Mag-log in"Ayah akan menunggu kabar darimu."
David pergi meninggalkan rumah Kevin. Dia merasa akan ada pertengkaran hebat setelah ini. Bukan tidak mau menginjinkan Marlina untuk ikut, tapi bisnis tetaplah bisnis. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar detak jam yang seolah menghitung ketegangan di antara mereka. Kevin berdiri di dekat jendela, menatap langit sore dengan ekspresi dingin dan tajam. Di sampingnya, Marlina berdiri dengan wajah tenang, tapi tatapannya menunjukkan ketakutan. "Aku pikir kau harus pergi ke Amerika, Kevin," kata Marlina lembut. "Fokus saja pada pekerjaan. Aku akan baik-baik saja di sini." Kevin menoleh, matanya menyala, hampir seperti kobaran api. Suaranya berat dan bergetar karena amarah yang dipaksakan ditahan. Lengannya menahan untuk tidak memukul lagi. "Bodoh!" bentaknya. "Apa kau pikir ini keputusan yang mudah untukku, Marlina? Kau benar-benar idiot! Kau pikir aku bisa meninggalkan semuanya begitu saja? Kau pikir aku akan tenang pergi ke Amerika sementara kau, asyik berdua dengan lelaki itu." Marlina menunduk, menahan getaran di bibirnya. Dia hanya ingin Kevin fokus, tapi kata-kata Kevin tajam menembus hatinya. Lagi-lagi dia mencurigai hubungannya dengan sang adik ipar. Kevin menarik napas panjang, kepalanya menunduk sebentar, lalu kembali menatap Marlina dengan tatapan dingin. "Dan jangan salah paham. Itu berarti bukannya aku perduli denganmu. Aku hanya tidak ingin anak sialan itu mengganggu mainanku." Marlina terdiam, hatinya tersayat. Tapi dia tetap berdiri tegak, meski napasnya berat. Dia tahu Kevin tidak pernah bisa menyukai atau mencintainya dengan cara normal. Bahkan untuk sekedar kata-kata manis. "Maaf... mungkin aku tidak mengerti posisimu." Wanita itu menhndukkan kepalanya. Namun Kevin menoleh ke jendela lagi, menatap jalan di bawah. Pikirannya kacau. Penyakit itu membuatnya merasa lemah, pekerjaannya menuntutnya di Amerika, dan obsesi pada Marlina membuatnya gelisah. Dia harus memikirkan cara untuk menyelesaikan itu semua. Marlina menatapnya diam, air matanya menggenang tapi tidak jatuh. "Aku hanya ingin kau menjadi putra kebanggan ayahmu. Itu saja." Kevin mengerang frustrasi, kepalanya menunduk, tangannya mengepal. "Kebanggan katamu?" mendesah kesal. "Mereka hanya menggunakan anaknya sebagai mesin pembuat uang." Seketika, Kevin menatapnya dengan mata yang dingin dan tajam. Tidak ada cinta, hanya obsesi yang gelap, dan nafsu yang menguasai pikirannya. Dia ingin mengontrol, ingin memiliki, ingin memastikan Marlina tetap di tempatnya, dan dia tidak peduli dengan perasaan Marlina, tidak peduli dengan alasan baiknya. Semua yang dia lalui sepanjang hidup, sudah sangat memuakkan. Marlina menelan air liurnya, hatinya remuk, tapi dia tetap diam. Dia tahu, apapun yang dia katakan, Kevin tidak akan mendengarnya. Marlina hanyalah boneka dalam permainan obsesinya, seseorang yang dia kendalikan karena nafsu, bukan cinta. "Pergilah! Wajahmu membuatku muak!" Bentak Kevin. Marlina hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkan suaminya di sana. Dia hanya berharap, jika Kevin akan mengambil keputusan terbaik. Bila perlu, membawanya bersama ke Amerika. Hari berlalu begitu cepat. Jeno yang mendengar kabar itu dari sang ibu, mencoba menghangatkan suasana setelah pertengkaran saat itu. Dia datang menemui kakanya. Ruang kantor Davidson Grup terasa dingin. Lampu putih menyinari setiap sudut dengan tajam. Kevin duduk di belakan meja kerjanya, wajahnya menegang, jari-jarinya mengetuk permukaan meja tanpa henti. Di depannya, Jeno berdiri santai, senyum tipis menghiasi wajahnya, tapi mata tajamnya menunjukkan maksud tersembunyi. "Aku dengar, kau akan ditempatkan di Amerika beberapa bulan," kata Jeno pelan, namun nada suaranya penuh tantangan terselubung. "Sepertinya, Ayah memang lebih percaya padamu." Kevin menatapnya dingin, tidak menunjukkan emosi selain kemarahan yang dipaksakan tertahan. "Kenapa kau peduli?" jawabnya singkat, tajam. Jeno mengangkat bahu, pura-pura acuh, tapi ada kilatan licik di matanya. "Hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar. Lagipula, aku tidak ingin kakakku mengabaikan hal-hal penting di sini." Kevin menahan napas panjang, menundukkan kepala sebentar. Dia tahu maksud Jeno lebih dari sekedar perduli. Ada rasa ingin memiliki Marlina, berada di sampingnya. Dia pasti iri terhadap obsesi Kevin yang tak pernah dia tunjukkan dengan lembut pada Marlina, hanya nafsu dan kepemilikan. Lelaki itu, seolah mulai menunjukkan taringnya. "Kau terlalu banyak bicara, Jeno," ucap Kevin , suaranya rendah tapi penuh ancaman terselubung. "Dan jangan lupa, aku yang memegang kendali di sini. Jangan pernah menganggap kau bisa mengambil apa pun dari tanganku. Mengerti?" Jeno tersenyum tipis, tapi matanya tidak kehilangan kilau licik itu. "Tentu, kak. Aku hanya menanyakan. Tidak ada maksud lain." Kevin membuka laptopnya, mulai bekerja dengan perasaan kesal yang menggebu. "Pergilah! Kau menggangguku." Jeno mencondongkan tubuh sedikit ke depan, matanya menatap Kevin dengan intens. "Ah, aku lupa menanyakan." Tersenyum licik. "Jika kau butuh seseorang untuk menjaga kakak ipar, tinggal beritahu saja. Dia akan lebih aman jika bersamaku." Rahang Kevin menegang. Matanya menatap penuh kobaran api. Entah itu kesal, marah, atau mungkin cemburu? Dia tidak pernah suka jika adiknya terus membahas Marlina. Wanita itu adalah miliknya, tak ada satupun orang yang bisa merebutnya. "Bukankah kau sudah melihatnya sendiri?" Senyum licik nampak dari wajahnya. "Marlina akan tetap bersamaku, walaupun nyawanya di ujung tanduk." Jeno mengepalkan tinjunya, mencoba untuk menahan diri. Dia merasa jika otak Marlina sudah di cuci oleh lelaki ini, dan Jeno harus menyadarkannya. Tapi untuk sekarang, dia akan tetap bersabar. Menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Ruang kantor sunyi lagi. Hanya suara ketukan keyboard dan desahan napas yang terdengar. Jeno meninggalkan kakaknya di sana. Dengan senyuman kecil. Kevin menelan ludahnya kasar, memandang punggung sang adik yang semakin menjauh. "Anak itu. Aku harus membuatnya pergi ke Amerika."Rumah sakit di pusat kota New York malam itu seperti berubah menjadi dunia kecil yang hanya berisi kepanikan Kevin Andreas. Marlina sudah dibawa masuk ke ruang bersalin, ditangani oleh tim medis lengkap. Namun salah satunya adalah dokter kandungan yang membuat Kevin ingin melempar botol infus ke kepala seseorang. Dr. Alexander Hartman. Tinggi, berwajah bule, mata biru cerah, hidung mancung, senyum ramah. Dia dokter yang Gino perkenalkan padanya. Namun bagi Kevin dia terlalu tampan, terlalu sempurna. Semua membuat Kevin ingin menghalau dokter itu seperti menghalau lalat dari bunga kesayangannya. Begitu dokter itu memeriksa Marlina, Kevin mendengus keras."Kenapa harus dia… dari sekian banyak dokter, kenapa yang seperti dia?!" Gino saat itu memang berada di Amerika untuk menemani Kevin hanya bisa menepuk bahunya kencang."Jangan cerewet. Dia di sini untuk membantu, bukan merebut istrimu." Tapi Kevin tidak bisa diam. Apalagi ketika dokter itu menyentuh pergelangan tangan Marlina
Waktu bergulir cepat. Begitu cepat sampai Kevin kadang masih tidak percaya bahwa hidupnya berubah sedrastis ini. Dari CEO arogan dan keras kepala, kini dia menjadi suami siaga yang hidupnya berputar hanya pada satu hal, kehamilan istrinya. Dan ternyata kehamilan Marlina tidak semanis ekspetasinya. Tiga bulan pertama, kekacauan dimulai Di awal kehamilan, Marlina mulai menunjukkan sisi dirinya yang bahkan Kevin belum pernah lihat. Suatu pagi, ketika Kevin baru saja pulang dari meeting di kantor cabang, dia menemukan istrinya duduk di sofa, mata berkaca-kaca, menatap pot tanaman mati."Marlina… apa yang terjadi?" Wanita itu menatapnya dengan hidung memerah. "Kaktusnya meninggal… Kevin… dia mati…" Kevin mengedip, bingung. "Itu… hanya kaktus, sayang." Kesalahan mematikan. Marlina langsung meledak menangis, memeluk pot seperti memeluk jenazah keluarga."Kau tidak mengerti!! Ini kaktus pertama yang kubesarkan!!! Kevin, kau jahat!!" Seketika Kevin panik, memeluknya erat sembari mengel
Dua bulan ternyata bukan waktu yang panjang bagi siapa pun yang sedang jatuh cinta. Dan untuk Kevin, dua bulan terasa seperti detik yang terus saja melaju tanpa memberi jeda.Sejak hari dimana Tuan Anggara berkata akan membawa Marlina pulang, Kevin benar-benar berubah menjadi sosok yang tak kenal kata menyerah. Ketakutan kehilangan Marlina membuatnya bertindak impulsif, bodoh, tetapi penuh cinta. Dia menculik istrinya sendiri dan membawanya jauh ke Amerika. Bukan ke sembarang tempat. Dia membawa Marlina ke hotel bintang lima yang merupakan cabang Davidson di luar negeri. Kamar suite paling mahal, paling luas, paling mewah. Dikelilingi kaca tinggi yang menampilkan kota seperti lautan cahaya. Kevin belajar hidup lebih sederhana dalam kemewahan, persis paradoks dirinya. Mengelola cabang perusahaan di sana, menjawab email yang tak ada habisnya, memukul mundur gosip di tanah air, dan menyerahkan perusahaan pusat pada Evan.Dia tidak peduli dicap kekanak-kanakan, pengecut, atau bodoh. Ba
Setelan kejadian di rumah Anggara. Marlina memperhatikan sesuatu yang aneh pada suaminya. Aneh dalam ukuran Kevin Andreas si CEO arogan yang biasanya berangkat pagi tanpa pamit dan pulang larut malam dengan wajah datar.Sekarang? Dia pulang membawa belanjaan. Dan bukan sembarang belanjaan. Pertama hari itu. Sebuah kotak beludru merah berisi kalung berlian yang bahkan membuat mata Marlina silau hanya dengan melirik. Besoknya. Sebuah tas keluaran edisi terbatas yang bahkan belum launching di toko.Lusa. Kotak besar dari butik terkenal, berisi gaun-gaun mahal yang bahkan Marlina takut menyentuhnya. Dan hari ini? Kevin baru pulang lagi dengan lima tas belanja di tangan dan satu amplop tebal. Seolah hidupnya berubah menjadi kurir pribadi sang istri."Aku membeli ini untukmu," katanya seolah sedang membeli tahu bulat. Marlina hanya bisa berkedip. "Ke-Kevin, ini semua untuk apa? Aku tidak minta apa pun…" Tapi Kevin hanya tersenyum kecil, meletakkan belanjaan itu, lalu memeluk Marlina
Malam itu langit begitu gelap, seolah memantulkan kecemasan yang sejak pagi menggantung di dada Kevin. Udara dingin menusuk, dan dedaunan di halaman rumah Tuan Anggara bergerak pelan tertiup angin. Rumah besar itu tampak sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran seorang pengusaha sebesar Anggara. Seakan-akan seluruh dunia ikut menahan napas menunggu apa yang akan terjadi di dalamnya. Kevin mengetuk pintu, dan seorang asisten membukanya. "Tuan Anggara sudah menunggu di ruang kerja." Kevin berjalan masuk, langkahnya berat. Ini bukan rapat bisnis biasa, inii tentang Marlina. Tentang masa depan. Lampu ruang kerja menyala redup, hanya memantulkan cahaya lembut pada meja kayu tua dan lemari buku besar di belakangnya. Tuan Anggara duduk di kursi kulit, terlihat lebih tua dari terakhir kali Kevin melihatnya. Rambutnya yang sebagian memutih tampak kusut, dan sorot matanya tajam namun letih… seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan beban di bahunya."Duduklah," ujar Tuan Anggara tanpa sen
Hari-hari setelah konferensi pers itu berjalan mengejutkan cepat, seakan waktu sengaja dipercepat hanya untuk mempermainkan hati Kevin. Dua bulan lagi, kontrak pernikahan itu akan berakhir. Seolah angka dua bulan itu menjadi bayang-bayang yang mengikuti Kevin ke mana pun dia melangkah. Saat dia bangun, duduk di meja kerja, atau sekadar menatap punggung Marlina yang sibuk di dapur setiap pagi. Mengaduk kopi sembari tersenyum kecil, tidak sadar bahwa senyum itu menghantui pikiran suaminya. Hari ini Kevin kembali bekerja seperti biasa. Dia sudah pulih sepenuhnya, dengan kesejatan yang semakin baik. Wibawa CEO Davidson Group yang dingin, dominan, dan selalu tampak menguasai dirinya di segala situasi. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang retak, rapuh, dan hanya dia yang tahu.Pagi itu, setelah menyelesaikan rapat direksi dan menandatangani beberapa dokumen penting, Kevin menerima panggilan dari ayahnya untuk bertemu di ruang kerja pribadi Tuan David. Ruangan yang jarang sekali d







