeluarkannya, menatap titik kecil yang hitam putih namun terasa sangat hidup di matanya.

"Kalau kamu benar-benar ada di sana," gumamnya pelan pada udara kosong, "tolong beri aku satu tanda."

Seolah menjawab tantangan itu, ponsel di atas mejanya bergetar hebat. Nama yang muncul di layar membuat napas Gerald tertahan.

Joshua Hartanto.

Joshua bukan sekadar rekan bisnis. Ia adalah sahabat lama yang mengenal Gerald jauh sebelum Mahatma Entertainment menjadi raksasa industri, sebelum pernikahan bisnis itu terjadi, dan sebelum hidup Gerald terbelah menjadi dua bagian: sebelum dan sesudah Elena pergi. Mereka jarang berkomunikasi dalam beberapa tahun terakhir karena kesibukan dan arah hidup yang berbeda.

Gerald mengangkat telepon itu dengan tangan yang mendadak dingin.

"Josh?" suaranya terdengar serak, lebih kasar dari biasanya.

"Ger," suara Joshua di seberang sana terdengar ragu, seolah ia sedang menimbang setiap kata. "Aku harap aku tidak mengganggumu. Aku harap ini waktu yang tepat."

Gerald langsung menegakkan punggungnya. Ia tahu nada suara itu. "Kalau kamu meneleponku secara pribadi seperti ini, pasti karena sesuatu yang penting. Katakan saja," sahut Gerald.

Joshua menghela napas panjang, suaranya teredam oleh kebisingan latar belakang yang asing. "Aku sedang di London, Ger," katanya akhirnya.

Jantung Gerald seolah berhenti berdetak sesaat. London. Kota yang belakangan ini terus menghantui pikirannya.

"Lalu?" desak Gerald.

"Ada acara sosial besar minggu depan, sebuah charity gala yang dihadiri nama-nama besar Eropa. Aku datang karena partner bisnisku mengundang," Joshua menjelaskan perlahan.

Gerald memejamkan mata, berusaha mengontrol emosinya. "Josh, aku sedang sibuk. Apa hubungannya acara itu denganku?"

"Ger... aku tidak akan meneleponmu dan mengganggu waktumu jika ini cuma firasat atau omong kosong belaka," suara Joshua mengeras, penuh penekanan. "Aku melihat seseorang."

Satu kalimat itu cukup untuk membuat dunia Gerald terasa miring.

"Di acara internal pra-gala hari ini, aku melihat seorang wanita. Awalnya aku tidak yakin karena aku melihatnya dari jauh. Tapi cara dia berdiri, cara dia menoleh... itu sangat familiar," lanjut Joshua. "Kamu tahu aku tidak suka berandai-andai, tapi aku juga sangat tahu wajah istrimu."

Kata itu—istrimu—menghantam dada Gerald dengan kekuatan yang nyaris melumpuhkan.

"Aku mengambil foto secara sembunyi-sembunyi dari belakang. Dan setelah aku memeriksa daftar tamu resmi untuk acara tersebut..." Joshua berhenti sejenak, memberikan jeda yang menyiksa. "Namanya tercatat sebagai El Maheswari."

Gerald terdiam. El. Singkatan yang sering ia gunakan secara pribadi. Maheswari. Nama tengah Elena yang jarang ia gunakan dalam dokumen formal perusahaan.

"Kamu yakin, Josh? Jangan beri aku harapan palsu," bisik Gerald, suaranya nyaris tak terdengar.

"Ger, aku tidak akan main-main soal ini. Aku sudah mengirimkan fotonya kepadamu. Lihatlah sendiri," jawab Joshua serius.

Sebuah notifikasi masuk. Gerald dengan tangan gemetar membuka pesan tersebut. Layar ponselnya menampilkan seorang perempuan yang berdiri membelakangi kamera. Rambutnya diikat rendah, posturnya tegak namun menyimpan kelembutan yang sangat ia kenali. Cara kepala itu sedikit miring saat mendengarkan lawan bicaranya adalah kebiasaan Elena yang tidak mungkin salah.

Namun, bukan hanya wanita itu yang membuat Gerald merasa lututnya melemah hingga ia harus duduk kembali di kursinya.

Di samping wanita itu, berdiri seorang anak laki-laki kecil, berusia sekitar empat tahun. Anak itu memiliki rambut hitam yang lebat dan tubuh yang ramping. Tangan kecilnya menggenggam ujung mantel si wanita dengan erat, seolah memastikan ibunya tidak akan pergi menjauh darinya.

"Itu Elena," bisik Gerald dengan air mata yang mulai menggenang. "Aku tidak perlu melihat wajahnya. Aku tahu itu dia."

Dadanya terasa sesak oleh kebenaran yang baru saja menghantamnya. Anak itu bukan sekadar kebetulan. Jarak di antara mereka, cara anak itu bersandar pada Elena, menunjukkan kepercayaan dan kelekatan yang mendalam.

"Ger," suara Joshua kembali terdengar, lebih hati-hati sekarang. "Anak itu selalu bersamanya. Namanya memang tidak tercatat di undangan, tapi dari interaksi mereka... aku berani bertaruh itu adalah anaknya."

Bukan hanya anaknya, Josh. Anakku, batin Gerald.

"Ada satu informasi lagi," tambah Joshua. "Nama El Maheswari terdaftar dalam undangan charity gala utama minggu depan. Aku sudah mengirimkan detail lokasi dan waktunya."

Gerald melihat undangan digital tersebut. London. Minggu depan.

Gerald tertawa kecil—sebuah tawa yang getir namun penuh kelegaan. "Kenapa sekarang? Kenapa setelah lima tahun baru dunia membiarkanku menemukannya?" gumamnya.

"Mungkin," jawab Joshua pelan, "karena kamu sudah cukup lama menunggu dan semesta merasa kamu sudah siap menghadapi apa pun jawabannya nanti."

"Terima kasih, Josh. Aku berutang besar padamu," Gerald mematikan panggilan tersebut.

Ia kembali menatap foto di ponselnya, lalu mengeluarkan foto USG dari sakunya. Ia menyandingkan keduanya. Dua bukti kehidupan yang terpisah lima tahun namun kini saling terhubung.

"Aku tahu sekarang. Kamu selamat. Kamu hidup," bisiknya sambil membiarkan air mata jatuh tanpa izin.

Gerald tidak lagi merasa gila. Penantiannya selama 1.825 hari bukan untuk sesuatu yang kosong. Elena hidup, dan anak mereka nyata.

Ia berdiri, berjalan menuju jendela besar, menatap Jakarta yang masih sama, namun ia tahu dirinya telah berubah sepenuhnya. Dadanya tidak lagi kosong. Ia meraih ponselnya kembali dan menekan nomor sekretarisnya.

"Lucas," katanya tanpa basa-basi begitu telepon diangkat.

"Ya, Pak?"

"Siapkan pesawat pribadi. Aku berangkat ke London minggu depan," perintah Gerald tegas.

"Pak, tapi jadwal rapat dengan—"

"Batalkan semuanya, Lucas. Dan cari tahu segala hal tentang satu nama: El Maheswari," potong Gerald.

Setelah menutup telepon, Gerald berdiri tegak di tengah ruang kerjanya yang kini bermandikan cahaya matahari senja. Di tangannya ada dua foto, dan di dadanya ada satu kebenaran yang akhirnya muncul ke permukaan.

Ia tidak lagi bertanya apakah Elena masih ada. Ia kini bertanya bagaimana. Bagaimana cara mendekati wanita yang pergi membawa segalanya? Bagaimana menjadi ayah bagi anak yang belum pernah ia gendong? Bagaimana cara pulang tanpa memaksa mereka untuk kembali?

Dan di sebuah sudut kota London yang berkabut, tanpa tahu bahwa namanya baru saja diucapkan dengan gemetar oleh pria yang tak pernah berhenti menantinya, Elena Maheswari berjalan meninggalkan sebuah pertemuan sosial sambil menggenggam tangan kecil putranya. Ia tidak menoleh ke belakang, tidak tahu bahwa dunia hari itu akhirnya memilih untuk berpihak pada pria yang ia tinggalkan.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 40

    Setelah memastikan Rafael masuk ke dalam barisan anak-anak yang memakai ransel warna-warni, Gerald dan Elena masih berdiri di depan gerbang sekolah. Gerald melipat tangannya di dada, matanya tidak lepas dari sosok kecil yang sekarang sedang memamerkan senter tiga warnanya kepada seorang teman sekelasnya."Dia benar-benar tidak menoleh ke belakang lagi, ya?" gumam Gerald, ada nada sedikit 'patah hati' dalam suaranya.Elena terkekeh pelan. "Itu artinya dia merasa aman, Gerald. Kamu sudah membekalinya dengan 'Kapten Bear' dan tenda bintang yang sanggup menahan serangan alien. Dia merasa seperti pahlawan sekarang."Gerald tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Elena. "Jadi... janji makan malam itu masih berlaku? Mengingat malam ini rumahmu akan sangat sepi tanpa suara mesin roket."Elena merapikan mantelnya, menatap Gerald sejenak. "Masih. Tapi aku harus ke galeri dulu. Ada beberapa pengiriman lukisan yang harus aku awasi.""Aku jemput jam tujuh?""Jam tujuh," jawab Elena sebelum berjalan

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 39

    London mulai memasuki musim yang sejuk ketika Gerald memarkirkan Range Rover-nya di depan sekolah Rafael. Hari itu, Elena benar-benar sibuk dengan pertemuan kurator internasional, sehingga Gerald mendapatkan "tiket emas" untuk menjemput putra kecilnya lebih awal.Pintu sekolah terbuka, dan sosok kecil dengan tas roketnya berlari keluar. Wajah Rafael tampak sangat serius, alisnya bertaut, mirip sekali dengan ekspresi Gerald saat sedang menghadapi rapat direksi yang alot."Papa!" seru Rafael sambil menghambur ke pelukan Gerald."Halo, Jagoan. Kok mukanya ditekuk gitu? Ada yang nakal di sekolah?" tanya Gerald sambil menggendong Rafael masuk ke mobil.Rafael menggeleng cepat, lalu mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak lecek dari tasnya. "Enggak, Pa. Tapi ini... Miss Honey bilang besok ada Spring Camping. Rafael harus tidur di tenda sama teman-teman di taman sekolah. Tapi Rafael nggak punya tenda! Rafael nggak punya lampu senter! Nanti kalau ada monster gelap gimana?"Gerald tertawa

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 38

    Hujan London malam itu tidak sedahsyat badai tempo hari, namun dinginnya jauh lebih menusuk hingga ke tulang. Gerald masih berdiri di depan pintu, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini lepek menempel di dahi. Mantel wol mahalnya sudah berubah menjadi berat karena air. Namun, ia tidak bergeming. Ia menatap ke arah jendela lantai atas, berharap siluet wanita yang dicintainya itu muncul kembali.Di balik gorden, Elena meremas kain beludru itu hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya perih. Bayangan tentang dokumen "Oktober lima tahun lalu" itu terasa seperti pisau yang mengiris sisa-sisa kepercayaannya. Bagaimana mungkin pria yang sekarang terlihat begitu rapuh di bawah hujan, dulunya adalah pria yang sanggup menandatangani hak asuh tunggal bahkan sebelum anaknya lahir?"Papa... kenapa Papa di luar? Papa kedinginan?"Suara serak Rafael di belakangnya membuat Elena tersentak. Bocah itu berdiri di ambang pintu kamar dengan mata mengantuk, memeluk bantal astronotnya. Rupanya suara teri

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 37

    Kemilau lampu kristal di galeri mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan lampu sorot temaram yang mengarah tepat ke lukisan-lukisan utama. Kesuksesan pameran malam itu menyisakan rasa lelah yang manis di bahu Elena. Tamu-tamu VIP telah pulang, menyisakan aroma parfum mahal dan sisa-sisa sampanye di udara.Elena berdiri di tengah ruangan yang kini sunyi, menatap lukisan abstrak di depannya. Tiba-tiba, sebuah jas hangat tersampir di bahunya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Aroma kayu cendana dan maskulinitas itu sudah terlalu akrab."Rafael sudah tidur di mobil, dijaga oleh Lucas," bisik Gerald, berdiri tepat di belakangnya tanpa menyentuh, namun kehadirannya terasa begitu protektif."Terima kasih untuk tadi, Gerald. Tapi kamu tidak seharusnya bicara begitu di depan pers," ujar Elena pelan, tangannya merapatkan jas Gerald di tubuhnya."Aku hanya mengatakan kebenaran yang tertunda selama lima tahun, El. Aku tidak mau kamu dianggap sebagai pion dalam permainan bisnis

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 36

    BAB 35: PERTANYAAN DI BALIK LANGIT-LANGIT BINTANGMalam di Richmond selalu memiliki cara sendiri untuk membuat seseorang merasa kecil, namun malam ini, di dalam rumah kayu yang hangat itu, Gerald merasa seolah ia baru saja memenangkan kontrak terbesar dalam hidupnya. Teh di cangkirnya sudah mendingin, tapi percakapan di meja makan masih mengalir, meski Elena lebih banyak mendengarkan daripada berbicara."Papa, nanti kalau kita ke tempat salju, kita bawa astronotnya juga?" tanya Rafael, matanya mulai sayu karena kantuk, tapi bibirnya tak berhenti mengoceh."Tentu saja. Astronot harus siap di segala medan, kan? Salju itu seperti permukaan planet es," jawab Gerald sambil mengacak rambut Rafael.Elena berdiri, merapikan cangkir-cangkir kosong. "Sudah jam sembilan, Rafael. Waktunya tidur. Besok Mama harus ke galeri pagi-pagi untuk final check pameran.""Yah... tapi Rafael masih mau sama Papa," rengek si kecil.Gerald menatap Elena, meminta izin melalui tatapan matanya. Elena hanya menghela

  • MENGEJAR KEMBALI CINTA ISTRIKU   Bab 35

    Pagi itu, Richmond diselimuti kabut yang lebih tebal dari biasanya. Gerald sudah berdiri di depan pintu rumah Elena tepat pukul tujuh kurang lima menit. Ia tidak mengenakan setelan jas kaku seperti biasanya; kali ini ia memilih turtleneck hitam dibalut mantel wol berwarna abu-abu arang. Tangannya membawa satu kotak kecil berisi croissant hangat dari toko roti favorit Rafael yang baru saja buka.Pintu terbuka, menampilkan Elena dengan rambut yang masih agak acak-acakan—pemandangan langka yang membuat jantung Gerald berdesir. Ia tampak seperti Elena yang dulu, Elena yang sering ia bangunkan dengan kecupan di kening sebelum dunia bisnis merenggut kewarasan mereka."Kamu tepat waktu," gumam Elena, suaranya serak khas bangun tidur."Aku tidak ingin membuat Jenderal kecilku menunggu," jawab Gerald lembut, menyodorkan kotak roti itu. "Ini untuk sarapan kalian. Aku tahu kamu tidak sempat masak kalau ada pertemuan subuh."Elena menerima kotak itu, jari mereka bersentuhan sekejap, dan Elena seg

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status