LOGIN"Aku pulang."
Malam itu, suasana rumah terasa berat begitu pintu utama terbuka. Kevin masuk dengan langkah kasar, wajahnya mengeras, dasi terlepas setengah dari leher. Marlina yang baru saja merapikan meja makan menoleh cepat. "Selamat datang, Kevin." ucapnya lirih, mencoba tersenyum meski jantungnya berdegup kencang. Tas kerja Kevin jatuh menghantam sofa, bunyinya memecah keheningan. "Sialan!" makinya sambil membuka kancing kemeja dengan gerakan terburu. "Anak buah di kantor itu benar-benar tidak berguna! Bahkan hal kecil saja tidak bisa mereka tangani!" Marlina menelan ludah, melangkah pelan mendekati suaminya. "Mungkin sebaiknya kau makan dulu. Aku sudah menyiapkan-" "Aku tidak butuh makananmu!" potong Kevin kasar, matanya menatap tajam ke arahnya. "Yang aku butuhkan adalah orang-orang yang tidak mengacaukan pekerjaanku. Termasuk di rumah ini." Marlina terdiam sejenak. Dadanya sesak, tapi dia tetap mencoba menawarkan ketenangan. "Kalau begitu… mau aku pijat saja? Supaya badanmu lebih rileks--" Belum sempat Marlina menyentuh bahu Kevin, tangan lelaki itu menepisnya keras. Marlina terhuyung sedikit, namun buru-buru menegakkan tubuh. "Berhenti sok perhatian, Marlina!" bentak Kevin, suaranya meninggi. "Kau pikir aku butuh belaianmu? Apa kau pikir bisa menenangkanku hanya dengan sentuhan itu?!" Marlina menggigit bibir, menunduk. "Maaf. Aku hanya… ingin membantu." "Membantu?" Kevin mendengus, tawanya sarkastis. "Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan hanyalah membuatku semakin gila. Aku pergi bekerja, kepalaku sudah penuh masalah, lalu di rumah aku masih harus memikirkan--" Dia berhenti, menatap tajam istrinya. "Tentang adikku sendiri." Nama itu terucap, menusuk hati Marlina. "Jeno?" suaranya tercekat. "Iya, Jeno." Kevin maju selangkah, menuding wajahnya. "Kau selalu membuatku mencurigaimu dengannya. Gerak-gerik kalian, tatapan itu, seolah-olah aku ini suami bodoh yang tidak tahu apa-apa." Marlina langsung menggeleng, cepat-cepat. "Tidak, Kevin. Kau salah paham Aku tidak pernah--" "Diam!" potong Kevin, wajahnya memerah. "Aku sudah cukup dengan kepura-puraanmu. Kau pikir aku tidak tahu Jeno selalu membelamu? Selalu muncul setiap kali aku mencoba mendidikmu? Apa kau menikah denganku, Marlina… atau dengan lelaki itu?!" Air mata mulai menggenang di mata Marlina, tapi dia menahan suaranya agar tetap stabil. "Aku hanya mencintaimu, Kevin. Tidak ada yang lain. Aku tidak berani berkhianat, bahkan dengan adik iparku sendiri." Kevin mendekat, suaranya rendah tapi menusuk. "Jangan pernah coba-coba mempermainkanku. Kau milikku. Hanya milikku. Dan kalau kau sampai mengkhianatiku, aku tidak akan segan menghancurkanmu." Tangannya mencengkeram dagu Marlina, menahannya agar menatap tepat ke mata penuh amarah itu. Marlina hanya bisa membeku, air matanya jatuh begitu saja, sementara hatinya semakin remuk oleh tuduhan yang tak pernah dia lakukan. Cengkeraman Kevin di dagu Marlina semakin kuat. "Kau pikir aku tidak tahu bagaimana caramu menatap Jeno? Hah?!" suaranya bergetar karena amarah bercampur obsesi. "Tidak. Aku tidak pernah--" Marlina mencoba membela diri, tapi suaranya tercekat. Kevin tidak mendengarkan. Bibirnya langsung melumat kasar, menekannya seolah ingin menghancurkan perlawanan tipis istrinya. Marlina meronta, kedua tangannya mendorong dada bidang suaminya, namun genggaman Kevin di wajahnya begitu kokoh. Napasnya memburu, air mata bercucuran, tubuhnya gemetar dipaksa menerima ciuman yang tak pernah diinginkannya. "Diam! Kau hanya milikku. Ingat itu." desis Kevin di sela napas panasnya, sebelum kembali menyerbu bibirnya tanpa belas kasihan. Rasa perih dan sakit menjalari seluruh wajah Marlina. Dia hampir tercekik oleh nafsu yang tak pernah Marlina pahami. Yang bisa dia lakukan hanyalah menutup mata, berharap badai ini segera berlalu. Setelah puas melampiaskan amarah dan obsesinya, Kevin mendorong tubuh Marlina begitu saja. Wanita itu terhempas ke lantai dingin dengan tubuh lemah. Suara benturan tulangnya dengan marmer bergema, membuatnya meringis menahan sakit. Kevin berdiri di atasnya, menatap dengan sorot jijik. "Dasar menyebalkan. Jangan pernah berpikir kau punya arti di hidupku. Kau hanya beban. Sampah." Marlina menggenggam bajunya sendiri, air matanya jatuh deras tanpa henti. Hatinya yang rapuh semakin remuk, tapi mulutnya tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Baginya, hanya diam yang bisa dia lakukan, seperti biasa. Kevin mengambil jasnya yang tergeletak, menyalakan rokok, dan melangkah ke balkon tanpa menoleh lagi. Sementara Marlina tertinggal di lantai, tubuhnya gemetar, bibirnya masih perih, dan hatinya kembali dipenuhi luka yang tak pernah berhenti berdarah. Marlina berjalan tertatih ke kamar, tubuhnya masih bergetar akibat perlakuan kasar Kevin. Bibirnya bengkak, pipinya panas menahan sakit. Begitu pintu kamar tertutup rapat, air mata yang dia tahan sejak tadi akhirnya pecah. Isakan kecil lolos dari bibirnya, meski dia berusaha membungkam suara dengan bantal. "Kenapa harus seperti ini? Apa salahku?!" batinnya hancur. Dia hanya ingin menjadi istri yang baik, anak yang berbakti, putri yang menuruti permintaan ayahnya untuk menjaga pernikahan ini. Namun semakin dia mencoba, semakin sakit yang Marlina terima. Suara dering telepon memecah kesunyiannya. Dengan tangan gemetar, Marlina meraih ponselnya di atas meja. Nama Ayah terpampang jelas di layar. Dia buru-buru mengusap wajah, mencoba menstabilkan napas, lalu mengangkat panggilan itu. "Halo, Ayah…" suaranya serak, masih terdengar bergetar. Di seberang, suara Tuan Anggara terdengar tegas namun penuh perhatian. "Kau baik-baik saja, Nak? Ayah merasa… suaramu seperti sedang menangis." Marlina menggigit bibir, menahan sesaknya dada. "Tidak, Ayah. Aku hanya hanya sedang flu. Suaraku sedikit serak, itu saja." "Apa?" nada ayahnya berubah khawatir. "Kau sakit? Apa Kevin tidak membawamu ke dokter?" Air mata Marlina menetes lagi, tapi ia menekan suara seolah tetap tenang. "Aku baik-baik saja, Ayah. Jangan khawatir. Kevin merawatku dengan baik. Dia suami yang begitu perhatian." Hening sejenak di antara mereka. Tuan Anggara menghela napas berat. "Kalau begitu, istirahatlah. Jangan terlalu memaksakan diri. Ingat, kau harus menjaga kesehatanmu, Marlina. Ayah hanya ingin kau bahagia di pernikahanmu." "Iya, Ayah. Aku sangat bahagia." suara Marlina hampir pecah, tapi dia segera menutup panggilan begitu percakapan selesai. Ponsel itu terlepas dari genggamannya, jatuh di kasur. Marlina kembali menutup wajah dengan kedua telapak tangan, menangis dalam diam. Dia selalu berusaha untuk tetap tegar, namun hatinya terlalu rapuh untuk tetal kuat. Di luar, Kevin masih berdiri di balkon dengan rokok menyala di antara jarinya, tak tahu dan tak peduli bahwa wanita di balik pintu kamar tengah remuk berkeping-keping. "Wanita itu... apa dia tidak bosan menangis sepanjang malam?!"Rumah sakit di pusat kota New York malam itu seperti berubah menjadi dunia kecil yang hanya berisi kepanikan Kevin Andreas. Marlina sudah dibawa masuk ke ruang bersalin, ditangani oleh tim medis lengkap. Namun salah satunya adalah dokter kandungan yang membuat Kevin ingin melempar botol infus ke kepala seseorang. Dr. Alexander Hartman. Tinggi, berwajah bule, mata biru cerah, hidung mancung, senyum ramah. Dia dokter yang Gino perkenalkan padanya. Namun bagi Kevin dia terlalu tampan, terlalu sempurna. Semua membuat Kevin ingin menghalau dokter itu seperti menghalau lalat dari bunga kesayangannya. Begitu dokter itu memeriksa Marlina, Kevin mendengus keras."Kenapa harus dia… dari sekian banyak dokter, kenapa yang seperti dia?!" Gino saat itu memang berada di Amerika untuk menemani Kevin hanya bisa menepuk bahunya kencang."Jangan cerewet. Dia di sini untuk membantu, bukan merebut istrimu." Tapi Kevin tidak bisa diam. Apalagi ketika dokter itu menyentuh pergelangan tangan Marlina
Waktu bergulir cepat. Begitu cepat sampai Kevin kadang masih tidak percaya bahwa hidupnya berubah sedrastis ini. Dari CEO arogan dan keras kepala, kini dia menjadi suami siaga yang hidupnya berputar hanya pada satu hal, kehamilan istrinya. Dan ternyata kehamilan Marlina tidak semanis ekspetasinya. Tiga bulan pertama, kekacauan dimulai Di awal kehamilan, Marlina mulai menunjukkan sisi dirinya yang bahkan Kevin belum pernah lihat. Suatu pagi, ketika Kevin baru saja pulang dari meeting di kantor cabang, dia menemukan istrinya duduk di sofa, mata berkaca-kaca, menatap pot tanaman mati."Marlina… apa yang terjadi?" Wanita itu menatapnya dengan hidung memerah. "Kaktusnya meninggal… Kevin… dia mati…" Kevin mengedip, bingung. "Itu… hanya kaktus, sayang." Kesalahan mematikan. Marlina langsung meledak menangis, memeluk pot seperti memeluk jenazah keluarga."Kau tidak mengerti!! Ini kaktus pertama yang kubesarkan!!! Kevin, kau jahat!!" Seketika Kevin panik, memeluknya erat sembari mengel
Dua bulan ternyata bukan waktu yang panjang bagi siapa pun yang sedang jatuh cinta. Dan untuk Kevin, dua bulan terasa seperti detik yang terus saja melaju tanpa memberi jeda.Sejak hari dimana Tuan Anggara berkata akan membawa Marlina pulang, Kevin benar-benar berubah menjadi sosok yang tak kenal kata menyerah. Ketakutan kehilangan Marlina membuatnya bertindak impulsif, bodoh, tetapi penuh cinta. Dia menculik istrinya sendiri dan membawanya jauh ke Amerika. Bukan ke sembarang tempat. Dia membawa Marlina ke hotel bintang lima yang merupakan cabang Davidson di luar negeri. Kamar suite paling mahal, paling luas, paling mewah. Dikelilingi kaca tinggi yang menampilkan kota seperti lautan cahaya. Kevin belajar hidup lebih sederhana dalam kemewahan, persis paradoks dirinya. Mengelola cabang perusahaan di sana, menjawab email yang tak ada habisnya, memukul mundur gosip di tanah air, dan menyerahkan perusahaan pusat pada Evan.Dia tidak peduli dicap kekanak-kanakan, pengecut, atau bodoh. Ba
Setelan kejadian di rumah Anggara. Marlina memperhatikan sesuatu yang aneh pada suaminya. Aneh dalam ukuran Kevin Andreas si CEO arogan yang biasanya berangkat pagi tanpa pamit dan pulang larut malam dengan wajah datar.Sekarang? Dia pulang membawa belanjaan. Dan bukan sembarang belanjaan. Pertama hari itu. Sebuah kotak beludru merah berisi kalung berlian yang bahkan membuat mata Marlina silau hanya dengan melirik. Besoknya. Sebuah tas keluaran edisi terbatas yang bahkan belum launching di toko.Lusa. Kotak besar dari butik terkenal, berisi gaun-gaun mahal yang bahkan Marlina takut menyentuhnya. Dan hari ini? Kevin baru pulang lagi dengan lima tas belanja di tangan dan satu amplop tebal. Seolah hidupnya berubah menjadi kurir pribadi sang istri."Aku membeli ini untukmu," katanya seolah sedang membeli tahu bulat. Marlina hanya bisa berkedip. "Ke-Kevin, ini semua untuk apa? Aku tidak minta apa pun…" Tapi Kevin hanya tersenyum kecil, meletakkan belanjaan itu, lalu memeluk Marlina
Malam itu langit begitu gelap, seolah memantulkan kecemasan yang sejak pagi menggantung di dada Kevin. Udara dingin menusuk, dan dedaunan di halaman rumah Tuan Anggara bergerak pelan tertiup angin. Rumah besar itu tampak sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran seorang pengusaha sebesar Anggara. Seakan-akan seluruh dunia ikut menahan napas menunggu apa yang akan terjadi di dalamnya. Kevin mengetuk pintu, dan seorang asisten membukanya. "Tuan Anggara sudah menunggu di ruang kerja." Kevin berjalan masuk, langkahnya berat. Ini bukan rapat bisnis biasa, inii tentang Marlina. Tentang masa depan. Lampu ruang kerja menyala redup, hanya memantulkan cahaya lembut pada meja kayu tua dan lemari buku besar di belakangnya. Tuan Anggara duduk di kursi kulit, terlihat lebih tua dari terakhir kali Kevin melihatnya. Rambutnya yang sebagian memutih tampak kusut, dan sorot matanya tajam namun letih… seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan beban di bahunya."Duduklah," ujar Tuan Anggara tanpa sen
Hari-hari setelah konferensi pers itu berjalan mengejutkan cepat, seakan waktu sengaja dipercepat hanya untuk mempermainkan hati Kevin. Dua bulan lagi, kontrak pernikahan itu akan berakhir. Seolah angka dua bulan itu menjadi bayang-bayang yang mengikuti Kevin ke mana pun dia melangkah. Saat dia bangun, duduk di meja kerja, atau sekadar menatap punggung Marlina yang sibuk di dapur setiap pagi. Mengaduk kopi sembari tersenyum kecil, tidak sadar bahwa senyum itu menghantui pikiran suaminya. Hari ini Kevin kembali bekerja seperti biasa. Dia sudah pulih sepenuhnya, dengan kesejatan yang semakin baik. Wibawa CEO Davidson Group yang dingin, dominan, dan selalu tampak menguasai dirinya di segala situasi. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang retak, rapuh, dan hanya dia yang tahu.Pagi itu, setelah menyelesaikan rapat direksi dan menandatangani beberapa dokumen penting, Kevin menerima panggilan dari ayahnya untuk bertemu di ruang kerja pribadi Tuan David. Ruangan yang jarang sekali d







